GotoBus
Showing posts with label CERITA RELIEF CANDI MENDUT. Show all posts
Showing posts with label CERITA RELIEF CANDI MENDUT. Show all posts

Renungan Tentang Kisah Brahmana Dan Kepiting, Yang Terdapat Pada Relief Dinding Candi Mendut Pada relief candi Mendut terdapat relief tentang fabel a

Renungan Tentang Kisah Brahmana Dan Kepiting, Yang Terdapat Pada Relief Dinding Candi Mendut


Pada relief candi Mendut terdapat relief tentang fabel atau cerita hewan. Salah satu relief adalah kisah tentang seekor kepiting di gunung dan seorang Brahmana yang sedang melakukan persembahan. Sepasang suami istri setengah baya sedang santai membicarakan kisahnya. Kemudian mengkajinya dengan referensi buku-buku Bapak Anand Krishna.

Sang Istri: Adalah seorang brahmana bernama Dwijeswara. Ia terkenal sangat bijaksana. Sang Brahmana sedang bersembahyang di gunung dan berjumpa dengan seekor kepiting yang bernama Astapada. Sang Kepiting mungkin tersesat dan sampai di puncak gunung dalam keadaan kelelahan dan kehausan. Hati Sang Brahmana terketuk melihat makhluk yang berada dalam kesusahan dan kebingungan. Kepiting tersebut oleh Sang Brahmana dimasukkan dalam buntalan pakaian dan dibawa berjalan. Setelah beberapa lama, Sang Brahmana tiba di sebuah sungai dan Sang Kepiting dilepaskan. Sang Brahmana capek, beristirahat di atas batu datar dan ketiduran. Ia tidur dengan nikmat dan perasaan yang nyaman. Sang Brahmana bersyukur dianugerahi kesadaran sehingga dapat menyelamatkan makhluk yang sedang berada dalam penderitaan. Seekor ular dan seekor burung gagak sedang berencana melakukan kejahatan. Kepada burung gagak, ular minta diberitahu apabila ada orang ketiduran di atas batu. Dia akan datang untuk memangsa orang itu. Tak berapa lama burung gagak melihat seorang brahmana sedang tidur di sana. Burung gagak menemui ular dan berkata ada manusia sedang tidur di sana. Silakan memangsanya hanya burung gagak minta disisakan matanya untuk menjadi santapan siangnya. Begitulah perjanjian mereka. Sang Kepiting Astapada mendengar pembicaraan mereka. Kedua hewan itu sama-sama buruk kelakuannya. Maka Sang Kepiting mendatangi mereka. Wahai kedua temanku percayalah kepadaku, aku akan berusaha memanjangkan leher kalian. Agar kalian lebih dapat menikmati santapan. Mereka setuju dengan usul Sang Kepiting, dan diminta mendekatkan lehernya. Saat keduanya menyerahkan leher untuk dipanjangkan, maka kedua leher tersebut disupit oleh Sang Kepiting dan keduanya mati seketika.

Sang Suami: Menghadapi sebuah masalah berarti seseorang harus mengambil keputusan dari dua kelompok pilihan. Kelompok pertama menggunakan pikiran, dia akan berpikir dan mencari referensi di gudang ingatan. Satu keputusan yang akan diambil, selalu ditentang keputusan lainnya, bahkan oleh keputusan yang berlawanan. Bertimbang-timbang menyebabkan keraguan. Sebetulnya ingatan itu terbentuk oleh kumpulan pengalaman. Sudah betulkah pengalaman yang kita simpan? Konon jumlah informasi dalam suatu pengalaman jumlah bytes-nya ada jutaan. Sedangkan yang bisa masuk gudang ingatan bytes-nya terbatas hanya sekitar dua puluhan. Jadi pengalaman yang disimpan pun belum mengungkapkan kesempurnaan. Pengalaman yang disimpan merupakan pengalaman yang dipilih oleh pikiran. Sungguh tepat sekali SMS Wisdom yang berbunyi, “Kau tidak melihat dunia sebagaimana adanya. Kau melihat dunia sebagaimana pikiran memaksamu untuk melihatnya”…….. Kelompok kedua tidak menggunakan pikiran, tetapi menggunakan berbagai istilah, seperti suara hati nurani, atau pikiran jernih, atau inspirasi atau petunjuk Ilahi. Pertanyaannya adalah bagaimana membedakan antara pikiran yang datang dari gudang ingatan dengan inspirasi yang berasal dari Ilahi……. Sebuah gelas yang penuh terisi tak dapat menerima tambahan air lagi. Sebagian isi lamanya harus dibuang agar dapat diberi tambahan lagi. Untuk menerima inspirasi, seseorang harus melakukan pembersihan diri. Membuang semua pola pikiran lama yang telah menjadi referensi. Pembersihan harus dilakukan setiap hari. Dan energi Ilahi akan masuk ke dalam diri sebagai pengganti. Seseorang harus bertanggung jawab penuh atas peristiwa yang terjadi. Melakukan penyesalan atas kekeliruan diri dan mohon ampun pada Ilahi. Kemudian bersyukur kepada Ilahi dengan jalan melayani dan mengasihi. Sang Brahmana memilih menggunakan inspirasi atau petunjuk Ilahi. Kepiting yang berada dalam kesusahan dibawanya pergi. Akan dilepaskan setelah ketemu sebuah sungai nanti.

Sang Istri: Dalam buku “Kehidupan, Panduan untuk Meniti Jalan ke dalam Diri”, telah disebutkan. Bahwa Ibadah, Pemujaan, Sembahyang adalah sarana untuk menciptakan Rasa Pengabdian. Untuk melahirkan Rasa Pengabdian, disiplin-disiplin ritual seperti itu memang dibutuhkan. Begitu Rasa Pengabdian dalam diri telah lahir, dia akan mulai melihat Sang Kekasih berada di mana-mana. Sang Kekasih ada di Selatan, di Timur, di Utara, di Barat, dan di mana-mana. Dengan kesadaran seperti itu, apa pun yang dilakukan akan berubah menjadi persembahan semata. Dia tidak akan lagi melakukan sesuatu untuk keuntungan pribadi, apa pun dilakukan demi cinta kasih saja. Sang Brahmana sedang melakukan pemujaan, tetapi menyelamatkan kepiting merupakan persembahan pula. Sang Brahmana memilih membawa kepiting dalam perjalanannya. Saat melewati sebuah sungai kepiting tersebut akan dilepaskannya.

Sang Suami: Sang Brahmana paham bahwa yang bersemayam dalam dirinya dan yang bersemayam dalam Sang Kepiting adalah Gusti yang sama. Dan, Sang Brahmana ingin melayani-Nya. Dalam dirinya dan dalam diri Sang Kepiting ada Kehidupan yang sama. Dan, Sang Brahmana ingin mempertahankan Kehidupan dalam kepiting seperti mempertahankan Kehidupan dalam dirinya. Sama seperti manusia, seekor kepiting pun merasa berduka tidak menemukan sungai tempat kehidupannya. Rasa duka dan rasa suka pada manusia dan pada hewan adalah rasa yang sama. Yang memberi kehidupan, yang memberi rasa adalah Gusti yang sama, Gusti Yang Tak Dapat Diserupakan Dengan Apa pun Juga…… Memakai referensi buku “Vedaanta Harapan Bagi Masa Depan”. Empati yang sebelumnya hanya dirasakan, mulai dipraktekan dalam hidup keseharian. Sang Brahmana berkarya bukan bagi dirinya dan keluarganya saja, tetapi bagi seluruh makhluk di dunia. la berkarya bagi semesta dan tidak memikirkan hasil akhirnya. Seluruh kesadaran dipusatkan pada apa yang dikerjakannya. Hasil tidak perlu dipikirkan karena hukum sebab akibat akan menjadi dasarnya. Berbuat baik akan menghasilkan akibat baik pula. Sang Brahmana berkarya dengan semangat persembahan dan pengabdian pada Hyang Maha Kuasa. Dia tidak beramal-saleh demi pahala atau kenikmatan surga. Dia melakukan hal itu karena “senang” melakukannya.

Sang Istri: Tindakan Sang Kepiting menipu ular dan gagak apakah merupakan perbuatan yang tidak terpuji? Terpuji atau tidak terpuji adalah nilai pemberian manusia. Dalam diri manusia tersebut sudah terbentuk pola mana yang dianggap perbuatan tidak terpuji dan mana perbuatan mulia. Bila Sang Kepiting tidak mau menipu, maka Sang Brahmana yang telah menolongnya akan meninggal dunia. Menjadi korban kejahatan ular dan gagak yang menunggu kelalaian Sang Brahmana. Dalam perang bharatayuda tersebutlah Raja Yudistira, terkenal sebagai satria yang tidak pernah berdusta. Tetapi dia menipu Pandita Drona, Panglima Korawa yang hilang kesadarannya kala ditipu bahwa anak kesayangannya, Aswatama telah meninggal dunia. Pandita Drona hanya percaya kepada Raja Yudistira yang tidak pernah berdusta. Pola pikiran bawah sadar Raja Yudistira mungkin memang tidak mau berdusta. Akan tetapi dia menepis pikirannya dan mematuhi petunjuk Sri Krishna. Bahwa kali ini dia harus menipu Pandita Drona. Seandainya Raja Yudistira menolak berdusta, mungkin Korawa akan menang dan kejahatan tidak dikalahkan oleh kebajikan. Yudistira membuang pikiran, dan mematuhi petunjuk Keberadaan. Buruk baik bagi pikiran sudah dilepaskan, dia pasrah kepada Sri Krishna, pemandu jalan menuju keilahian.

Sang Suami: Sang Brahmana tidak tahu apa yang terjadi kemudian pada Sang Kepiting, yang penting Sang Kepiting telah kembali ke habitatnya. Sang Brahmana bahkan tak paham bahwa nyawanya telah diselamatkan oleh Sang Kepiting yang telah ditolongnya. Kita tidak pernah tahu apakah seseorang atau seekor hewan yang pernah kita tolong telah membalas dengan menyelamatkan kita. Hal yang demikian bisa saja terjadi tanpa setahu kita. Sang Kepiting tersebut paham membalas budi kepada orang yang berbuat baik terhadapnya. Coba kita perhatikan sel-sel darah putih dalam tubuh manusia. Sel-sel darah putih paham bahwa yang memberi makan, memelihara dan memberi tempat kediaman bagi diri mereka adalah tubuh manusia. Dan, bila tubuh manusia ini diserang mikroba maka mereka akan berusaha memerangi mikroba tersebut dengan sekuat tenaga. Mereka rela memberikan nyawanya bagi keselamatan tubuh manusia….. Hanya sel-sel kanker yang tidak tahu cara membalas budi orang yang telah berbuat baik terhadapnya. Mereka tak mau bersatu dengan sel-sel lainnya. Mereka bahkan merusak sel-sel lainnya dan menyerang tubuh manusia yang telah memberi makan dan tempat tinggal kepada mereka……. Kita dihidupi oleh Ibu Pertiwi. Makanan, pakaian, tempat tinggal, semuanya disediakan oleh Ibu Pertiwi. Merupakan pilihan kita menjadi sel kanker perusak bangsa atau menjadi sel darah putih yang berbhakti pada Ibu Pertiwi.

Terima Kasih, Jaya Guru Deva.

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Kisah Brahmana Dan Kepiting, Yang Terdapat Pada Relief Dinding Candi Mendut

1. Nan-in, seorang guru Jepang selama masa Meiji (1868-1912), menerima seorang dosen universitas yang mencari tahu tentang Zen. Nan-in menghidangkan teh. Ia menuangkan teh itu ke dalam cangkir tamunya hingga penuh, dan masih terus saja menuang. Dosen tersebut memandang tumpahan teh hingga akhirnya ia tidak bisa bertahan untuk berdiam diri. “Sudah penuh. Tidak muat lagi!”… “Sama seperti cangkir ini,” Nan-in mengatakan, “Anda penuh dengan gagasan dan spekulasi diri anda sendiri. Bagaimana saya bisa menunjukkan anda Zen jika anda tidak mengosongkannya terlebih dahulu?”

