GotoBus
Showing posts with label CERITA RELIEF CANDI SUKUH. Show all posts
Showing posts with label CERITA RELIEF CANDI SUKUH. Show all posts

Renungan Tentang Dewi Winata Dan Garuda, Kisah Sebuah Persaingan dan Kesadaran Putra Perkasa

Renungan Tentang Dewi Winata Dan Garuda, Kisah Sebuah Persaingan dan Kesadaran Putra Perkasa



Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan kisah Garudeya. Mereka ingat bahwa di Pelataran Candi Sukuh terdapat dua buah patung Garuda yang mengungkapkan kisah Garudeya dari kitab Adiparwa.

Sang Istri: Tersebutlah kisah di awal mula peradaban. Bhagawan Kasyapa mempunyai istri berjumlah delapan. Anak keturunannya lahir sebagai dewa, manusia, raksasa dan hewan. Dua Istri Sang Bhagawan, Dewi Winata dan Dewi Kadru selalu berada dalam persaingan. Dewi Kadru melahirkan telur berjumlah ribuan. Menetas semua menjadi ular dan naga. Dewi Winata melahirkan dua telor dan belum menetas juga. Satu telor sengaja dipecah agar segera keluar seorang putra. Ternyata menjadi burung belum sempurna yang dinamakan Aruna……. Pada suatu saat, Dewi Winata terlibat pertaruhan dengan Dewi Kadru mengenai warna ekor kuda Uchaisrawa yang akan keluar dari samudera. Dewi Winata bertaruh bahwa ekor kuda tersebut putih warnanya. Para ular memberi tahu Dewi Kadru, ibu mereka, bahwa sang ibu akan kalah, karena memang ekor kuda tersebut putih warnanya. Dewi Kadru meminta anak-anaknya menutupi ekornya, agar ekor kuda nampak hitam warnanya. Ular yang menolak dikutuk akan mati sebagai persembahan para dewa. Mereka yang menolak menuruti kemauan sang ibu, merasa amat sedih dan bertapa mohon keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat seekor kuda keluar dari dalam samudera. Ekor kuda tersebut hitam warnanya dan Dewi Winata kalah dan dijadikan budak oleh Dewi Kadru sebagai perawat ular-ular putranya.

Sang Suami: Satu telor tersisa dari Dewi Winata akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada sang ibunda. Yang telah mengandung dirinya dan menyebabkan dirinya lahir ke dunia. Genetik kedua ayah dan ibunya membuat dia menjadi perkasa. Dia mencari sang ibunda ke pelosok dunia. Dan akhirnya mengetahui bahwa sang ibunda menjadi budak perawat para ular di samudera. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular dan naga mempertahankannya. Garuda bertanya apa syaratnya untuk membebaskan sang ibunda. Para ular dan naga meminta “tirta amerta”, air yang membuat “a-merta”, tidak mati, hidup abadi selamanya. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan tirta amerta. Segala halangan dan rintangan dilewatinya. Sri Wisnu pemilik tirta amerta melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Garuda dipersilakan minum tirta amerta, tetapi Garuda dengan sopan menolaknya. Hamba tidak berani menolak anugerah Gusti, tetapi mohon diberikan dalam bentuk lainnya, tirta amerta kami butuhkan untuk melepaskan perbudakan ibu hamba. Gusti telah memahami keadaan ibu hamba. Sri Wisnu amat berkenan dengan sopan santun dan etika Garuda. Sri Wisnu memberikan tirta amerta dan minta datang kepadanya setelah selesai urusannya……. Di tengah perjalanan, Dewa Indera menghentikan, dan kemudian berpesan, agar tirta amerta diberikan, setelah Dewi Winata dibebaskan, agar dia tidak terpedaya ulah para ular dan naga yang penuh ketidakjujuran. Selanjutnya Garuda minta Dewi Winata dibebaskan, para ular dan naga diminta membersihkan diri dari ketidakjujuran yang telah mereka lakukan. Para ular dan naga memenuhi permintaan, Dewi Winata dibebaskan, mereka membersihkan diri dan bertobat dari semua tindakan…. Ketika mereka sedang membersihkan diri, tirta amerta direbut para dewa, sehingga para ular dan naga tak dapat hidup abadi. Mereka dapat berganti kulit, dapat meremajakan diri, tetapi tetap akan mati. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi……. Akhirnya, Sang Garuda pamit kepada ibundanya untuk menghadap Gusti. Garuda tidak minta apa pun juga, pasrah pada Kehendak Ilahi. Gusti berkenan menjadikan Garuda menjadi kendaraan pribadi. Bukan sekedar tirta amerta yang membuat tidak bisa mati, tetapi anugerah untuk menyatu dengan Gusti.

Sang Istri: Dewi Winata dan Dewi Kadru terlibat dalam persaingan yang nyata…….. Dan “pikiran” memang senang berlomba. Jika diberi tujuan, ia sangat suka. Apa pun tujuan yang diberikan kepadanya, ia bersemangat untuk mendapatkannya. Orang yang gila kekuasaan akan selalu berlomba. Ia ingin menjadi nomer satu dan demi tercapainya keinginan itu, ia akan selalu melibatkan dirinya dalam perlombaan. Ia lebih mirip kuda-kuda pacuan. Jadilah manusia jangan menjadi hewan. Perlombaan, persaingan, semuanya itu sifat-sifat hewan….. Manusia memiliki harga diri. Ia cukup mempercayai dirinya sendiri. Ia tidak usah terlibat dalam perlombaan duniawi. Setiap manusia unik, tidak ada satu pun manusia yang persis sama. Mengapa harus berlomba? Demikian tertulis dalam buku “Bhagavad Gita Bagi Orang Modern, Menyelami Misteri Kehidupan, karya Bapak Anand Krishna.

Sang Suami: Kita perlu mengadakan introspeksi terhadap pendidikan kita. Selama menuntut ilmu, kita dipaksa untuk “berlomba”. Kejuaraan menjadi tolok ukur keberhasilan kita. Selama bertahun-tahun, dari TK sampai Universitas, kita dikondisikan dan diprogram untuk berlomba. Dan programming tersebut tidak berakhir dengan gelar sarjana. Tetapi berlanjut sampai meninggal dunia. Apa pun yang kita lakukan, di mana pun kita berada, kita sibuk berlomba……. Dewi Winata dan Dewi Kadru, mengikuti egonya. Ego bersifat individualistik, hanya memenuhi hasrat pribadinya. Karena sangat individualistik, mereka selalu merasa “terancam” dan merasa berada dalam keadaan bahaya. Mereka tidak pernah hidup tenang dan kegelisahan mereka sebarkan kemana-mana. Bila ingin bebas dari keadaan ini, kita harus cepat-cepat mengubah cara pandang kita. Dari individualistik menjadi holistik, demikian diuraikan dalam buku “Otak Para Pemimpin Kita, Dialog Carut Marutnya Keadaan Bangsa”.

