Renungan Kisah Pengabdian Pada Relief Candi Borobudur Tentang Jembatan Raga Sang Raja Kera

Sepasang suami istri sedang membicarakan tentang kisah pengabdian Raja Kera. Seekor kera yang mengorbankan raganya demi keselamatan para kera. Pada relief batu di Candi Borobudur terpahat kisahnya. Dengan referensi buku “Kehidupan” mereka mengkajinya.

Sang Istri: Adalah sebuah pohon mangga raksasa yang sangat rimbun daunnya. Dari kejauhan pohon tersebut seperti sebuah bukit hijau saja nampaknya. Dekat tebing sebuah gunung, pohon tersebut berada, dan sebuah sungai melintas di bawah salah satu dahannya. Pohon tersebut mempunyai ribuan buah mangga yang rasanya luar biasa enaknya. Baunya harum dan tahan tidak membusuk dalam waktu yang lama. Mangga yang penuh khasiat, sehingga membuat sehat siapa pun yang memakannya. Ratusan kera hidup di pohon tersebut dibawah pimpinan seekor kera yang paling besar dan paling bijaksana. Pemimpin kera tersebut layak disebut Sang Raja Kera. Komunitas kera tersebut hidup sejahtera berkat pohon mangga raksasa yang berbuah sepanjang tahun tanpa ada habisnya….. Sang Raja Kera berpesan agar seluruh buah yang ada di dahan yang berada di atas sungai harus dihabiskan. Bila ada satu buah saja yang jatuh ke sungai maka kenyamanan hidup mereka bisa berantakan. Konon ada satu buah mangga di atas dahan tersebut, yang luput dari perhatian. Buah tersebut jatuh ke sungai dan dibawa aliran. Seorang raja dan pasukannya kebetulan sedang menyeberang. Mendapatkan buah mangga istimewa tersebut sang raja sangatlah riang. Pasukannya diajak menyusuri sungai ke hulu mencari pohon asalnya. Sampailah mereka ke pohon mangga raksasa dan pasukannya melihat pohon tersebut dihuni ratusan kera. Mereka berteriak-teriak mengusir para kera dengan batu dan sebagian mulai membidikkan anak panahnya. Kera-kera pada ketakutan karena mulai terancam nyawa mereka. Sang Raja Kera naik ke puncak pohon dan meloncat ke tebing gunung di dekatnya. Dia merangkak ke atas gunung mendapatkan pohon rotan dan mengikatnya pada kakinya. Kemudian dia meloncat kembali ke pohon, tetapi hanya tangannya yang dapat menggapai salah satu dahannya. Sang Raja Kera bermaksud membuat jembatan dari rotan dari pohon ke tebing gunung di dekatnya. Akan tetapi yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya. Jembatan telah tersedia, tetapi terbuat dari tubuh Sang Raja Kera dengan rotan yang diikat di kakinya yang terhubung dengan tebing gunung di seberangnya. Sang Raja Kera memerintahkan para kera segera meniti jembatan yang telah tersedia. Ratusan kera tersebut melewati jembatan yang terbuat dari raga Sang Raja Kera. Betapa sakitnya Sang Raja Kera, tubuhnya dibebani para kera yang lewat di atas tubuhnya. Tangannya yang memegang dahan berdarah-darah dan masih mencengkeram walaupun dia sangat kelelahan. Kakinya sudah merah, mungkin tulangnya retak karena terikat erat dengan rotan. Dia masih bertahan, sampai kera terakhir diselamatkan. Sang Raja Kera telah mengorbankan dirinya sebagai jembatan agar pengikutnya mendapatkan kebebasan ……. Sang Raja dan pasukannya terkesima melihat pengorbanan Sang Raja Kera. Trenyuh hati mereka melihat penderitaan Sang Raja Kera. Mereka melihat Sang Raja Kera luka parah, tetapi tetap bertahan demi seluruh kera komunitasnya. Tanpa terasa mata Sang Raja dan pasukannya berkaca-kaca. Sang Raja memerintahkan pasukannya mempersiapkan jaring-jaring di bawah tubuh Sang Raja Kera. Pasukannya diminta memanah secara bersama, dahan pegangan Sang Raja Kera dan rotan yang mengikat kakinya. Sang Raja Kera jatuh ke jaring-jaring dalam keadaan pingsan. Pasukan raja berusaha sebisa-bisanya memberikan pertolongan. Tiba-tiba Sang Raja Kera siuman. Dia berterima kasih bahwa jiwanya telah diusahakan untuk diselamatkan. Melihat kera besar yang dapat berbicara seperti manusia, Sang Raja keheranan. Di wajah Sang Raja Kera tidak menunjukkan tanda bahwa dia menyesalkan tindakan raja dan pasukannya yang telah mengakibatkan keadaannya menjadi demikian….. Sang Raja mohon maaf telah mengganggu kehidupan para kera dan menyebabkan peristiwa tragis yang terjadi. Sang Raja Kera berkata, raga ini bisa luka tetapi pikiran jernih masih ada di dalam diri. Kasihku kepada para kera tak akan terpengaruh oleh keadaan ragaku ini. Ragaku ini sebentar lagi akan kutinggalkan, tetapi rasa kasih dalam diri ini tetap abadi. Sejak kecil sampai dewasa dan sampai meninggal sesaat lagi….. Diriku telah mengalami berbagai pengalaman, akan tetapi rasa kasih ini selalu ada setiap saat, karena telah mengisi seluruh diri….. dan kemudian, Sang Raja Kera tidak bernapas lagi…. Sang Raja bersabda, bukan suatu kebetulan dia menyaksikan peristiwa luar biasa. Sang Raja Kera telah memberi pelajaran bagaimana cara melayani dengan penuh kasih sepanjang hayatnya. Setelah kejadian itu Sang Raja mulai memimpin kerajaan dengan lebih bijaksana. Sang Raja bersikap penuh kasih melayani rakyatnya…..Konon setelah beberapa kehidupan Sang Raja Kera lahir kembali menjadi Sang Buddha……

