GotoBus
Showing posts with label RENUNGAN TENTANG RELIEF CANDI BOROBUDUR. Show all posts
Showing posts with label RENUNGAN TENTANG RELIEF CANDI BOROBUDUR. Show all posts

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Harimau Dan Pengorbanan Bodhisattwa

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan masalah pengorbanan. Mereka membicarakan kisah yang tertera pada relief Candi Borobudur tentang harimau kelaparan dan Bodhisattva yang mengorbankan badannya sebagai persembahan.

Sang Istri: Sebagai akibat dari kehidupan masa lalunya, seorang Bodhisattva hidup sejahtera. Dia mempercayai adanya persatuan. Sepertinya ia memilih “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan. Ia menerima kebhinekaan, adanya perbedaan. Namun di balik perbedaan itu, ia juga melihat kesatuan. Bahkan dia melihat persamaan kehidupan yang ada pada manusia maupun hewan. Pada suatu ketika Sang Bodhisattva berjalan-jalan di pegunungan bersama muridnya bernama Agita. Mereka melihat dari atas tebing seekor harimau betina yang sedang resah kebingungan. Sang Harimau betina sedang menderita kelaparan. Bagaimana pun kehidupannya harus dipertahankan. Seekor anaknya nampak sedang menyusu kepadanya. Ada sebuah dilema yang luar biasa sulitnya. Dia harus mempertahankan kehidupan diri. Kehidupan itu pemberian Ilahi. Kalau dia mati, sang anak pun akan mati. Karena dia akan kelaparan, tidak punya induk yang dapat menyusui. Salah satu jalan adalah memakan Sang Anak, si buah hati. Di kemudian hari dia dapat melahirkan anak yang lain sebagai pengganti. Meleleh air matanya, dia menangis melihat anaknya yang sedang menyusui, yang sebentar lagi akan mati sebagai makanan penyelamat diri. Dalam diri harimau ada pertempuran sengit antara pikiran dan hati nurani. Dia hanya bisa menangis tak punya solusi……. Sang Boddhisatwa menyuruh Agita mencari makanan pengganti bagi Sang Harimau, tetapi sudah berjam-jam dia belum kembali. Melihat harimau sekarat karena kelaparan, Sang Bodisattva menggigil karena kasih, seperti menggigilnya Mahameru karena gempa. Nampaknya dia segera akan melihat seekor harimau betina memakan anaknya, melawan hukum kasih alam semesta. Sang Bodhisattva merenung dalam, mengapa saya menyuruh Agita mencari tubuh makhluk lainnya. Tubuh saya cukup untuk mengobati kelaparannya. Ragaku sudah tua, beberapa saat lagi juga sudah tidak berguna. Ragaku sudah tak mudah untuk melakukan dharma. Sang Bodhisattva melihat kesempatan untuk membahagiakan makhluk yang sedang menderita. Nampaknya Sang Harimau akan memilih mati daripada memakan anaknya. Dan, dua kehidupan akan segera meninggalkan dunia fana……… Suara kejatuhan benda di dekatnya membuat Sang Harimau waspada. Dan dia melihat tubuh manusia yang sudah tidak bernyawa. Dia menyembah tubuh yang tidak bernyawa sebagai karunia dari Yang Maha Kuasa. Dan dia mulai memakannya setelah berdoa. Telah terselamatkan kehidupan dia dan anaknya…… Tidak dapat menemukan hewan buruan di hutan, sang murid Agita kembali menemui Gurunya. Dia melihat jasad gurunya di bawah tebing, dimakan harimau betina. Dia menangis, melihat pengorbanan nyata seorang Bodhisattva. Sang Bodhisattva seperti bumi yang menyerahkan apa pun yang ada pada dirinya demi kehidupan makhluk yang mendiaminya. Semua makhluk, termasuk para gandarwa, dewa, binatang, tanaman menghormati tindakan yang begitu mulia. Sang Mara kecewa dia dikalahkan Sang Bodhisattva. Setelah beberapa kehidupan konon Sang Bodhisattva lahir sebagai Sang Buddha, yang dihormati semua makhluk di alam semesta. Kisah Dia yang pernah mengorbankan nyawanya kepada harimau betina yang hampir makan anaknya……..

Sang Suami: Sang Harimau Betina berdoa di depan makanan yang akan di santapnya. Karena pengorbanan raga tersebut dia lepas dari perbuatan terkutuk makan anaknya……… Ingat tidak istriku, anak kita pernah bercerita, bahwa sewaktu ikut prgram AFS di Jepang di Provinsi Shizuoka. Keluarga di sana sebelum makan selalu berdoa, mohon maaf kepada hewan yang telah kehilangan nyawa, yang sebentar lagi akan masuk perutnya. Semua makanan kita merupakan persembahan dari Bumi. Sebelum makan, sudahkah sepatah dua patah kata doa keluar sebagai ungkapan syukur kepada kepada Bunda Pertiwi. Banyak nyawa yang telah melayang demi perpanjangan kehidupan kita ini.…. Hazrat Inayat Khan, memahami bahwa kematianpun, tidak alami. Sudah 6.000 ekor ayam masuk dalam perut ini. Sudah 20 ekor sapi yang dikunyah, sudah 30 kg ikan dilewatkan kerongkongan, sudah 4 kg udang mengalir dalam pembuluh arteri. Sudah sewajarnya, virus mereka menyerang tubuh sebagai hukum aksi-reaksi….. Menghilangkan nyawa saja belum meminta maaf, apalagi mengorbankan nyawa sendiri. Pengorbanan Sang Bodhisattva mengusik hati nurani. Manusia tidak mau melakukan pengorbanan karena masih punya banyak keinginan. Diri manusia dipenuhi berbagai keinginan. Tidak seperti Sang Bodhisattva yang hanya berisi kekosongan.…… Pikiran yang jernih, hati yang bersih memang kosong nampaknya. Ia yang bijak nampaknya tidak punya ambisi mengejar apa pun juga. Kelihatannya kosong, tetapi merekalah yang telah berhasil mengubah sejarah manusia. Nampaknya bodoh, nampaknya kosong tetapi merekalah yang memiliki jiwa. Merekalah yang berisi dan kita-kita inilah yang masih kosong jiwanya. Itu sebabnya kita mengejar kedudukan, mengejar ketenaran, mengejar dunia materi, mengejar harta-benda. Karena kita masih kosong, kita masih belum memiliki sesuatu yang bermakna. Seorang Bodhisattva tidak sedang mengejar sesuatu apa. Mereka sudah puas dengan apa yang mereka miliki. Nyawa pun dipakai berbagi. Mereka tidak kosong, mereka berisi.

Sang Istri: Kita tidak pernah tahu, hanya bisa mengira, bahwa Sang Bodhisatwa telah menjatuhkan diri dari tebing demi kasihnya kepada Sang Harimau dan anaknya. Siapa tahu pada saat itu mungkin Dia telah menyatu dengan Keberadaan Ilahi. Barangkali mind-nya sudah pecah berkeping-keping sehingga raganya tak bisa hidup lagi. Mungkin raganya terjatuh sudah tanpa nyawa lagi.

Sang Suami: Pada hakikatnya, Yang Dilayani dan yang melayani adalah Satu. Para leluhur menyebutnya sebagai manunggaling Kawula-Gusti. Kawula adalah “para manusia” dan Gusti adalah “Tuhan”. Manunggal mengacu pada “penyatuan”. “Penyatuan” antara dua insan, dua pikiran atau dua hati, keduanya masih dapat mempertahankan identitas unik dengan dan bisa berpisah kemudian. Manunggal artinya “berpadu”, atau lebih tepatnya “meleleh menjadi satu”. Begitu mencapai tingkat “penyatuan” semacam itu, perpisahan tidak lagi dimungkinkan. Manunggal adalah penyatuan saripati-saripati. Penyatuan ini adalah puncak kehidupan, di mana Kesadaran Energi Murni menaklukkan Kesadaran Dunia Materi.

Sang Istri: Kita bisa merenung dan berteori bahwa pada dasarnya kita semua adalah satu, tetapi tanpa tindakan nyata, penyatuan itu hanyalah kata-kata belaka. Kemanusiaan itu bukan hitam atau putih, atau keduanya. Kemanusiaan adalah satu. Nampaknya semua makhluk hidup berbeda, “goresan” DNA berbeda, jika kita menilik cukup jauh ke belakang, kita akan temukan kita semua berasal dari sumber yang satu. Atom itu satu. Energi juga satu. Sumber segala kehidupan adalah satu. Perbedaan kita adalah perbedaan geografis. Perbedaan biologis. Tetapi bukan perbedaan yang prinsipil, pada dasarnya, kita semua satu. Jadi, kembali lagi pada kita. Bagaimana cara pandang kita? Apakah kita menyadari esensi yang satu dan sama, atau kita hanya melihat perbedaan-perbedaan di permukaannya? Tiap orang dari kita adalah unik, tetapi jangan biarkan keunikan ini memisahkan kita. Marilah kita selalu ingat bahwa pada intinya kita semua satu adanya. Marilah kita rayakan keunikan individual kita. Namun janganlah lupa bahwa lantai dansa adalah satu juga. Kita tidak bisa berdansa tanpa lantai dansa kesatuan. Keunikan tarian kita dapat terlihat hanya karena lantai dansa kesatuan. Tanpa lantai dansa ini, tidak mungkin ada tarian. Demikian buku “the Gospel of Michael Jackson” menjelaskan. Yang ada hanyalah Tuhan dan alam semesta hanyalah tarian Tuhan. La Illaha Illallah. Tak ada yang lain selain Allah……

Sang Suami: Para sufi berkomentar, sudah beribadah, sudah beramal saleh, sudah melakukan perjalanan suci, rasanya koq belum sampai-sampai juga, Tuhan masih terasa jauh sekali. Kenapa demikian, karena kita masih menunggangi “onta betina kesadaran jasmani”. Kita masih enggan melepaskan keterikatan pada dunia benda. Sekali lagi para sufi mengingatkan bahwa bukan dunia benda yang harus kita lepaskan, tetapi “keterikatan” padanya. Kita tidak bisa melepaskan dunia benda. Setelah mati pun tidak juga. Karena “alam semesta” pun masih merupakan “benda”. Masih merupakan “materi”. Bumi dan langit dengan segala isinya, masih bersubstansi. Kita tidak bisa melepaskan dunia benda. Yang bisa kita lepaskan hanyalah “keterikatan” pada dunia benda. Seorang pencinta Allah, seorang pencari Kebenaran, harus menyadarinya. Demikian diuraikan dalam buku “Masnawi Empat, Bersama Jalaluddin Rumi Mabuk Kasih Ilahi”.

Sang Istri: Bhagavad Gita menjelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Ternyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang, ia telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrata. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas, ia telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta. Pecinta, Hyang Dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu adanya. Demikian uraian dalam buku “Vedaanta”.

Sang Suami: Rasanya kita sedang berbicara dalam mimpi. Semua hanya teori. Kita sering bicara tentang tauhid, tentang kesatuan, dan kita anggap bicara tentang tauhid sudah cukup, menerima tauhid sebagai konsep sudah cukup juga. Penerimaan kita terhadap tauhid sebatas “penerimaan intelektual” saja. Alhasil penerimaan seperti itu justru membuat kita arogan. Semua harus dilakoni. Semoga Guru memandu perjalanan meniti ke dalam diri.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Harimau Dan Pengorbanan Bodhisattwa

  1. Betapa mengharukannya, namun momen itu bukanlah momen kesedihan dan tragedi, walaupun perenungan semacam itu bisa membuat kita trenyuh, berlinang air mata selama beberapa menit. Bersyukurlah kita bisa merasakan pengorbanan itu, berarti nurani kita masih peka dengan kasih. Yang patut dicontoh dari Bodhisattva dan Jesus bukan hanya tindakan nyata mengorbankan tubuh demi kebahagiaan semua makhluk hidup, juga sebaiknya dimengerti bahwa mereka melakukannya dalam keadaan pikiran mereka sudah menyatu dengan Alam Semesta, damai sejahtera selalu terpancar dari diri mereka, ego mereka yang sudah musnah, berganti dengan pribadi yang tulus penuh pengabdian terhadap Alam Semesta…. Seperti tekad para pengikut Tantra yang mempersembahkan tubuh,ucapan,pikiran kepada guru pembimbingnya saat memohon perlindungan, yang dimantapkan lagi dalam sadhana mandala persembahan, kita mendedikasikan hidup kita demi kebahagiaan semua makhluk termasuk diri kita sendiri. Dengan semangat yang tinggi untuk mencapai penerangan, para yogi mengorbankan segalanya dengan bijaksana. Mereka mengamalkan Bodhicitta dari Guru Dharmakirti, menolong usaha semua makhluk demi pembebasannya dari samsara pengorbanan Sang Bodhisattva sungguh mengharukan…semoga kita bisa melakoninya sendiri dlm kehidupan.
  2. Contoh mulia dari leluhur kita.
  3. Ada beberapa orang yang berani berkorban demi konsep yang diyakininya. Tetapi perlu dilihat apakah pengorbanan diri bahkan nyawanya merugikan orang lain? Pengorbanan mestinya dilandasi kasih. Pengorbanan mestinya tidak dilandasi kebencian. Pengorbanan mestinya tidak didasari untung-untungan, jadi mukti atau mati. Pengorbanan penuh kesadaran, penuh keikhlasan.
  4. Kasih muncul ketika sudah ada kesadaran bahwa sesungguhnya ada kesatuan dan persatuan dibalik ke bhinekaan….. Hidup indah setalah memahami bahwa semuanya adalah suatu kesatuan tak terpisahkan…. Saling bersinergi.
  5. Dengan berbagai keyakinan, apakah Tauhid, Yoga, Pencerahan intinya adalah “Penyatuan”. Leluhur kita sungguh luar biasa mempunyai semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Einstein pun mempunyai keyakinan bahwa semua zat atau materi pun sejatinya adalah energi. Wujud berasal dari energi. Yang ada hanyalah energi, Sang Energi Agung.
  6. Kita dihidupi oleh energi dari Tanah ini..?! Bukankah setiap tanah memiliki corak energi nya masing-masing.. Di Tanah ini Tuhan berbicara dengan Bahasa Ibu Pertiwi..!!
  7. Wihdatul al wujud. Memayu hayuning bhuwana.
  8. Kisah yang mengharukan tentang pengorbanan Bodhisattwa. Kadang secara tidak sadar kita sering meminta oang lain berkorban untuk kita, tapi kita sendiri itung-itungan dalam berkorban.
  9. Bila sang diri telah mengenali dirinya, bila setiap perjalanan telah menemukan hakekatnya, tiada sesuatu yang perlu dilepas, berada di sana kita akan disibukkan oleh perayaan kehidupan sehingga tiada waktu unntuk berpikir mana apa yang perlu dan tidak untuk dilepaskan. karena segala yang dilihat adalah wajah-wajah Allah, dengan sendirinya segala sesuatu akan terlepaskan. yang tersisa hanya Dia,Dia dia dan Dia …..
  10. Disini laila disana laila disitu laila di mana-mana yang ada hanya laila …….la maujuda.
  11. Sangat inspiratif, meski sy sendiri selalu menjadi ‘minder’ ketika mendengar kisah para Bodhisatva ini. Jalan Bodhisatva adalah suatu jalan yg teramat berat, sangat berat. “Jattakamala”, kalau sy tidak salah ingat merupakan teks yg berisi kisah2 dn sikap altruistik Bodhisatva yg nantinya menjadi Pangeran Siddarta. Terlepas … Lihat Selengkapnyabahwa kisah2 ini selalu hadir dalam bentuk2 mitologis yang, menurut saya selain sangat dramatik dn seringkali terkesan hiperbolik, tapi pesan moralnya ini sangatlah kuat. Bahwa pengorbanan diri untuk orang atau mahluk lain, sebenarnya ialh suatu metode tercepat untuk memecah ‘cangkang’ EGO kita (mana yg lebih dulu, ‘cangkang’ EGO yg sudah pecah sehingga ia bisa mengorbankan dirinya untuk mahluk lain, ataukah pengorbanan diri untuk mahluk lain adalah suatu metode memecah ‘cangkang’ EGO?). Terlepas dari itu, semoga suatu saat nanti kita semua berani mencoba bernubuat untuk menghayati “SUMPAH JANJI BODHISATVA” dalam batin kita sendiri-sendiri.
  12. Saya jadi teringat film yang berjudul “Vertikal Limit”. Film ini tidak hanya bikin kita trenyuh, tapi juga menggetarkan hati. Film perihal aktivitas panjat tebing di gunung es. Setidaknya ada dua adegan. Pertama, bapak yg mengorban dirinya dengan meminta pd sang anak laki2nya utk memutus talinya, sehingga kedua anaknya akhirnya dapat selamat. Dn kedua, seorang pendaki tua yang memutus sendiri talinya agar upaya resque yang tengah mereka lakukan berhasil. Berulang-ulang film ini saya tonton, berulang-ulang juga saya selalu menitikan air mata pada momen-momen dramatik ini. Film ini sangat jelas mengusung spirit berBodhisatva.
  13. Bagi kami tak ada sesuatu yang terjadi karena kebetulan. Semoga Keberadaan membimbing kita semua lewat jalan apa pun dalam perjalanan meniti ke dalam diri.
  14. Terima Kasih Ibu Pertiwi, yang telah menghidupi diri selama ini

Terima Kasih.