Sang Istri: Potensi hewan, atau kehewanian, yang disebut insting-insting dasar, sesungguhnya tidak pernah mati sepenuhnya. Dalam diri orang yang sudah tercerahkan pun, sisa-sisa insting itu masih ada, sehingga kita harus selalu waspada. Bila tidak, kita bisa saja terseret lagi seperti yang dialami Dewi Kadru dan Dewi Winata. Kita tidak bisa bebas dari hewan di dalam diri, tetapi bisa menjaga kejinakannya. Janganlah kita terkendali olehnya. Jangan kira sekali terjinakkan hewan di dalam diri menjadi jinak untuk selamanya. Tidak demikian. Hewan-hewan buas nafsu, keserakahan, kebencian, kemunafikan, dan lain sebagainya, termasuk majikan mereka yaitu gugusan pikiran yang kita sebut “mind”, membutuhkan pengawasan ketat sepanjang hari, sepanjang hayat kita. Demikian dijelaskan dalam buku “Bhaja Govindam, Nyanyian Kebijaksanaan Sang Mahaguru Shankara”.

Sang Suami: Dewi Kadru pun berada dalam diri. Alam bawah sadar kita masih terpengaruh naluri hewani. Itu sebabnya kita tidak segan-segan mencelakakan orang lain, demi kepentingan diri. Kita harus melanjutkan perjalanan ruhani. Berada pada tingkat ini, sebenarnya kita belum manusiawi. Mempunyai badan manusia, tetapi belum cukup manusiawi. Kita juga harus bisa memikirkan kenyamanan orang lain, bukan hanya kenyamanan diri sendiri.

Sang Istri: Garuda tak pernah gentar, maju terus pantang mundur dengan semangat pahlawan maju ke medan laga. Senjata bisa dibeli, tetapi keberanian tidak bisa, tidak akan bisa. Bintang Jasa bisa direkayasa, diatur, tetapi kepahlawanan tidak bisa. Semangat seorang pahlawan, seorang pemberani, dari dalam diri sendiri munculnya. Mereka yang bicara tentang “motivasi”, sungguh tidak memiliki “semangat” baja. Dia yang membutuhkan sesuatu untuk memotivasinya, untuk mendorongnya, karena dia tidak memiliki kekuatan dalam dirinya. Semangat merupakan energi yang mampu menegakkan kepala tanpa bantuan siapa pun juga. Selama masih membutuhkan bantuan dari luar, dia belum bersemangat baja. Lalu, jika mengerjakan sesuatu tanpa semangat baja, dia akan selalu gagal pula. Semangat adalah “gairah” dan apabila hidup “menggairahkan”, dia akan bersemangat dalam berkarya…… Dan, hidup akan menggairahkan jika makna kehidupan dapat kita pahami. Lalu untuk memahami makna kehidupan, kita harus mengenal diri sendiri. kita harus menemukan jati diri. Kita harus memahami potensi diri, dan menjalani dan melakoni hidup, sesuai dengan potensi pribadi. Demikian, hidup akan sangat menggairahkan sekali. Kita akan bersemangat untuk menjalani, melakoni……..

Sang Suami: Pengorbanan adalah mahkota para satria. Tidak perlu dikaitkan pengorbanan dengan agama, dengan surga dan dengan para bidadari jelita. Garuda berkorban demi Ibunya, diminta minum tirta amerta agar hidup abadi pun ditolaknya. Akan tetapi justru karena itu Gusti mengasihinya. Para putra-putri bangsa mesti berani berkorban demi Ibu Pertiwi tercinta. Berkorban demi negara adalah dharma, kewajiban kita semua….. Prinsip pengorbanan lebih hebat daripada “win-win solution”, di mana untuk memenangkan tak perlu melakukan pengorbanan. Penting sekali semangat dan kerelaan untuk berkorban. Pengorbanan itu sendiri adalah kemenangan. Ia telah berhasil menguasai nafsunya yang selalu ingin menang sendirian.

Sang Istri: Sri Wisnu melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Dia telah melihat adanya benih kasih dalam diri Garuda. Dia paham bahwa benih tersebut berpotensi mekar menjadi lembaga, dan menjadi pohon yang perkasa. Salah satu syarat untuk meningkatkan kesadaran adalah berani dan yakin, “fearless and no doubt” terhadap Kebenaran. Garuda dalam upaya menyelamatkan ibunya telah melepaskan keraguan dan ketakutan.

Sang Suami: Semoga para putra-putri bangsa meneladani Sang Garuda. Berfokus menyelamatkan Ibu Pertiwi yang sedang menderita. Semoga Ibu Pertiwi segera berbahagia, bebas merdeka dan kembali berjaya. Dalam situs http://www.aumkar.org/ind/?p=20 tertulis Nyanyian Ilahi keempat, dan berikut ini adalah petikannya: Sesuai dengan sifat dasar masing-masing, Manusia dibagi dalam 4 golongan utama. Walau pembagian seperti itu, Tidak pernah mempengaruhi Sang Jiwa. Para Pemikir bekerja dengan berbagai pikiran mereka. Para Satria membela negara dan bangsa. Para Pengusaha melayani masyarakat dengan berbagai cara. Para Pekerja melaksanakan setiap tugas dengan sebaik-nya……. Berada dalam kelompok manapun, bekerjalah selalu sesuai kesadaran. Jangan memikirkan keberhasilan maupun kegagalan. Terima semuanya dengan penuh ketenangan. Bila kau bekerja sesuai dengan kodratmu, tidak untuk memenuhi keinginan serta harapan tertentu, maka walau berkarya sesungguhnya kau melakukan persembahan. Dan, kau terbebaskan dari hukum sebab akibat……. Tuhan yang kau sembah, juga adalah Persembahan itu sendiri. Dalam diri seorang penyembahpun, Ia bersemayam. Berkaryalah dengan kesadaran ini, dan senantiasa merasakan kehadiran-Nya.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Dewi Winata Dan Garuda, Kisah Sebuah Persaingan dan Kesadaran Putra Perkasa