Sang Suami: Sang Raja Kera hanya bertindak menyelamatkan kehidupan para kera, tak setitik pun rasa membenci raja dan pasukannya yang telah menjarah kediaman mereka….. Sang Raja Kera mempunyai kemampuan untuk menerima ketidakadilan terhadapnya. Ketidakadilan yang menimpa diterima sebagai akibat tindakannya di masa masa lalu kehidupannya. Dia berterima kasih bahwa Keberadaan telah memberikan kesempatan untuk menghembuskan nafasnya sebagai pahlawan para kera. Sang Raja mendapat mutiara pelajaran yang sangat berharga. Sang Raja merasa selalu melakukan upacara ritual bagi keselamatan rakyatnya. Tetapi Sang Raja Kera telah berada jauh di depannya. Dia tak hanya mendoakan tetapi mengabdi dan melayani rakyatnya. Ibadah, Pemujaan, Sembahyang adalah sarana untuk menciptakan Pengabdian dalam diri manusia. Disiplin-disiplin seperti itu dibutuhkan untuk melahirkan Pengabdian dalam diri manusia. Begitu lahir Rasa-Pengabdian dalam dirinya, dia akan mulai melihat Gusti di mana-mana. Dengan kesadaran seperti itu, apa pun yang dia lakukan akan menjadi persembahan semata. Dia tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk keuntungan pribadi, apa pun yang dia lakukan, dilakukan demi cinta…..

Sang Istri: Kita harus memahami definisi Pengabdian secara benar, karena sudah sering sekali kita gagal mengenali seorang Pengabdi. Konsep kita tentang Pengabdian pantas dikaji. Kita percaya bahwa seorang Pengabdi akan menolak, akan menyangkal dunia materi dan merangkul dunia rohani. Tidak, mereka yang melakukan karena pelarian, tidak dapat disebut seorang Pengabdi…….. Menerima atau menolak, tidak dapat dilakukan keduanya sekaligus secara bersamaan. Pengabdi menerima segala sesuatu yang ada dalam Keberadaan. Ia mencintai semuanya, tidak berurusan dengan kebencian, penolakan atau penyangkalan. Saat kita menolak dunia, kita sedang menabur bibit kebencian. Bagaimana kita dapat berharap akan pohon cinta dan Pengabdian?