Salam __/\__

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Rusa Ruru

Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan relief batu di Candi Borobudur, yang bercerita tentang Kisah Rusa Ruru. Kemudian mereka membicarakannya dengan referensi buku-buku itu.

Sang Istri: Konon Bodhisattwa pernah lahir sebagai seekor rusa. Rusa Ruru namanya. Tanduknya seperti dilapisi oleh emas murni, kuning mengkilat bercahaya. Bulu-bulu kulitnya sangat indah seakan-akan terdiri dari batu-batu permata beraneka warna. Matanya biru penuh kelembutan dan bercahaya, permata safir pun kalah dengan keindahannya. Seekor rusa yang tak ada taranya dan dia pun pandai berbicara seperti manusia. Sang Rusa Ruru paham bahwa dirinya akan menjadi buruan para manusia. Sehingga tak pernah keluar dari hutan kediamannya. Sebuah hutan yang tak pernah terjamah oleh manusia, berbatasan dengan sebuah kali yang deras alirannya……. Pada suatu hari, saat Sang Rusa Ruru duduk mengagungi keindahan alam semesta, dia mendengar teriakan yang menyayat hati. Seseorang berteriak minta tolong karena sudah tak berdaya lagi. Setelah didatangi ternyata ada seseorang yang hanyut di kali. Kematian segera mendatangi, bila tidak ada makhluk yang peduli……. Sang Rusa terjun ke kali dan minta orang tersebut berpegangan pada tanduknya. Dengan susah payah dibantunya orang tersebut naik ke atas punggungnya. Dibawanya orang tersebut berenang ke tepian untuk menyelamatkan nyawanya. Orang tersebut sangat bersyukur, ada rusa indah yang rela bertarung nyawa menyelamatkan dirinya. Dan Sang Rusa ternyata dapat berbicara seperti manusia. Orang tersebut berkata, tak ada manusia walaupun saudara yang bertindak seperti Sang Rusa. Kemudian dia menyerahkan hidupnya kepada Sang Rusa. Apa yang diminta Sang Rusa akan dikabulkannya. Termasuk bila diminta menjadi pelayan rusa seumur hidupnya. Sang Rusa menjawab pelan, bahwa keserakahan memenuhi dunia. Akan banyak orang yang memburu dirinya bila tahu tempat tinggalnya. Sang Rusa hanya berpesan agar orang tersebut tidak usah menceritakan pertemuan dengan dirinya. Kemudian orang tersebut ditunjukkan jalan keluar dari tempat tersebut menuju desa……. Tersebutlah seorang permaisuri raja yang mimpinya selalu menjadi nyata. Pada suatu hari dia bermimpi tentang seekor rusa yang indah sekali. Tubuhnya dipenuhi oleh batu-batu permata beraneka warna. Tanduknya seperti mahkota yang terbuat dari emas murni. Matanya begitu indah dan meluluhkan siapa saja. Sang Rusa nampak sedang berdiri, berbicara dikelilingi raja dan para menteri….. Sang permaisuri menceritakan mimpinya kepada Sang Raja. Dan minta Sang Raja mencari kebenaran tentang keberadaan Sang Rusa. Sang Raja pun tertarik dengan berbagai permata yang ada di tubuh Sang Rusa. Sang Raja membuat pengumuman bahwa barangsiapa dapat menunjukkan tempat Sang Rusa akan diberi imbalan sebuah desa……. Tersebutlah orang yang pernah ditolong Sang Rusa. Dia pernah berjanji pada Sang Rusa untuk tidak akan memberitahukan tempat tinggalnya. Akan tetapi dia sekarang sangat miskin, hidup penuh derita. Setelah perang batin yang lama, nafsu keserakahannya mengalahkan hati nuraninya. Akhirnya dia memberitahu raja bahwa dia tahu tempat tinggal Sang Rusa. Sang Raja kemudian membawa pasukan lengkap untuk menangkap Sang Rusa. Tersebutlah mereka sampai di sungai tempat orang tersebut pernah diselamatkan oleh Sang Rusa. Dia menunjuk seberang kali dan nampak Sang Rusa berada di sana. Tiba-tiba tangan orang tersebut lumpuh setelah menunjukkan tempat Sang Rusa. Para pengawal raja segera membidik Sang Rusa. Sang Rusa paham tak ada gunanya melarikan dirinya. Dia bertanya, wahai raja siapa yang menunjukkan tempat tinggal hamba. Ada seseorang yang hampir mati tenggelam terseret arus kali yang kemudian kuselamatkan nyawanya. Dia telah berjanji tak akan menunjukkan tempat tinggal hamba. Sang raja bertanya kepada orang yang menunjukkan tempat Sang Rusa. Apakah dia pernah mengalami apa yang diceritakan Sang Rusa. Orang tersebut mengangguk dan raja mengarahkan panah kepadanya. Sang Raja berkata, tak ada gunanya hidup lebih lama bagi orang yang membalas budi dengan air tuba. Kemudian Sang Rusa berkata, orang tersebut terpaksa mengingkari janji karena kemiskinannya. Tolong dia jangan dihukum dan agar diberi hadiah sesuai janji Sang Raja. Sang Raja sadar telah bertemu rusa yang bijaksana. Sang Raja berkata, demi rusa yang bijaksana kau kuampuni dan kuberikan hadiah sesuai janji seorang raja. Kemudian sang raja melanjutkan, wahai rusa yang bijaksana, aku sudah membuat keputusan, kau tidak akan diganggu seluruh masyarakat di kerajaanku. Sekarang mari ke istana naik keretaku. Sang Raja mengajak Sang Rusa Ruru ke istana dan bertemu permaisuri dan para menterinya. Sang Rusa Ruru diangkat menjadi penasehat Sang Raja. Raja menjadi lebih bijaksana dan rakyatnya makmur sejahtera. Konon setelah beberapa kelahiran, Sang Rusa Ruru lahir kembali menjadi Sang Buddha.

Sang Suami: Di awal cerita, Sang Rusa Ruru tidak mau hidup di masyarakat, lebih baik hidup di hutan perawan yang belum pernah diinjak kaki manusia. Pernyataan Sang Rusa Ruru ada benarnya. Dalam diri manusia, masih ada kebuasan serigala. Masih ada keliaran monyet, masih ada kemalasan babi, masih ada kicauan burung juga. Gonggongan anjing dan kwek-kweknya bebek, semuanya masih ada. Napsu birahi masih belum terkendali, yang membuat manusia sebuas serigala. Pikiran masih liar, bagaikan monyet, malas untuk melakoni olah batin, seperti babi saja. Mengoceh terus, ngomongin orang terus, seperti burung, hidup tanpa kesadaran, hanya mengikuti massa, persis seperti bebek, itulah manusia! Keliaran ini, kehewanian ini, kebuasan ini dianggap “kewarasan” oleh dunia, oleh massa. Kenapa? Dunia manusia masih buas juga, masih liar juga, masih hewani juga. Mereka yang bisa menerima kebinatangan diri kita masih binatang juga. Demikian dijelaskan dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”.

Sang Istri: Orang yang telah diselamatkan oleh Sang Rusa, hidup dalam kemiskinan. Dia belum dapat membedakan antara kenyamanan dan kebenaran. Dia merasa dipandang dengan sebelah mata, saat menjadi orang biasa. Dia mempunyai pola kebiasaan agar menonjol dan kemudian dihormati orang di sekitarnya….. Kebiasaan-kebiasaan buruk dalam diri kita bagaikan semak berduri. Sekali tertanam, akan tumbuh pesat sekali. Satu kebiasaan akan membuat kebiasaan lainnya mendatangi. Sering kali, Si Penanam pun terluka oleh karenanya, tetapi dia tetap tidak menyadari. Dia masih mempertahankan “semak berduri kebiasaan-kebiasaan buruk” di dalam diri. Demikian disampaikan dalam buku “Masnawi Buku Kedua, Bersama Jalaluddin Rumi Memasuki Pintu Gerbang Kebenaran”….. Orang tersebut ingin mendapatkan karunia Sang Raja, tetapi dengan membahayakan keamanan Sang Rusa, bahkan dia telah mengingkari janji yang telah diucapkannya. Orang tersebut melupakan nilai kebijakan tertinggi, bahwa “aku senang, kamu pun harus senang juga. Aku bahagia, kau pun mesti bahagia pula. Berarti, aku tidak dapat mengabaikan kepentinganmu demi kepentingan diriku saja”.

Sang Suami: Menjadi “manusia biasa” adalah tujuan setiap manusia. Manusia tidak lahir untuk menjadi malaikat atau dewa. Ia lahir untuk menjadi manusia. Manusia biasa. Sulit untuk menjadi “manusia biasa”. Adalah sangat mudah bagi kita untuk mengaku sebagai “ini” dan “itu”, sebagai umat dari agama tertentu, sebagai alumni dari universitas tertentu, sebagai politisi dari partai tertentu. Dan, betapa sulit bagi kita untuk mengaku, “kita orang Indonesia”. Karena kita ingin menunjukkan bahwa diri kita beda. Masing-masing ingin berucap, aku bukan orang biasa, aku luar biasa….. Jadilah manusia biasa. Pertahankanlah ke-”biasa”-an kita. Menjadi pemimpin, menjadi profesional, menjadi apa saja, kita tetaplah manusia biasa, dengan segala kelemahan dan kekurangannya. Mari kita mengajak sesama anak bangsa, untuk ikut menjadi manusia biasa. Manusia yang tidak diperbudak oleh sistem, oleh dogma dan doktrin, oleh agamawan dan ruhaniwan, oleh lembaga keagamaan dan lain-lainnya. Manusia biasa yang berhamba sepenuhnya pada Gusti Allah, pada Hyang Widhi, pada Adi Buddha, pada Ia yang Sejati, pada Bapa di Surga. Demikian petikan dari buku “Be The Change, Mahatma Gandhi’s Top 10 Fundamentals for Changing the World”.

Sang Istri: Rusa Ruru adalah contoh makhluk yang bebas dari keterikatan dunia. Dia tak peduli hidup di tengah rimba yang belum terjamah oleh manusia. Dia tak ingin mendapatkan nama, tetapi tugas menjadi penasehat raja pun diterima. Demi kebaikan kehidupan sesama. Dia yang mencapai keadan tanpa keterikatan dalam hidup adalah seorang Jeevan Mukta. Ia hidup di dalam dunia ini, tetapi tidak terikat dengan dunia dan keduniawiannya. Ia menjadi seorang Bodhisattva. Seorang Jeevan Mukta atau Bodhisattwa juga tidak terpengaruh oleh pendapat siapa pun tentang dirinya. Ia selalu berusaha untuk berbuat baik, karena kebaikan adalah sifatnya. Seorang Jeevan Mukta atau Bodhisattwa tidak berbuat baik untuk dipuji, atau untuk memperoleh penghargaan apa pun juga. Karena itu, jika sebagian masyarakat tidak memahaminya, atau malah menghujatnya, ia pun tidak terpengaruh juga. Demikian salah satu petikan dari buku “Sandi Sutasoma”.

Sang Suami: Orang yang pernah ditolong Sang Rusa langsung lumpuh tangannya saat menujuk tempat keberadaannya. Seharusnya orang tersebut bersyukur, karena langsung memperoleh akibat dari perbuatannya…… Ada pohon yang berbuah dalam sekian bulan, atau sekian tahun, persis seperti itu pula dengan perbuatan-perbuatan kita. Ada kalanya kita berbuat jahat, dan langsung dijatuhi hukuman ada yang menunggu beberapa lama. Pada saat langsung dijatuhi hukuman, seharusnya kita bersyukur, Ya Allah, sungguh beruntunglah diriku, tidak perlu menunggu lama untuk menyelesaikan hutang-piutang perbuatanku.

Sang Istri: Sang Raja sadar bertemu dengan seekor rusa yang bijaksana. Sang Raja patuh pada nasehat Sang Rusa yang dianggap sebagai Gurunya. Sang Raja telah membuka dirinya menerima semua pelajaran dari Sang Rusa….. Membuka diri tidak berarti membuka otak kita. Tanpa dibuka pun sesungguhnya otak kita sudah terbuka. Keterbukaan otak terhadap apa saja tidak menjamin penerimaannya. Otak bisa terbuka, dan bisa tidak menerima. Membuka diri berarti membuka jiwa. Bila jiwa terbuka, otak, hati, semuanya serentak ikut terbuka. Demikian diuraikan dalam buku “Ishq Ibaadat, Bila Cinta Berubah Menjadi Ibadah”.

Sang Suami: Seorang Bijak berkata, kita bisa membuka jiwa cukup dengan niat, aku membuka diri terhadap segala sesuatu yang dapat mengembangkan jiwaku, meningkatkan kesadaranku. Ketika berhadapan dengan sesuatu yang baru, dalam hati ulangi niat itu….. Sang Bijak menambahkan, Jangan lupa. Pertama, bukalah dirimu terhadap alam, terhadap lingkungan, terhadap apa saja, karena segala sesuatu yang kau jumpai dalam hidupmu sedang berbicara denganmu. Dengarkan semua itu. Kedua: Janganlah membuang waktu dan tenaga untuk mengenang dan menyesali masa lalu. Belajar dari masa lalu tanpa menyesalinya. Jangan pula mengkhawatirkan masa depan. Sadari masa depan tanpa rasa khawatir. Hidup kekinian dengan penuh semangat. Ketiga: Janganlah membebani otakmu dengan segala macam pengetahuan belaka. Terjemahkan apa yang telah kau peroleh dalam keseharianmu.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Rusa Ruru