  1. Anak suputra akan membebaskan orang tua dari penderitaan.
  2. Pengendalian diri dari nafsu rendahan dan berbakti bagi Ibu Pertiwi adalah keharusan bagi setiap anak bangsa.
  3. Bila kita masih ingin hidup “utuh” sebagai Orang Indonesia, kita harus menerima “keutuhan” bangsa serta budaya kita. Kita harus kembali pada mitos-mitos yang telah menjadi “akar budaya” kita, budaya Nusantara yang “mengutuhkan”! Budaya Nusantara yang masih mampu mempersatukan kita dan menyuntiki kita dengan semangat baru untuk menghadapi dan memecahkan setiap persoalan bangsa. *Indonesia Jaya, AK.
  4. Adiparwa adalah buku pertama atau bagian pertama dari kisah Mahabharata. Pada dasarnya bagian ini berisi ringkasan keseluruhan cerita Mahabharata, kisah-kisah mengenai nenek moyang keluarga Bharata, hingga masa muda Korawa dan Pandawa. Dalam Adiparwa juga terdapat kisah-kisah lain, seperti Kisah Baghawan Dhomya dengan tiga muridnya, Kisah Bhakti Burung Garuda dan Kisah Kurma Avatara. Sebagaimana kisah induknya, Mahabharata, kitab Adiparwa ini semula dituliskan dalam bahasa Sansekerta. Pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa (991-1016) yang memerintah di Kerajaan Medang, kitab ini telah disalin ke dalam Bahasa Jawa Kuna.
  5. Revolusi berarti Re-Evolusi. Menggelindingkan kembali Roda Evolusi yang seakan berhenti sekian lama. Dan, Evolusi berarti Perkembangan, Pertumbuhan, Kemajuan. Revolusi Spiritual adalah Perkembangan Nilai-Nilai Spiritual, Nilai-Nilai Batiniah dalam diri kita sendiri. Kita harus mati dan bangkit kembali. Mati sebagai individu yang tidak mengenal sejarah, tidak menghargai leluhur, tidak apresiatif terhadap budaya asal dan tergantung pada segala yang berasal dari luar. Dan, bangkit kembali sebagai Manusia Indonesia yang Utuh… Manusia Modern yang berakar pada Budaya Asal dan Sejarah Masa Lalu yang Gemilang, namun tidak hidup dalam masa lalu… la hidup dalam masa kini, dan bekerja untuk Masa Depan yang lebih Cemerlang! * Indonesia Jaya, AK.
  6. Pengorbanan atau pelepasan janganlah selalu diartikan menanggung penderitaan dan dalam kondisi yang sangat sengsara. Bagi orang-orang yang melihat para pahlawan sejati tentu timbul rasa iba, rasa kasihan, dan simpati. Bukan itu yang diinginkan. Pengorbanan atau pelepasan adalah Tindakan Nyata dari pribadi yang luhur, setelah dengan pemahaman dirinya sendiri secara total, dan mendalami kebijaksanaannya dalam hubungannya dengan Alam Semesta, demi kebahagiaan dirinya sendiri dan segenap makhluk.
  7. Pengorbanan atau pelepasan yang terbaik adalah dalam diri kita sendiri. Tiga jenis bara api terus membara dan membakar (Merusak) diri kita karena mau dikipasi oleh persaingan itu: keserakahan – kebencian – kebodohan. Serakah karena merasa diri kurang unggul dibanding saingannya, ingin lebih dan lebih, dan ingin disanjung oleh semua orang. Benci akan adanya saingan dan tandingan, berusaha terus menandinginya, bila perlu menghabisinya dengan segala cara. Bodohnya, karena dengan sifatnya ini tidak sadar dia menghabisi dirinya sendiri pelan-pelan. Dirinya mudah dimanfaatkan pihak lain tanpa peduli kerugian yang telah dialami. Maka, dalam melakukan segala tindakan apapun, kedamaian pikiran wajib dijaga, jangan biarkan bara api dalam diri kita dikipasi persaingan dari siapapun. Pengorbanan atau pelepasan sehebat atau semegah apapun jika masih dikotori atau dibakar ketiga bara api ini tetap tidak akan membawa manfaat yang nyata. Sebaliknya, walau sedikit atau kecil tindakan nyata yang kita lakukan dengan sepenuh hati yang bening dan bersuka cita seru segenap Alam Semesta, akan membawa manfaat yang dahsyat bagi kita sendiri.
  8. Kami sekedar menata kata-kata dari buku-buku Bapak Anand Krishna yang telah mengubah kami sehingga hidup kami terasa menjadi bermakna.
  9. Pikiran memang sulit di kendalikan, sangatlah patut di contoh pengorbanan Garuda yang nyata-nyata diberi anugerah utk meminum tirta amerta dan akan dikarunia keabadian,dia berhasil menyingkirkan egonya, hal itu adalah sebuah cerminan buat kita di dunia dalam menapaki kehidupan ini, karena pengaruh KEDUNIAWIAN sangatlah sulit untuk di kendalikan…..
  10. Tentang warna dalam kemasyarakatan utama adalah sangat mutlak dan saling keterkaitan satu sama lain, jika satu pincang maka yg lain akan terganggu, demikin juga dalam kehidupan ini di usahakan kita bisa saling menjaga dan mengerti satu sama lain.
  11. Meskipun terasa sulit, semangat membangkitkan jiwa nasionalis yang cerdas & berksadaran harus diregenerasi. Fanatisme anak bangsa dalam beragama sudah dmikian melekat & meluas. Dua dari teman SMA, yang keduanya adalah alumni UI, yang 1 menganjurkan untuk keluar dari account FB karena FB penemunya orang Amerika, yang 1 lagi meyakini dengan pasti Indonesia akan baik-baik saja tanpa harus macam-macam ini & itu. Sebagai teman kita turut prihatin atas cara mereka dalam berpikir & bersikap.
  12. Cerita tentang Bunda memang terasa menyentuh bahkan mungkn malah mampu meluluhkan hati. Semoga semangat berkorban demi Bunda Pertiwi dapat tumbuh subur di sini. Mau merendahkan diri tidak merasa keyakinannya paling benar, mau berbagi bagi yang membutuhkan.
  13. Terasa menggelitik kesadaran untuk ikut berbela rasa kepada Ibu Pertiwi yang sedang berduka, semoga dengan tulisan-tulisan seperti ini, para Garuda segera terketuk hatinya untuk mendharma-bhaktikan diri demi negeri, demi Ibu Pertiwi. Semoga kesadaran ini secepatnya melanda Nusantara, Bendhe Mataram, jayalah Indonesia.
  14. Berbagai pikiran berseliweran memenuhi alam kita. Mereka adalah energi juga. Mari kita pancarkan aura kedamaian dan kesadaran. Seperti halnya virus yang berada di tubuh kita, hanya 10% yang ekstrem yang merusak kita. Yang 80% biasa-biasa saja. Dibutuhkan virus yang yang mengimbanginya, virus kedamaian dan kesadaran.
  15. Ibu kita adalah ibu fisik kita. Tetapi yang memelihara yang memberi makan, yang memberi papan, yang memberi napas, semuanya berasal dari Ibu Pertiwi. Ibu Pertiwi kita sangat kecewa, bila putra-putrinya yang mempunyai keyakinan berbeda saling bersengketa.
  16. Kadang seseorang hanya sekedar menata kata, tetapi bagi yang reseptif, yang terbuka seakan melihat petunjuk-Nya berada di sana. Dia yang bersemayam dalam dirilah yang membimbing cara membaca, membaca alam semesta.