Sang Suami: Benar istriku, mereka telah lupa cara merayakan kehidupan. Mereka tidak dapat menyanyi, bisu, tidak dapat berdansa di bawah sinar matahari dan cahaya rembulan. Jika ini merupakan hasil Pengabdian, jika ini adalah hasil akhir dari kepercayaan mereka, terserah mereka. Seorang bijak tidak berkepentingan apa pun dengan Pengabdian ala mereka, dengan religiositas ala mereka. Pengabdi tidak pernah serius. Dia tidak pernah bermuka panjang dengan penampakan serius. Pengabdi akan menemukan dan menerima hidup secara keseluruhan. Ia akan menerima hidup secara total. Ia tidak hidup secara parsial. Dia menari, bernyanyi dan berpesta. Pengabdi akan selalu ceria. Pengabdi akan membuat hidupnya menjadi perayaan cinta kasih yang tak pernah ada akhirnya. Dan, dia akan mengundang siapa saja untuk bergabung dalam perayaannya. Entah mereka berkulit putih atau sawo matang atau kuning, dari kelompok kepercayaan A, B atau lainnya. Seorang Pengabdi, seseorang yang sungguh religius akan berhenti mencari, karena ia telah bertemu dengan Dia. la senang, puas. la berada dalam keadaan kebahagiaan yang sempurna.

Sang Suami: Ada pernyataan yang pantas direnungkan. Menyembah Gusti itu dilakukan secara pribadi. Gunanya sebagai latihan mengikis ego diri. Melakukan ibadah agar dipuji, justru meningkatkan ego pribadi. Di tengah masyarakat, Gusti bukan untuk disembah tetapi untuk dilayani. Bukan menyembah tetapi melayani, mengabdi. Alam semesta ini adalah tarian Gusti dan Penarinya adalah Gusti. Mengabdi pada Gusti berarti melayani alam semesta yang merupakan percikan dari-Nya. Melayani semua makhluk, karena semuanya merupakan percikan-Nya. Berbuat kebaikan bukan merupakan transaksi perdagangan. Ego lah yang berkata, saya telah berbuat baik, tolong dikabulkan keinginanku ya Tuhan. Ego merasa Tuhan adalah seperti apa yang dipikirkannya. Semuanya tidak berpusat pada Tuhan tetapi berpusat pada egonya. Tuhannya Ego adalah Tuhan konsep pikiran manusia. Gusti tidak dapat diserupakan dengan apa pun juga. Gusti melampaui pikiran dan untuk mendekatinya kita harus melampaui pikiran juga.

Sang Istri: Mereka yang tidak sadar akan selalu mencari jalan gampang untuk memperoleh kenikmatan duniawi, mendapatkan kenyamanan diri. Apabila tindakan itu mencelakakan orang lain mereka tidak ambil peduli.Semoga kita semua sadar dan tidak akan mencelakakan orang lain demi kepentingan pribadi. Terhadap makhluk-makhluk hidup, kita tidak akan berbuat keji. Terhadap lingkungan, kita tidak akan mencemari, kita usahakan agar bisa lestari.

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pengabdian Pada Relief Candi Borobudur Tentang Jembatan Raga Sang Raja Kera