2. Bila kesadaran telah meluas segala sesuatu itu satu adanya, di amana-mana yang di lihat hanyalah Brahman, wajah Allah berada di mana-mana.

3. Diperlukan absennya pikiran agar suara illahi bisa terdengar, dan kadang Ia akan meminta kita untuk memilih … sebuah keputusan sulit yang bertentangan dengan kebiasaan, untuk memenangkan kebajikan.

4. Semoga kita menjadi orang yang tahu diri, yang terlahir di tanah pertiwi harus bersyukur dan melestarikan negeri sendiri. Itulah kebajikan yang harus dijalani.

5. Berbohong atau menipu demi kebaikan dibenarkan dan perlu keberanian dan ketulusan untuk melakukannya.

6. Luar biasa, indah dan menyentuh hati, Gusti Maha Agung ada dimana mana, di tubuh manusia, dan makhluk lainnya. Semoga dengan penuh kesadaran kita sedikit demi sedikit, bisa memelihara, dan melestarikan Ibu pertiwi.. Mencintai dan mengasihi sesama tanpa rasa egois..

7. Gunakan intelek saat diperlukan. Di atas segalanya, jadikan intelejensia sebagai pemandu dalam kehidupan saat ini….

8. Gunakan waktu untuk mengungkap kembali kebijakan leluhur untuk disebarkan di media maya…

9. Selama ini pikiran kita berisik sekali, sehingga suara hati nurani nyaris tak terdengar. Selama ini kita lupa bahwa pikiran lama kita masih di recycle bin dan belum di empty dan sewaktu-waktu salah pencet bisa muncul kembali. Kita harus ikhlas membuang pikiran lama digantikan dengan kesadaran.

10. Ibarat roda kereta, di garis terluar perbedaan terasa lebar, semakin ke dalam semakin sedikit perbedaannya. Dan di porosnya tak ada beda.

11. Mengubah pandangan lama dengan penuh kesadaran memerlukan effort yang luar biasa.

12. Mengikuti petunjuk Ilahi lebih tinggi daripada mengikuti nilai jujur-dusta menurut pola pikiran lama.

13. Semoga putra-putri bangsa selalu berjuang demi kejayaan dan kelestarian bangsa.

14. Mari kita bahu membahu meningkatkan kecintaan putra-putri bangsa kepada budaya Nusantara.

15. Kebaikan dan keburukan adalah relatif. Kesadaran adalah pemandu.

16. Tak ada wujud yang tak mempunyai suatu kehidupan…sekalipun kita tidak dapat memahami bentuk kehidupan bagaimana yang dijalaninya …..mari menyelam di kedalaman “BhinEka Tunggal Eka”.

17. Nampaknya berbeda-beda padahal berasal dari Yang Tunggal juga. Tak ada sesuatu yang berada di luar Dia. Bhinneka Tunggal Ika.

18. Masalah sel-sel kanker di Bumi Pertiwi yang tak mau bersatu, saya jadi ingat kata2 Guruji yang sangat indah, “Kebanyakan dari kita masih mementingkan kata-kata dan fatwa. Bukan pengembangan rasa dan kesadaran diri. Yang terjadi kemudian adalah pertentangan dan perselisihan, karena berbeda maka terpisah satu sama lain. Kita saling menilai isi kita, merasa paling berisi. Ada yang mengira dapat setengah isi, seperempat isi, dan ada yang sepertiga isi. Saat merasa berisi, kita berbeda dengan yang lain. Kadang menilai yang satu lebih berisi, dan yang lain kurang berisi. Hal ini malah membuat kita semakin jauh dan terpisah. Hanya dlm kekosongan kita akan merasa sama. Karena tak ada kekosongan yang lebih kosong atau kekosongan yang kurang kosong. Kosong adalah kosong. Dalam kekosongan kita bersatu, dan di keheningan kita ada dalam kebersamaan. Kosong itu sempurna….”

19. Cerita ini sungguh tepat bagi siapa saja yang mau memahami Alam Semesta ini.

20. Memang dunia ini kenyataannya tidak seindah pikiran kita. Tidak seindah negeri dongeng, di mana tiada yang jahat di sekitar kita. Namun jika pikiran kita benar-benar murni tanpa sedikitpun kemelekatan, hati kita sudah tidak mengeras lagi, perasaan kita kian peka terhadap bisikan Alam Semesta, dan kebijaksanaan dalam pikiran selalu terang tanpa batas (Amitabha), maka kita akan bertindak spontan dan tepat sesuai situasi dan kondisi. Sang Kepiting dalam kehidupan para praktisi Dharma bisa jadi adalah para Dharmapala yang melindungi kita dari segala bencana atau kuasa jahat yang hendak mencelakai kita, dengan catatan kita sebaiknya bertulus hati dalam hidup ini. Bukan berarti menerima mentah-mentah apa yang diajarkan para guru atau info dari siapapun tanpa dicerna, diuji manfaat nyatanya terlebih dulu, namun dengan pengertian benar tentang diri kita sendiri, hidup ini, kita melaksanakan Dharma dengan benar dan tepat!

Terima Kasih.

Salam __/\__

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Angsa Terbang dan Kura-Kura

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Angsa Terbang dan Kura-Kura



Pada relief candi Mendut terdapat fabel atau cerita tentang hewan yang dikenal masyarakat pada zamannya. Pada salah satu relief tersebutlah kisah tentang seekor Kura-Kura dan dua ekor Angsa. Sepasang suami istri setengah baya sedang santai membicarakan kisah mereka. Kemudian mengkajinya dengan referensi buku “Kidung Agung, Melagukan Cinta Bersama Raja Salomo” dan “Atisha, Melampaui Meditasi untuk Hidup Meditatif”, karya Bapak Anand Krishna.

Sang Istri: Di sebuah kolam kecil seekor kura-kura berteman dengan dua ekor angsa. Terpengaruh pergantian musim, kolam tersebut kadang menyusut, kadang melimpah airnya. Kala air melimpah mereka bersuka ria. Kala air menyusut mereka menderita, bahkan cemas bila mengering kolamnya. Kedua angsa berkata bahwa mereka sudah bosan mengalami suka dan duka yang tak ada habisnya. Yang mungkin akan dialami mereka sepanjang hidupnya, sampai ajal menjemput mereka. Kedua angsa baru saja mendengar berita gembira. Seekor burung bijaksana berkata bahwa di puncak gunung ada sebuah telaga. “Telaga Kebahagiaan” dengan mata air yang tak ada habisnya. Kedua angsa bertekad bulat akan terbang menuju “Telaga Kebahagiaan” yang dapat membahagiakan mereka selamanya. Kura-kura tertarik dengan tekad angsa dan berniat ingin mengikutinya. Mereka berupaya mencari jalan keluarnya, dan sebuah ide cerdas diajukan Sang Kura-Kura. Kedua angsa menyetujuinya. Walau mereka berpesan agar kura-kura selalu waspada, karena lengah sedikit saja, bahaya besar menimpa. Kedua angsa mencengkeram sepotong kayu pada ujung-ujungnya, dan Sang Kura-Kura menggigit di tengahnya. Sebelum terbang mereka berpesan agar kura-kura fokus menggigit kayunya dan tidak berbicara sepanjang perjalanannya…….. Di atas ladang sepasang serigala berkata, yang menggigit kayu itu bukan kura-kura tetapi kotoran kerbau, oleh-oleh buat anak angsa. Di atas desa anak-anak kecil ternganga, melihat kura-kura menggigit kayu yang dibawa terbang angsa di kanan dan kirinya. Anak-anak desa melambaikan tangannya dan berteriak, betapa berbahagianya Sang Kura-Kura. Seumur hidup belum pernah terjadi peristiwa yang demikian langka. Di atas taman istana para putri terpesona. Mereka ingin mengetahui bagaimana awal cerita Sang Kura-Kura mendapat karunia yang luar biasa. Sang Kura-Kura lengah ingin menjelaskannya. Gigitannya lepas dan jatuh, badannya terbelah dua. Sang Raja datang dengan penasehatnya. Sang Penasehat menjelaskan mengapa Sang Kura-Kura jatuh di istana. Kebiasaan terlalu banyak bicara membuat lengah dan mengundang bencana. Sang Raja sadar bahwa sudah lama Sang Penasehat menasehatinya agar pembicaraannya dikurangi. Ada waktunya bicara dan ada waktunya berdiam diri. Selama ini Sang Raja selalu mendominasi pembicaraan dengan para menteri. Peristiwa kura-kura membuat dia memahami kekurangannya selama ini….. Konon setelah beberapa kehidupan, Sang Penasehat berinkarnasi menjadi Sang Buddha. Sedangkan Sang Raja menjadi salah satu muridnya. Kisah Kura-Kura dan Angsa dapat mengubah pandangan hidupnya………..

Sang Suami: Sang Penasehat berkata, hidup berkesadaran memang penuh risiko, karena sepenuhnya bergantung pada kesadaran pribadi. Hidup berkesadaran berarti menjalani hidup dengan kesadaran diri sendiri. Dan, karena kesadaran seseorang masih mengalami pasang surut, maka hidup berkesadaran mengandung risiko jatuh kembali…… Itulah biaya kebebasan yang harus dibayar karena tiada kebebasan di luar hidup berkesadaran. Sang Kura-Kura berani menjalani hidup berkesadaran. “Telaga Kebahagiaan” yang abadi sudah menjadi tujuan. Sayang terpeleset karena masih ingin berbicara, menceritakan pengalaman. Mungkin di kehidupan kemudian, dia akan meneruskan perjalanan menuju “Telaga Kebahagiaan”. Dia akan mengurangi pembicaraan, tidak perlu mengagung-agungkan pengalaman.

Sang Istri: Kesadaran telah datang pada kura-kura dan angsa bahwa mereka berada di tempat yang salah. Mereka meninggalkan “kolam” pikiran menuju “Telaga Kebahagiaan”……. Berada dalam “kolam” pikiran, berarti berada di tempat yang salah. Berada dalam “kolam” pikiran akan mengalami suka-duka yang datang silih berganti selamanya dan evolusi batin terhenti sudah…… Setiap manusia yang sedang mencari keseimbangan antara dunia dan akhirat, antara jasmani dan rohani, sudah pasti terjebak dalam kolam pikiran. Yang memisahkan duniawi dengan rohani adalah pikiran. Kemudian terjadilah kebingungan, kegaduhan…… Yang duniawi tidak dapat dipisahkan dari yang rohani. Yang duniawi tidak bisa eksis tanpa rohani. Duniawi pun ada karena karena Sang Ilahi. Keterikatan pada duniawi tidak dapat disejajarkan dengan cinta terhadap Sang Ilahi. Bagaimana mencari keseimbangan dalam posisi begini? Berada dalam kesadaran rohani, tidak perlu melepaskan dunia, karena keduniawian terlepas dengan sendiri.

Sang Suami: Sang Kura-Kura dan Kedua Angsa sudah menjadi sahabat seperjalanan…..Bagi siapa pun sebenarnya dari luar diri dan dari dalam diri selalu datang rayuan. Dari luar diri, datang segala sesuatu yang melencengkan dari jalur kesadaran. Dari dalam diri, datang segala sesuatu yang membesarkan ego dan akhirnya juga melencengkan dari jalur kesadaran. Karena itu, kita sangat membutuhkan support group, sangha, kelompok sahabat seperjalanan. Kita dapat saling membantu, saling melayani, saling melindungi dan saling mengingatkan……. Bagaimana pun nafsu Sang Kura-Kura tidak pernah mati, maka dia harus mengendalikan diri. Nafsu mesti ditarik dari keduniawian, diarahkan ke keilahian, ke “Telaga Kebahagiaan” yang langgeng abadi. Proses pengarahan nafsu kepada keilahian itulah spiritualitas, itulah meditasi. Dalam bahasa Timur-Tengah itu disebut taubah, membelok, kembali. Maksudnya kembali pada diri sendiri, karena itulah kerajaan-Nya, di sanalah Ia bersemayam. “From Passion to Compassion”……

Sang Istri: Sang Kura-Kura sudah dalam perjalanan menuju “Telaga Kebahagiaan”. Tetapi dunia di bawahnya selalu merayu Sang Kura-Kura untuk membatalkan perjalanan…….. Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya. Lingkaran kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan, tak ada habis-habisnya. Dunia ingin memiliki kita. Keluarga, kerabat dan orang-orang yang mengaku seumat dan seiman ingin memiliki kita. Lembaga-lembaga keagamaan dan politik berebutan untuk memiliki kita. Kadang mereka bergabung untuk menyatakan kepemilikan mereka atas diri kita. Kita perlu berhati-hati, perlu waspada. Sebenarnya dunia tidak dapat memperbudak kita untuk selamanya, kecuali bila kita membiarkannya. Kecuali bila kita mau diperbudaknya.