Terima Kasih

Salam __/\__

Bakti Burung Garuda Kendaraan Wisnu Terhadap Ibu

Bakti Burung Garuda Kendaraan Wisnu Terhadap Ibu



Kisah tentang telur yang lama menetas. Mempunyai tugas mulia melepaskan Ibu dari perbudakan. Memiliki sifat berani dan tidak ragu yang merupakan modal utama dalam meniti jalur spiritual. Dan, pada akhirnya dijadikan kendaraan Sang Pemelihara Alam.

Patung Garuda Wisnu Kencana

Tiket Promo bagi seseorang yang bepergian sangat berarti, karena bisa mencapai separuh harga dari tiket biasa. Harganya di sedikit di atas perjalanan naik bis, sedangkan waktunya jauh lebih singkat. Hanya saja, di kala orang masih terlena dalam mimpi, kami harus sudah di airport, jam setengah empat alarm berbunyi, dan jam empat pagi sudah mandi. Keuntungannya berangkat dini adalah waktu yang hampir selalu tepat, karena merupakan flight pertama. Tiket promo, bisa juga berarti, sewaktu orang lain sudah santai di depan tivi sebelum masuk peraduan, para penumpangnya masih berada di udara, ditambah lagi flight terakhir biasanya selalu telat. Wong namanya promo, perlu disyukuri, Alhamdulillah, Puji Tuhan.

Sepulang dari perjalanan Denpasar Jogya dengan tiket promo, kami mampir ke Solo, karena hari masih pagi dan tidak terburu-buru ke Semarang. Masuk halaman rumah, kami melihat patung yang tak terduga. Kami diberitahu bahwa seorang teman lama, orang tuanya meninggal dan dia menitipkan patung ke rumah. Patung Garuda Wisnu Kencana. Sudah ada patung Semar, Ganesha, Kresna dan Dewi Sri, masih ada satu tempat kosong yang rencananya diperuntukkan bagi Parvati. Sekarang di tempat tersebut telah berdiri sebuah patung Garuda Wisnu Kencana.

Kasih Burung Garuda

Dewi Winata dan Dewi Kadru adalah puteri Dhaksa, dan keduanya beserta saudari-saudarinya menjadi isteri dari Bhagawan Kasyapa. Dewi Kadru melahirkan ribuan telur dan telah menetas semuanya menjadi ular, yang diantaranya adalah Naga Taksaka dan Basuki. Dewi Winata cemburu, karena dua telornya belum menetas juga, maka satu telurnya dipecah, dan keluar burung Arun yang masih setengah jadi, tanpa punya bagian perut ke bawah. Sang Dewi pun dikutuk Sang Putra bahwa Sang Ibu akan menjadi budak.

Pada suatu hari, Dewi Winata terlibat pertaruhan dengan Dewi Kadru mengenai warna ekor kuda Uchaisrawa yang akan keluar dari samudera. Dewi Winata bertaruh bahwa kuda tersebut ekornya berwarna putih. Para ular memberi tahu Dewi Kadru, Sang Ibu bahwa dia akan kalah, karena memang ekor kuda tersebut berwarna putih. Dewi Kadru meminta anak-anaknya menutupi ekor kuda agar ekornya nampak berwarna hitam. Ular yang menolak dikutuk akan mati sebagai persembahan. Mereka yang menolak amat sedih dan bertapa mohon keselamatan dari Yang Maha Kuasa. Akhirnya kedua dewi tersebut melihat bahwa ekor kuda berwarna hitam dan Dewi Winata menjadi budak Dewi Kadru untuk memelihara ular-ular putranya.

Telor Winata akhirnya menetas menjadi Garuda. Garuda paham bahwa dirinya harus berterima kasih kepada ibunya yang telah menyebabkan dirinya lahir di dunia. Dalam diri Garuda sudah ada benih kasih. Dia mencari ibunya dan akhirnya mengetahui bahwa ibunya menjadi budak perawat para ular. Garuda berusaha sekuat tenaga membebaskan, akan tetapi para ular sangat lincah. Garuda bertanya dengan pengganti apa, dia dapat membebaskan ibunya dari perbudakan. Para ular meminta “tirta amerta”, air yang membuat “a-merta”, tidak mati. Garuda berupaya sungguh-sungguh untuk mendapatkan air tersebut. Segala halangan dan rintangan dilewatinya.

Benih kasih yang berpotensi menjadi bhakti dalam diri Garuda

Dewa Wisnu melihat kesungguhan dalam diri Garuda. Seorang Guru telah melihat adanya benih kasih dalam diri muridnya. Dia paham bahwa benih tersebut berpotensi mekar menjadi lembaga dan muridnya dapat mencapai keadaan bhakti. Salah satu syarat untuk meningkatkan kesadaran adalah berani dan yakin, fearless and no doubt terhadap Kebenaran. Garuda dalam berupaya menyelamatkan ibunya telah melepaskan pertimbangan-pertimbangan. Seorang murid yang datang ke Ashram dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu, seperti mendapatkan ilmu, atau dia masih berpikir akan dikucilkan keluarga dan masyarakat belum pantas menjadi murid. Dia belum berserah diri. Dia masih menggunakan belahan otak kiri yang penuh pertimbangan. Dia boleh bilang no-mind, tetapi belum melaksanakannya. Seorang Mira Bhai, bahkan meninggalkan istana suaminya demi cinta Ilahi.

Bahkan seorang Prahlada, yang amat sangat bijak pun , saat meminta Wisnu untuk mengampuni Hiranyakasipu Sang Ayah, dia masih mempunyai keterikatan. Pada saat itu dia belum menjadi bhakta. Seorang Ibrahim yang dimuliakan alam pun diuji keterikatannya terhadap sang putera sebelum menjadi bhakta. Seorang yang menyatakan diri sebagai bhakta dari seorang Guru tertentu, perlu introspeksi, yang memberi gelar itu siapa? Apakah Gurunya sendiri? Kalau hanya memberi gelar pada diri sendiri itu termasuk ego. Kalau memproklamirkan diri sebagai hamba, perlu introspeksi, yang memberi sebutan itu siapa? Kalau yang memberi itu diri sendiri, bukankah itu bentuk ego yang halus? Dan selama ada ego, maka diri belum selaras dengan alam. Bukankah matahari menghidupi kehidupan, air membasahi kehidupan, tanah menyangga kehidupan dan mereka tidak mempunyai ego selain hanya bersifat melayani?