  1. Ego yang memberhalakakan materi tak berkesudahan. Ego harus dikorbankan.
  2. Semoga kita bersama sadar tujuan dari keberadaan di bumi. Melepaskan ego yang kadang sangat halus tipuannya. Waspada dan sadar selalu sebagai kunci perjalanan.
  3. Seperti kera-kera tersebut karena terlena oleh kenyamanan sehingga luput memperhatikan buah yang jatuh, itulah ego kita sendiri, pikiran kita sendiri, sehingga sering kali mengundang bencana bagi diri kita sendiri. Dan sadar atau tidak sadar saya sering kali melakukan hal itu, dan baru menyadari kesombongan diri, kelalaian diri begitu kesusahan menimpa diri…… namun kita harus menghadapi setiap kesukaran tersebut, seperti raja kera, karena itu juga merupakan salah kita sendiri. Semoga jiwa kepengabdian dapat tumbuh di taman jiwa saya dan jiwa kita semua, amin ya Rabb amin.
  4. Para pengabdi bertebaran di mana-mana. Dunia ini tetap membingungkan. Kadang-kadang kita melihat ketulusan pengabdian seseorang yang buta huruf jauh melebìhi orang yang mengenyam pendidikan formal. Nabi Muhammad misalnya.
  5. Pengorbanan raja kera bener-bener pengabdian, kasih yang suci kepada rakyatnya.
  6. Pengorbanan dan pengabdian dari raja kera sungguh luar biasa…. mudah-mudahan anak bangsa ini bisa meneladaninya.
  7. Cerita Jataka ini adalah pembabaran dharma yang sangat tepat untuk Kepemimpinan. Raja itu menghormati kepemimpinan Sang Raja Kera dengan menempatkan tengkoraknya dalam stupa dan memujanya. Raja itu akhirnya bertumimbal lahir sebagai bhikkhu Ananda, saudara sepupu Siddharta Gautama, pangeran kerajaan Kapilavastu di Nepal. Pangeran Siddharta memutuskan jadi pertapa di hutan, dan mencapai ke – Buddha – an, para familinya termasuk Ananda juga menyusulnya, dan jadi pelayan setia sang Buddha Gautama hingga wafatnya. Kepemimpinan yang tanpa pamrih yang dilaksanakan dengan mengorbankan apa saja termasuk diri sendiri bukan semata ciri khas Buddha, ini adalah cerminan Kasih Alam Semesta kepada para makhluk yang bersemayam di dalamnya. Kepemimpinan bukanlah semata mengepalai suatu bangsa atau kelompok, namun menjadi penentu arah perkembangan kehidupan kita ini, baik itu diri sendiri atau kelompok. Kepemimpinan membuat seseorang yang melaksanakan Dharma membentuk dirinya menjadi lebih baik, lebih tenang, tidak ‘madhatan’, tidak ‘kedonyan’ apalagi ‘kemaruk’. Ketulusan pada dirinya sendiri dalam berbuat, tanpa paksaan, hanya mengikuti Irama Alam Semesta, dengan ‘sukha citta’ seseorang mampu mengubah dirinya sendiri lebih baik, dan teman-temannya juga mengikuti kebiasaannya. Butuh waktu lama untuk membentuk karakter yang damai terutama dengan diri sendiri, selain dengan sesama dan Alam Semesta jika kita terus melekat pada konsep, yang nyatanya adalah pribadi-pribadi keras, serius karena ada kepentingan pribadi yang meraja di hati. Semoga siapapun yang merasa terinspirasi oleh cerita Jataka ini bisa menghidupkan kembali kepemimpinannya yang sejati! Bangkitlah Kesadaranku dan Kesadaran semua orang yang membaca tulisan ini! Bangkitlah bangsaku Indonesia Raya
  8. Munculnya kembali ego merupakan bahaya laten yang harus disadari dan dihindari. Seseorang bisa menjadi egois, senang mendengarkan suara dia sendiri, tidak ingin mendengar pendapat orang lain. *Kundalini Yoga, AK.
  9. “Lepaskan keangkuhanmu, keakuanmu, egomu dan pintu-Nya akan terbuka lebar bagimu! Pengalaman keagamaan kita selama ini belum berhasil meleburkan keakuan kita.” *Zen, AK.
  10. Mengenai pengabdian ada petikan dari buku *Damai dan Ceria, AK, “Yang penuh pengertian akan selalu mencari kesempatan untuk mengabdi. Di kota-kota besar seperti Bombay, Madras, Calcutta, London, New York, Jakarta dan lain-lain, saya melihat bahwa manusia telah mengambil sikap tidak acuh terhadap permasalahan orang lain. Apakah Anda tahu apa yang menjadi kebalikan cinta? Kebalikan cinta bukanlah kebencian tetapi ketidakpedulian. Apabila Anda ingin mengembangkan jiwa pengertian, Anda harus mengembangkan sifat pengertian. Anda harus mencari kesempatan untuk dapat mengabdi.”
  11. “Salah satu ciri-ciri seorang pengabdi. Ia adalah orang yang tenang, dan telah berdamai dengan dirinya, maka ia dapat berkarya dengan tenang. Ia dapat berkerja dengan damai, dan dapat menyebarluaskan ketenangan dan kedamaian yang dialami dan dirasakannya. Banyak hal yang amat bernilai seperti kebenaran, kebijakan, kasih, dan lain-lain. Namun Shankara hanya menyebut salah satu diantaranya secara spesifik. Kenapa? Karena, ia adalah seorang ahli ilmu jiwa. Ia yakin bahwa jiwa yang damai akan menemukan sendiri nilai-nilai luhur lainnya. Jiwa yang damai tidak terbujuk oleh kepalsuan, karena kepalsuan tidak pernah mendamaikan. Jiwa yang damai tidak mengenal kejahatan, karena kejahatan merusak kedamaian. Jiwa yang damai tidak bisa membenci, karena kebencian menyisihkan kasih dari hati”. *Five Steps Awareness, AK.
  12. Masalah kesucian, “Bhishma, Sang Kakek Agung, menjelaskan makna kesucian, esensi kesucian dalam dua kalimat. Dalam dua kalimat itu, ia menulis sebuah kitab suci. Sungguh luar biasa. Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma. Segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah … Lihat SelengkapnyaDharma”. Kemudian, ia pun menegaskan : “Dharma memperkuat, mengembangkan konflik, tetapi memperkuat persatuan. Itulah Dharma. Itulah Esensi kesucian !” *Surat Cinta Bagi Anak Bangsa, AK.
  13. Banyak Guru, Para Suci seperti Gusti Yesus yang rela berkorban demi keselamatan pengikutnya.
  14. YM Bhikku Ananda mendokumentasikan hampir semua pembabaran Dharma “Yang Terjaga”. Pengaruh YM Ananda terhadap Jataka sangat besar. Banyak sekali cerita Jataka yang menggambarkan kehidupan YM Bhikku Ananda sewaktu menjadi raja.
  15. Notes yang menggugah kesadaran, Keberadaan Guru ibarat sang raja kera, keberadaan beliau hanya karena kasihnya kepada kita. Semoga kita mampu memenfaatkan kesempatan yang langka ini dengan sebaik-baiknya.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pengabdian Pada Relief Candi Borobudur Tentang Jembatan Raga Sang Raja Kera