Sang Suami: Sang Kura-Kura tidak fokus sepenuhnya kepada tujuannya. Dia masih memperhatikan apa kata orang di bawah sana. Dia merasa marah pada mereka yang menghinanya, dia menepuk dada pada mereka yang menyanjungnya. Kura-kura masih ragu, masih bimbang dia masih memperhatikan keduniawian. Masih ada keterikatan…….. Dalam buku “Kidung Agung” dijelaskan bahwa……. Ah, kita masih ragu, masih bimbang, masih takut, masih memikirkan pendapat orang, dan pandangan dunia. Kita masih mengharapkan masyarakat merestui hubungan kita. Sesungguhnya, harapan kita tidak pada tempatnya. Kita tidak membutuhkan fatwa untuk berhubungan dengan Tuhan, kita tidak membutuhkan izin dari siapa pun jua……. Pertama, dunia akan memastikan bahwa keluargamu menghalang-halangimu. Keluarga yang menginginkan keterikatanmu, karena ingin memperbudak jiwamu, ingin menguasaimu, selalu menjadi penghalang utamamu. Jarang sekali kita temukan misalnya di mana keluarga justru menunjang atau membantu. Kedua, kawan dan kerabat akan meninggalkanmu. Ketiga, kau akan difitnah oleh dunia, berbagai hujatan akan dilontarkan kepadamu…….

Sang Istri: Masalahnya adalah bahwa dunia tidak berevolusi bersama. Teori Darwin tidak dapat menjelaskan fenomena evolusi secara sporadis, ada yang cepat dan ada yang lambat kemajuannya. Buktinya di abad modern, masih saja ada kelompok-kelompok primitif di hampir setiap benua. Demikian pula evolusi kesadaran berproses secara demikian juga. Itulah sebabnya para nabi, para pembaharu selalu tidak dipahami masyarakat pada awal mulanya. Tanpa berani dicela, tidak terjadi peningkatan kesadaran yang nyata.

Sang Suami: Sang Kura-Kura masih terbelenggu oleh pikiran. Dia belum dapat membebaskan dari keduniawian. Dalam buku “Atisha” telah diuraikan. Selama ini yang dilakukan oleh mind hanyalah tiga pekerjaan. Yang ia sukai, ia kejar, yang tidak disukai, ia tinggalkan. Dan, antara mengejar dan meninggalkan, kadang-kadang ia juga bisa bersikap cuek terhadap sesuatu, karena merasa tak ada kaitan. Atisha bukan seorang utopian….. Ia tidak berhalusinasi, tidak berimajinasi. Ia sedang memberikan solusi. Lepaskan diri dari perbudakan mind dan gunakan mind untuk membantu anda dalam hidup ini. Sekarang kita terkendalikan oleh mind dengan “tri-fungsi”-nya. Nanti, kita akan mengendalikan mind, tetap dengan “tri-fungsi”-nya juga. Aktifkan “Kesadaran” dan mind dengan trifungsinya dapat dijadikan landasan yang kukuh untuk menyangga. Fungsi pertama, “suka”, sukailah kesadaran. Fungsi kedua, “tidak suka”, jangan menyukai ketidaksadaran. Fungsi ketiga, “cuek”, terhadap mereka yang menghujat, bersikaplah demikian.

Sang Istri: Semoga kita dapat memetik hikmah dari kisah yang dipahat pada relief batu, oleh leluhur kita pada zaman dahulu.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Angsa Terbang dan Kura-Kura

  1. Saatnya menapak kebijakan leluhur dan mengungkapkan…. semakin menebar keagungan warisan nenek moyang. Gunakan berbagai media yang disediakan oleh Keberadaan untuk menyampaikan pesan keluhuran…. Semakin banyak yang membaca semakin tinggi vibrasi. Ketidaksadaran tidak perlu dilawan. Dengan semakin banyaknya vibrasi kesadaran. Semakin sempit ruang gerak vibrasi ketidaksadaran….
  2. Dalam perjalanan spiritual kita harus selalu waspada. Tidak lupa daratan karena pujian, juga jangan terpuruk karena cacian. Jurus tandur, maju terus pantang mundur, sungguh warisan kisah yang tak lekang oleh waktu…..hebat nenek moyang kita.
  3. Nusantara memiliki kekayaan dan khazanah budaya yang sangat tinggi dan sarat dengan kebijaksanaan serta petunjuk-petunjuk. Semakin di gali kita akan semakin terperangah, dan bila mau jujur kadar maknanya jauh di atas paham-paham dan budaya import. Tetap semangat selalu menebarkan keagungan budaya leluhur. Semoga upaya ini dapat didengar dan diikuti setiap anak bangsa.
  4. Terkadang dalam kondisi sadar atau pun tidak sadar saya sering berada di dalam posisi kura-kura tersebut, oleh karenanya benar kita membutuhkan teman seperjalanan untuk terus berbagi, karena nafsu ini masih bergejolak, dan harus diarahkan menuju telaga pencerahan, karena jika nafsu yang bergolak ini kembali ke dalam kolam dunia maka penderitaan yang terbungkus dengan selimut kebahagian siap menanti, sesungguhnya di balik kesulitan ada kemudahan…, Jika kita memilih mudah maka kita akan berada di kolam dunia dan akan menemukan kesusahan terus menerus……
  5. Jika kita memilih susah maka kita akan berjalan ke dalam telaga pencerahan, memang susah namun pada akhirnya adalah kebahagian abadi, karena sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan, dan sesungguhnya di balik kesulitan itu ada kemudahan…
  6. Fesbuk turut berjasa menjaga kesadaran diri. Banyak sekali notes dari teman-teman yang membangkitkan hidup berkesadaran.
  7. Kisah-kisah yang saat ini mungkin telah banyak dilupakan baik kisahnya maupun pesan-pesan yang terkandung didalamnya.
  8. Cerita yang sangat mendalam! Semua Dharma akhirnya mengarah pada Pencerahan. Namun Pencerahan tak akan bisa dijelaskan…. Jalan menuju Pencerahan menuntut pelepasan ego, menuju Keshunyataan alias Kekosongan, yang menjadi muara dari semua ajaran Tantrayana. Yang dikemukakan Lama Atisha sangatlah manusiawi. Tidaklah perlu terburu nafsu untuk mencapai Pencerahan dengan menuruti semua teori dengan membabi buta, mengabaikan diri sendiri. Dengan uniknya para Master Tantra seperti Lama Atisha, para mahasiddha, dan para Yogi mengembalikan orientasi ke diri sendiri.Menerima diri sendiri apa adanya, berdamai dengan diri sendiri, memperhatikan lingkungan sekitar tanpa perlu bereaksi berlebihan, mempelajari yang berguna dari perhatian itu demi pengembangan batin. Lama Atisha juga pernah terjebak dalam kesombongan atas penguasaannya dalam ajaran Dharma, namun karena kepekaan hatinya yang bening setelah disindir dua ekor burung di taman Bodh Gaya (Lama Atisha ahli bahasa hewan), beliau segera menyadari kebodohannya. Dengan dukungan para guru dari silsilahnya yang sangat mulia (termasuk nenek moyang kita Svarnadilpi Dharmakirti atau Serlingpa) Lama Atisha tidak hanya membuat dirinya tercerahkan, namun membawa dan mengembangkan Bodhicitta dari bumi Nusantara ke negeri Tibet. Sekarang ajaran ini telah kembali ke bumi pertiwi.
  9. Mari kita sebarkan virus kecintaan pada Budaya Sendiri. Semoga kita saling ingat mengingatkan dengan kesadaran. Semoga kita semua diberkati kesehatan.
  10. Bila nenek moyang kita hebat maka dalam DNA kita juga mempunyai potensi kehebatan. Mari kita bangkitkan diri kita.
  11. Kejadian di dunia ini seakan berulang hanya beda setting dan beda pemeran. Sang Angsa dan sang Kura-Kura pun masih ada yang memerankannya.
  12. Semoga kita saling ingat mengingatkan tentang Kebenaran dengan Kesabaran.
  13. Keceriaan itu penting sekali. Hewan bisa menangis sehingga DNA kita tentang menangis sudah berusia lama. Keceriaan baru dimiliki manusia, mari kita sebarkan keceriaan.
  14. Peran Sang Angsa dan Sang kura-kura tidak hanya relatif (dalam diri kita), melainkan keduanya bisa saja bertukar tempat tanpa ada interupsi/konfirmasi dan ini akan terus menerus terjadi………bukan bagaimana cara menghentikan di antara keduanya tetapi bagaimana cara mengendalikan keduanya dan tentunya dengan meningkatkan “Kesadaran”…..

Terima Kasih.

Salam __/\_

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Kera dan Buaya

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Kera dan Buaya



Pada Candi Mendut terdapat banyak relief pada dinding batu. Mengkisahkan beberapa cerita tentang hewan yang dikenal masyarakat pada zaman dahulu. Tersebutlah kisah tentang Kera dan Buaya pada sebuah relief dinding itu……. Sepasang suami istri setengah baya sedang santai membicarakan kisah mereka. Kemudian mengkajinya dengan referensi buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa” dan “Bhaja Govindam, Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”, karya Bapak Anand Krishna.

Sang Istri: Di atas pohon mangga di tepi sungai besar hiduplah seekor kera. Pada suatu hari seekor buaya jantan datang minta mangga kepada Sang Kera. Beberapa butir mangga diberikan Sang Kera kepada Sang Buaya. Sang Buaya berterima kasih dan mohon diizinkan datang lagi kala memerlukannya. Akhirnya terjadilah persahabatan antara Sang Kera dan Sang Buaya. Seekor buaya betina, istri Sang Buaya Jantan dapat merasakan bahwa suaminya menjadi lembut karena banyak makan mangga dan sering lupa membawakan ayam dan angsa sebagai santapan bagi dirinya. Sang Buaya Betina tidak ingin suaminya terpengaruh oleh persahabatan dengan Sang Kera. Maka Sang Buaya Betina membuat tipu muslihat untuk membunuh Sang Kera. Pada suatu hari, Sang Buaya Betina bilang kepada suaminya bahwa dia sedang sakit parah dan obatnya adalah jantung seekor kera. Sang Buaya Betina bersandiwara bahwa dia segera meninggal bila tidak makan jantung kera. Sang Buaya Jantan berada dalam dilema. Seekor kera yang baik hati selalu memberi mangga dan sudah menjadi sahabatnya. Tetapi istri tercinta segera mati apabila tidak makan jantung kera…….. Akhirnya Sang Buaya Jantan mengundang Sang Kera untuk datang ke seberang sungai tempat tinggalnya. Dikatakan di seberang sungai terdapat pohon apel dan juga pohon nangka. Sang Kera diminta naik ke atas punggungnya. Sampai di tengah sungai, Sang Buaya Jantan mulai menyelam, dan Sang Kera bertanya mengapa dia tega bertindak sedemikian kejinya. Sang Buaya Jantan berkata bahwa istrinya sedang sakit parah dan harus makan jantung kera sebagai obatnya. Sehingga dia harus melakukan hal demikian pada Sang Kera……. Kemudian Sang Kera berkata, bahwa dia selalu memberikan apa saja yang diminta Sang Buaya. Sang Kera memberi tahu sebuah rahasia, bahwa dia selalu meloncat dari ujung dahan ke dahan lainnya, sehingga membawa jantung di badan sangatlah riskan. Dia menyembunyikan jantungnya di sebuah dahan yang tertutup oleh kerimbunan dedaunan. Sang Buaya diminta segera kembali menepikan ke dekat pohon mangga agar dia dapat segera mengambil jantungnya untuk diserahkan. Sang Buaya percaya dan membawa Sang Kera kembali ke tepi sungai yang segera melompat ke pohon mangga dan naik ke salah satu dahan. Sang Kera menyampaikan bahwa bahwa Sang Buaya Betina tidak punya perasaan. Sedangkan Sang Buaya Jantan tidak mengerti arti persahabatan. Sang Buaya Jantan melongo merasa dipermainkan. Tetapi dia tak dapat memanjat pohon mengejar Sang Kera yang sudah terbebas dari ancaman kematian…… Konon ceritanya dalam beberapa kali kehidupan Sang Kera lahir menjadi Sang Buddha, dan Sang Buaya Jantan menjadi Dewadatta. Sedangkan buaya betina lahir menjadi ratu Cinca……..