Wisnu melihat benih kasih itu dalam Garuda ketika mencari tirta amerta. Wisnu bermaksud memberikan tirta amerta untuk diminum Garuda, tetapi Garuda menolak. “Terima Kasih Gusti, tirta amerta ini untuk membebaskan ibu saya dari perbudakan. Saya percaya kebijakanmu, saya yakin tidak ragu, bila memang tetap mau memberi anugerah, berikanlah anugerah lainnya, Gusti”. Wisnu amat berkenan dengan etika Garuda dan meminta Garuda menjadi kendaraan Wisnu. Garuda tidak hanya mendapatkan hidup abadi, tetapi dia bisa setiap saat mendampingi Yang Maha Memelihara, sebuah keadaan penuh berkah bagi seorang bhakta.

Selanjutnya, Garuda mohon pamit untuk menyelesaikan tugas keduniawiannya, membebaskan perbudakan ibunya. Kita-kita ini selalu menunda panggilan Ilahi. Guru adalah Duta Ilahi, yang mengingatkan kita adanya benih kasih di dalam diri. Lepaskan ego. Dan Tuhan ada dimana-mana, dalam diri pun ada Dia, selama ego terlampaui. Kita-kita ini terikat kesenangan dunia dan tak mau cabut dari kesenangan panca indera. “Krishna yang bahagia selamanya, Ananda Krishna!” “Mohon bimbinglah kami, agar kami cepat selesai dalam melaksanakan tugas keduniawian”, demikian ungkapan Arjuna sesaat sebelum melakukan tugasnya berperang melawan para Korawa di medan Kurukshetra. Masing-masing kita pun juga mempunyai tugas menjalankan dharma mengalahkan adharma di medan Kurukshetra dunia.

Di tengah perjalanan Dewa Indera menghentikan Garuda dan berpesan kepadanya, agar memberikan tirta amerta kepada para ular setelah mereka membebaskan Dewi Winata, dan setelah mereka mandi membersihkan diri dari kesalahan yang telah dilakukan mereka. Para ular, mematuhi permintaan Garuda, membebaskan Dewi Winata, dan mandi mensucikan diri. Para ular lupa kesalahan mereka yang karena takut dikutuk ibunya, mereka pernah mengikuti Dewi Kadru sang Ibu untuk berbuat tidak benar. Ketika mereka sedang mandi ,tirta amerta direbut para Dewa, dan para ular tetap akan tetap mati walau dia dapat berganti kulit, meremajakan diri. Hukum sebab-akibat berjalan sangat rapi.

Cerita tentang Bakti Burung Garuda tersebut terpahat dalam batu di Candi Sukuh, di lereng Gunung Lawu, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Terima kasih para “founding fathers” yang telah memilih Burung Garuda kendaraan Sang Pemelihara Alam menjadi simbol pembawa Pancasila. Pancasila akan “memelihara” keutuhan NKRI. Dalam Garuda kita tertulis “afirmasi persatuan”. Sahabat-sahabtaku mari kita pertahankan Pancasila dan afirmasi, mantra, japa “ Bhinneka Tunggal Ika” dalam Burung Garuda tercinta. Burung Garuda yang telah membebaskan Ibu Pertiwi dari perbudakan, penjajahan.

Bhakti satu-satunya jalan

Waktu di dunia amat pendek kata Guru, silahkan menuju tujuan memakai becak dan bersantai ria, tetapi bagi yang usianya sudah senja, tak ada jalan lain menuju dia kecuali jalan Bhakti, naiklah wahana yang cepat. Dan tidak mudah mengikuti jalan Garuda, ada jalan para angsa yang mungkin lebih sesuai bagi kita.

Dalam buku Narada Bhakti Sutra, Menggapai Cinta Tak Bersyarat dan Tak Terbatas, Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama, 2001 dijelaskan tentang sebuah kelompok angsa.

Saat setiap burung mengepakkan sayapnya, hal itu memberikan “daya dukung” bagi burung yang tepat di belakangnya. Ini terjadi karena burung yang terbang di belakang tidak perlu bersusuah payah untuk menembus ‘dinding udara’ di depannya. Dengan terbang dalam formasi “V”, seluruh kawanan dapat menempuh jarak terbang 71% lebih jauh daripada kalau setiap burung terbang sendirian…….. Kalau seekor angsa terbang ke luar dari formasi rombongan, ia akan merasa berat dan sulit untuk terbang sendirian. Dengan cepat ia akan kembali ke dalam formasi untuk mengambil keuntungan dari daya dukung yang diberikan burung di depannya………. Ketika angsa pemimpin yang terbang di depan menjadi lelah, ia terbang memutar ke belakang formasi, dan angsa lain akan terbang menggantikan posisinya……. Angsa-angsa yang terbang dalam formasi ini mengeluarkan suara riuh rendah dari belakang untuk memberikan semangat kepada angsa yang terbang di depan sehingga kecepatan terbang dapat dijaga.

Orang-orang yang bergerak dalam arah dan tujuan yang sama serta saling membagi dalam komunitas mereka dapat mencapai tujuan mereka dengan lebih cepat dan lebih mudah. Ini terjadi karena mereka menjalaninya dengan saling mendorong dan mendukung satu dengan yang lain……… Kalau kita memiliki cukup logika umum seperti seekor angsa, kita akan tinggal dalam formasi dengan mereka yang berjalan di depan. Kita akan mau menerima bantuan dan memberikan bantuan kepada yang lainnya. Lebih sulit untuk melakukan sesuatu seorang diri daripada melakukannya bersana-sama……….. adalah masuk akal untuk melakukan tugas-tugas yang sulit dan penuh tuntutan secara bergantian dan memimpin secara bersama, bergantian. Seperti halnya angsa, manusia saling bergantung satu dengan lainnya dalam hal kemampuan, kapasitas, dan memiliki keunikan dalam karunia, talenta atau sumber daya lainnya…….. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan memberikan kekuatan. Dalam kelompok yang saling menguatkan, hasil yang dicapai menjadi lebih besar. Kekuatan yang mendukung (berdiri dalam satu hati atau nilai-nilai utama saling menguatkan) adalah kualitas suara yang kita cari. Kita harus memastikan bahwa suara kita akan menguatkan dan bukan melemahkan……. Kalau kita punya perasaan, setidaknya seperti seekor angsa, kita akan tinggal bersama sahabat dan sesama kita dalam saat-saat sulit mereka, sama (atau bahkan lebih) seperti ketika segalanya baik!

Dalam tradisi Hindu, seorang suci disebut Paramhansa, Angsa Besar – Ia Yang Berjiwa Angsa. Seorang Paramhansa “datang” untuk menjemput kita. Kedatangannya semata-mata untuk membantu kita. Dia adalah Angsa Sejati, Sahabat Sejati. Dekatilah para Paramhansa. Mendekati mereka berarti mendekati kebenaran. Dan mendekati kebenaran berarti mendekati kasih – The Ultimate Truth.