  1. Jer basuki mawa bea, butuh pengorbanan agar basuki.
  2. Sungguh suatu karma baik bagi kita semua bisa memperoleh pembabaran Dharma Universal yang dicatat leluhur di Maha Mandala Borobudur. Nah, saya akui perasaan ingin berbeda dari yang lain itu juga termasuk noda batin di hati kita yang belum tercerahkan. Sebenarnya kita sudah unik dan berbeda satu sama lain, namun itu sebaiknya bukan dijadikan gengsi yang membuat seseorang merasa dirinya lebih tinggi daripada sesamanya. Sang Buddha juga menyatakan dalam Vijaya Sutta bahwa kondisi badan kita sungguh menjijikkan dan akhirnya pada habis kontraknya akan busuk dimakan binatang-binatang. Jika dengan badan demikian ini seseorang menganggap dirinya tinggi dan memandang rendah orang lain? Apa sebabnya? Hanyalah kebodohan.
  3. Saya hanyalah manusia biasa sama seperti 6 milyar manusia lainnya dimuka bumi..tidak ada bedanya..itu yang utama. Perbedaan-perbedaan yang terlihat adalah dilevel kedua. Mari kita semua lebih mengedepankan persamaan daripada perbedaan agar tercipta kehidupan yang harmonis…
  4. Segala sesuatu dalam alam ini mengalami proses daur ulang. Kesadaran kita bagaikan katalisator. Ia tidak pernah mengalami kematian ataupun kelahiran. Ia kekal, abadi. Kesadaran ini ibarat bayangan keberadaan. Apabila keberadaan itu adalah Bulan, Kesadaran adalah rembulannya. Perpisahan antara mereka hanya terjadi … Lihat Selengkapnyadalam bahasa saja. Pada dasarnya, mereka tidak pernah berpisah. Dimana ada bulan, disitu pula ada rembulan. Dimana ada keberadaan, disitu pula ada kesadaran. Mungkin kita lebih suka menggunakan istilah Tuhan atau Allah bagi Keberadaan. Silahkan, gunakan istilah apa saya Ia satu ada-Nya Kehadiran Tuhan bagaikan katalisator, yang menyebabkan terjadinya penciptaan ini. *Reinkarnasi, AK
  5. Itu sebabnya, Gusti Yesus menasihati kita agar mengejar Kerajaan Allah terlebih dahulu. Segala sesuatu yang lain, akan kita peroleh dengan sendirinya, karena dalam kerajaan Allah – segalanya ada. Saat ini, kita mengejar satuan. Kadang pensil, kadang pena. Kadang penghapus, kadang papan tulis. Carilah Si Penjual, Si Pemilik Toko, dan Dia akan memberikan segala sesuatu kepada anda. Tidak perlu mencari satu per satu. Buang waktu. *Masnawi Buku Kedua, AK.
  6. Silakan menikmati apa yang telah diberikan kepada anda. Dia Maha Tahu, berserahlah pada Kehendak Dia. Dia akan memberikan apa yang anda butuhkan. Tidak perlu mengejar dunia seperti seorang badut mengejar bola di dalam sirkus. Bisa saja terjadi – anda sudah selesai kejar-mengejar dalam masa kehidupan yang lalu. … Lihat SelengkapnyaJika memang demikian, dalam masa hidup sekarang, dari awal anda sudah tidak akan berambisi untuk menjadi “Ketua”, “Juara” dan sebagainya. Selesai kejar mengejar, anda akan mengalir bersama hidup. Dan menyebabkan kehidupan di setiap tempat yang anda lewati. *Masnawi Buku Kedua, AK
  7. Bodhicitta adalah Kesadaran seorang Buddha, kesadaran yang berani, tetapi tidak perlu membuktikan keberaniannya; mind yang tidak lagi membedakan materi dan energi, dunia benda dan roh; mind yang tidak berkiblat arah tertentu, melihat Wajah Allah di mana-mana. *Mawar Mistik, AK
  8. Yang membuat kita merasa berbeda adalah pola pikiran kita, ego kita kata Dalai Lama. Mengikis ego adalah jalan menuju kebersamaan.
  9. Bundelan buku di atas seekor keledai, kata Imam Ghazali, tak mampu mengubah keledai itu menjadi seorang cendekiawan. Sebuah buku semestinya dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga bisa mengubah diri.
  10. Semoga kita semua saling ingat mengingatkan tentang kesadaran.
  11. Selama ini saya sering ke borobudur,tapi tidak memahami makna kisah pada relief-reliefnya. Ternyata banyak kebijaksanaan dari leluhur kita. Sangat naif bila mengatakan leluhur kita bodoh dan tak beradab.
  12. Para leluhur membuat relief di atas batu. Dimaksudkan sebagai buku terbuka di alam semesta. Getaran cerita diharapkan dapat meningkatkan kesadaran.
  13. “Bad habit” merupakan semak berduri yang tumbuh pesat sekali & bisa merusak seluruh kehidupan kita sebagai manusia. Hanya dengan kesadaran & bimbingan dari seorg Guru-lah yang bisa mengubah “habit” kita.
  14. Rusa Ruru..sepengal kisah yang hampir terlupakan (oleh memori saya yang terbatas). Ternyata ceriteranya lebih dari yang saya duga sebelumnya.
  15. Kisah Bodhisattva selalu menjadi suri tauladan yang sempurna perihal dedikasi bagi kebahagiaan yang lain, entah itu untuk sesama ataupun mahluk lain. Di tengah-tengah atmosfir mementingkan diri sendiri yang semakin kental, semoga saja kisah-kisah Bodhisattva yang ditulis ulang ini dapat menginspirasi kita semua untuk mengembangkan semangat berbagi dn menolong pada sesama.

Terima Kasih.

Salam __/\_

Renungan Kisah Pengabdian Pada Relief Candi Borobudur Tentang Jembatan Raga Sang Raja Kera

Sepasang suami istri sedang membicarakan tentang kisah pengabdian Raja Kera. Seekor kera yang mengorbankan raganya demi keselamatan para kera. Pada relief batu di Candi Borobudur terpahat kisahnya. Dengan referensi buku “Kehidupan” mereka mengkajinya.

Sang Istri: Adalah sebuah pohon mangga raksasa yang sangat rimbun daunnya. Dari kejauhan pohon tersebut seperti sebuah bukit hijau saja nampaknya. Dekat tebing sebuah gunung, pohon tersebut berada, dan sebuah sungai melintas di bawah salah satu dahannya. Pohon tersebut mempunyai ribuan buah mangga yang rasanya luar biasa enaknya. Baunya harum dan tahan tidak membusuk dalam waktu yang lama. Mangga yang penuh khasiat, sehingga membuat sehat siapa pun yang memakannya. Ratusan kera hidup di pohon tersebut dibawah pimpinan seekor kera yang paling besar dan paling bijaksana. Pemimpin kera tersebut layak disebut Sang Raja Kera. Komunitas kera tersebut hidup sejahtera berkat pohon mangga raksasa yang berbuah sepanjang tahun tanpa ada habisnya….. Sang Raja Kera berpesan agar seluruh buah yang ada di dahan yang berada di atas sungai harus dihabiskan. Bila ada satu buah saja yang jatuh ke sungai maka kenyamanan hidup mereka bisa berantakan. Konon ada satu buah mangga di atas dahan tersebut, yang luput dari perhatian. Buah tersebut jatuh ke sungai dan dibawa aliran. Seorang raja dan pasukannya kebetulan sedang menyeberang. Mendapatkan buah mangga istimewa tersebut sang raja sangatlah riang. Pasukannya diajak menyusuri sungai ke hulu mencari pohon asalnya. Sampailah mereka ke pohon mangga raksasa dan pasukannya melihat pohon tersebut dihuni ratusan kera. Mereka berteriak-teriak mengusir para kera dengan batu dan sebagian mulai membidikkan anak panahnya. Kera-kera pada ketakutan karena mulai terancam nyawa mereka. Sang Raja Kera naik ke puncak pohon dan meloncat ke tebing gunung di dekatnya. Dia merangkak ke atas gunung mendapatkan pohon rotan dan mengikatnya pada kakinya. Kemudian dia meloncat kembali ke pohon, tetapi hanya tangannya yang dapat menggapai salah satu dahannya. Sang Raja Kera bermaksud membuat jembatan dari rotan dari pohon ke tebing gunung di dekatnya. Akan tetapi yang terjadi tidak seperti yang diharapkannya. Jembatan telah tersedia, tetapi terbuat dari tubuh Sang Raja Kera dengan rotan yang diikat di kakinya yang terhubung dengan tebing gunung di seberangnya. Sang Raja Kera memerintahkan para kera segera meniti jembatan yang telah tersedia. Ratusan kera tersebut melewati jembatan yang terbuat dari raga Sang Raja Kera. Betapa sakitnya Sang Raja Kera, tubuhnya dibebani para kera yang lewat di atas tubuhnya. Tangannya yang memegang dahan berdarah-darah dan masih mencengkeram walaupun dia sangat kelelahan. Kakinya sudah merah, mungkin tulangnya retak karena terikat erat dengan rotan. Dia masih bertahan, sampai kera terakhir diselamatkan. Sang Raja Kera telah mengorbankan dirinya sebagai jembatan agar pengikutnya mendapatkan kebebasan ……. Sang Raja dan pasukannya terkesima melihat pengorbanan Sang Raja Kera. Trenyuh hati mereka melihat penderitaan Sang Raja Kera. Mereka melihat Sang Raja Kera luka parah, tetapi tetap bertahan demi seluruh kera komunitasnya. Tanpa terasa mata Sang Raja dan pasukannya berkaca-kaca. Sang Raja memerintahkan pasukannya mempersiapkan jaring-jaring di bawah tubuh Sang Raja Kera. Pasukannya diminta memanah secara bersama, dahan pegangan Sang Raja Kera dan rotan yang mengikat kakinya. Sang Raja Kera jatuh ke jaring-jaring dalam keadaan pingsan. Pasukan raja berusaha sebisa-bisanya memberikan pertolongan. Tiba-tiba Sang Raja Kera siuman. Dia berterima kasih bahwa jiwanya telah diusahakan untuk diselamatkan. Melihat kera besar yang dapat berbicara seperti manusia, Sang Raja keheranan. Di wajah Sang Raja Kera tidak menunjukkan tanda bahwa dia menyesalkan tindakan raja dan pasukannya yang telah mengakibatkan keadaannya menjadi demikian….. Sang Raja mohon maaf telah mengganggu kehidupan para kera dan menyebabkan peristiwa tragis yang terjadi. Sang Raja Kera berkata, raga ini bisa luka tetapi pikiran jernih masih ada di dalam diri. Kasihku kepada para kera tak akan terpengaruh oleh keadaan ragaku ini. Ragaku ini sebentar lagi akan kutinggalkan, tetapi rasa kasih dalam diri ini tetap abadi. Sejak kecil sampai dewasa dan sampai meninggal sesaat lagi….. Diriku telah mengalami berbagai pengalaman, akan tetapi rasa kasih ini selalu ada setiap saat, karena telah mengisi seluruh diri….. dan kemudian, Sang Raja Kera tidak bernapas lagi…. Sang Raja bersabda, bukan suatu kebetulan dia menyaksikan peristiwa luar biasa. Sang Raja Kera telah memberi pelajaran bagaimana cara melayani dengan penuh kasih sepanjang hayatnya. Setelah kejadian itu Sang Raja mulai memimpin kerajaan dengan lebih bijaksana. Sang Raja bersikap penuh kasih melayani rakyatnya…..Konon setelah beberapa kehidupan Sang Raja Kera lahir kembali menjadi Sang Buddha……

Sang Suami: Sang Raja Kera hanya bertindak menyelamatkan kehidupan para kera, tak setitik pun rasa membenci raja dan pasukannya yang telah menjarah kediaman mereka….. Sang Raja Kera mempunyai kemampuan untuk menerima ketidakadilan terhadapnya. Ketidakadilan yang menimpa diterima sebagai akibat tindakannya di masa masa lalu kehidupannya. Dia berterima kasih bahwa Keberadaan telah memberikan kesempatan untuk menghembuskan nafasnya sebagai pahlawan para kera. Sang Raja mendapat mutiara pelajaran yang sangat berharga. Sang Raja merasa selalu melakukan upacara ritual bagi keselamatan rakyatnya. Tetapi Sang Raja Kera telah berada jauh di depannya. Dia tak hanya mendoakan tetapi mengabdi dan melayani rakyatnya. Ibadah, Pemujaan, Sembahyang adalah sarana untuk menciptakan Pengabdian dalam diri manusia. Disiplin-disiplin seperti itu dibutuhkan untuk melahirkan Pengabdian dalam diri manusia. Begitu lahir Rasa-Pengabdian dalam dirinya, dia akan mulai melihat Gusti di mana-mana. Dengan kesadaran seperti itu, apa pun yang dia lakukan akan menjadi persembahan semata. Dia tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk keuntungan pribadi, apa pun yang dia lakukan, dilakukan demi cinta…..

Sang Istri: Kita harus memahami definisi Pengabdian secara benar, karena sudah sering sekali kita gagal mengenali seorang Pengabdi. Konsep kita tentang Pengabdian pantas dikaji. Kita percaya bahwa seorang Pengabdi akan menolak, akan menyangkal dunia materi dan merangkul dunia rohani. Tidak, mereka yang melakukan karena pelarian, tidak dapat disebut seorang Pengabdi…….. Menerima atau menolak, tidak dapat dilakukan keduanya sekaligus secara bersamaan. Pengabdi menerima segala sesuatu yang ada dalam Keberadaan. Ia mencintai semuanya, tidak berurusan dengan kebencian, penolakan atau penyangkalan. Saat kita menolak dunia, kita sedang menabur bibit kebencian. Bagaimana kita dapat berharap akan pohon cinta dan Pengabdian?

Sang Suami: Benar istriku, mereka telah lupa cara merayakan kehidupan. Mereka tidak dapat menyanyi, bisu, tidak dapat berdansa di bawah sinar matahari dan cahaya rembulan. Jika ini merupakan hasil Pengabdian, jika ini adalah hasil akhir dari kepercayaan mereka, terserah mereka. Seorang bijak tidak berkepentingan apa pun dengan Pengabdian ala mereka, dengan religiositas ala mereka. Pengabdi tidak pernah serius. Dia tidak pernah bermuka panjang dengan penampakan serius. Pengabdi akan menemukan dan menerima hidup secara keseluruhan. Ia akan menerima hidup secara total. Ia tidak hidup secara parsial. Dia menari, bernyanyi dan berpesta. Pengabdi akan selalu ceria. Pengabdi akan membuat hidupnya menjadi perayaan cinta kasih yang tak pernah ada akhirnya. Dan, dia akan mengundang siapa saja untuk bergabung dalam perayaannya. Entah mereka berkulit putih atau sawo matang atau kuning, dari kelompok kepercayaan A, B atau lainnya. Seorang Pengabdi, seseorang yang sungguh religius akan berhenti mencari, karena ia telah bertemu dengan Dia. la senang, puas. la berada dalam keadaan kebahagiaan yang sempurna.

Sang Suami: Ada pernyataan yang pantas direnungkan. Menyembah Gusti itu dilakukan secara pribadi. Gunanya sebagai latihan mengikis ego diri. Melakukan ibadah agar dipuji, justru meningkatkan ego pribadi. Di tengah masyarakat, Gusti bukan untuk disembah tetapi untuk dilayani. Bukan menyembah tetapi melayani, mengabdi. Alam semesta ini adalah tarian Gusti dan Penarinya adalah Gusti. Mengabdi pada Gusti berarti melayani alam semesta yang merupakan percikan dari-Nya. Melayani semua makhluk, karena semuanya merupakan percikan-Nya. Berbuat kebaikan bukan merupakan transaksi perdagangan. Ego lah yang berkata, saya telah berbuat baik, tolong dikabulkan keinginanku ya Tuhan. Ego merasa Tuhan adalah seperti apa yang dipikirkannya. Semuanya tidak berpusat pada Tuhan tetapi berpusat pada egonya. Tuhannya Ego adalah Tuhan konsep pikiran manusia. Gusti tidak dapat diserupakan dengan apa pun juga. Gusti melampaui pikiran dan untuk mendekatinya kita harus melampaui pikiran juga.

Sang Istri: Mereka yang tidak sadar akan selalu mencari jalan gampang untuk memperoleh kenikmatan duniawi, mendapatkan kenyamanan diri. Apabila tindakan itu mencelakakan orang lain mereka tidak ambil peduli.Semoga kita semua sadar dan tidak akan mencelakakan orang lain demi kepentingan pribadi. Terhadap makhluk-makhluk hidup, kita tidak akan berbuat keji. Terhadap lingkungan, kita tidak akan mencemari, kita usahakan agar bisa lestari.