Sang Suami: Sang Buaya Jantan rela melakukan hal yang tidak terpuji, hanya demi menyenangkan pasangannya saja. Kita perlu merenungkan sifat buaya yang masih ada dalam diri kita. Intelegensia binatang masih begitu rendahnya. Mereka baru mampu memahami, “apa” yang harus dimakannya, dan apa yang tidak, “siapa” yang harus dikawininya, dan siapa tidak dikawininya. Dan, pilihan perkawinan mereka masih sederhana sekali, antara jantan dan betina. Seekor binatang jantan mencari betina, dan yang betina mencari yang jantan, kriterianya hanya satu, lawan jenis, itu saja……. Bila kita hidup semata-mata untuk memenuhi insting kita, maka sesungguhnya kita masih menjadi binatang, taruhlah binatang plus, karena kita sudah berbadan seperti manusia. Sebagai binatang plus, kita sudah memiliki mind yang cukup berkembang, mind yang dapat menciptakan, sehingga kita mampu menghiasi, memoles insting-insting kita. Kita bisa mengelabui orang lain, sehingga binatang di dalam diri kita menjadi lebih buas, lebih bengis dan lebih ganas dari binatang sesungguhnya. Kebuasan binatang masih terbatas, kebuasan kita tak terbatas karena ketakterbatasan kemampuan mind kita. Demikian diuraikan dalam buku “Otak Pemimpin Kita”.

Sang Istri: Dalam buku tersebut disampaikan bahwa manusia merupakan satu-satunya jenis makhluk yang hidup di bumi dan mampu berkembang terus sepanjang masa. Pohon Kenari sepuluh juta tahun yang lalu seperti itu dan sampai kini tidak terjadi perubahan apa pun juga. Anjing pun demikian, dari dulu begitu, sekarang pun masih sama. Lain halnya dengan manusia. Dulu dia hanya bisa membuat kapak dari batu, sekarang bisa membuat pesawat tempur yang terbang di angkasa. Dulu la tinggal di dalam gua di hutan, sekarang di dalam rumah mewah di kota. Species manusia berkembang terus, berevolusi terus sepanjang masa. Dengan Lymbic yang masih hewani pun, kita tetap berkembang juga. Menjadi “Animal Plus”, Binatang Plus adalah hasilnya. Belum holistik perkembangan diri kita. Hewan di dalam diri barangkali menjadi sedikit lebih jinak, tetapi belum menjelma menjadi manusia. Hanya segelintir saja di antara kita yang berhasil memanusiakan dirinya.

Sang Suami: Celakanya, sejak lahir, keinginan untuk membunuh pun sudah ada dalam otak manusia. Percaya atau tidak percaya dengan teori Darwin, “somehow” kita mewarisi insting hewani seperti itu dari evolusi yang demikian panjangnya. Itu sebabnya, lewat meditasi justru untuk membersihkan otak kita. “Deconditioning” dalam bahasa meditasi, dan “detoksifikasi” dalam bahasa media, dua-duanya sama dan untuk memperbaiki kualitas otak manusia. Kualitas otak tidak bisa diperbaiki dengan apa yang disebut “optimalisasi” otak manusia. Tidak bisa dengan sekadar membaca buku atau diberi perintah “Janganlah kau membunuh manusia”. Keinginan untuk membunuh dan perangkat otak yang dapat mewujudkan keinginan itu harus diolah sedemikian rupa. Sehingga keinginan untuk membunuh lenyap, dan perangkat lunak otak pun bersih dari program bunuh-membunuh di dalamnya. Kemudian, pemicu-pemicu dari luar pun tak mampu memicu kita untuk melakukan pembunuhan sesama manusia. Demikian diuraikan dalam buku “Bhaja Govindam, Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara……. Bagaimana seseorang bisa menjadi teroris, karena insting-insting hewani di dalam dirinya dipertahankan. Tidak ada upaya untuk membersihkan. Kisah-kisah yang disuguhkan kepadanya lebih banyak bercerita tentang permusuhan, pertengkaran dan kebencian. Berulang-ulang ditekankan, bahwa “Mereka adalah kelompok penjahat, dari dulu juga demikian. Coba buka bukumu dan baca, ada kan cerita tentang kejahatan yang mereka lakukan?” Oleh karena itu bisa saja seseorang bersumpah bahwa dia tidak terlibat dalam aksi teroris. Mungkin dia pun tidak sadar bahwa pendidikan yang diberikannya kepada anak-anak kecil di lingkungannya sudah cukup untuk mencetak teroris.

Sang Istri: Menghadapi masalah besar, Sang Kera menenangkan dirinya, dan kemudian mendapatkan inspirasi untuk menyelamatkan nyawanya…… Ia yang ingin hidup bebas harus belajar menerima tanggung jawab. Tidak lagi mencari kambing hitam. Dan bertanggung jawab penuh atas dirinya.”Jangan membiarkan seseorang menyakiti dirimu, menjahati kamu. Karena dengan menyakiti kamu sesungguhnya ia menyakiti dirinya sendiri.”Kematangan tidak berkaitan dengan pengalaman hidup. Tetapi dengan pengalaman batin. Dengan penitian jalan ke dalam diri.” “Setiap aksi menimbulkan reaksi yang setimpal. Ini merupakan hukum alam. Setiap orang bertanggung jawab atas perbuatannya. Setiap orang bertanggung jawab terhadap alam, terhadap keberadaan – terhadap Tuhan. Janganlah sekali-kali membalas aksi kejahatan dengan kejahatan, kekerasan dengan kekerasan, karena setiap orang yang membalas kejahatan dengan kejahatan menjadi jahat. Setiap orang yang membalas kekerasan dengan kekerasan menjadi keras.” Butir-butir mutiara nasehat yang bijaksana tersebut seakan-akan sudah merasuk dalam Sang Kera. Dan muncullah inspirasi dari Ilahi yang menyelamatkannya.

Sang Suami: Sang Kera akhirnya terselamatkan….. Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan. Ini merupakan hukum alam yang tidak dapat dielakkan. Apa pun yang kita tanam, itu pula yang akan kita peroleh kemudian…… Biji buah asam tidak akan memberikan buah mangga. Apabila kita hidup dalam kesadaran demikian, kita tidak akan pernah menderita. Kita akan selalu sadar bahwa penderitaan itu karena ulah kita sendiri pada masa lalu dan akibatnya datang pada saat ini. Dan, dengan kesadaran itu, kita bisa menghindari perbuatan tercela di masa kini…… Kemurahan hati berarti berbagi rasa, dan apa yang dapat kita bagikan, kecuali apa yang kita miliki? Kembangkan kasih dalam hati, kita harus mulai dari diri kita sendiri. Apabila yang kita kembangkan adalah kebencian, maka kebencian juga yang akan dan yang dapat kita bagi. Sebelum beranjak lebih jauh, sebelum bermurah hati, kembangkan dulu rasa kasih dalam diri. Tanpa kasih tidak akan pernah ada kemurahan hati.

Sang Istri: Kebenaran pasti jaya. Demikianlah ungkapan dalam bahasa kuno. Inilah kepercayaan para leluhur kita.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Kera dan Buaya

1. Memahami diri sendiri lebih sulit ketimbang memahami orang lain. Demikian juga lebih sulit mengamati perkembangan nafsu hewaniah dalam diri dan me-maintain-nya agar tidak muncul ke permukaan daripada selalu mengingatkan dan memarahi orang lain. Hewaniah dalam diri tidak disadari begitu kuatnya hingga menutupi kemanusiaan yang ada dalam diri kita.

2. Kala banyak orang berfokus ke dalam diri. Menyadari kehewanian dalam diri. Keributan dan kekacauan di dalam negeri tak akan terjadi. Indonesia Jaya menanti.

3. Selalu waspada dengam sifat-sifat hewani pada diri kita, dan rajin katarsis adalah suatu solusi untuk meningkatkan Kesadaran. Ditunjang dengan pergaulan, lingkungan, dan pola hidup yang sehat.

4. Katarsis adalah salah satu pembersihan pikiran bawah sadar. Kekosongan yang ditinggalkan pembuangan sampah-sampah pikiran dalam katarsis akan diisi sifat keilahian.

5. Ada suatu teknik untuk memahami diri sendiri, namun ini sebaiknya dilakukan oleh 1 orang yang membantu kita untuk memperoleh hasil yang obyektif, teknik ini dikenal sebagai Kinesiology, bisa dicari via google di Applied Kinesiology, dan kita harus jujur terhadap diri kita sendiri, juga kita harus kreatif dalam menyusun pertanyaan-pertanyaan ke diri kita sendiri. Di Ubud-Bali juga ada seorg Austria yang sudah 15 tahun tinggal disini yang menggunakan metode Kinesiology & sound healing technic,

6. Di buku “Be Happy”, karya Bapak Anand Krishna dijelaskan tentang kinesiologi. Dengan level-levelnya yang menyadarkan diri bahwa kesadaran kita berada di mana?

7. “Sang buaya jantan tega melakukan apapun untuk menyenangkan buaya betina ” Selalu jaga kesadaran … bahkan untuk orang-orang terdekat yang kita cinta. It’s very hard thing to do….

8. Memang sulit menjaga kesadaran bagi orang-orang yang dekat dengan kita. Hanya sebetulnya yang selalu dekat dengan kita dalam setiap kehidupan adalah Keberadaan, sedang seseorang mungkin dekat hanya pada kehidupan ini saja.

9. Tiap relief yang kelihatan biasa saja, ternyata banyak pelajaran terkandung disana. Tapi kenapa pelajaran sejarah di sekolah hanya membicarakan masalah pembuat, tahun dan masa saja…

10. Belajarpun bisa di mana saja, apa lagi belajar tentang kehidupan bisa dari mana saja.

11. Kita hanya diajari menghapal angka dan mendapat nilai A. Sudah saatnya putra-putri Ibu Pertiwi membangkitkan kecintaan pada Budaya Nusantara.

12. Sebuah perjuangan yang maha berat. Ada yang tidak menyadari, & ada yang memang penuh dengan kesadaran atas tindakan itu. Semoga kita mampu bersikap & bertindak dengan cermat & bijak. Butuh introspeksi secara penuh.

13. Bagi yang sadar kita harus ikut bertanggungjawab pada kesadaran bangsa kita.

14. Pencerahan yang sangat berharga, manusia-manusia berkelakuan seperti binatang berarti imago animale, manusia yang sudah dalam kesadaran, dalam perilaku baik dan positif berperikemanusian berarti imagodei.

Terima Kasih

Salam __/\__

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Bangau, Ikan dan Kepiting

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Bangau, Ikan dan Kepiting

Quantcast

Beberapa kisah tentang hewan menghiasi relief pada dinding batu Candi Mendut. Kisah tentang bangau, ikan dan kepiting adalah salah satu dari beberapa kisah tersebut. Kisah tersebut sedang dibicarakan oleh sepasang suami istri setengah baya. Mereka mengkajinya dengan referensi buku “The Gita Of Management, Panduan Bagi Eksekutif Muda Berwawasan Modern”, karya Bapak Anand Krishna.