Kurma Avatara Kisah Spiritual dari Patung Kura-Kura di Candi Sukuh

Kurma Avatara Kisah Spiritual dari Patung Kura-Kura di Candi Sukuh



Bila kita masih ingin hidup “utuh” sebagai Orang Indonesia, kita harus menerima “keutuhan” bangsa serta budaya kita. Kita harus kembali pada mitos-mitos yang telah menjadi “akar budaya” kita, budaya Nusantara yang “mengutuhkan”! Budaya Nusantara yang masih mampu mempersatukan kita dan menyuntiki kita dengan semangat baru untuk menghadapi dan memecahkan setiap persoalan bangsa. *

Menggali budaya Nusantara yang telah lama tertutup ketidak-tahuan tentang jati diri

Revolusi berarti Re-Evolusi. Menggelindingkan kembali Roda Evolusi yang seakan berhenti sekian lama. Dan, Evolusi berarti Perkembangan, Pertumbuhan, Kemajuan… Revolusi Spiritual adalah Perkembangan Nilai-Nilai Spiritual, Nilai-Nilai Batiniah dalam diri kita sendiri. Kita harus mati dan bangkit kembali. Mati sebagai individu yang tidak mengenal sejarah, tidak menghargai leluhur, tidak apresiatif terhadap budaya asal dan tergantung pada segala yang berasal dari luar. Dan, bangkit kembali sebagai Manusia Indonesia yang Utuh… Manusia Modern yang berakar pada Budaya Asal dan Sejarah Masa Lalu yang Gemilang, namun tidak hidup dalam masa lalu… la hidup dalam masa kini, dan bekerja untuk Masa Depan yang lebih Cemerlang! *

Pertarungan antara kelompok Kebenaran dan Ketidakbenaran, selalu terjadi di alam ini dan juga selalu terjadi di dalam diri. Tidak ada hal baru di alam ini, hampir semuanya merupakan pengulangan. Tentu saja dengan setting yang berbeda, karena alam ini selain berputar kembali, berdaur ulang, juga berevolusi kearah penyempurnaan. Penyempurnaan juga berarti penyempurnaan kualitas pertarungan dan bahkan lebih rumitnya latar belakang. Pertarungan dengan para teroris pun menjadi tema dunia saat ini.

Kisah-kisah leluhur pada zaman dulu pun tetap dapat diambil hikmahnya pada saat ini. Kerjasama antara Kebenaran dan Ketidakbenaran pun pernah diambil oleh para pemimpin. Tetapi hasilnya adalah ketidakbenaran semakin menancapkan akarnya dan semakin rumit melawannya. Bagaimana pun Ketidakbenaran selalu akan dikalahkan Kebenaran.

Pendidikan tanpa kesadaran, amnesia terhadap budaya sendiri, pengagungan budaya lain, pemahaman tentang keyakinan yang dibuat oknum yang membelenggu sehingga tanpa sadar banyak orang sudah menjadi budak keyakinan yang manut saja digerakkan, semuanya harus diperbaiki. Sudah saatnya mereka yang sadar bersuara. Kejadian memalukan teror bom di negeri ini telah terjadi berkali-kali. Kita secara sadar telah tak peduli dan ikut membiarkan. Sudah saatnya ‘silent majority’ bersuara demi negeri tercinta…….

Adiparwa adalah buku pertama atau bagian pertama dari kisah Mahabharata. Pada dasarnya bagian ini berisi ringkasan keseluruhan cerita Mahabharata, kisah-kisah mengenai nenek moyang keluarga Bharata, hingga masa muda Korawa dan Pandawa. Dalam Adiparwa juga terdapat kisah-kisah lain, seperti Kisah Baghawan Dhomya dengan tiga muridnya, Kisah Bhakti Burung Garuda bhakti dan Kisah Kurma Avatara.

Sebagaimana kisah induknya, Mahabharata, kitab Adiparwa ini semula dituliskan dalam bahasa Sansekerta. Pada masa pemerintahan Raja Dharmawangsa (991-1016) yang memerintah di Kerajaan Medang, kitab ini telah disalin ke dalam Bahasa Jawa Kuna.

Seribu tahun yang lalu, para leluhur kita sudah terbiasa membaca kisah ini dan pada tahun 1437 kisah ini telah dipahat sebagai patung kura-kura di candi Sukuh.

Kerjasama antara Dewa dan Asura

Peperangan antara Dewa dan Asura, antara kebaikan dan kejahatan selalu terjadi sejak awal kehidupan. Bahwa ada Asura yang baik dan berkesadaran tinggi seperti Prahlada, membuktikan bahwa benih potensi kebaikan pun ada dalam diri tiap Asura. Menjaga kesadaran dan membuang pola lama harus terus dilakukan agar kesadaran tetap terjaga. Bali cucu Prahlada, memiliki potensi kebaikan, akan tetapi pada saat itu potensi kebaikan tersebut masih tertutup belenggu pola lama.

Dan terjadilah beberapa kali pertempuran antara Dewa dipimpin Indra dan Asura dipimpin Bali.

Para Dewa menghadap Wisnu yang berkuasa sebagai pemelihara alam. Mereka mohon petunjuk bagaimana caranya agar mereka dapat terus hidup dalam melawan ketidakbenaran. Wisnu memberi petunjuk kepada para Dewa, agar mereka mengadakan gencatan senjata dahulu dengan para Asura. Mereka perlu mendapatkan Amerta, obat yang melindungi diri dari kematian. Untuk itu samudera harus diaduk. Gunung Mandaragiri dapat di jadikan alat pengaduk dan ular raksasa Vasuki dijadikan sebagai tali pengikat gunung. Para Dewa harus bekerja sama dengan para Asura, tidak dapat bekerja sendiri. Para Dewa harus mendapatkan Amerta yang akan keluar dari samudera. Pertama kali akan keluar racun Kalakuta, setelah itu keluar beberapa hal lainnya. Janganlah ngotot, apabila ada benda yang diminta para Asura agar diberikan saja, fokus pada Amerta.

Para Asura setuju untuk mengadakan gencatan senjata dan bekerjasama demi mendapatkan Amerta. Hanya sebetulnya yang berada di benak para Dewa dan para Asura lain. Para Dewa ingin mendapatkan Amerta bagi keabadian dalam menegakkan dharma, sedangkan para Asura ingin mendapatkan keabadian dalam kenikmatan indera dan pikiran. Sebagaimana yang terjadi dalam persaingan antara dua kelompok, mereka telah menyiapkan alternative plan untuk merebut Amerta dari tangan saingannya.

Hikmah dari petunjuk Wisnu

Pertama, Wisnu telah memberi pelajaran kepada para Dewa dan para Asura bahwa untuk mencapai tujuan mereka perlu bekerjasama, bergotong-royong. Pelajaran tersebut perlu dihayati oleh bangsa Indonesia.