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pengabdian Pada Relief Candi Borobudur Tentang Jembatan Raga Sang Raja Kera

  1. Ego yang memberhalakakan materi tak berkesudahan. Ego harus dikorbankan.
  2. Semoga kita bersama sadar tujuan dari keberadaan di bumi. Melepaskan ego yang kadang sangat halus tipuannya. Waspada dan sadar selalu sebagai kunci perjalanan.
  3. Seperti kera-kera tersebut karena terlena oleh kenyamanan sehingga luput memperhatikan buah yang jatuh, itulah ego kita sendiri, pikiran kita sendiri, sehingga sering kali mengundang bencana bagi diri kita sendiri. Dan sadar atau tidak sadar saya sering kali melakukan hal itu, dan baru menyadari kesombongan diri, kelalaian diri begitu kesusahan menimpa diri…… namun kita harus menghadapi setiap kesukaran tersebut, seperti raja kera, karena itu juga merupakan salah kita sendiri. Semoga jiwa kepengabdian dapat tumbuh di taman jiwa saya dan jiwa kita semua, amin ya Rabb amin.
  4. Para pengabdi bertebaran di mana-mana. Dunia ini tetap membingungkan. Kadang-kadang kita melihat ketulusan pengabdian seseorang yang buta huruf jauh melebìhi orang yang mengenyam pendidikan formal. Nabi Muhammad misalnya.
  5. Pengorbanan raja kera bener-bener pengabdian, kasih yang suci kepada rakyatnya.
  6. Pengorbanan dan pengabdian dari raja kera sungguh luar biasa…. mudah-mudahan anak bangsa ini bisa meneladaninya.
  7. Cerita Jataka ini adalah pembabaran dharma yang sangat tepat untuk Kepemimpinan. Raja itu menghormati kepemimpinan Sang Raja Kera dengan menempatkan tengkoraknya dalam stupa dan memujanya. Raja itu akhirnya bertumimbal lahir sebagai bhikkhu Ananda, saudara sepupu Siddharta Gautama, pangeran kerajaan Kapilavastu di Nepal. Pangeran Siddharta memutuskan jadi pertapa di hutan, dan mencapai ke – Buddha – an, para familinya termasuk Ananda juga menyusulnya, dan jadi pelayan setia sang Buddha Gautama hingga wafatnya. Kepemimpinan yang tanpa pamrih yang dilaksanakan dengan mengorbankan apa saja termasuk diri sendiri bukan semata ciri khas Buddha, ini adalah cerminan Kasih Alam Semesta kepada para makhluk yang bersemayam di dalamnya. Kepemimpinan bukanlah semata mengepalai suatu bangsa atau kelompok, namun menjadi penentu arah perkembangan kehidupan kita ini, baik itu diri sendiri atau kelompok. Kepemimpinan membuat seseorang yang melaksanakan Dharma membentuk dirinya menjadi lebih baik, lebih tenang, tidak ‘madhatan’, tidak ‘kedonyan’ apalagi ‘kemaruk’. Ketulusan pada dirinya sendiri dalam berbuat, tanpa paksaan, hanya mengikuti Irama Alam Semesta, dengan ‘sukha citta’ seseorang mampu mengubah dirinya sendiri lebih baik, dan teman-temannya juga mengikuti kebiasaannya. Butuh waktu lama untuk membentuk karakter yang damai terutama dengan diri sendiri, selain dengan sesama dan Alam Semesta jika kita terus melekat pada konsep, yang nyatanya adalah pribadi-pribadi keras, serius karena ada kepentingan pribadi yang meraja di hati. Semoga siapapun yang merasa terinspirasi oleh cerita Jataka ini bisa menghidupkan kembali kepemimpinannya yang sejati! Bangkitlah Kesadaranku dan Kesadaran semua orang yang membaca tulisan ini! Bangkitlah bangsaku Indonesia Raya
  8. Munculnya kembali ego merupakan bahaya laten yang harus disadari dan dihindari. Seseorang bisa menjadi egois, senang mendengarkan suara dia sendiri, tidak ingin mendengar pendapat orang lain. *Kundalini Yoga, AK.
  9. “Lepaskan keangkuhanmu, keakuanmu, egomu dan pintu-Nya akan terbuka lebar bagimu! Pengalaman keagamaan kita selama ini belum berhasil meleburkan keakuan kita.” *Zen, AK.
  10. Mengenai pengabdian ada petikan dari buku *Damai dan Ceria, AK, “Yang penuh pengertian akan selalu mencari kesempatan untuk mengabdi. Di kota-kota besar seperti Bombay, Madras, Calcutta, London, New York, Jakarta dan lain-lain, saya melihat bahwa manusia telah mengambil sikap tidak acuh terhadap permasalahan orang lain. Apakah Anda tahu apa yang menjadi kebalikan cinta? Kebalikan cinta bukanlah kebencian tetapi ketidakpedulian. Apabila Anda ingin mengembangkan jiwa pengertian, Anda harus mengembangkan sifat pengertian. Anda harus mencari kesempatan untuk dapat mengabdi.”
  11. “Salah satu ciri-ciri seorang pengabdi. Ia adalah orang yang tenang, dan telah berdamai dengan dirinya, maka ia dapat berkarya dengan tenang. Ia dapat berkerja dengan damai, dan dapat menyebarluaskan ketenangan dan kedamaian yang dialami dan dirasakannya. Banyak hal yang amat bernilai seperti kebenaran, kebijakan, kasih, dan lain-lain. Namun Shankara hanya menyebut salah satu diantaranya secara spesifik. Kenapa? Karena, ia adalah seorang ahli ilmu jiwa. Ia yakin bahwa jiwa yang damai akan menemukan sendiri nilai-nilai luhur lainnya. Jiwa yang damai tidak terbujuk oleh kepalsuan, karena kepalsuan tidak pernah mendamaikan. Jiwa yang damai tidak mengenal kejahatan, karena kejahatan merusak kedamaian. Jiwa yang damai tidak bisa membenci, karena kebencian menyisihkan kasih dari hati”. *Five Steps Awareness, AK.
  12. Masalah kesucian, “Bhishma, Sang Kakek Agung, menjelaskan makna kesucian, esensi kesucian dalam dua kalimat. Dalam dua kalimat itu, ia menulis sebuah kitab suci. Sungguh luar biasa. Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma. Segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah … Lihat SelengkapnyaDharma”. Kemudian, ia pun menegaskan : “Dharma memperkuat, mengembangkan konflik, tetapi memperkuat persatuan. Itulah Dharma. Itulah Esensi kesucian !” *Surat Cinta Bagi Anak Bangsa, AK.
  13. Banyak Guru, Para Suci seperti Gusti Yesus yang rela berkorban demi keselamatan pengikutnya.
  14. YM Bhikku Ananda mendokumentasikan hampir semua pembabaran Dharma “Yang Terjaga”. Pengaruh YM Ananda terhadap Jataka sangat besar. Banyak sekali cerita Jataka yang menggambarkan kehidupan YM Bhikku Ananda sewaktu menjadi raja.
  15. Notes yang menggugah kesadaran, Keberadaan Guru ibarat sang raja kera, keberadaan beliau hanya karena kasihnya kepada kita. Semoga kita mampu memenfaatkan kesempatan yang langka ini dengan sebaik-baiknya.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pengabdian Pada Relief Candi Borobudur Tentang Jembatan Raga Sang Raja Kera

1. Ego yang memberhalakakan materi tak berkesudahan. Ego harus dikorbankan.

2. Semoga kita bersama sadar tujuan dari keberadaan di bumi. Melepaskan ego yang kadang sangat halus tipuannya. Waspada dan sadar selalu sebagai kunci perjalanan.

3. Seperti kera-kera tersebut karena terlena oleh kenyamanan sehingga luput memperhatikan buah yang jatuh, itulah ego kita sendiri, pikiran kita sendiri, sehingga sering kali mengundang bencana bagi diri kita sendiri. Dan sadar atau tidak sadar saya sering kali melakukan hal itu, dan baru menyadari kesombongan diri, kelalaian diri begitu kesusahan menimpa diri…… namun kita harus menghadapi setiap kesukaran tersebut, seperti raja kera, karena itu juga merupakan salah kita sendiri. Semoga jiwa kepengabdian dapat tumbuh di taman jiwa saya dan jiwa kita semua, amin ya Rabb amin.

4. Para pengabdi bertebaran di mana-mana. Dunia ini tetap membingungkan. Kadang-kadang kita melihat ketulusan pengabdian seseorang yang buta huruf jauh melebìhi orang yang mengenyam pendidikan formal. Nabi Muhammad misalnya.

5. Pengorbanan raja kera bener-bener pengabdian, kasih yang suci kepada rakyatnya.

6. Pengorbanan dan pengabdian dari raja kera sungguh luar biasa…. mudah-mudahan anak bangsa ini bisa meneladaninya.

7. Cerita Jataka ini adalah pembabaran dharma yang sangat tepat untuk Kepemimpinan. Raja itu menghormati kepemimpinan Sang Raja Kera dengan menempatkan tengkoraknya dalam stupa dan memujanya. Raja itu akhirnya bertumimbal lahir sebagai bhikkhu Ananda, saudara sepupu Siddharta Gautama, pangeran kerajaan Kapilavastu di Nepal. Pangeran Siddharta memutuskan jadi pertapa di hutan, dan mencapai ke – Buddha – an, para familinya termasuk Ananda juga menyusulnya, dan jadi pelayan setia sang Buddha Gautama hingga wafatnya. Kepemimpinan yang tanpa pamrih yang dilaksanakan dengan mengorbankan apa saja termasuk diri sendiri bukan semata ciri khas Buddha, ini adalah cerminan Kasih Alam Semesta kepada para makhluk yang bersemayam di dalamnya. Kepemimpinan bukanlah semata mengepalai suatu bangsa atau kelompok, namun menjadi penentu arah perkembangan kehidupan kita ini, baik itu diri sendiri atau kelompok. Kepemimpinan membuat seseorang yang melaksanakan Dharma membentuk dirinya menjadi lebih baik, lebih tenang, tidak ‘madhatan’, tidak ‘kedonyan’ apalagi ‘kemaruk’. Ketulusan pada dirinya sendiri dalam berbuat, tanpa paksaan, hanya mengikuti Irama Alam Semesta, dengan ‘sukha citta’ seseorang mampu mengubah dirinya sendiri lebih baik, dan teman-temannya juga mengikuti kebiasaannya. Butuh waktu lama untuk membentuk karakter yang damai terutama dengan diri sendiri, selain dengan sesama dan Alam Semesta jika kita terus melekat pada konsep, yang nyatanya adalah pribadi-pribadi keras, serius karena ada kepentingan pribadi yang meraja di hati. Semoga siapapun yang merasa terinspirasi oleh cerita Jataka ini bisa menghidupkan kembali kepemimpinannya yang sejati! Bangkitlah Kesadaranku dan Kesadaran semua orang yang membaca tulisan ini! Bangkitlah bangsaku Indonesia Raya

8. Munculnya kembali ego merupakan bahaya laten yang harus disadari dan dihindari. Seseorang bisa menjadi egois, senang mendengarkan suara dia sendiri, tidak ingin mendengar pendapat orang lain. *Kundalini Yoga, AK.

9. “Lepaskan keangkuhanmu, keakuanmu, egomu dan pintu-Nya akan terbuka lebar bagimu! Pengalaman keagamaan kita selama ini belum berhasil meleburkan keakuan kita.” *Zen, AK.

10. Mengenai pengabdian ada petikan dari buku *Damai dan Ceria, AK, “Yang penuh pengertian akan selalu mencari kesempatan untuk mengabdi. Di kota-kota besar seperti Bombay, Madras, Calcutta, London, New York, Jakarta dan lain-lain, saya melihat bahwa manusia telah mengambil sikap tidak acuh terhadap permasalahan orang lain. Apakah Anda tahu apa yang menjadi kebalikan cinta? Kebalikan cinta bukanlah kebencian tetapi ketidakpedulian. Apabila Anda ingin mengembangkan jiwa pengertian, Anda harus mengembangkan sifat pengertian. Anda harus mencari kesempatan untuk dapat mengabdi.”

11. “Salah satu ciri-ciri seorang pengabdi. Ia adalah orang yang tenang, dan telah berdamai dengan dirinya, maka ia dapat berkarya dengan tenang. Ia dapat berkerja dengan damai, dan dapat menyebarluaskan ketenangan dan kedamaian yang dialami dan dirasakannya. Banyak hal yang amat bernilai seperti kebenaran, kebijakan, kasih, dan lain-lain. Namun Shankara hanya menyebut salah satu diantaranya secara spesifik. Kenapa? Karena, ia adalah seorang ahli ilmu jiwa. Ia yakin bahwa jiwa yang damai akan menemukan sendiri nilai-nilai luhur lainnya. Jiwa yang damai tidak terbujuk oleh kepalsuan, karena kepalsuan tidak pernah mendamaikan. Jiwa yang damai tidak mengenal kejahatan, karena kejahatan merusak kedamaian. Jiwa yang damai tidak bisa membenci, karena kebencian menyisihkan kasih dari hati”. *Five Steps Awareness, AK.

12. Masalah kesucian, “Bhishma, Sang Kakek Agung, menjelaskan makna kesucian, esensi kesucian dalam dua kalimat. Dalam dua kalimat itu, ia menulis sebuah kitab suci. Sungguh luar biasa. Segala sesuatu yang menciptakan ketakserasian, perpecahan dan konflik itulah Adharma. Segala apa yang dapat mengakhirinya, adalah … Lihat SelengkapnyaDharma”. Kemudian, ia pun menegaskan : “Dharma memperkuat, mengembangkan konflik, tetapi memperkuat persatuan. Itulah Dharma. Itulah Esensi kesucian !” *Surat Cinta Bagi Anak Bangsa, AK.

13. Banyak Guru, Para Suci seperti Gusti Yesus yang rela berkorban demi keselamatan pengikutnya.

14. YM Bhikku Ananda mendokumentasikan hampir semua pembabaran Dharma “Yang Terjaga”. Pengaruh YM Ananda terhadap Jataka sangat besar. Banyak sekali cerita Jataka yang menggambarkan kehidupan YM Bhikku Ananda sewaktu menjadi raja.

15. Notes yang menggugah kesadaran, Keberadaan Guru ibarat sang raja kera, keberadaan beliau hanya karena kasihnya kepada kita. Semoga kita mampu memenfaatkan kesempatan yang langka ini dengan sebaik-baiknya.

Terima Kasih.

Salam __/\_

Renungan Kisah Tentang Kesabaran Kerbau Perkasa Pada Relief Candi Borobudur

sepasang suami istri setengah baya. Mereka kini sedang membicarakan Kisah Kesabaran Kerbau Perkasa dan Keusilan Monyet pada cerita Jataka. Pada relief dinding candi Borobudur terpahat kisahnya. Sebagai referensi pembicaraan,