Sang Istri: Tersebutlah di sebuah kolam kecil hidup seekor kepiting dan sekumpulan ikan. Pada suatu musim kemarau airnya menyusut tinggal sedikit dan bagi penghuni kolam keadaan tersebut cukup mengkhawatirkan. Kala itu seekor burung bangau sedang mengintai dan muncul pikiran jahatnya untuk menjadikan seluruh penghuni kolam sebagai santapan……. Burung bangau sengaja beristirahat di tepi kolam dan nampak duduk termenung bermuram durja. Para ikan bertanya kepada Sang Bangau, Tuan sedang memikirkan apa? Sang Bangau menjawab, aku memikirkan kehidupan kalian wahai para ikan. Kemarau ini begitu keringnya, semakin sedikit air semakin sedikit pula makanan kalian. Aku takut kolam ini beberapa hari lagi akan habis airnya dan kalian akan mati kekeringan. Para ikan bertanya, apa yang harus kami lakukan Tuan? Sang Bangau menjawab, kalau kalian percaya padaku, akan kubawa satu per satu kupindahkan ke telaga besar di balik hutan. Telaga yang dipenuhi dengan bunga teratai yang akan menjamin kehidupan kalian. Para ikan berkata, Tuan Bangau, sejak awal kehidupan, tak ada ceritanya seekor bangau memikirkan kesejahteraan ikan. Terus terang kami takut satu per satu dari kami akan Tuan makan, demikian kata para ikan. Sang Bangau menjawab pelan. Aku tidak berdusta silakan pilih satu perwakilan ikan untuk melihat telaga yang saya ceritakan. Para ikan kemudian memilih satu ikan besar sebagai perwakilan. Sang Bangau membawanya ke atas telaga dan kemudian kembali ke kolam ikan…….. Para ikan akhirnya percaya dan menurut saja dibawa Sang Bangau satu per satu ke telaga. Sebenarnya satu per satu ikan dijatuhkan di pohon di seberang telaga. Satu per satu disantap Sang Bangau dan dibawah pohon berserakan tulang-tulangnya. Demikian dilakukan berkali-kali sehingga ikan di kolam habis semuanya. Tersisa seekor kepiting di kolam yang juga ingin dimangsanya. Sang Bangau berkata, tidakkah kamu ikuti para ikan pindah ke telaga? Sang Kepiting berkata, lebih baik aku hidup di kolam ini saja. Karena Sang Bangau terus merayunya, akhirnya Sang Kepiting berkata. Aku bisa memegang diri Tuan lebih kuat, maka biarkan aku memegang leher Tuan saat terbang menuju telaga. Sang Bangau terbang di atas telaga, tetapi kemudian menuju pohon di seberang telaga. Sang Kepiting bertanya, mengapa Tuan membawaku menjauhi telaga? Sang Bangau berkata, dasar kepiting bodoh, aku bukan budakmu, mengapa kamu harus kupindahkan. Lihatlah di bawah pohon terdapat tulang-tulang ikan berserakan. Kamu pun akan segera kujadikan santapan. Sang Kepiting berkata, sang penipu telah ditipu itulah nasibmu, Tuan. Coba rasakan sedikit, saya mulai menjepit leher Tuan. Sang Bangau ketakutan merasakan lehernya yang mulai kesulitan bernapas. Sang Kepiting berkata, sekarang Tuan Bangau yang bodoh, bawa aku ke atas telaga agar aku bisa terjun dan Tuan kembali bebas! Sang Bangau menuruti dengan tergesa-gesa untuk menyelamatkan nyawanya. Saat tiba di tepi telaga leher Sang Bangau dipotong Sang Kepiting dan mati seketika. Sang Kepiting pun segera masuk ke dalam telaga……. Sang Buddha bercerita ada penjahit di Jetavana yang suka menipu. Dia membuat pakaian jadi dari baju bekas yang dicelupkan dengan cairan pewarna sehingga kelihatan baru. Setiap orang yang akan menjahitkan pakaian diminta menyerahkan kainnya dan ditukar dengan baju bekas yang nampak baru. Semakin hari, semakin banyak orang yang tertipu. Pada suatu hari, nampak seorang gagah dengan wool mewah berwarna oranye yang memperkenalkan diri sebagai Sang Penjahit dari Desa. Sang Penjahit dari Jetavana minta baju wool yang dipakai Sang Penjahit dari Desa dapat ditukar dengan sejumlah kainnya. Sang Penjahit dari Desa merasa keberatan, tetapi akhirnya setuju juga. Saat Sang Penjahit dari Jetavana mencuci baju wool dia baru sadar bahwa dia telah ditipu karena baju wool tersebut berasal dari kain karpet yang diberi warna……. Konon Sang Buddha bercerita bahwa setelah beberapa kehidupan. Sang Bangau lahir kembali menjadi Sang Penjahit dari Jetavana. Sedangkan Sang Kepiting menjadi Sang Penjahit dari Desa dan sekelompok ikan menjadi masyarakat yang tertipu oleh Sang Penjahit dari Jetavana………

Sang Suami: Para ikan dalam kolam takut terjadi kekeringan sehingga bisa dimanipulasi oleh Sang Bangau dengan mudahnya….. Beruntunglah Arjuna dalam perang Bharatayuda. Ketakutannya dibebaskan oleh Prabu Kresna. Rasa takut bagi Prabu Kresna adalah penyakit lama, penyakit yang kita warisi dari evolusi panjang kita sebagai binatang sejak dari amoeba. Rasa takut adalah naluri dalam setiap makhluk hidup di dunia. Manusia semestinya mampu melampaui nalurinya, sehingga dapat meningkatkan lapisan-lapisan lain kesadarannya. Sekelompok masyarakat ditakut-takuti masuk neraka dan diiming-imingi masuk surga. Mereka yang ketakutan diminta mengikuti aturan-aturannya. Bila perlu diminta berani kehilangan nyawa. Kebhinnekaan dan kelestarian bangsa diabaikannya. Mereka yang dimasuki program sejak Balita. Menganggap benar apa yang sudah disampaikan kepadanya. Mereka tidak sadar bahwa pikiran bawah sadar mereka telah diprogram memandang kebenaran dari satu sisi saja…….. Prabu Kresna paham bahwa rasa takut disebabkan oleh ketidak tahuan tentang potensi diri, potensi manusia. Kemudian kemalasan atau keengganan untuk mengembangkan potensi diri, sehingga menerima saja apa yang dicekokkan kepada mereka. Selanjutnya hilang sudah rasa percaya diri mereka. Mereka tergantung kata pemimpinnya. Suara hati nurani dirinya sendiri diabaikannya.….. Rasa takut mempengaruhi tiga lapisan utama dalam diri manusia. Pertama: Lapisan Intelegensi, akal sehat atau pikiran jernih yang sesungguhnya tahu persis tentang potensi diri. Kedua: Lapisan Fisik yang malas dan enggan untuk mengembangkan potensi diri. Ketiga: Lapisan Rasa, yaitu induk dari percaya diri.

Sang istri: Sang Bangau mewakili manusia primordial, di mana satu-satunya hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut sehingga menghindari peperangan. Ia harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi kehidupannya. Bagi Sang Bangau, nilai persahabatan dan kemitraan tidak berarti apa-apa. Pikirannya penuh muslihat untuk mendapatkan mangsa. Apakah pandangan kita juga demikian. Penuh keserakahan. Penuh tipu muslihat agar tercapai tujuan. Kita perlu waktu lama untuk merenungkan. Dalam waktu singkat akan menerima keberhasilan. Akan tetapi apakah alam akan membiarkan? Hukum sebab-akibat tetap akan berjalan. Siapa melakukan tipu muslihat dia pun akan menerima akibatnya di masa depan.

Sang Suami: Sebelum berupaya membebaskan diri dari keserakahan, kita perlu pahami sifat “keserakahan” itu sendiri. Jangan mencela, tapi memahami. Apa yang kita peroleh dari keserakahan kita selama ini? Apakah yang kita peroleh itu bersifat permanen, langgeng, abadi? Keserakahan manusia tidak pernah dapat dipuaskan. Kita menjadi semakin serakah, karena melayani keserakahan. Keserakahan menyebabkan kegelisahan, dan kegelisahan adalah penyakit yang tidak dapat diobati dengan menimbun kekayaan. Tidak dapat diobati dengan memperluas wilayah kekuasaan. Tidak dapat diobati dengan banyaknya willayah yang ditaklukkan. Keserakahan itu yang menyebabkan terjadinya kerusuhan dan kekacauan. Apa pun latar belakang historis pecahnya perang, sebab utamanya selalu keserakahan. Kita perlu menaklukkan diri sendiri. Menaklukkan keserakahan yang tak terkendali. Itulah raksasa yang harus kita usir pergi.

Sang Istri: Leluhur kita mempunyai pedoman bahwa “sopo sing nandur winih bakal ngundhuh ing tembe mburine”, barangsiapa yang menanam benih akan menuai buah tanaman tindakannya. Bagi yang melihat dalam waktu sesaat, menghalalkan segala cara tuntunan Sang Bangau adalah semacam menanam benih juga. Sehingga hasil akhir kemenangan adalah buah yang wajar dari sebuah perhitungan nyata. Akan tetapi, semua proses tindakan pun merupakan benih-benih tanaman yang akan mendatangkan akibat juga. Proses yang penuh tipu muslihat akan mendatangkan akibat tersendiri dalam jangka panjangnya. Manusia perlu mempertimbangkan semua pikiran, ucapan dan tindakannya sehingga tidak akan kecewa ketika tiba saatnya menuai hasilnya. Kearifan para Leluhur selaras dengan kearifan Prabu Kresna. Setiap pikiran, ucapan dan tindakan harus dilakukan dengan penuh kesadaran. Perlu merenungkan kisah Sang Bangau yang telah memperdaya para ikan. Tetapi Sang Bangau di akhir kisah diperdaya Sang Kepiting gantian.

Sang Suami: Dalam kisah tersebut disampaikan bahwa apa yang terjadi di masa lalu terjadi pula di masa depan, tak ada sesuatu yang baru di atas dunia. Walau “setting” panggung dan pemeran berbeda akan tetapi skenarionya tidak jauh berbeda. Bahkan kejadian bangau yang menipu dan menyantap sekelompok ikan saat ini dilakukan juga oleh segelintir manusia. Keterpurukan negeri dan kebohongan publik yang sering dilakukan oleh para pemimpin, terjadi karena berkiblat pada pikiran, berkiblat pada keserakahan. Sudah tidak berkiblat pada Kebenaran. Saat berdoa, hanya badan yang menghadap Bait Allah, pikiran berkiblat pada harta benda. Perasaan berkiblat pada kenyamanan jasmani dan keuntungan materi bagi diri sendiri, keluarga, dan kelompoknya. Sang Bangau telah dijadikan panglima……

Sang Istri: Bisa saja dalam arena politik untuk memenangkan pertarungan sekelompok orang menggunakan segala macam cara. Akan tetapi Keberadaan adalah Kekosongan yang sempurna. Pada waktu berteriak di depan kekosongan goa yang dalam, maka pantulan suara yang sama akan kembali sebagai gema. Demikian pula setiap tindakan penuh tipu muslihat, akhirnya akan kembali pula dengan cara yang sama. Tidakkah kita memperhatikannya? “Senjata Cakra Keadilan Prabu Kresna” akan mengejar terus, ke mana pun juga. Ke kehidupan-kehidupan selanjutnya. Sampai pada suatu saat, ketika telah dilupakan, cakra akan berputar kembali menyelesaikan hukum sebab-akibat yang pernah dilakukannya.