Gotong-royong tidak sama dengan amal saleh atau dana-punia atau charity. Gotong-royong bukanlah pemberian sedekah. Semua ini hanya menyuburkan benih-benih kelemahan dan ketakpercayaan diri dalam diri para penerima, dan keangkuhan dalam diri para pemberi. Biarlah mereka yang berjiwa lemah mengartikan Gotong-royong seperti itu. Mereka yang berjiwa kuat, atau setidaknya menginginkan kekuatan jiwa tidak boleh hidup dengan belaskasihan orang. Tidak boleh menjadi beban bagi siapa pun. Gotong-royong berarti memikul bersama beban negara dan bangsa ini. Dan, untuk memikul beban yang berat itu, kita semua harus menjadi kuat. Harus memberdayakan diri. Harus memiliki nyali dari baja dan otot dari besi. Syaraf-syaraf kita harus lebih dahsyat dari jaringan listrik dengan kekuatan setinggi apa pun. *

Kedua, Wisnu memberi pelajaran, Yang Maha Kuasa tidak memberikan ‘buah matang instan’ seperti yang diminta makhluknya, Dia akan memberikan benih. Makhluknya harus berdaya-upaya untuk menumbuh-kembangkan biji anugerah-Nya menjadi buah yang matang.

Menurut pendapat pribadi, kasta bukan berdasarkan keturunan, bukan pula sepenuhnya berdasar sifat pekerjaannya. Sudra masih sepenuhnya tergantung, mind digunakan sedikit. Weisya, menggunakan mind sebagai alat untuk hidup mandiri, tentu saja keuntungan masih menjiwai tindakannya. Ksatriya, mendahulukan dharma, tidak hanya untung rugi mind belaka. Brahmana, sudah mengetahui semua ini hanya ilusi duniawi, hanya memberi kan ilmu dengan penuh kasih dan penuh kebijakan.

Dalam setiap profesi kita dapat menjadi Brahmana, tetapi lingkungan memang mempunyai pengaruh yang besar. Profesor yang mengelola universitas atas dasar untung rugi, belum menjadi Brahmana. Pengusaha yang mendharma-bhaktikan hartanya bagi penegakan dharma sudah menjadi Ksatriya, bahkan ketika dia mendirikan sekolahan demi tujuan meningkatakan kesadaran dia telah menjadi Brahmana.

Munculnya Kurma Avatara

Pertama kali para Dewa memegang kepala Vasuki yang membelit gunung dan ekornya dipegang para Asura. Para Asura tersinggung , merasa martabatnya direndahkan maka mereka meminta yang memegang kepala. Para Dewa menuruti kemauan para Asura.

Kendati demikian gunung tersebut tenggelam di samudera karena beratnya. Sang Pemelihara Alam mewujud sebagai kura-kura raksasa, Kurma Avatara. Bertindak sebagai penyangga dibawah gunung. Banyak yang tidak tahu mengapa gunung tersebut tidak tenggelam lagi. Akibatnya luar biasa, semuanya merasa bersemangat, bekerjasama, bergotong-royong.

Dia merasuk ke semua makhluk dan membuat semua makhluk merasa bersemangat. Dia adalah gairah yang berada dalam hati Gunung Mandaragiri. Dia adalah ketidak tahuan Vasuki. Dia juga merupakan sifat alami Asura. Dia juga adalah sifat kelembutan Dewa.

Setelah beberapa lama, Vasuki ngos-ngosan dan dari mulutnya keluar asap, para Asura yang memegang kepala tidak kuat. Wisnu datang sebagai hujan dan angin sepoi-sepoi dan membawa asap dengan angin. Semua makhluk merasa ditolong Tuhan. Memang demikian. Tetapi bukan berarti hanya dia yang dicintai dan ditolong-Nya. Dia tidak membeda-bedakan. Semuanya sejatinya adalah Dia, hanya mind lah yang membuat merasa terpisah.

Samudera di aduk terus dan seakan-akan nampak sebagai susu. Muncul racun Kalakuta. Udara menjadi beracun dan semua Asura berlarian, para Dewa pun pada tidak kuat. Dan para Dewa mohon pertolongan Siwa, Sang Mahadewa. Sang Mahadewa melindungi mereka yang percaya, menelan racun masuk kerongkongan dan tetap di lehernya. Perbuatan penuh kasih. Setetes racun jatuh dan menjadi rebutan ular, kalajengking, lipan dan binatang merayap lainnya.

Munculnya Amerta

Semuanya kembali mengaduk, dan kemudian keluar Kamadhanu, Sapi Suci. Selanjutnya Ucchaisrawa, Kuda Sakti yang diminta Bali. Kemudian Gajah Airavata untuk Indra. Permata Kaustubha dipakai Wisnu. Pohon Parijata dan para Apsara diambil Indra.

Setelah itu keluar Laksmi yang semuanya menginginkannya. Laksmi melihat para Asura masih keras dan mau menang sendiri. Para Resi pun, belum menaklukkan kemarahan dan masih sering mengutuk. Guru Sukra pun bijak tapi masih belum mengetahui tentang ketidak-terikatan. Candra tampan, akan tetapi belum menaklukkan nafsu. Indra penguasa, tetapi belum mampu menaklukkan keinginan. Hanya Wisnu yang tidak menginginkannya. Dia telah melampaui Triguna. Laksmi menjatuhkan pilihan untuk mengikuti Wisnu.

Pada akhirnya keluar Dhanvantari membawa mangkuk Amerta. Para Asura dengan cepat melepaskan Vasuki, alat itu sudah selesai digunakan, mengapa repot? Vasuki dilemparkan dan mereka merenggut bejana berisi Amerta. Tiba-tiba terjadilah perebutan diantara para Asura, siapakah yang berhak mencicipi Amerta lebih dahulu. Berlomba dengan teman sendiri, merasa paling unggul diantara sahabat adalah sifat Asura.

Orang yang gila akan kekuasaan akan selalu berlomba. Ia ingin menjadi nomer satu dan demi tercapainya keinginan itu, ia akan selalu melibatkan dirinya dalam perlombaan. Ia lebih mirip kuda-kuda yang digunakan di pacuan kuda. Jangan jadi binatang, jadilah manusia. Perlombaan, persaingan – semuanya itu sifat-sifat hewani. Manusia memiliki harga diri; ia cukup mempercayai dirinya sendiri. Ia tidak usah terlibat dalam perlombaan. Setiap manusia unik, tidak ada satu pun manusia yang persis sama seperti orang lain. Ia tidak perlu melibatkan dirinya dalam perlombaan untuk membuktikan keunggulannya. *

………. Suasana mendadak hening, dan dalam keheningan tersebut muncul seorang wanita yang sangat jelita. Para Asura dan para Dewa duduk bersimpuh di hadapan wanita jelita tersebut. Para Asura ternganga dan langsung menyerahkan bejana berisi Amerta, “Wahai bidadari jelita, kami yakin dikau bertindak adil, ambillah dan bagikan kepada kami menurut pendapatmu.”