Sang Istri: Konon Bodhisattva pernah hidup sebagai seekor kerbau perkasa yang sangat lembut hatinya. Sangat terkenal kesabaran dan kebijaksanaannya. Sang Kerbau sering diganggu seekor monyet usil yang suka mempermainkan dirinya. Memperhatikan kesabaran Sang Kerbau, Sang Monyet selalu menggoda dan mempermainkan tanpa takut mendapat resiko akibat perbuatannya. Kadang-kadang Sang Monyet sengaja duduk didepan Sang Kerbau yang sedang memakan rumput, sehingga Sang Kerbau menghentikan kegiatan makannya. Kadang-kadang Sang Monyet menaiki kepala Sang Kerbau dan menarik-narik tanduknya. Kadang Sang Monyet menutup kedua mata Sang Kerbau dan kadang ekornya dipakai sebagai ayunan. Sang Kerbau hanya mengingatkan Sang Kera dengan penuh kesabaran….. Pada suatu hari seorang penghuni hutan mempertanyakan. Wahai Kerbau Perkasa, mengapa kau mendiamkan saja tindakan Sang Monyet yang keterlaluan. Dengan salah satu kakimu atau dengan kedua tandukmu, monyet usil tersebut dengan mudah dapat kau lemparkan. Sang Kerbau menjawab, baiklah aku menjawab pertanyaanmu. Mungkin agak sulit memahamiku. Wahai Monyet tolong perhatikan juga perkataanku. Kelembutan dan tidak suka kekerasan adalah sifatku. Bahwa monyet menggodaku itu adalah akibat dari perbuatanku di masa lalu. Aku menerima dengan penuh kesadaran apapun yang menimpa hidupku…… Mungkin kalian menganggap tindakan sabarku sudah keterlaluan. Tetapi aku menjunjung tinggi suara Kebenaran. Mungkin kalian bertanya bagaimana aku yakin tindakanku benar, bukan hanya semata dalih pikiran. Setiap saat, diriku melakukan pembersihan. Setiap kekotoran yang terbuang diganti oleh sifat keilahian. Maka petunjuk Ilahi lah yang selalu mendatangi, bukan solusi yang berasal dari pikiran….. Setiap makhluk mempunyai “jalan”. Walau hanya ada satu tujuan yaitu Kebenaran. Jalan menuju Kebenaran bukanlah jalan raya. Di mana kita bisa bergandengan dengan siapa saja. Jalan menuju Kebenaran, Jati-Diri, Kesadaran merupakan jalan pribadi. Jalan menuju kebenaran begitu sempit, sehingga harus melewatinya seorang diri. Setiap orang berbeda jalannya. Karena pengalaman hidupnya juga tidak sama…… Wahai Monyet, saat ini sudah waktunya kau memperbaiki tingkah lakumu. Cobalah merenung, apakah kau senang tindakan demikian diperlakukan kepadamu? Seandainya kau dipermainkan, sedangkan kau mempunyai kekuatan untuk melawan, apakah kau akan membiarkan diganggu? Bila tidak senang diperlakukan dengan cara demikian, maka jangan melakukan hal yang demikian. Kalau tindakan suka mempermainkan sudah menjadi kebiasaan. Suatu saat kepada hewan yang temperamen kau akan mempermainkan. Dan kau akan babak belur dijadikan bulan-bulanan. Wahai Monyet engkau tahu tempat tinggalku, kalau tidak di hutan aku berada di pemukiman. Apabila kau merasa membutuhkanku, dan mau menemuiku silakan….. Sang penghuni hutan berterima kasih mendengar penjelasan Sang Kerbau, dia telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga. Sang Monyet turun dari punggung Sang Kerbau, minta maaf atas perbuatannya dan berjanji tak akan mengulanginya. Kata-kata Sang Kerbau yang bijaksana telah menyadarkannya….. Akan tetapi hukum sebab akibat tak akan selesai dengan pemintaan maaf saja. Setelah beberapa bulan, Sang Monyet lupa janjinya dan hasratnya menggelora ingin mengulang kebiasaannya. Seekor kerbau liar datang dan berdiri di tempat yang sama. Sang Monyet digerakkan kebiasaan lama yang masih selalu menggoda. Dia ketagihan untuk mempermainkan Sang Kerbau seperti kebiasaan lamanya. Sang Kerbau Liar marah dan segera melemparkannya, dan menanduk bagian perutnya. Sang monyet lari dalam keadaan luka-luka. Dia sekarang mencari Sang Kerbau Perkasa kemana-mana. Dia ingin Sang Kerbau Perkasa menjadi pemandu kehidupannya.

Sang Suami: Sang Kerbau Perkasa menjadikan sabar sebagai salah satu sifatnya……. Sabar bukanlah “one time shot”, sabar adalah “a life time affair”, demikian petikan dari buku “Rahasia Alam, Alam Rahasia”. Bila kepala tasbih dianggap mewakili sifat Allah, Yang Maha Kuasa. Sifat Utama Maha Pengasih adalah butir pertama. Sedangkan Maha Sabar adalah butir terakhirnya. Berawal dari-Nya, berakhir pada-Nya. Kasih mengantar kita ke dunia. Sabar mengajak kita balik pada-Nya. Sesungguhnya Sabar itulah Tuhan. Bila ingin Berketuhanan, janganlah membalas kekerasan dengan kekerasan. Kita perlu bersabar, karena kesabaran adalah kunci kebahagiaan. Tidak ada kebahagiaan tanpa kesabaran dan kebijaksanaan.

Sang Istri: Konon ada Hadis yang diriwayatkan Al-Baihaqi. Iman terbagi dua, sabar merupakan separuh bagian dan syukur adalah yang separuhnya lagi. Bersabar dan bersyukur dalam dua kata ini terdapat intisari Iman Islami. Setiap kali kita mengucapkan “Bismillah”, hendaknya kita juga melakukan introspeksi diri. Apakah kita siap menerima Kehendak Ilahi? Apakah kita cukup sabar, cukup bersyukur dalam kehidupan ini?

Sang Suami: Sang Monyet sudah menyesal, tetapi tidak mudah meninggalkan kebiasaan……. Dalam bahasa meditasi, pola kebiasaan inilah yang disebut “subconscious mind”, synap-synap baru yang hampir permanen, sehingga manusia bertindak sesuai dengan conditioning yang ia dapatkan. la diperbudak oleh conditioning tersebut dan tidak mempunyai kebebasan. Tragisnya, sudah tidak bebas, dia juga tidak sadar bahwa dalam dirinya ada sesuatu yang perlu diekspresikan. Meditasi mengantar kita pada penemuan jatidiri. Latihan-latihan meditasi akan membebaskan manusia dari conditioning yang membelenggu diri. Kemudian, synap-synap baru yang masih labil, yang muncul-lenyap, muncul-lenyap adalah “thoughts” atau satuan pikiran. “Thoughts” akan selalu segar dan dengan thoughts kita bisa hidup dalam kekinian. Buku “Medis dan Meditasi” mengungkapkan hal yang demikian.

Sang Isteri: Mendengar uraian Sang Kerbau Perkasa, Sang Monyet mohon maaf dan tidak akan mengulangi…….. Tobat berasal dani suku kata taubah yang berarti “kembali”. Kembali pada diri sendiri, kembali meniti jalan ke dalam diri. Bertobat berarti “sadar kembali.” Dan, untuk meniti jalan ke dalam diri, untuk sadar kembali, dibutuhkan energi yang besar sekali. Sementara ini, seluruh energi kita habis terserap oleh perjalanan di luar diri. Rumi mengingatkan kita: Jangan pikir engkau bisa melakukan apa saja, kemudian bertobat dan selesai sudah perkaranya. Kalaupun taubah diterjemahkan sebagai “penyesalan”, yang menyesal haruslah hati, jiwa. Bukan dengan mulut saja. Di atas segalanya, “penyesalan” berarti “kesadaran untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.” Demikian diuraikan dalam buku “Masnawi Buku Kedua”.

Sang Suami: Sang Kerbau Perkasa menunggu waktu yang tepat kapan Sang Monyet bisa menyadari kesalahan tindakannya….. Apa gunanya menjelaskan cahaya itu apa, kepada orang-orang buta? Menjelaskan cahaya kepada orang-orang buta justru dapat menyesatkan mereka. Sekadar penjelasan, sekadar pengetahuan sering kali membuat mereka merasa tahu, sudah melihat, padahal bagaimana seorang buta dapat melihat cahaya? Kebutaan itu terlebih dahulu harus diobati. Dengan cara memberdaya diri. Kemudian, penjelasan tentang cahaya tidak penting lagi, tidak dibutuhkan lagi. Mereka sudah dapat melihat sendiri. Saat ini, penjelasan oleh pengetahuan membebani. Dan, kita berpikir bahwa sekadar pengetahuan sudah memadai. Padahal, bagi seorang buta, pengetahuan tentang cahaya tidak berguna sama sekali. Tidak berguna pula pengetahuan tentang meditasi. Sang Buta harus diobati, kemudian meditasi akan terjadi sendiri, cinta akan bersemi sendiri. Demikian uraian dari buku “Ishq Allah, Terlampauinya Batas Kewarasan Duniawi & Lahirnya Cinta Ilahi”.

Sang Istri: Setelah babak belur, Sang Monyet langsung mencari Sang Kerbau Perkasa untuk dijadikan pemandu kehidupannya…….. Kita biasanya mengatakan tunggu sebentar, kemudian sebentar berubah menjadi dua bentar, tiga bentar, dan seterusnya. Kita sering mendengar, Aku memang senang sekali dengan hal-hal spiritual, dengan segala yang berbau rohani… tapi tunggu sebentar, biarlah kuselesaikan dulu tanggunganku ini. Dan, tanggungan itu tak pernah selesai, karena yang menanggung adalah diri kita sendiri. Yang harus diselesaikan bukan tanggungan, melainkan diri sendiri.

Sang Suami: Sang Kerbau Perkasa tak akan menunggu lama. Ia sedang dalam perjalanan pulang, dan ia mengajak Sang Monyet pulang bersamanya. Sang Monyet menerima undangannya, dia ingin pulang bersama Sang Kerbau Perkasa. Entah kapan lagi dia bisa bertemu dengan Sang Kerbau Perkasa. Entah kapan lagi kita menerima undangan serupa. Kita sering lupa bahwa Yang Maha Mencipta juga Maha Memelihara. Lupa bahwa Yang Maha Memelihara adalah Yang Maha Mendaurulang juga. Kita lupa bahwa tak ada sesuatu pun yang terjadi tanpa Kehendak-Nya. Bila kita siap, sudah pasti ada yang diutus untuk memandu kita. Bila suatu bangsa siap, sudah pasti datang pemandu bangsa.

Sang Istri: Hidup bebas dalam dunia tidak menjamin kebebasan bagi jiwa. Sesungguhnya, dunia ini sendiri merupakan kurungan bagi jiwa. Dunia kita sangat sempit, dan menyesakkan jiwa. Bila ingin hidup bebas, kita harus membiarkan jiwa kita menciptakan dunia baru, dunia yang luas di mana jiwa dapat bernapas lega. Ini yang sedang dikerjakan oleh para utusan, mesias, avatar, dan Buddha. Mereka sedang menciptakan dunia baru di mana mereka dapat bernapas lega. Dan bila kita hidup se-“zaman” dengan mereka, kelegaan itu akan kita rasakan juga. Hidup se-“zaman” tidak harus diartikan dalam satu masa yang sama. Bila sulit membayangkan bagaimana hidup se-“zaman” yang tidak dalam satu masa yang sama, mata hati perlu dibuka. Di sekitar kita pasti ada Sang Kerbau Perkasa. Seorang bijak berkata, berusahalah untuk hidup bersamanya, dan yang harus merasakan kebersamaan bukan saja raga, tapi jiwa kita.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Tentang Kesabaran Kerbau Perkasa Pada Relief Candi Borobudur

  1. Untuk sekolah di universitas kita berani mengorbankan waktu dan biaya. Akan tetapi untuk spiritualitas yang menjadikan kita bahagia, kita mau yang percuma, sambil lalu saja.
  2. Sering sekali sang monyet membatui sang kerbau perkasa. Bahkan sang monyet lebih percaya uraian yang akhirnya menjauhkan dirinya dari sang kerbau perkasa…. Semoga kita disadarkan dan selalu dipertemukan dengan sang kerbau perkasa… Tiada kesempatan ke dua untuk bertemu dan berjalan bersana dengan sang kerbau perkasa…
  3. Agar telur menetas perlu waktu, agar pohon berbunga perlu waktu, menunggu fajar tiba perlu waktu juga. Sabar adalah hal yang penting dalam kehidupan. Mengenai syukur, kesadaran kita baru sebatas mensyukuri setiap pengalaman. Mungkin belum bisa melihat “tangan” Tuhan dibalik setiap peristiwa!
  4. Banyak orang memanfaatkan kita, dan kebanyakan mementingkan hasil yang segera dan melupakan hukum sebab akibat. Yang memanfaatkan kesempatan dengan tipu muslihat pada suatu kali akan mandapatkan akibat. Sri Krishna dalam Bhagavad Gita mementingkan proses daripada hasil akhir, dan proses yang selalu baik akan menghasilkan yang baik pula.
  5. Bila kita masih bersikeras bahwa Tuhan berada “di atas” sana, jauh sekali, sedangkan manusia berada “di bawah” sini, dan kita hanya bisa merengek-rengek, maka kita tidak akan pernah bisa memahami Rumi. Paling banter, kita bisa memahami Al Ghazali. Itu pula sebabnya, sampai akhir tahun 80-an, Rumi hampir tidak dikenal di Indonesia. Sementara, Al Ghazali cukup populer. Sebab lain kenapa Rumi tidak populer karena sesungguhnya bangsa kita sudah familiar dengan ajaran sejenis. Satu-dua abad yang lalu, kalau seorang pujangga seperti Ronggowarsito atau Mangkunagoro membaca Rumi, akan menganggukkan kepala mereka. Karena, apa yang disampaikan oleh Rumi sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat zaman itu.
  6. Sang Kerbau Perkasa melakukan tindakan Ahimsa. Saat Ahimsa muncul di dalam diri manusia, ia terbebaskan dari naluri hewani yang diwarisinya dari evolusi panjang sebagai hewan. Saat itu, ia betul-betul menjadi manusia. la menemukan kemanusiaan di dalam dirinya. Ahimsa juga tidak berarti menjadi pengecut. “Tidak,” kata Mahatma, “jika kau memilih Ahimsa karena takut sama musuh, maka kau seorang pengecut. Kau harus memiliki kekuatan untuk membalas musuhmu, tetapi memilih tidak membalasnya – itu baru Ahimsa.” *Panca Aksara, AK.
  7. Sang Kerbau Perkasa hanya menyampaikan apa terdengar lewat nuraninya, yang selalu dalam keadaan mawas diri, yang mendapat anugerahi Ilahi, hanya merekalah yang pantas disebut Guru, disebut Master, disebut Murshid, Mustafa. *Wedhatama, AK.
  8. Sang Kerbau Perkasa hanya akan “bekerja terhadap kita” bila kita membuka diri sepenuhnya. Lapisan pengetahuan “semi”, pengetahuan yang belum menjadi pengalaman, justru menutup diri kita. Seorang Guru tidak pernah memaksakan diri. Ia tidak akan memasuki diri kita secara paksa. Ia akan menunggu di luar pintu hati kita, sebelum kita sendiri membukanya dan mengundang dia masuk. *Bhaja Govindam, AK.
  9. Dalam ilmu medis, kita ketahui bahwa pembentukan paling aktif “sarung saraf ” atau mielin sheet terjadi pada usia 0-5 tahun. Setelah itu kreativitasnya berangsur-angsur berkurang, namun berjalan terus sampai usia 20 tahun bahkan 40 tahun. Pembentukan Sarung Saraf berkaitan sekali dengan protein intake. Selanjutnya mempengaruhi pengantaran impuls. Saat itu, jika seorang anak diberi pendidikan spiritual, akan terbentuk reseptor synap alertness. Jadi usia paling baik untuk pendidikan semacam itu adalah pada usia dini itu.” *Medis Meditasi, AK dan dr. B Setiawan.
  10. Perubahan kemajuan melibatkan tindakan yang merusak terhadap apa yang ada di sekelilingnya….namun betapa menyakitkannya kerusakan itu semua juga demi sesuatu yang lebih baik…….namun semua itu juga tidak ada artinya jika dekapan halusnya malah mendorong kita untuk melupakan asal usul dan tujuan kita.
  11. Selalu menunda-nunda untuk segera menyadari kesalahan,akhirnya membawa petaka bagi diri sendiri, yang sebenarnya berkah dari Tuhan dalam bentuk yang lain karena akhirnya kita menjadi sadar. Peringatan bagi kita semua.
  12. Demi kelanjutan dan kemajuan, bila ada yang harus ditinggalkan, maka tidak perlu bersedih hati. Demi kemajuan dan pembangunan, bila perlu, kita lakukan daur ulang tanpa keraguan. Akan tetapi juga saatnya kita kembali kepada ajaran leluhur, kepada budaya asal Nusantara, kepada kearifan lokal, kebijakan nenek moyang. Saatnya kita menghormati dan menghargai alam, lingkungan. Hubungan dengan alam dan sesama makhluk hidup bukanlah hubungan horizontal sebagaimana disampaikan kepada kita selama bertahun-tahun. Pun hubungan kita dengan Tuhan bukanlah vertikal. Tuhan tidak berada di atas sana. Inilah kearifan lokal kita. Pemahaman vertikal-horizontal seperti ini telah memisahkan kita dari alam. Tuhan berada dimana-mana, Ia meliputi segalanya, sekaligus bersemayam di dalam diri setiap makhluk inilah inti ajaran leluhur kita. Inilah kearifan lokal kita.
  13. Gambaran sang Bhagava dalam inkarnasi kerbau sepintas sangat bodoh bagi yang tak mengerti Dharma, namun beliau sangat memahami hidupnya sendiri sebagai jalan mencapai Kebuddhaan, wajib menerima yang menurut kita sangat buruk, dengan lapang dada. Ini juga merupakan bagian dari Bodhicitta, beliau bahkan memancarkan kasih kepada mereka yang datang menyakiti atau sekedar mengganggunya. Semoga dengan keteladanan kerbau ini, kita bisa meningkatkan kesadaran kita pada hidup yang benar, tidak lagi berbuat semau gue seperti kera usil.
  14. Semua peristiwa yang kita alami sebenarnya ingin berkomunikasi dengan kita. Yang penting adalah membuka diri.
  15. Kita tidak melihat dunia sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana pikiran kita ingin melihatnya. Dunia yang sama tetapi kita memandangnya dengan berbeda. Penting bagi kita memahami diri kita, memberdaya diri kita, memahami potensi Kerbau Perkasa dan Monyet Usil dalam diri kita.
  16. Kita sering menutup diri karena terbelenggu oleh pola pikiran bawah sadar kita yang telah terbentuk oleh suatu keyakinan.
  17. Monyet Pikiran, Kebiasaan lama, pergaluan lama adalah hal-hal yang senantiasa mengganggu kesadaran……. Semoga kita semua dapat menumbuh kembangkan kesadaran di dalam diri kita masing-masing.
  18. Pikiran yang belum tenang, napas yang masih kacau, membuat pikiran selalu berpindah-pindah nggak keruan. Rata-rata monyet bernapas kacau dengan frekuensi gelombang otak 32 Hertz. Manusia dalam keadaan normal sekitar 14. Sewaktu terfokus misalnya pada waktu membaca bisa mencapai 7. Sewaktu mimpi menjadi 3.5 dan pada waktu deep sleep menjadi 2. Melatih napas akan menenangkan tekanan darah dan menurunkan gelombang otak. Pada waktu gelombang otak tenang akan dapat masuk ke pikiran bawah sadar dan memperbaikinya.
  19. Manusia lebih unggul dari hewan karena kemampuannya untuk memahami dan melihat hidup secara lebih utuh…. Walaupun demikian dibawah pengaruh keserakahan yang tak terkendalikan, manusia pun lebih unggul dalam keserakahannya.
  20. Di sekitar kita pasti ada Sang Kerbau Perkasa. Seorang bijak berkata, berusahalah untuk hidup bersamanya, dan yang harus merasakan kebersamaan bukan saja raga, tapi jiwa kita.” Memang benar, kita harus jeli dan berani untuk membuka panca indera kita, pikiran dan hati kita supaya kita lebih peka dan bisa mengenali Sang Guru yang siap membantu kita dengan ikhlas dan penuh kasih untuk membebaskan kita dari segala pengkondisian yang tidak tepat bagi kesadaran dan jiwa kita.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Dua Pemimpin Angsa Yang Bijaksana