Sang Suami: Kita semua merindukan, ketika semua peperangan di luar bisa ditarik ke dalam diri. Dan peperangan di dalam diri bisa dimenangkan kasih dari hati nurani. Terjadilah kedamaian di dalam diri. Kemudian kedamaian mengungkapkan diri di seluruh negeri. Kala itu di seluruh negeri tak ada kekacauan lagi. Negeri makmur sejahtera dan penuh harmoni. Mari kita mulai dengan bertindak Love, Peace and Harmony……….

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Pada Relief Dinding Candi Mendut Tentang Bangau, Ikan dan Kepiting

  1. Semoga lebih banyak orang bisa mengambil pelajaran dari pengetahuan dan pemahaman leluhur kita sendir, bukannya import dari luar.
  2. Semoga kita semua mulai tumbuh kesadaran. Membangun kerja sama antar insan, tidak saling membunuh, tidak serakah,tidak saling tipu menipu, yang hanya akan merugikan diri dan sesama, semoga kita tumbuh lg kesadaran saling mencintai dan mengasihi.
  3. Kembali ke dalam diri itulah taubah. Kebanyakan dari manusia belum memahami makna taubah. Bahkan sekelompok manusia mengartikan dengan menangis. Seakan jika dapat menangis sudah berarti taubah…..
  4. Kearifan leluhur selalu mengingatkan manusia kembali ke diri sendiri…. Semoga mnsia nusantara semakin bangga kebijakan leluhur dan menjadikannya sbg pedoman kehidupan.
  5. Sebagai hewan dia hidup dengan insting dasar fight or flight. Tetapi sebagai manusia dia tidak reaktif, dia berpikir dulu dan bertindak secara responsif. Bagi yang sudah sadar, dia tidak memakai referensi pikiran yang terbatas, tetapi memakai intuisi dan suara hati nurani.
  6. Di luar diri itu sudutnya 360 derajat fokus ke mana-mana dan tak ada batasnya. Sedang meniti kembali ke dalam diri itu fokusnya satu. Sehingga bisa semakin lama semakin tenang.
  7. Semoga kesadaran kasih terus tumbuh dalam setiap sanubari manusia Indonesia dan menyadari perang sesungguhnya dalam diri kita masing-masing…Indonesia Jaya!!!
  8. Ketakutan yang berlebihan akan membuat orang bodoh dan mudah ditipu.
  9. Toleransi semu sudah mengakar di negeri ini. Penyampaian materi agama pun tidak berkembang, berhenti di tempat, itu-itu melulu. Tidak pernah menyinggung arti pentingnya helm dalam berkendara di jalan raya. Setiap pergi sholat jumat dari rmh yang dipakai bukan helm tapi peci.
  10. Semoga keserakahan bisa lepas dari sifat kita, karena kekayaan dunia ini tidak akan pernah cukup bagi orang yang serakah.
  11. Luarbiasa memang leluhur kita, memberikan pelajaran lewat simbol-simbol yang dapat diartikan beragam sesuai dengan tingkat kesadaran sipenafsir.
  12. Sebuah relief memang multi tafsir. Kisah sewaktu Sekolah Dasar lain dengan sewaktu dewasa.
  13. Konon ada alasan kepiting membunuh bangau, daripada hidup terlalu lama makin banyak yang terkena tipu muslihatnya. Akan tetapi hukum karma bukan berarti hukum kejam. dalam buku Journey of the Soul, dijelaskan pilihan hidup adalah pilihan kita sendiri sebelum lahir demi peningkatan evolusi.Hidup memang misteri bukan didiskusikan tetapi dijalani dan dimaknai sesuai diri sendiri.
  14. Peace, love, and harmony seharusnya jadi cita-cita semua orang.
  15. Yang saya nggak mudeng, setelah jadi bangau yang menipu, di kehidupan selanjutnya dia jadi penjahit yang suka menipu juga? kenapa dia tidak gantian jadi pelanggan yang tertipu? apa memang begitu alur karma?
  16. Ada dua hukum alam yang dijalani, hukum evolusi dan hukum sebab-akibat. Evolusi dapat diusahakan dengan penuh kesadaran sedangkan hukum sebab akibat tak ada seorang pun yang tahu kapan datang akibatnya. Konon dalam beberapa kehidupan sebelumnya Destarata pernah menusuk mata burung di sarangnya dan membkar … Lihat Selengkapnyaseluruh anak-anak burung tersebut. dalam beberapa kehidupan dia menerima benih kebaikan yang pernah ditanamnya sampai dia menjadi Raja Hastina. Baru saat itu akibat perbuatan beberapa kehidupan datang kepadanya, dia lahir buta dan seluruh anak-anaknya dibunuh dalam perang Bharatayudha. Analog dengan kisah tersebut, Burung bangau mengalami evolusi dan hukum sebab-akibat. Sedangkan masyarakat berevolusi lambat dan masih ditipu juga.
  17. Dengan senantiasa lebih mawas diri agar tidak ikut-ikutan terjebak dalam pengkondisian yang ada pada bangsa kita sekarang ini.
  18. Pekerjaan adalah karunia-Nya. Kita tidak tahu hikmah apa yang terkandung di dalamnya. Berkarya dengan se baik-baiknya dan persembahkan kepada-Nya.
  19. “Sopo sing nandur winih bakal ngundhuh ing tembe mburine”, barangsiapa yang menanam benih akan menuai buah tanaman tindakannya. Jadi, kenapa musti takut dan serakah.
  20. Dharma yang segar untuk dibabarkan! Dharma yang menggelitik isi hati, betapa konyolnya kita yang pernah berbuat curang dan culas di masa lampau, pasti akan mengalami banyak masalah dan kendala di masa kini dan yang akan datang.
  21. Perbuatan karma tidaklah sesederhana seperti mata ganti mata atau gigi ganti gigi. Sepanjang bibit yang kita tanam kita pupuki dengan baik, semakin berkembang dan kuat, buahnya juga makin banyak, pohonnya juga tambah kuat beserta akar-akarnya. Demikianlah karma itu, tiada yang baik atau buruk, semua tergantung pada pencipta karma itu, diri kita sendiri. Pencapaian pencerahan oleh siapapun bukan berarti pembebasan dari hutang karma-karma masa lampau. Namun, hasil dari pencerahan itu membuat pribadi menjadi aslinya, lebih tulus, tiada pikiran jahat apapun, dan tiada kemelekatan terhadap apapun juga. Kesadaran yang meluas hingga bisa melacak masa-masa lampau memungkinkan seorang Master menetralisir segala yang akan dialaminya akibat karma itu. Dengan ikhlas seorang Monggalana menerima siksaan dari 500 orang akibat pernah membunuh ayah-ibunya di kehidupan lampau, begitu juga Angulimala yang wafat setelah teraniaya, namun mereka mengalami parinibbana, bebas dari karma buruk, bersatu dengan Alam Semesta. Tiada peduli seberapa buruknya atau baiknya karma kita di masa lampau, yang penting kita menyadari akan diri sendiri yang fana, bertekad tidak hanya menghindari untuk merugikan diri sendiri dan sesama, namun juga secara alami mengikuti perubahan yang senantiasa terjadi di Alam Semesta. Menanggalkan konsep-konsep semu, memahami kesunyataan dengan kerelaan dan antusiasme, menciptakan kebahagiaan bagi semua makhluk, semoga kita selalu berbahagia.

Terima Kasih

Salam __/\__

Renungan Kisah Tentang Dua Bersaudara Burung Beo Dan Istri Yang Tidak Setia yang Tertera Pada Relief Candi Mendut

Renungan Kisah Tentang Dua Bersaudara Burung Beo Dan Istri Yang Tidak Setia yang Tertera Pada Relief Candi Mendut



Sepasang suami istri setengah baya teringat pada cerita yang tertera pada relief Candi Mendut tentang dua bersaudara burung beo dan wanita tidak setia. Karena mereka baru saja membaca buku “Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern”, karya Bapak Anand Krishna, maka buku tersebut dijadikan referensi dalam mengulas ceritanya.

Sang Istri: Dua bersaudara burung beo ditangkap pemburu dan diserahkan kepada seorang brahmana. Mereka dipelihara dengan sangat baiknya, sehingga walau tidak diikat mereka tidak pergi juga, karena ingin membalas budi pada Sang Brahmana. Pada suatu hari Sang Brahmana pergi keluar kota untuk beberapa lama dan berpesan kepada kedua beo bersaudara. Agar mereka dapat menjaga istrinya. Bila istrinya berbuat tidak baik tolong diingatkan oleh mereka……. Ternyata istri Sang Brahmana tidak setia, setelah Sang Brahmana pergi dia bermain cinta dengan kekasih selingkuhannya. Baik di dalam maupun di luar rumahnya. Beo muda yang masih remaja berkata pada kakaknya yang sudah dewasa. Kakak, kita diminta menjaga istri Sang Brahmana. Dia berpesan agar kalau istrinya berbuat tidak baik kita diminta mengingatkannya. Mengapa kita tidak mengingatkan istrinya? Sang kakak berkata dengan bijaksana. Adikku, kita harus tetap waspada, istri Sang Brahmana terlalu keji. Dia bersifat seperti raksasa yang mau enak sendiri. Kita harus hati-hati dan melihat dengan jeli. Mari kita tunggu Sang Brahmana datang, kita laporkan dan segera pergi. Mungkin Sang Brahmana sudah mencurigai sang istri. Dan, kita diminta memberikan konfirmasi. Menghadapi orang yang keji yang penting menjaga diri, mohon perlindungan dari Ilahi….. Sang Beo Remaja tak bisa menahan diri. Pada suatu hari dia menemui istri Sang Brahmana dan menasehati, mengapa dia melakukan tindakan tidak setia seperti ini? Istri Sang Brahmana berkata, beo remaja yang bijaksana kau benar dalam berkata. Mari ke sini kuelus lehermu. Sebagai rasa terima kasihku. Aku tidak akan selingkuh lagi karena nasehatmu. Istri Sang Brahmana memegang leher beo remaja. Dipuntir lehernya sampai kehilangan nyawa dan badannya dimasukkan api di dapur yang tengah membara…….. Sang Beo Dewasa pura-pura tidak mengetahui kejadian yang menimpa adiknya. Istri Sang Brahmana tetap tidak setia. Saat Sang Brahmana pulang dia bertanya kepada Sang Beo bagaimana kabar istrinya. Sang Beo menceritakan tentang perselingkuhan istrinya. Setelah dia bercerita, dia bilang sekarang tak ada tempat yang aman baginya di rumah Sang Brahmana. Sang Beo pamit terbang ke rimba……. Konon Sang Beo Dewasa pada suatu ketika menitis menjadi Sang Buddha dan adiknya menjadi adalah salah seorang muridnya.

Sang Suami: Istri Sang Brahmana tidak bisa berubah kelakuannya. Dia hidup berkecukupan dari Sang Brahmana, tetapi ingin bersenang-senang dengan kekasihnya. Beo muda yang mengingatkannya malah dibunuhnya. Istri Sang Brahmana masih mengikuti naluri kehewanan dalam dirinya. Binatang harus mengikuti nalurinya. Ia tidak bisa menahan dirinya. Ketika lapar ia akan makan, ketika haus ia akan minum, ketika harus melampiaskan napsu birahi ia akan melakukannya. Tidak perlu suasana, tidak perlu basa-basi, tidak melihat sekitarnya…… Anjing-anjing melakukannya di tengah jalan. Hanya manusia yang dapat melakukan sesuatu dengan kesadaran. la sudah tidak perlu mengikuti naluri bawaan. Mereka yang merasa digoda oleh Setan, lalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka sebut bisikan Setan, sesungguhnya sedang mengikuti naluri bawaan. Dan manusia memang memiliki naluri hewan, insting dasar seperti hewan…… Tindakan “semau gue” berasal dari naluri hewani. Setelah berhasil memahami sebagian rahasia DNA manusia dan berhasil memetakannya, para saintis pun bingung sendiri. Ternyata DNA manusia, blue print dasar manusia, rahasia alam semesta berada dalam diri. Setiap orang memiliki “memori” yang bisa ditarik ke belakang sampai asal mula jadi. Setiap manusia memiliki naluri hewani. Dituntun olehnya, tindakannya akan menjadi hewani. Dipengaruhi olehnya, pikirannya akan menjadi hewani. Dikuasai olehnya, ucapan-ucapannya akan menjadi hewani.