1. Ego yang memberhalakakan materi tak berkesudahan. Ego harus dikorbankan.

2. Semoga kita bersama sadar tujuan dari keberadaan di bumi. Melepaskan ego yang kadang sangat halus tipuannya. Waspada dan sadar selalu sebagai kunci perjalanan.

3. Seperti kera-kera tersebut karena terlena oleh kenyamanan sehingga luput memperhatikan buah yang jatuh, itulah ego kita sendiri, pikiran kita sendiri, sehingga sering kali mengundang bencana bagi diri kita sendiri. Dan sadar atau tidak sadar saya sering kali melakukan hal itu, dan baru menyadari kesombongan diri, kelalaian diri begitu kesusahan menimpa diri…… namun kita harus menghadapi setiap kesukaran tersebut, seperti raja kera, karena itu juga merupakan salah kita sendiri. Semoga jiwa kepengabdian dapat tumbuh di taman jiwa saya dan jiwa kita semua, amin ya Rabb amin.

4. Para pengabdi bertebaran di mana-mana. Dunia ini tetap membingungkan. Kadang-kadang kita melihat ketulusan pengabdian seseorang yang buta huruf jauh melebìhi orang yang mengenyam pendidikan formal. Nabi Muhammad misalnya.

5. Pengorbanan raja kera bener-bener pengabdian, kasih yang suci kepada rakyatnya.

6. Pengorbanan dan pengabdian dari raja kera sungguh luar biasa…. mudah-mudahan anak bangsa ini bisa meneladaninya.

7. Cerita Jataka ini adalah pembabaran dharma yang sangat tepat untuk Kepemimpinan. Raja itu menghormati kepemimpinan Sang Raja Kera dengan menempatkan tengkoraknya dalam stupa dan memujanya. Raja itu akhirnya bertumimbal lahir sebagai bhikkhu Ananda, saudara sepupu Siddharta Gautama, pangeran kerajaan Kapilavastu di Nepal. Pangeran Siddharta memutuskan jadi pertapa di hutan, dan mencapai ke – Buddha – an, para familinya termasuk Ananda juga menyusulnya, dan jadi pelayan setia sang Buddha Gautama hingga wafatnya. Kepemimpinan yang tanpa pamrih yang dilaksanakan dengan mengorbankan apa saja termasuk diri sendiri bukan semata ciri khas Buddha, ini adalah cerminan Kasih Alam Semesta kepada para makhluk yang bersemayam di dalamnya. Kepemimpinan bukanlah semata mengepalai suatu bangsa atau kelompok, namun menjadi penentu arah perkembangan kehidupan kita ini, baik itu diri sendiri atau kelompok. Kepemimpinan membuat seseorang yang melaksanakan Dharma membentuk dirinya menjadi lebih baik, lebih tenang, tidak ‘madhatan’, tidak ‘kedonyan’ apalagi ‘kemaruk’. Ketulusan pada dirinya sendiri dalam berbuat, tanpa paksaan, hanya mengikuti Irama Alam Semesta, dengan ‘sukha citta’ seseorang mampu mengubah dirinya sendiri lebih baik, dan teman-temannya juga mengikuti kebiasaannya. Butuh waktu lama untuk membentuk karakter yang damai terutama dengan diri sendiri, selain dengan sesama dan Alam Semesta jika kita terus melekat pada konsep, yang nyatanya adalah pribadi-pribadi keras, serius karena ada kepentingan pribadi yang meraja di hati. Semoga siapapun yang merasa terinspirasi oleh cerita Jataka ini bisa menghidupkan kembali kepemimpinannya yang sejati! Bangkitlah Kesadaranku dan Kesadaran semua orang yang membaca tulisan ini! Bangkitlah bangsaku Indonesia Raya