Sepasang suami istri ingat akan salah satu cerita pada relief Candi Borobudur tentang Dua Pemimpin Angsa Yang Bijaksana.

Sang Istri: Tersebutlah tentang ratusan angsa yang tinggal di atas telaga yang berada di gunung yang sulit didatangi manusia. Angsa-angsa tersebut putih bersih bulunya dengan kuning keemasan warna kakinya. Kala mereka terbang bersama, seperti kapas yang sedang terbawa angin saja nampaknya. Kelompok angsa tersebut dipimpin oleh raja angsa yang dibantu wakilnya. Kedua pemimpin angsa tersebut luar biasa indah penampilannya. Mereka mempunyai bulu emas bercahaya di seluruh tubuhnya. Mereka bisa berkomunikasi dengan berbagai bahasa hewan, sehingga di mana pun mereka berada semua hewan menunjukkan penghormatannya. Hanya beberapa orang yang tersesat jalan kebetulan menemukan telaga dan berkesempatan melihat keindahan kedua pemimpin angsa…… Bagaimana pun berita tentang keindahan dan kebijaksanaan kedua angsa menyebar ke seluruh pelosok negeri dan terdengar sampai di istana. Sang Raja berhasrat menangkapnya dengan segala cara. Perjuangan Sang Raja sangatlah luar biasa, dia sengaja membangun sebuah telaga besar yang sangat indah di pinggir kota. Berbagai ikan dikembang-biakkan di sana. Berbagai macam bunga teratai menambah kecantikan telaga. Pada malam hari telaga tersebut nampak bagai cermin raksasa, tempat memandang bulan dan bintang pada permukaan airnya. Para hewan mulai berdatangan ke telaga baru bikinan Sang Raja. Beberapa gajah sering datang untuk mandi dan bermain air di sana. Sedangkan para rusa sering merumput di dekatnya. Sebuah telaga baru yang keindahannya sulit diungkapkan kata-kata……. Pada suatu hari, sekelompok angsa terbang di atas telaga dan melihat telaga baru yang mempesona. Mereka turun, bermain air dan bersantai melepaskan lelahnya. Kemudian mereka kembali ke atas gunung dan menceritakan kepada teman-temannya tentang telaga baru di pinggir kota. Masyarakat angsa mohon kepada Sang Raja Angsa dan wakilnya untuk bersama-sama pindah ke telaga baru di pinggir kota. Konon telaga baru tersebut lebih hangat dan lebih nyaman daripada tempat tinggal mereka…… Kedua pemimpin angsa menolak permintaan untuk tinggal di dekat pemukiman manusia. Burung-burung dan hewan mempunyai kebiasaan hidup bebas dan bisa mengekpresikan perasaannya selaras dengan alam semesta. Tetapi manusia ingin memelihara burung dalam sangkar demi kesenangan mereka. Manusia merasa burung berbahagia dalam kurungan yang indah asal telah dicukupi makan dan minumnya. Manusia belum halus rasanya, belum pernah merasakan kebebasan dari pola pikiran lama yang telah membelenggunya. Hal tersebut membuat manusia tidak peka akan belenggu sangkar yang membuat burung kehilangan kebebasannya. Manusia sendiri tidak suka dikekang dalam rumah indah mereka. Dia sering keluar bepergian juga, namun mereka memelihara burung dalam sangkar di rumah mereka. Betapa tidak pekanya manusia…… Bagaimana pun para angsa tetap memohon, sehingga Sang Raja Angsa dan wakilnya akhirnya mengabulkan. Sang Raja berpesan agar selama berada di telaga baru di pinggir kota tetap menjaga kewaspadaan…… Mendengar kedatangan kedua angsa emas di telaga, Sang raja meminta seorang pemburu ulung untuk memasang jebakan. Saat Sang Raja Angsa sadar bahwa dia baru saja terperangkap dalam jebakan, Sang Raja Angsa berteriak kepada seluruh angsa, agar telaga baru segera ditinggalkan. Seluruh angsa segera mematuhinya dan meninggalkan telaga yang dipenuhi jebakan. Akan tetapi Sang Wakil Raja Angsa yang tidak terperangkap, tetap tinggal di sana menemani Sang Raja. Sang Raja memerintahkan wakilnya untuk segera pergi, menemani para angsa untuk terbang menjauhinya. Tetapi Sang Wakil Raja Angsa tidak mematuhinya, dia tetap setia menemaninya. Kala Sang Pemburu Ulung datang, Sang Wakil Raja Angsa berkata bahwa para manusia sulit membedakan antara Sang Raja Angsa dengan dia. Sang Wakil mohon agar Sang Raja Angsa dibebaskan dan dia ditangkap sebagai penggantinya. Sang Pemburu terkesima mendengar pernyataan Sang Wakil Raja Angsa. Dia mendapatkan pelajaran berharga, bahwa ada karakter angsa yang patut diteladani manusia karena kesetiaannya. Sang Pemburu Ulung lama merenung, dia belum pernah menemukan manusia yang kesetiaannya seperti Sang Wakil Raja Angsa. Kemudian, Sang Pemburu bahkan melepas Sang Raja Angsa menghormati kebijakan mereka. Akan tetapi kedua angsa tidak mau pergi juga, mereka tahu Sang Pemburu akan dihukum berat oleh Sang Raja karena telah melepaskan angsa buruan Sang Raja. Mereka segera hinggap di kedua pundaknya dan menemani Sang Pemburu menghadap Sang Raja….. Mendengar laporan Sang Pemburu, Sang Raja membungkukkan kepala kepada kedua angsa yang bijaksana. Belum ada satu pun penasehat raja yang membabarkan dharma kebenaran begitu jelasnya. Kemudian Sang Raja Angsa diminta menyampaikan dharma tentang kesetiaan, tanggung jawab dan kebebasan. Setelah selesai bila ingin pergi dipersilakan. Sang Raja tidak lagi akan memasang jebakan hewan. Bila ada waktu diharap Sang Raja Angsa datang ke istana dan menyampaikan dharma kebenaran…… Konon setelah beberapa kali kehidupan, Sang Raja Angsa lahir sebagai Sang Buddha dan Sang Wakil Raja Angsa lahir sebagai murid Sang Buddha yang bernama Ananda.

Sang Suami: Para angsa masih terikat dengan kenyamanan dan melupakan kebebasan kehidupan di telaga lama. Sang Raja Angsa telah mengingatkan bahwa banyak manusia yang belum memahami kebebasan…… Kebanyakan manusia terikat dengan rasa kepemilikan, keangkuhan, keserakahan, kebodohan, ketaksadaran, kebencian. Mereka belum terbebaskan dari perbudakan pada panca indera. Manusia belum bisa membebaskan diri dari keinginan akan kenyamanan dan kenikmatan jasmaninya. Sebetulnya keterikatan telah menjatuhkan derajat manusia, menjadi budak dunia. Manusia suka memelihara burung dalam sangkar karena dia belum peka. Manusia merasa lebih tinggi derajatnya daripada hewan, bahkan mereka pun tidak merasa setara dengan sesama manusia….. Jiwa-jiwa yang beribadah kepada Yang Maha Tinggi, akan seketika menyadari kerendahannya dan kesetaraanya dengan jiwa-jiwa lain, dengan sesama manusia! Bila kita menganggap diri beragama dan rajin beribadah, namun tidak merasakan kesetaraan macam itu, maka masih dangkal ibadah kita. Bila kita masih menciptakan “class” antar manusia, maka jiwa kita belum beribadah, belum beragama. “Class” atau derajat rendah-tinggi, ketidaksetaraan itu hanya terasa oleh kaum Asura, Daitya, Raksasa karena kepala mereka masih tegak, mereka belum belajar menundukkannya di hadapan Yang Maha Kuasa. Sekali bersujud di hadapan-Nya, diri kita menjadi sadar, bahwa semut pun tidak lebih rendah atau tidak setara dari diri kita. Semut dan cacing pun adalah makhluk-makhluk ciptaan-Nya. Namun, apa gunanya bersujud, menundukkan kepala, bila keangkuhan kita tidak ikut menunduk juga? Kesetaraan dan kebersamaan dalam bahasa Soekarno “Gotong Royong”, dalam bahasa Muhammad “Umma”, dalam bahasa Buddha “Sangha”, dalam bahasa Inggris “Communal Living” dalam bahasa Bali “Banjar” tidak dapat dipaksa. Kesetaraan lahir dari kesadaran, kesadaran kita sendiri, kesadaran manusia, kesadaran akan kemanusiaan kita. Kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan yang kita warisi bersama. Kemanusiaan yang saleh, beradab, yang menerima makhluk-makhluk lain sebagai saudaranya yang setara. Termasuk bebatuan dan pepohonan, sungai-sungai dan lingkungan dan lainnya. Sehingga kita tidak akan menggunakan kekerasan terhadap siapa pun jua. Demikian petikan dari buku “Surat Cinta Bagi Anak Bangsa”.

Sang Isteri: Kedua angsa berani dan tidak takut menghadapi resiko masuk istana menghadap seorang raja dunia…… Gusti Yesus, Kanjeng Nabi Musa, Baginda Nabi dan lain-lainnya tidak membutuhkan massa. Mereka berdiri sendiri di tengah keramaian, berani tampil berbeda. Beranikah kita menemani Mereka?……… Dalam buku “Maranatha” disebutkan bahwa untuk menemani seorang (Gusti) Yesus, syaratnya hanya satu – Keberanian. Ironisnya, keberanian tidak dapat dibeli, bahkan tidak dapat diupayakan. Yang “berupaya” untuk menjadi berani justru tidak pernah berhasil, yang dapat kita upayakan hanyalah “pembersihan”. Pembersihan cawan diri. Bersih luar diri dan dalam diri. Lalu cawan diri yang bersih itu “menjadi” berani! Sesungguhnya “keberanian” adalah sifat dasar kita yang sejati. Sifat dasar yang tertutup oleh kotoran pikiran, perasaan, macam-macam keinginan serta ingatan. Kita perlu membersihkan diri dari kotoran dan saat itu juga muncul kembali keberanian……….

Sang Suami: Sang Raja mendengarkan dengan cermat laporan Sang Pemburu dan tidak ada sedikit pun rasa keangkuhan dalam dirinya, bahwa dia lebih bijak daripada Sang Pemburu bawahannya. Sang Raja juga ingin dekat dengan Sang Raja Angsa untuk belajar kepadanya…… Bersahabatlah dengan Para Bijak, kalimat ini dimaksudkan bagi para Saadhaka, yaitu mereka yang “sedang menjalani” pelatihan rohani, bukan bagi mereka yang merasa “sudah selesai menjalani”nya. Bukan bagi mereka yang menganggap dirinya sudah cukup bijak, sehingga tidak lagi membutuhkan nasehat para bijak bagi dirinya. Kalimat ini dimaksudkan bagi mereka yang tidak angkuh, yang mau belajar dan siap menundukkan kepala. Kita akan terpengaruh oleh orang-orang yang berinteraksi dalam pergaulan kita. Karena itu mudah dimengerti: Bergaullah dengan para bijak, bersahabatlah dengan mereka, supaya kita sendiri nanti bisa menjadi bijak juga. Berbahagialah bila bertemu dengan seorang bijak yang sudi memberi nasehat, janganlah kita membantahnya. Bagaimana kita tahu bahwa dia seorang bijak?, tanya seorang teman. Gampang. Pertama : Nasihatnya selalu membebaskan, meluaskan, tidak membelenggu, tidak menyempitkan. Kedua : dia selalu bertindak tanpa pamrih, tanpa “memikirkan” keuntungan bagi diri pribadinya. Seorang bijak tidak pernah membuat peraturan untuk membatasi gerak-gerak kita. Ia berupaya untuk menyadarkan diri kita supaya kita membatasi sendiri gerak-gerik kita, bahkan meninggalkan segala kebebasan yang tidak menunjang kesadaran kita. Demikian diuraikan dalam buku “Five Steps to Awareness 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara”.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pada Relief Candi Borobudur Tentang Dua Pemimpin Angsa Yang Bijaksana