Sang Istri: Beo dewasa tak banyak bicara. Dia hanya mengajari adiknya yang masih remaja. Dia merasa tak ada gunanya berbicara dengan istri Sang Brahmana….. Konon seorang suci berkata, mengapa dia tidak suka banyak bicara. Untuk apa? Kepada mereka yang “sudah paham” dia tidak perlu bicara. Kepada mereka yang “tidak paham” dan “tidak mau memahami”, berbicara juga tidak ada gunanya. Dia hanya berbicara pada mereka yang sedang belajar memahami kebenaran….. Itu saja…..

Sang Suami: Sang Beo Dewasa menasehati adiknya selalu mohon perlindungan. Dia paham adiknya masih berada dalam “cuaca subuh” kesadaran. Mereka yang telah menyelami meditasi dan telah mencicipi kekhusyukan dalam shalat akan memahami “Al Falaq”, cuaca subuh. Cuaca subuh berarti keadaan dimana kesadaran diri baru tumbuh. Seperti keadaan bayi yang baru lahir, mengenai perlindungan jelas dia masih butuh. Cuaca subuh mewakili keadaan diantara sadar dan tidak sadar, dibilang tidak sadar ya tidak, dibilang sadar ya belum penuh. Ada kemungkinan terjadi kecelakaan, ada kemungkinan kaki terpeleset dan jatuh. Berada pada etape ini, kita harus penuh kehati-hatian. Ayat pertama ini merupakan “ayat kunci” Surat Al Falaq dalam Al Qur’an. Dan “Kunci” ini sangat berguna bagi mereka yang berada pada etape “subuh kesadaran”. Seseorang sudah memasuki alam meditasi, shalat seseorang sudah mulai meditatif, sudah mulai khusyuk, maka perlindungan dalam keadaan demikian amat dibutuhkan.

Sang Istri: Sang Beo Dewasa mengajari adiknya untuk memohon “perlindungan” dari kejahatan. Selama ini, kita sibuk melawan “kejahatan”. Dalam perlawanan itu, kita sendiri menjadi “jahat” juga. Kata-kata yang hampir sama pernah diucapkan oleh Isa, Sang Masiha. “Do not resist evil”, Janganlah melawan kejahatan! Kita akan ikut menjadi jahat karena melawan kejahatan. Pembunuhan akan kita balas dengan pembunuhan. Masalah pun tidak terselesaikan. Tidak ada jalan lain, kecuali memohon perlindungan. Sang Beo Dewasa mengajari adiknya untuk mempertahankan kewarasan diri di tengah ketidakwarasan. Itulah pesan yang dia ingin sampaikan. Jangan ikut-ikutan. Setiap orang menyeleweng, dan kita pun ikut menyeleweng juga. Lalu di mana letak perbedaan antara kita dan mereka? Setiap orang mengejar kedudukan, ketenaran, kekayaan, dan kita pun ikut mengejar semuanya. Lalu, siapa kafir dan siapa mukmin, siapa ingkar dan siapa patuh kepada-Nya?

Sang Suami: Sang Beo Dewasa menasehati agar berhati-hati menghadapi istri Sang Brahmana yang tersesat. Dia seperti orang yang kalap, matanya tertutup rapat. la tidak bisa memilah lagi, tindakan mana yang tepat dan yang mana tidak tepat. la seperti seorang pengemudi yang mabuk, dikuasai oleh minuman keras berlebihan. la akan mencelakakan dirinya dan orang lain dalam perjalanan. Jika kita bertemu dengan seorang pengemudi seperti itu, apa yang akan kita lakukan? Percuma bila kita ingin menyadarkan. la tidak akan menghentikan kendaraan. la tidak akan mendengarkan nasihat kita. Satu-satunya jalan adalah “menyingkir”, melindungi diri, jangan sampai jadi korban ketololannya. Kondisi di negeri ini mungkin ada miripnya. Para pemegang kekuasaan, seperti Sang Brahmana yang tidak memahami atau membiarkan saja mereka yang tidak setia, yang menggerogoti bangsa dan kekayaannya. Orang yang memberi nasehat kepada mereka yang tidak setia, malah dicelakai oleh mereka. Bagaimana tindakan Sang Brahmana setelah mendengar cerita Sang Beo Dewasa? Bagaimana cerita negeri ini akhirnya? Tergantung pada kita semua. Apakah kita ingin menjadi mereka yang tidak setia, yang menggerogoti persatuan bangsa, yang menggerogoti kekayaan bangsa. Atau ingin menjadi pemegang kekuasaan yang menjalankan amanah yang diberikan kepadanya. Atau menjadi Sang Beo Dewasa. Mari bersama kita sebarkan virus kesadaran ke seluruh Indonesia.

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva.

Situs artikel terkait



Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Tentang Dua Bersaudara Burung Beo Dan Istri Yang Tidak Setia yang Tertera Pada Relief Candi Mendut

  1. Berbicaralah tentang kebenaran dengan orang yang mencari kebenaran. Jangan berbicara tentang kebenaran dengan orang yang tidak membutuhkannya. Buang energi….. Saatnya menghemat energi dengan bicara seperlunya.
  2. Lebih baik menyingkir kalo encounter pengemudi mabuk, menyingkir atau menghindar bukan berarti takut, tapi menghindar dari ketololannya, biar gak ikut-ikutan tolol atau kena masalah dari dampak ketololannya.
  3. Semoga kita selalu waspada terhadap kehewanian dalam diri. Dan mewujudkan kemanusiaan menuju keilahian.
  4. Melawan kejahatan kita akan terjebak menjadi jahat, berusaha menyadarkan orang kalap juga percuma karena mereka “tidak paham” dan “tidak mau memahami”. Malah kita sering kena getahnya. Mari berbicara pada mereka yang sedang belajar memahami kebenaran.
  5. Hanya berbicara kepada mereka yang mulai belajar kebenaran…..
  6. Jangan berbicara kebenaran kepada orang yang sedang mabuk…. bukan ucapan terima kasih yang didapat tapi mungkin pukulan…… berbicaralah ketika dia mulai sadar….
  7. Menyadari kelemahan diri adalah anak tangga pertama menuju pemberdayaan diri. Karena hanyalah mereka yang menyadari kelemahannya yang akan berupaya untuk mengatasinya pula.
  8. Lagi-lagi saya harus jujur dan mengakui bahwa di sadari atau tidak sering kali berada pada posisi sibeo muda, mau bagaimana memang baru tahu, jadi pengennya ngomong, tetapi sering kali dibuat susah sendiri…. perlahan, pelan-pelan, mulai agak mengerti kapan harus ngomong kapan harus diam.
  9. Silahkan “mabuk” namun “mabuklah” dalam kesadaran dan sadarlah bahwa kita sekarang berada di dalam ke”mabuk”kan itu sendiri entah kita pernah me”minum”nya atau tidak…….”mabuk” yang tak pernah merugikan org lain n diri sendiri…….”mabuk” yang tak dilarang oleh agama dan negara.
  10. Kita akan ikut menjadi jahat karena melawan kejahatan. Berbicaralah tentang kebenaran dengan orang yang mencari kebenaran. Berbicara pada waktu yang tepat pada orang yang tepat pula.
  11. Kenyataan hidup yang keras dan kejam bukan berarti kita pesimis dengan kehidupan. Dengan adanya pribadi-pribadi yang berwatak asura, kita diingatkan Alam Semesta akan kepribadian kita yang juga bersifat asura…. Sifat ini takkan bisa dihilangkan selama kita masih memegang teguh konsep. Adanya konsep-konsep bukanlah untuk diperdebatkan, namun sebagai pembantu dalam memahami kenyataan hidup. Kuasa para asura takkan bisa dilawan langsung, maka perlindungan kita terhadap para guru pembimbing spiritual kita lebih mengarahkan kita untuk berbuat penuh kasih tanpa perlu mengusik privasi siapapun. Mungkin maksud kita baik, namun mereka yang penuh ketakutan dan kebencian justru menganggap kita adalah musuh yang merintangi jalannya, sehingga mereka akhirnya akan memakai senjata pamungkasnya untuk menyingkirkan kita dari kehidupannya.
  12. Kita sering menghadapi “pengemudi mabuk”, apakah mabuk kekuasaan, mabuk ketenaran, mabuk property, mabuk narkoba, mabuk seks. Pada saat mabuk, seseorang tidak sadar, dia digerakkan oleh addiction. Addiction, ketagihan adalah keterikatan yang parah, sehingga tidak dapat berpikir wajar. Dan seseorang yang kena addiction, memerlukan perjuangan keras untuk melepaskan diri dari belenggu keterikatan.
  13. Bagi seseorang yang belum siap menerima mutiara kebenaran, kata-kata kita dianggap bid’ah, menyesatkan. Kita adalah orang aneh di mata agama.
  14. Mereka yang masih berada dalam kesadaran logika, menerima segala sesuatu berdasar fakta, arti kata apa adanya. Sedangkan cerita mengajar kita mengolah rasa, tidak terbelenggu kata-kata an sich.
  15. Mungkin kita musti belajar sama para pawang-pawang sirkus bagaimana cara berlindung dan menyampaikan komunikasi dengan hewan-hewan buas, dan menyajikan pertunjukan yang menghibur. Kita semua rindu akan kejayaan itu kembali.
  16. Getaran-getaran kasih akan mempengaruhi mereka dan melembutkan jiwa mereka.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Renungan Kisah Tentang Dua Bersaudara Burung Beo Dan Istri Yang Tidak Setia yang Tertera Pada Relief Candi Mendut

Renungan Kisah Tentang Dua Bersaudara Burung Beo Dan Istri Yang Tidak Setia yang Tertera Pada Relief Candi Mendut



Sepasang suami istri setengah baya teringat pada cerita yang tertera pada relief Candi Mendut tentang dua bersaudara burung beo dan wanita tidak setia. Karena mereka baru saja membaca buku “Surah Surah Terakhir Al Qur’an Bagi Orang Modern”, karya Bapak Anand Krishna, maka buku tersebut dijadikan referensi dalam mengulas ceritanya.

Sang Istri: Dua bersaudara burung beo ditangkap pemburu dan diserahkan kepada seorang brahmana. Mereka dipelihara dengan sangat baiknya, sehingga walau tidak diikat mereka tidak pergi juga, karena ingin membalas budi pada Sang Brahmana. Pada suatu hari Sang Brahmana pergi keluar kota untuk beberapa lama dan berpesan kepada kedua beo bersaudara. Agar mereka dapat menjaga istrinya. Bila istrinya berbuat tidak baik tolong diingatkan oleh mereka……. Ternyata istri Sang Brahmana tidak setia, setelah Sang Brahmana pergi dia bermain cinta dengan kekasih selingkuhannya. Baik di dalam maupun di luar rumahnya. Beo muda yang masih remaja berkata pada kakaknya yang sudah dewasa. Kakak, kita diminta menjaga istri Sang Brahmana. Dia berpesan agar kalau istrinya berbuat tidak baik kita diminta mengingatkannya. Mengapa kita tidak mengingatkan istrinya? Sang kakak berkata dengan bijaksana. Adikku, kita harus tetap waspada, istri Sang Brahmana terlalu keji. Dia bersifat seperti raksasa yang mau enak sendiri. Kita harus hati-hati dan melihat dengan jeli. Mari kita tunggu Sang Brahmana datang, kita laporkan dan segera pergi. Mungkin Sang Brahmana sudah mencurigai sang istri. Dan, kita diminta memberikan konfirmasi. Menghadapi orang yang keji yang penting menjaga diri, mohon perlindungan dari Ilahi….. Sang Beo Remaja tak bisa menahan diri. Pada suatu hari dia menemui istri Sang Brahmana dan menasehati, mengapa dia melakukan tindakan tidak setia seperti ini? Istri Sang Brahmana berkata, beo remaja yang bijaksana kau benar dalam berkata. Mari ke sini kuelus lehermu. Sebagai rasa terima kasihku. Aku tidak akan selingkuh lagi karena nasehatmu. Istri Sang Brahmana memegang leher beo remaja. Dipuntir lehernya sampai kehilangan nyawa dan badannya dimasukkan api di dapur yang tengah membara…….. Sang Beo Dewasa pura-pura tidak mengetahui kejadian yang menimpa adiknya. Istri Sang Brahmana tetap tidak setia. Saat Sang Brahmana pulang dia bertanya kepada Sang Beo bagaimana kabar istrinya. Sang Beo menceritakan tentang perselingkuhan istrinya. Setelah dia bercerita, dia bilang sekarang tak ada tempat yang aman baginya di rumah Sang Brahmana. Sang Beo pamit terbang ke rimba……. Konon Sang Beo Dewasa pada suatu ketika menitis menjadi Sang Buddha dan adiknya menjadi adalah salah seorang muridnya.