8. Munculnya kembali ego merupakan bahaya laten yang harus disadari dan dihindari. Seseorang bisa menjadi egois, senang mendengarkan suara dia sendiri, tidak ingin mendengar pendapat orang lain. *Kundalini Yoga, AK.

9. “Lepaskan keangkuhanmu, keakuanmu, egomu dan pintu-Nya akan terbuka lebar bagimu! Pengalaman keagamaan kita selama ini belum berhasil meleburkan keakuan kita.” *Zen, AK.

10. Mengenai pengabdian ada petikan dari buku *Damai dan Ceria, AK, “Yang penuh pengertian akan selalu mencari kesempatan untuk mengabdi. Di kota-kota besar seperti Bombay, Madras, Calcutta, London, New York, Jakarta dan lain-lain, saya melihat bahwa manusia telah mengambil sikap tidak acuh terhadap permasalahan orang lain. Apakah Anda tahu apa yang menjadi kebalikan cinta? Kebalikan cinta bukanlah kebencian tetapi ketidakpedulian. Apabila Anda ingin mengembangkan jiwa pengertian, Anda harus mengembangkan sifat pengertian. Anda harus mencari kesempatan untuk dapat mengabdi.”

11. “Salah satu ciri-ciri seorang pengabdi. Ia adalah orang yang tenang, dan telah berdamai dengan dirinya, maka ia dapat berkarya dengan tenang. Ia dapat berkerja dengan damai, dan dapat menyebarluaskan ketenangan dan kedamaian yang dialami dan dirasakannya. Banyak hal yang amat bernilai seperti kebenaran, kebijakan, kasih, dan lain-lain. Namun Shankara hanya menyebut salah satu diantaranya secara spesifik. Kenapa? Karena, ia adalah seorang ahli ilmu jiwa. Ia yakin bahwa jiwa yang damai akan menemukan sendiri nilai-nilai luhur lainnya. Jiwa yang damai tidak terbujuk oleh kepalsuan, karena kepalsuan tidak pernah mendamaikan. Jiwa yang damai tidak mengenal kejahatan, karena kejahatan merusak kedamaian. Jiwa yang damai tidak bisa membenci, karena kebencian menyisihkan kasih dari hati”. *Five Steps Awareness, AK.

12. Masalah kesucian, “Bhishma, Sang Kakek Agung, menjelaskan makna kesucian, esensi kesucian dalam dua kalimat. Dalam dua kalimat itu, ia menulis sebuah kitab suci. Sungguh luar biasa. Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma. Segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah … Lihat SelengkapnyaDharma”. Kemudian, ia pun menegaskan : “Dharma memperkuat, mengembangkan konflik, tetapi memperkuat persatuan. Itulah Dharma. Itulah Esensi kesucian !” *Surat Cinta Bagi Anak Bangsa, AK.

13. Banyak Guru, Para Suci seperti Gusti Yesus yang rela berkorban demi keselamatan pengikutnya.

14. YM Bhikku Ananda mendokumentasikan hampir semua pembabaran Dharma “Yang Terjaga”. Pengaruh YM Ananda terhadap Jataka sangat besar. Banyak sekali cerita Jataka yang menggambarkan kehidupan YM Bhikku Ananda sewaktu menjadi raja.

15. Notes yang menggugah kesadaran, Keberadaan Guru ibarat sang raja kera, keberadaan beliau hanya karena kasihnya kepada kita. Semoga kita mampu memenfaatkan kesempatan yang langka ini dengan sebaik-baiknya.

Terima Kasih.

Salam __/\_