  1. Renungan yang indah di pagi hari. Sebenarnya kebebasan adalah keinginan setiap manusia,dan mungkin setiap makhluk.
  2. Fearless—> tanpa rasa takut mungkin lebih tepat ketimbang keberanian. Tanpa rasa takut mengungkapkan kebenaran demi kebaikan orang yang diajak bicara lebih bernilai ketimbang melakukan hal yang belum pernah dialami.
  3. Seorang Master yang sudah mengalami akan dengan penuh kasih dan empati menyampaikan sesuatu yang bermanfaat bagi mereka yang belum mengalami. Sayang kebanyakan orang menutup telinga karena sudah mendengar yang lain yang lebih mudah dilakoni dan jelas jaminannya. Pada hal yang berkata bahwa ada jaminan juga belum pernah mengalami. Sama saja, si buta menasehati si buta.
  4. Semoga kita selalu mewaspadai jalan yang sedang kita tempuh.
  5. Setiap manusia dilahirkan sederajat hanya orang yang punya sifat detya, asura atau raksasa yang merasa derajatnya lebih tinggi.
  6. Bagaimana menyikapi orang yang selalu berkata-kata bijaksana,dan kesempatan yang lain perilakunya sangat tidak bermoral. Cendurung menyalahkan orang lain dan orang itu pintar mengatur isi hati, dan pintar mengatur perilakunya sehari-hari.
  7. Bergaul dengan para bijak akan sangat membantu kita untuk peningkatan kesadaran diri kita sendiri, sekaligus membuat kita lebih mudah utk meniti ke dalam diri sambil terus menerus membuka diri untuk siap menerima informasi apapun dari mereka tanpa menilai maupun menghakimi; selain itu, selalulah menjadi pengamat yang tulus, jujur dan bersungguh-sungguh.
  8. Bergaul dan belajarlah dengan orang bijak, agar kita bisa menimba ilmu dan belajar menjdi bijak.
  9. Menurut yang saya pahami, raja angsa dari danau di puncak bukit(kesadaran yang tinggi).. turun pada danau buatan di bawah gunung(kesadaran rendah). Orang bijak(raja angsa) akan bicara sesuai dgn kesadaran orang, nya dalam hal ini menurunkan kesadarannya. sehingga muridnya bisa naik kelas, begitu pula sang raja dan pemburu jadi meningkat kesadarannya dengan perjumpaan ini.
  10. Selama orang berada pada lapisan kesadaran Fisik, maka dia merasa berbeda. Dia masih asura, masih keras dan kasar. Lapisan kesadaran semakin halus, lapisan kesadaran energi, mental-emosional, intelegensia sampai akhirnya lapisan kesadaran murni di mana semuanya sama.
  11. Mereka yang munafik, yang lain di kata lain di perbuatan, tetap akan menerima hukum sebab-akibat. Semua baik yang berupa pikiran, ucapan dan tindakan adalah merupakan benih yang telah ditanam, yang akan tumbuh dan akan panen pada suatu saat. Mereka yang paham hukum alam akan selalu sadar perbuatannya.
  12. Pilah dan pilih, mungkin itulah yang banyak kita lakukan dalam menjalani kehidupan ini.
  13. Bijaksana… Salah satu untaian asmaul husna.
  14. Bagi kami pribadi, kami hanya ingin mendamaikan diri pribadi, ternyata panduan buku-buku dan program Bapak Anand Krishna membuat hidup terasa bermakna. Orang lain bisa berbeda selera. Kemudian kami hanya mencoba share apa yang kami terima. Urusan di luar tidak mengganggu hidup kami yang mulai bermakna. Kami sangat prihatin akan kondisi bangsa. Semoga semakain banyak anak bangsa yang sadar.
  15. Untuk menciptakan kerukunan antar agama dan antara agama-agama – adalah suatu kemestian bahwa semuanya haruslah berbasis budaya, berlandaskan budaya. Agama yang menolak budaya, pemeluknya yang menghujat budaya – menjadi racun bagi kerukunan bangsa. Jauh sebelum Bung Karno, Mpu Tantular memahami hal ini. Lewat … Lihat Selengkapnyamahakaryanya berjudul Sutasoma, la menasihati kita untuk tetap konsisten pada nilai dasar “Bhinneka Tunggal Ika, Tan Hana Dharma Mangrwa”….. Walau Nampak Berbeda, Kebenaran Satu Ada-Nya. Tiada Dualitas dalam Kebajikan. Apa yang diberikan oleh Sang Mpu bukanlah sekedar slogan – tetapi sebuah pedoman hidup. Pedoman untuk bernegara dan berbangsa. Pedoman untuk menjaga kerukunan antar agama, dan antara agama-agama. Manusia Indonesia memiliki budaya sendiri, budaya asal yang sudah terekam pada DNA-nya. Cerita pada relief Borobudur dapat menampung kepercayaan apa saja.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Renungan Kisah Tentang Kera Perkasa dan Pemburu Yang Mengkhianatinya Pada Relief Candi di Borobudur

Sepasang suami istri setengah baya sedang berbincang-bincang ringan di rumahnya. Mereka membicarakan Kisah Kera Perkasa dan seorang pemburu yang mengkhianatinya. Pada Relief Candi Borobudur terpahat kisahnya. Mereka mendiskusikan dengan referensi buku-buku Bapak Anand Krishna. “Bodhidharma, Kata Awal Adalah Kata Akhir” dan “Vedaanta, Harapan Bagi Masa Depan” adalah dua buah buku di antaranya.

Sang Istri: Kala mencari hewan buruan di hutan, seorang pemburu tersesat jalan. Dia beristirahat di bawah pohon dalam keadaan kelaparan, kehausan dan kecapekan. Tiba-tiba dia melihat di depannya ada pohon buah-buahan. Dengan menggunakan sisa-sisa tenaganya dia memanjat pohon tersebut berusaha memetik buah-buahan. Di dahan kecil buah-buahan tersebut berada. Saat akan mengambil buah-buahan, dahan tersebut tak kuat menahan tubuhnya. Sang Pemburu jatuh ke dalam lubang yang berada di bawahnya. Sang Pemburu sudah putus asa, rasanya dia akan mati di sana. Beberapa kali dia berteriak, akan tetapi yang menjawab hanya gaung teriakannya saja……. Seekor kera perkasa datang dan bertanya, Sang Pemburu sampai jatuh ke dalam lubang apa sebabnya. Mendengar penjelasan Sang Pemburu, Sang Kera Perkasa tersentuh hatinya. Ditolongnya Sang Pemburu keluar dari lubang dan dibawa keluar hutan dengan cara dipanggulnya. Sang Pemburu berterima kasih telah diselamatkan nyawanya bahkan untuk sampai jalan keluarnya dia pun dipanggul Sang Kera Perkasa. Tinggal sedikit saja keluar hutan, Sang Kera Perkasa kecapekan. Dia ingin tidur sebentar memulihkan kekuatan. Setelah memanggul Sang Pemburu setengah harian……… Sang Pemburu berpikir, tepi hutan sudah di depan mata. Rasa lapar tidak terkira. Pikiran memang maunya menang sendiri saja. Kepentingan pribadi menjadi panglima. Orang lain? Emangnya gua pikirin? Melihat kera perkasa ketiduran, seakan dia melihat sebuah binatang buruan. Mengapa Sang Kera tidak dibunuh saat ketiduran? Bila sudah bangun tak mungkin dia sanggup melawan. Sang Pemburu membawa batu api dan daging kera dapat dipanggang sebagai obat laparnya. Dan sebagian dapat dibawa pulang untuk persediaan makanannya. Diambilnya sebuah batu besar dan dilemparkannya kepada Sang Kera Perkasa. Entah apa yang terjadi Sang Kera Perkasa memalingkan wajahnya. Sehingga batu besar hanya melukai telinganya. Sang Kera Perkasa terbangun dan segera sadar apa telah yang terjadi. Rasa luka di telinganya dia tidak ambil peduli, tetapi ada rasa sesal mengapa ada orang yang tidak tahu membalas budi. Mengapa Sang Pemburu yang hampir mati dan baru saja ditolongnya sudah menjadi serakah tak terkendali. Dia segera memanggul sang gembala ke luar hutan, meletakkan di jalan dan kemudian masuk kembali ke hutan……. Setahun kemudian, seorang raja berburu ke hutan. Di tengah hutan bertemu manusia yang dalam keadaan sekarat dengan tubuh tidak terawat dalam keadaan sangat mengenaskan. Sang manusia menceritakan kisahnya bahwa dia pernah ditolong kera tetapi kera tersebut hampir saja dibunuhnya. Sang kera selamat hanya terluka telinganya. Sang Kera tetap menolongnya ke luar hutan dan kemudian menghilang dengan segera. Selanjutnya dia bercerita, tak lama kemudian di mendapat sakit kusta dan dia diusir dari masyarakat. Dia menyesal telah berbuat jahat. Kemudian dia hidup terlunta-lunta. Dia diberitahu orang bahwa Sang Kera Perkasa adalah seorang Bodhisattva. Dengan terbata-bata sang penderita kusta memberi nasehat, jangan sampai keserakahan menutupi nurani manusia. Setelah berkata demikian dia menghembuskan nafasnya…….

Sang Suami: Sang Kera Perkasa, tertegun sebentar kemudian melanjutkan tindakan menolong Sang Pemburu keluar hutan. Dia tidak menyesali telah berbuat kebaikan walau dibalas dengan kejahatan…. Dharma atau kebajikan adalah ketepatan bertindak, juga berarti kebaikan dalam arti kata seluas-luasnya. Menjalankan tugas kewajiban kita dengan baik dan tepat adalah juga dharma. Menjalani hidup ini demi kebaikan adalah juga dharma. Ketepatan dalam hal berpikir dan berperasaan adalah juga dharma. Dharma adalah kemanusiaan dalam diri manusia. Dharma adalah kesadaran berperikemanusiaan. Bagi seorang prajurit, membunuh musuh di medan perang adalah dharma. Bagi seorang rohaniwan, dharma adalah memaafkan seorang penjahat, sekalipun ia telah berlaku keji dan nista….. Kebaikan adalah sifat sejati Sang Kera Perkasa, dia tidak akan terpengaruh oleh peristiwa apa pun yang terjadi pada dirinya. Apa pun yang terjadi akan dia terima, karena itu adalah akibat tindakan dia di masa lalu juga. Tindakan Sang Pemburu pun tak perlu dibalasnya, akan ada hukum sebab-akibat yang menyelesaikannya. Sang Kera Perkasa paham yang terluka adalah tubuhnya dan yang sakit adalah hatinya. Jatidirinya bukanlah tubuh, bukanlah pikiran, bukanlah perasaan, tetapi adalah Dia yang bersemayam dalam tubuhnya, dalam pikirannya dalam perasaannya. Sang Pemburu merasa bahwa dirinya adalah pikirannya, sehingga di tunduk pada pikirannya dan telah melakukan tindakan tercela yang tidak selaras dengan alam semesta…….. Banyak jalan menuju “Jalan Raya”. Tetapi, sesungguhnya hanya ada dua jalan: Jalan Pengetahuan dan Jalan Pengabdian. Demikian diuraikan dalam buku “Bodhidharma”. Lewat jalan pengetahuan berarti menyadari “inti kehidupan”. Meyakini bahwa pada hakikatnya segala bentuk kehidupan memiliki “inti” yang sama. Bila “tampak dan terasa” berbeda, hal itu semata-mata karena sesuai yang kita peroleh, sesungguhnya perbedaan itu hanyalah ilusi, khayalan. Mereka yang telah melampaui dualitas dan menyadari kembali hakiki diri berada di jalur Pengetahuan. Mereka yang mengalihkan kesadaran pada kasunyatan, kekosongan, mereka yang tidak lagi membedakan diri dari yang lain, mereka yang menganggap sama awam dan ulama berada di jalur pengetahuan. Mereka yang sudah tidak terpengaruh oleh “kata-kata”, sesungguhnya telah meneliti dan menemukan inti, berada pada Jalur Pengetahuan. “Pikiran” menciptakan dualitas, “Kesadaran” mempersatukan.

Sang Istri: Memasuki alam meditasi lewat Jalan Pengabdian berarti mempunyai kemampuan untuk menerima ketidakadilan, menyesuaikan diri dengan keadaan, berhenti mengejar sesuatu, dan menerjemahkan dharma dalam hidup keseharian. Sang Kera Perkasa melakukan bhakti melakukan pengabdian tanpa pamrih. Pengabdian yang sesungguhnya merupakan manifestasi Kasih. Dalam buku “Vedaanta” dijelaskan bahwa seorang Bhakta, seorang Pengabdi atau Pecinta Allah selalu sama dalam keadaan suka maupun duka. Keseimbangan dirinya tak tergoyahkan oleh pengalaman-pengalaman hidupnya. Ilmu apa yang dikuasai oleh seorang Bhakta sehingga ia tidak terombang-ambing oleh gelombang suka dan duka? Temyata, ilmu matematika yang sangat sederhana. Seluruh kesadaran seorang Bhakta terpusatkan kepada la yang dicintainya. Kesadaran dia tidak bercabang, ia telah mencapai keadaan Onepointedness – Ekagrataa. One, Eka – Satu…. la sudah melampaui dualitas, ia telah menyatu dengan Hyang dicintainya. la telah menyatu dengan Cinta itu sendiri. Pecinta, Hyang dicintai, dan Cinta – tiga-tiganya telah melebur dan menjadi satu, demikian dijelaskan dalam buku “Vedaanta”.

Sang Suami: Walau berwujud manusia, Sang Pemburu dalam kisah tersebut masih bersifat hewani. Sedangkan Sang Kera Perkasa, walau berwujud hewan sudah bersifat Ilahi….. Dalam buku “Kundalini Yoga” diuraikan bahwa alam bawah sadar kita masih terpengaruh naluri hewani. Itu sebabnya kita tidak segan-segan mencelakakan orang lain, demi kepentingan diri. Kita harus melanjutkan perjalanan kita. Berada pada tingkat ini pun, sebenarnya kita berbadan manusia, tetapi belum cukup manusiawi. Bukan hanya kenyamanan diri, kita juga harus bisa memikirkan kenyamanan orang lain. Untuk itu kita harus meningkatkan kesadaran kita sedikit lagi lepas dari pengaruh naluri hewani. Berada pada tingkat kesadaran kasih, kita baru mengambil langkah pertama dalam hal memanusiakan diri. Kasih merupakan sifat manusia. .. Kasih mampu menyaring sifat-sifat hewani kita.

Sang Isteri: Sang Kera Perkasa sudah mempunyai sifat keilahian……. Keilahian, Kemuliaan adalah Kebenaran Sejati Manusia. Dan Keilahian ini tidak bisa diperjualbelikan, tidak bisa ditimbun sebagaimana mereka menimbun harta benda. Yang kaya telah melupakan Keilahian dirinya, Kemuliaan dirinya dan mengikat diri dengan kekayaannya. Begitu pula dengan yang muda. Ia melepaskannya demi kenikmatan dan kesenangan sesaat yang dinginkannya. Kita tidak bisa membeli “Keilahian” ataupun “Kemuliaan”. Bahkan kita tidak perlu membelinya, karena “Keilahian” itulah kebenaran diri kita, karena “Kemuliaan” itulah jatidiri kita. Sebagaimana kebinatangan adalah sifat dasar binatang dan kemanusiaan adalah sifat dasar manusia, begitu pula “Keilahian” adalah Sifat Dasar Tuhan. “Kemuliaan” adalah Sifat Dasar “Ia Yang Maha Mulia”. Dan itu pula yang Ia berikan kepada kita. Sebelum orang tua memberikan nama dan menempelkan “cap agama”, Tuhan sudah membekali Kita dengan “Keilahian”, “Kemuliaan”. Demikian disampaikan dalam buku “Bersama Kahlil Gibran Menyelami ABC Kehidupan”.

Sang Suami: Kisah ini menyampaikan tentang adanya hukum alam…… Dalam buku “Vadan, Simfoni Ilahi Hazrat Inayat Khan” dijelaskan bahwa hukum alam adalah bahasa dunia. Bila lahir dalam dunia dan hidup di dunia ini, kita harus memahami bahasanya. Hukum aksi-reaksi dan hukum evolusi atau perkembangan, itulah dua hukum utama. Landasannya adalah keterkaitan, interdependency, bila kita menebang pohon seenaknya, banjirlah akibatnya. Itu salah satu contoh dari hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat. Dan, Bila kita membunuh manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya, jangan kira kita akan lolos dari hukuman. Jangan pula mencari pembenaran, bahwa kita membunuh demi atau untuk siapa dan atas nama apa. Mau mencari pembenaran sih boleh-boleh saja, asal tahu bahwa itu tidak akan meringankan hukuman kita. Kemudian, hukum perkembangan, kemajuan, evolusi, ekspansi. Segala sesuatu dalam hidup ini mengalami perkembangan. Semuanya sedang berevolusi. Tidak ada yang mengalami regresi dan kembali pada kehidupan di masa lalu. Bila tidak berkembang bersama hidup, kita akan hidup setengah-setengah. Itulah hukum evolusi. Bila kita tidak melangkah bersama waktu, waktu akan melewati kita.

Sang Istri: Suamiku, sekadar pemahaman tidak akan membantu kita. Tidak akan terjadi perkembangan jiwa dalam diri kita. Sekadar pemahaman bahkan bisa mengelabui. Kita pikir sudah paham, ya sudah cukup, lantas kita duduk diam kita lupa melakoni apa yang kita pahami. Sekadar pemahaman sangat berbahaya, karena kita bisa tertipu olehnya. Pemahaman tanpa laku, tanpa penghayatan, tidak bermakna sama sekali. Apa yang kita baca, apa yang kita pahami, harus kita lakoni.