Sang Suami: Istri Sang Brahmana tidak bisa berubah kelakuannya. Dia hidup berkecukupan dari Sang Brahmana, tetapi ingin bersenang-senang dengan kekasihnya. Beo muda yang mengingatkannya malah dibunuhnya. Istri Sang Brahmana masih mengikuti naluri kehewanan dalam dirinya. Binatang harus mengikuti nalurinya. Ia tidak bisa menahan dirinya. Ketika lapar ia akan makan, ketika haus ia akan minum, ketika harus melampiaskan napsu birahi ia akan melakukannya. Tidak perlu suasana, tidak perlu basa-basi, tidak melihat sekitarnya…… Anjing-anjing melakukannya di tengah jalan. Hanya manusia yang dapat melakukan sesuatu dengan kesadaran. la sudah tidak perlu mengikuti naluri bawaan. Mereka yang merasa digoda oleh Setan, lalu bertindak sesuai dengan apa yang mereka sebut bisikan Setan, sesungguhnya sedang mengikuti naluri bawaan. Dan manusia memang memiliki naluri hewan, insting dasar seperti hewan…… Tindakan “semau gue” berasal dari naluri hewani. Setelah berhasil memahami sebagian rahasia DNA manusia dan berhasil memetakannya, para saintis pun bingung sendiri. Ternyata DNA manusia, blue print dasar manusia, rahasia alam semesta berada dalam diri. Setiap orang memiliki “memori” yang bisa ditarik ke belakang sampai asal mula jadi. Setiap manusia memiliki naluri hewani. Dituntun olehnya, tindakannya akan menjadi hewani. Dipengaruhi olehnya, pikirannya akan menjadi hewani. Dikuasai olehnya, ucapan-ucapannya akan menjadi hewani.

Sang Istri: Beo dewasa tak banyak bicara. Dia hanya mengajari adiknya yang masih remaja. Dia merasa tak ada gunanya berbicara dengan istri Sang Brahmana….. Konon seorang suci berkata, mengapa dia tidak suka banyak bicara. Untuk apa? Kepada mereka yang “sudah paham” dia tidak perlu bicara. Kepada mereka yang “tidak paham” dan “tidak mau memahami”, berbicara juga tidak ada gunanya. Dia hanya berbicara pada mereka yang sedang belajar memahami kebenaran….. Itu saja…..

Sang Suami: Sang Beo Dewasa menasehati adiknya selalu mohon perlindungan. Dia paham adiknya masih berada dalam “cuaca subuh” kesadaran. Mereka yang telah menyelami meditasi dan telah mencicipi kekhusyukan dalam shalat akan memahami “Al Falaq”, cuaca subuh. Cuaca subuh berarti keadaan dimana kesadaran diri baru tumbuh. Seperti keadaan bayi yang baru lahir, mengenai perlindungan jelas dia masih butuh. Cuaca subuh mewakili keadaan diantara sadar dan tidak sadar, dibilang tidak sadar ya tidak, dibilang sadar ya belum penuh. Ada kemungkinan terjadi kecelakaan, ada kemungkinan kaki terpeleset dan jatuh. Berada pada etape ini, kita harus penuh kehati-hatian. Ayat pertama ini merupakan “ayat kunci” Surat Al Falaq dalam Al Qur’an. Dan “Kunci” ini sangat berguna bagi mereka yang berada pada etape “subuh kesadaran”. Seseorang sudah memasuki alam meditasi, shalat seseorang sudah mulai meditatif, sudah mulai khusyuk, maka perlindungan dalam keadaan demikian amat dibutuhkan.

Sang Istri: Sang Beo Dewasa mengajari adiknya untuk memohon “perlindungan” dari kejahatan. Selama ini, kita sibuk melawan “kejahatan”. Dalam perlawanan itu, kita sendiri menjadi “jahat” juga. Kata-kata yang hampir sama pernah diucapkan oleh Isa, Sang Masiha. “Do not resist evil”, Janganlah melawan kejahatan! Kita akan ikut menjadi jahat karena melawan kejahatan. Pembunuhan akan kita balas dengan pembunuhan. Masalah pun tidak terselesaikan. Tidak ada jalan lain, kecuali memohon perlindungan. Sang Beo Dewasa mengajari adiknya untuk mempertahankan kewarasan diri di tengah ketidakwarasan. Itulah pesan yang dia ingin sampaikan. Jangan ikut-ikutan. Setiap orang menyeleweng, dan kita pun ikut menyeleweng juga. Lalu di mana letak perbedaan antara kita dan mereka? Setiap orang mengejar kedudukan, ketenaran, kekayaan, dan kita pun ikut mengejar semuanya. Lalu, siapa kafir dan siapa mukmin, siapa ingkar dan siapa patuh kepada-Nya?

Sang Suami: Sang Beo Dewasa menasehati agar berhati-hati menghadapi istri Sang Brahmana yang tersesat. Dia seperti orang yang kalap, matanya tertutup rapat. la tidak bisa memilah lagi, tindakan mana yang tepat dan yang mana tidak tepat. la seperti seorang pengemudi yang mabuk, dikuasai oleh minuman keras berlebihan. la akan mencelakakan dirinya dan orang lain dalam perjalanan. Jika kita bertemu dengan seorang pengemudi seperti itu, apa yang akan kita lakukan? Percuma bila kita ingin menyadarkan. la tidak akan menghentikan kendaraan. la tidak akan mendengarkan nasihat kita. Satu-satunya jalan adalah “menyingkir”, melindungi diri, jangan sampai jadi korban ketololannya. Kondisi di negeri ini mungkin ada miripnya. Para pemegang kekuasaan, seperti Sang Brahmana yang tidak memahami atau membiarkan saja mereka yang tidak setia, yang menggerogoti bangsa dan kekayaannya. Orang yang memberi nasehat kepada mereka yang tidak setia, malah dicelakai oleh mereka. Bagaimana tindakan Sang Brahmana setelah mendengar cerita Sang Beo Dewasa? Bagaimana cerita negeri ini akhirnya? Tergantung pada kita semua. Apakah kita ingin menjadi mereka yang tidak setia, yang menggerogoti persatuan bangsa, yang menggerogoti kekayaan bangsa. Atau ingin menjadi pemegang kekuasaan yang menjalankan amanah yang diberikan kepadanya. Atau menjadi Sang Beo Dewasa. Mari bersama kita sebarkan virus kesadaran ke seluruh Indonesia.

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva.

Situs artikel terkait



Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Kisah Tentang Dua Bersaudara Burung Beo Dan Istri Yang Tidak Setia yang Tertera Pada Relief Candi Mendut

  1. Berbicaralah tentang kebenaran dengan orang yang mencari kebenaran. Jangan berbicara tentang kebenaran dengan orang yang tidak membutuhkannya. Buang energi….. Saatnya menghemat energi dengan bicara seperlunya.
  2. Lebih baik menyingkir kalo encounter pengemudi mabuk, menyingkir atau menghindar bukan berarti takut, tapi menghindar dari ketololannya, biar gak ikut-ikutan tolol atau kena masalah dari dampak ketololannya.
  3. Semoga kita selalu waspada terhadap kehewanian dalam diri. Dan mewujudkan kemanusiaan menuju keilahian.
  4. Melawan kejahatan kita akan terjebak menjadi jahat, berusaha menyadarkan orang kalap juga percuma karena mereka “tidak paham” dan “tidak mau memahami”. Malah kita sering kena getahnya. Mari berbicara pada mereka yang sedang belajar memahami kebenaran.
  5. Hanya berbicara kepada mereka yang mulai belajar kebenaran…..
  6. Jangan berbicara kebenaran kepada orang yang sedang mabuk…. bukan ucapan terima kasih yang didapat tapi mungkin pukulan…… berbicaralah ketika dia mulai sadar….
  7. Menyadari kelemahan diri adalah anak tangga pertama menuju pemberdayaan diri. Karena hanyalah mereka yang menyadari kelemahannya yang akan berupaya untuk mengatasinya pula.
  8. Lagi-lagi saya harus jujur dan mengakui bahwa di sadari atau tidak sering kali berada pada posisi sibeo muda, mau bagaimana memang baru tahu, jadi pengennya ngomong, tetapi sering kali dibuat susah sendiri…. perlahan, pelan-pelan, mulai agak mengerti kapan harus ngomong kapan harus diam.
  9. Silahkan “mabuk” namun “mabuklah” dalam kesadaran dan sadarlah bahwa kita sekarang berada di dalam ke”mabuk”kan itu sendiri entah kita pernah me”minum”nya atau tidak…….”mabuk” yang tak pernah merugikan org lain n diri sendiri…….”mabuk” yang tak dilarang oleh agama dan negara.
  10. Kita akan ikut menjadi jahat karena melawan kejahatan. Berbicaralah tentang kebenaran dengan orang yang mencari kebenaran. Berbicara pada waktu yang tepat pada orang yang tepat pula.
  11. Kenyataan hidup yang keras dan kejam bukan berarti kita pesimis dengan kehidupan. Dengan adanya pribadi-pribadi yang berwatak asura, kita diingatkan Alam Semesta akan kepribadian kita yang juga bersifat asura…. Sifat ini takkan bisa dihilangkan selama kita masih memegang teguh konsep. Adanya konsep-konsep bukanlah untuk diperdebatkan, namun sebagai pembantu dalam memahami kenyataan hidup. Kuasa para asura takkan bisa dilawan langsung, maka perlindungan kita terhadap para guru pembimbing spiritual kita lebih mengarahkan kita untuk berbuat penuh kasih tanpa perlu mengusik privasi siapapun. Mungkin maksud kita baik, namun mereka yang penuh ketakutan dan kebencian justru menganggap kita adalah musuh yang merintangi jalannya, sehingga mereka akhirnya akan memakai senjata pamungkasnya untuk menyingkirkan kita dari kehidupannya.
  12. Kita sering menghadapi “pengemudi mabuk”, apakah mabuk kekuasaan, mabuk ketenaran, mabuk property, mabuk narkoba, mabuk seks. Pada saat mabuk, seseorang tidak sadar, dia digerakkan oleh addiction. Addiction, ketagihan adalah keterikatan yang parah, sehingga tidak dapat berpikir wajar. Dan seseorang yang kena addiction, memerlukan perjuangan keras untuk melepaskan diri dari belenggu keterikatan.
  13. Bagi seseorang yang belum siap menerima mutiara kebenaran, kata-kata kita dianggap bid’ah, menyesatkan. Kita adalah orang aneh di mata agama.
  14. Mereka yang masih berada dalam kesadaran logika, menerima segala sesuatu berdasar fakta, arti kata apa adanya. Sedangkan cerita mengajar kita mengolah rasa, tidak terbelenggu kata-kata an sich.
  15. Mungkin kita musti belajar sama para pawang-pawang sirkus bagaimana cara berlindung dan menyampaikan komunikasi dengan hewan-hewan buas, dan menyajikan pertunjukan yang menghibur. Kita semua rindu akan kejayaan itu kembali.
  16. Getaran-getaran kasih akan mempengaruhi mereka dan melembutkan jiwa mereka.

Terima Kasih.

Salam __/\__