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Tentang Kera Perkasa dan Pemburu Yang Mengkhianatinya Pada Relief Candi di Borobudur

  1. Tuhan menguji kita dengan sebuah masalah yang itu semua adalah tantangan yang harus kita hadapi, untuk mengetahui sejauh mana tingkat kedewasaan kita. Di mana jika kita jadi pemburu di hutan atau seseorang yang tersesat dihutan yang ada dalam pikiran manusia adalah membunuh atau dibunuh, hidup atau mati karena pikiran kita kalut dan tidak bisa berpikiran jernih untuki bertahan hidup.
  2. Tanpa terasa kita sering menjadi Sang Pemburu yang tak tahu membalas budi dan sangat sulit menjadi Sang Kera Perkasa yang memaafkan orang baru saja melakukan usaha pembunuhan terhadapnya.
  3. Kita sulit mengakui bahwa jalan hidup kita bahkan sudah tersesat di hutan materi dunia. bahkan terhadap Sang Master yang menunjukkan jalan ke luar dari kesesatan, malah dibalas dengan kejahatan. Pembunuhan saat ini bukan membunuh orang tetapi membunuh karakternya.
  4. Kita perlu melakukan introspeksi diri. Apa pun yang kita lakukan apakah memenuhi kedua kriteria indah dan berguna.
  5. Toleransi dan Kesabaran Sang Kera Perkasa bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya justru membuktikan kemampuan untuk tetap teguh.
  6. Dalam diri Sang Bodhisattva yang ada hanyalah kasih. Maka semua tindakannya hanya bersifat Kasih semata.
  7. Kisah-Kisah yang terpahat pada relief Borobudur dapat dijelaskan dengan menggunakan keyakinan apa saja….. Kepulauan Nusantara yang telah menjadi rumah bagi ratusan suku dengan beragam latar belakang tradisi, agama, bahasa, bahkan ras – membutuhkan dasar yang sangat kuat untuk menjadi Satu Negara, Satu Bangsa. Dan, para founding fathers kita menyimpulkan bahwa hanyalah Budaya yang dapat dijadikan dasar. Kala itu, ada juga beberapa pemikir, beberapa tokoh bangsa yang menginginkan “Agama” sebagai dasar. Tetapi, setelah perdebatan panjang – hampir semuanya setuju bahwa doktrin dan dogma agama yang sulit diperdebatkan malah akan menimbulkan pertentangan. Doktrin dan dogma masing-masing agama memiliki keunikan tersendiri, dan sulit dipertemukan. Justru nilai-nilai budaya yang universal dan telah menjadi basis bagi pola pikir Manusia Indonesia yang dapat mempertemukan agama-agama itu. Manusia Indonesia memiliki budaya sendiri, budaya asal yang sudah terekam pada DNA-nya. Semoga putra-putri bangsa menghormati budaya asalnya.
  8. Jadi ingat film the last samurai, saat kaisar meiji mengatakan bahwa meski Jepang sudah maju, punya rel kereta, meriam tapi tetap menginginkan Jepang yang berbasis budaya dan tradisinya karena di situlah jati diri Jepang, semangat bushido dan kaizen. Dan jadilah Jepang seperti sekarang. Budaya kuncinya.
  9. Dharma adalah dharma. Dharma seorang kuli tidak lebih rendah dari sang majikan yang beruang. Dharma tak hanya pemberian berupa uang atau makanan. Ada kalanya tutur kata yang menggugah adalah dharma yang sedang mereka butuhkan.
  10. Budaya mempunyai akar yang dalam mungkin ratusan ribu tahun. Banyak usaha untuk memotong akar budaya, sehingga bangsa kita gampang bergoyang.
  11. Sri Krishna hanya mengenal satu “kshetra”, dan itulah “Dharmakshetra” – Medan Dharma, Kebajikan, Keadilan, dan Kebahagiaan Sejati! Sri Krishna mengajak kita untuk bermain dengannya di lapangannya. Dan, ia menjemput kita. Melihat kilauan wajahnya, saat itu kita tertarik. Atau, barangkali setelah jenuh bermain di Kurukshetra, kita menerima ajakannya. Kemudian, selama beberapa lama kita pun bermain bersamanya di Medan Dharma. Kita tidak memahami perbedaan antara “kuru” dan “dharma”, antara “kebaikan atau kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan”, dan “kebaikan atau kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, kebaikan umat manusia”, maka kita balik lagi ke Kurukshetra. *Gita Management, AK
  12. Ada sebuah pertanyaan, apakah Para Suci mengalami hukum karma? Apakah Sang Bodhisattva mengalami hukum karma? Apakah Gusti Yesus mengalami hukum karma? Berikut ini petikan dari buku “Bodhidharma”……. Umumnya, kita berputar bersama Kalachakra Roda Sang Kala, Waktu. Dialah pengendali hidup kita. Keberadaan kita tergantung padanya, pada waktu dan ruang. Karena itu, apa yang kita sebut dan pahami sebagai Tuhan, jangan-jangan Sang Kala. Para bijak, mereka yang sudah memperoleh pencerahan dan melampaui Kalachakra, berputar bersama Dharmachakra, Yang Melampaui Waktu, Wujud, Ruang, Pikiran, Perasaan dan segala bentuk kegiatan. Seperti apa putaran mereka tak dapat dijelaskan, karena penjelasan hanya dapat diberikan dalam konteks waktu dan ruang. Pun mereka bebas dari segala macam dosa, tak tercemarkan, karena sampah waktu (Kalachakra) tak dapat menyentuh mereka. Berada dalam Kalachakra, setiap orang berputar demi dirinya. Hukum Karma, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi masih mengikat dirinya. Berada dalam Dharmachakra, manusia tidak lagi berputar demi dirinya. Hukum Karma sudah tidak mengikat dirinya. Ia berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. *Bodhidharma, AK.
  13. Bumi kita berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Untung, ia tidak berputar demi kita, demi manusia. Kita menganiayanya, kita melecehkannya, kita memperkosanya, tetapi ia tidak berhenti berputar. Bayangkan, apa yang terjadi pada ia mulai berpikir, “Umat manusia sudah keterlaluan, brengsek bener mereka. Untuk apa berputar bagi mereka? Berhenti sejenak ah’ aku sudah celaka biar mereka pun ikut celaka, tahu rasa!” Tapi tidak, ia tak pernah “berpikir” demikian. Ia tetap bertindak sesuai dengan Dharma. Ia tidak pernah lalai. Kita merampoknya, mencemarinya, tetapi ia tetap memaafkan dan memberi. Matahari terbit dan terbenam demi Dharma. Di antara kita, ada yang memujanya, ada yang menganggap pemujaan seperti itu melanggar akidah agama ia tidak terpengaruh. Ia tetap saja terbit dan terbenam seperti biasa. Hukum gravitasi bekerja sesuai dengan Dharma. Bayangkan apa yang terjadi bila hukum tersebut “berhenti berlaku” selama satu menit saja terpental ke mana kita semua?! *Bodhidharma, AK.
  14. Begitu pula dengan hukum-hukum alam lainnya. Hukum Karma atau Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi pun bekerja sesuai dengan Dharma. Begitu pula seorang menteri. Ia bertindak sesuai dengan perintah raja, dan tidak dapat bertindak “tanpa Kerajaan”. Kerajaan yang dimaksud dalam hal ini adalah “ruang dan waktu”. Hukum alam hanya berlaku dalam Kalachakra, dalam Roda Sang Kala, Waktu Agung. Tanpa Kerajaan, hukum-hukum Kerajaan “ada”, tapi “tidak dapat diberlakukan”. Dalam Dharmachakra, hukum-hukum alam ada tapi tidak berlaku. *Bodhidharma, AK

Seorang master sufi ditanya “Latihan apa yang paling sulit untuk dilakukan?” ia menjawab “Ikhlas, itulah latihan olah batin yang paling sulit”. Karena ikhlas tidak bisa separo-separo, keikhlasan kita, tidak bisa …tanggung. Tidak ada keadaan tengah diantara ikhlas dan tidak ikhlas.

Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Tentang Kera Perkasa dan Pemburu Yang Mengkhianatinya Pada Relief Candi di Borobudur

1. Tuhan menguji kita dengan sebuah masalah yang itu semua adalah tantangan yang harus kita hadapi, untuk mengetahui sejauh mana tingkat kedewasaan kita. Di mana jika kita jadi pemburu di hutan atau seseorang yang tersesat dihutan yang ada dalam pikiran manusia adalah membunuh atau dibunuh, hidup atau mati karena pikiran kita kalut dan tidak bisa berpikiran jernih untuki bertahan hidup.

2. Tanpa terasa kita sering menjadi Sang Pemburu yang tak tahu membalas budi dan sangat sulit menjadi Sang Kera Perkasa yang memaafkan orang baru saja melakukan usaha pembunuhan terhadapnya.

3. Kita sulit mengakui bahwa jalan hidup kita bahkan sudah tersesat di hutan materi dunia. bahkan terhadap Sang Master yang menunjukkan jalan ke luar dari kesesatan, malah dibalas dengan kejahatan. Pembunuhan saat ini bukan membunuh orang tetapi membunuh karakternya.

4. Kita perlu melakukan introspeksi diri. Apa pun yang kita lakukan apakah memenuhi kedua kriteria indah dan berguna.

5. Toleransi dan Kesabaran Sang Kera Perkasa bukanlah tanda kelemahan. Sebaliknya justru membuktikan kemampuan untuk tetap teguh.

6. Dalam diri Sang Bodhisattva yang ada hanyalah kasih. Maka semua tindakannya hanya bersifat Kasih semata.

7. Kisah-Kisah yang terpahat pada relief Borobudur dapat dijelaskan dengan menggunakan keyakinan apa saja….. Kepulauan Nusantara yang telah menjadi rumah bagi ratusan suku dengan beragam latar belakang tradisi, agama, bahasa, bahkan ras – membutuhkan dasar yang sangat kuat untuk menjadi Satu Negara, Satu Bangsa. Dan, para founding fathers kita menyimpulkan bahwa hanyalah Budaya yang dapat dijadikan dasar. Kala itu, ada juga beberapa pemikir, beberapa tokoh bangsa yang menginginkan “Agama” sebagai dasar. Tetapi, setelah perdebatan panjang – hampir semuanya setuju bahwa doktrin dan dogma agama yang sulit diperdebatkan malah akan menimbulkan pertentangan. Doktrin dan dogma masing-masing agama memiliki keunikan tersendiri, dan sulit dipertemukan. Justru nilai-nilai budaya yang universal dan telah menjadi basis bagi pola pikir Manusia Indonesia yang dapat mempertemukan agama-agama itu. Manusia Indonesia memiliki budaya sendiri, budaya asal yang sudah terekam pada DNA-nya. Semoga putra-putri bangsa menghormati budaya asalnya.

8. Jadi ingat film the last samurai, saat kaisar meiji mengatakan bahwa meski Jepang sudah maju, punya rel kereta, meriam tapi tetap menginginkan Jepang yang berbasis budaya dan tradisinya karena di situlah jati diri Jepang, semangat bushido dan kaizen. Dan jadilah Jepang seperti sekarang. Budaya kuncinya.

9. Dharma adalah dharma. Dharma seorang kuli tidak lebih rendah dari sang majikan yang beruang. Dharma tak hanya pemberian berupa uang atau makanan. Ada kalanya tutur kata yang menggugah adalah dharma yang sedang mereka butuhkan.

10. Budaya mempunyai akar yang dalam mungkin ratusan ribu tahun. Banyak usaha untuk memotong akar budaya, sehingga bangsa kita gampang bergoyang.

11. Sri Krishna hanya mengenal satu “kshetra”, dan itulah “Dharmakshetra” – Medan Dharma, Kebajikan, Keadilan, dan Kebahagiaan Sejati! Sri Krishna mengajak kita untuk bermain dengannya di lapangannya. Dan, ia menjemput kita. Melihat kilauan wajahnya, saat itu kita tertarik. Atau, barangkali setelah jenuh bermain di Kurukshetra, kita menerima ajakannya. Kemudian, selama beberapa lama kita pun bermain bersamanya di Medan Dharma. Kita tidak memahami perbedaan antara “kuru” dan “dharma”, antara “kebaikan atau kepentingan pribadi, keluarga, dan golongan”, dan “kebaikan atau kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, kebaikan umat manusia”, maka kita balik lagi ke Kurukshetra. *Gita Management, AK

12. Ada sebuah pertanyaan, apakah Para Suci mengalami hukum karma? Apakah Sang Bodhisattva mengalami hukum karma? Apakah Gusti Yesus mengalami hukum karma? Berikut ini petikan dari buku “Bodhidharma”……. Umumnya, kita berputar bersama Kalachakra Roda Sang Kala, Waktu. Dialah pengendali hidup kita. Keberadaan kita tergantung padanya, pada waktu dan ruang. Karena itu, apa yang kita sebut dan pahami sebagai Tuhan, jangan-jangan Sang Kala. Para bijak, mereka yang sudah memperoleh pencerahan dan melampaui Kalachakra, berputar bersama Dharmachakra, Yang Melampaui Waktu, Wujud, Ruang, Pikiran, Perasaan dan segala bentuk kegiatan. Seperti apa putaran mereka tak dapat dijelaskan, karena penjelasan hanya dapat diberikan dalam konteks waktu dan ruang. Pun mereka bebas dari segala macam dosa, tak tercemarkan, karena sampah waktu (Kalachakra) tak dapat menyentuh mereka. Berada dalam Kalachakra, setiap orang berputar demi dirinya. Hukum Karma, Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi masih mengikat dirinya. Berada dalam Dharmachakra, manusia tidak lagi berputar demi dirinya. Hukum Karma sudah tidak mengikat dirinya. Ia berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. *Bodhidharma, AK.

13. Bumi kita berputar demi Dharma, demi putaran itu sendiri. Untung, ia tidak berputar demi kita, demi manusia. Kita menganiayanya, kita melecehkannya, kita memperkosanya, tetapi ia tidak berhenti berputar. Bayangkan, apa yang terjadi pada ia mulai berpikir, “Umat manusia sudah keterlaluan, brengsek bener mereka. Untuk apa berputar bagi mereka? Berhenti sejenak ah’ aku sudah celaka biar mereka pun ikut celaka, tahu rasa!” Tapi tidak, ia tak pernah “berpikir” demikian. Ia tetap bertindak sesuai dengan Dharma. Ia tidak pernah lalai. Kita merampoknya, mencemarinya, tetapi ia tetap memaafkan dan memberi. Matahari terbit dan terbenam demi Dharma. Di antara kita, ada yang memujanya, ada yang menganggap pemujaan seperti itu melanggar akidah agama ia tidak terpengaruh. Ia tetap saja terbit dan terbenam seperti biasa. Hukum gravitasi bekerja sesuai dengan Dharma. Bayangkan apa yang terjadi bila hukum tersebut “berhenti berlaku” selama satu menit saja terpental ke mana kita semua?! *Bodhidharma, AK.

14. Begitu pula dengan hukum-hukum alam lainnya. Hukum Karma atau Sebab-Akibat, Aksi-Reaksi pun bekerja sesuai dengan Dharma. Begitu pula seorang menteri. Ia bertindak sesuai dengan perintah raja, dan tidak dapat bertindak “tanpa Kerajaan”. Kerajaan yang dimaksud dalam hal ini adalah “ruang dan waktu”. Hukum alam hanya berlaku dalam Kalachakra, dalam Roda Sang Kala, Waktu Agung. Tanpa Kerajaan, hukum-hukum Kerajaan “ada”, tapi “tidak dapat diberlakukan”. Dalam Dharmachakra, hukum-hukum alam ada tapi tidak berlaku. *Bodhidharma, AK

15. Seorang master sufi ditanya “Latihan apa yang paling sulit untuk dilakukan?” ia menjawab “Ikhlas, itulah latihan olah batin yang paling sulit”. Karena ikhlas tidak bisa separo-separo, keikhlasan kita, tidak bisa …tanggung. Tidak ada keadaan tengah diantara ikhlas dan tidak ikhlas.

Terima Kasih.

Salam __/\__