Para Asura tetap ternganga dan terpesona, padahal sambil jalan berlenggok, Dia menyendok Amerta untuk para dewa disisi lainnya. Lupa diri membuat lalai, alpa. Mereka berpikir, “Huh, para Dewa memang tidak bisa menghargai kecantikan yang belum pernah ada sebelumnya di permukaan bumi ini.” Hanya Asura Rahu yang waspada, paham keadaan dan segera menyamar sebagai Dewa dan duduk anatara Surya dan Candra. Rahu telah mendapatkan Amerta. Wanita itu tahu tapi membiarkan saja. Baru setelah Surya dan Candra memberi tanda, maka leher Rahu dipotong.

Kejadian tersebut menyadarkan para Asura, dan Mohini, sang wanita jelita kembali mewujud sebagai Wisnu dan menghilang. Tindakan Surya dan Candra tersebut membuat marah Rahu, maka pada waktu tertentu dia akan menelan Surya dan Chandra. Akan tetapi pemberian tanda pada Mohini telah menyelamatkan mereka, karena begitu mereka ditelan Rahu setelah sampai di leher mereka keluar lagi. Konon itulah sebabnya peristiwa gerhana matahari dan gerhana bulan hanya memakan waktu sebentar saja.

Hikmah pelajaran yang dapat diambil

Pertama, para Asura telah bekerja lebih keras, karena ambisi dari mind-nya. Sedangkan para Dewa yakin Gusti lebih mengerti sehingga mereka pasrah pada-Nya. Sebetulnya Gusti juga telah membisikkan panduan kepada para Asura. Akantetapi bisikan lirih lewat nurani, tertutup gelora nafsu mereka. Mereka yang bernapas tenang, detak jantungnya akan tenang dan gelombang otaknya lebih tenang. Ketika gelombang otak tenang, manusia bisa melihat sesuatu dengan lebih jernih dan suara nurani pun menjadi semakin jelas.

Keadaan tegang atau rileks mempengaruhi gelombang otak. Pada waktu normal, keadaan dimana dalam satu saat pikiran terpecah, misalnya sambil menyetir mobil, ngobrol dengan teman sebelah, memperhatikan orang mau menyeberang, juga melihat reklame, maka gelombang otak berkisar 14 hertz. Kondisi gelombang otak antara 14 – 30 hertz disebut kondisi beta. Pada waktu pikiran mulai terfokus, misalnya membaca buku dengan asyik, sehingga tubuh mulai tidak terpikirkan maka kita mulai masuk kondisi alpha, antara 14-7 hertz. Pada waktu itu napas kita menjadi lebih tenang, kondisi tersebut juga terjadi ketika kita melakukan meditasi atau pada waktu akan tidur. Apabila gelombang otak melambat antara 7-3.5 hertz, diri kita akan lebih tenang lagi, diri kita masih ada tetapi fisik sudah terabaikan sama sekali. Kondisi tersebut dikenal sebagai kondisi theta. Keadaan itu juga terjadi pada waktu kita bermimpi. Apabila napas semakin melambat maka akan terjadi deep sleep, tidur tanpa mimpi, kondisi delta dan gelombang otak berkisar 3.5-0.5 hertz.

Kedua, Dewa mendapatkan Amerta, mendapatkan keabadian, mereka melampaui pikiran tentang mati, yang mati itu fisik. Jiwa tidak mati, abadi. Asura tidak paham hal tersebut karena terlalu mengikuti mind. Bagi kita yang hidup, Amerta mungkin semacam kesadaran bahwa kita ini adalah jiwa dan jiwa tidak bisa mati. Mereka yang tidak sadar berkeinginan agar fisik kita abadi. Masih ada sifat Asura dalam diri mereka.

Kehidupan abadi tidak berarti bahwa seseorang dapat menghindari kematian. Sama sekali tidak, karena kelahiran dan kematian merupakan dua sisi kehidupan. Ia akan sadar bahwa yang mati adalah raga, bahwasanya jiwa tidak mati. Begitu ia mengidentifikasikan dirinya dengan jiwa, kematian raga tidak akan membuatnya gelisah lagi. Dalam kesadaran jiwa, kita semua hidup abadi. Hanya saja, ada yang sadar akan hal itu, ada yang belum sadar. *

Ketiga, Dewa tak punya rasa jenuh.

“Dari hari ke hari, itu-itu saja yang kulakukan… Saya jenuh sekali!” teman itu mengeluh. Kalaupun dia meninggalkan pekerjaannya itu dan bekerja di tempat lain, persis empat tahun kemudian, dia akan mengulangi lagi keluhannya. Inilah lingkaran samsaara – pengulangan kesia-siaan. Belajarlah dari alam. Matahari, bulan, bintang, dan air, angin, api, tanah – adakah yang merasa jenuh? Membersihkan, menyejukkan, membasahi dan melarutkan – itulah tugas Air. Sudah jutaan tahun ia melakukan hal itu. Apakah ia pernah mengeluh? Bagaimana pula dengan api yang tugasnya menghangatkan dan membakar? Angin, tanah? Tidak satu pun diantaranya mengeluh. Kenapa? Karena mereka berkarya tanpa memikirkan hasil, tanpa pamrih. *

Keempat, Dewa adalah unsur alam.

Dewa-dewa adalah elemen-elemen alami yang tercipta sebelum manusia. Api, angin, air, tanah dan ruang atau space adalah Dewa Utama. Elemen-elemen dasar. Dengan menolak keberadaan elemen-elemen dasar ini, Anda tidak bisa mengurangi peran mereka. Tanpa mereka, kehidupan tidak “mungkin” – life is not possible! Dapatkah Anda membayangkan kehidupan tanpa api? Atau tanpa angin? Dan, tanpa air? Tanpa tanah? Tanpa ruang? Kasih terhadap para “Dewa” berarti kepedulian terhadap lingkungan. Upaya nyata untuk melestarikan alam. Itu sebabnya, di bagian akhir sutra ini Narada mengatakan: “Bumi pun ikut gembira, karena menemukan seorang penyelamat di dalam dirimu.” *

Kelima, pelajaran tentang gotong-royong.

Gotong Royong Berarti Bahu-Membahu. Gotong Royong berarti saling bergandengan tangan. Gotong Royong tidak menempatkan saudaraku penerima di bawahku yang memberi. Gotong Royong adalah sebuah “kesadaran” bahwa kita semua adalah putera-puteri Ibu Pertiwi. Kita memiliki hak dan kewajiban yang sama, walau aplikasinya, pelaksanaanya, penerjemahannya dalam hidup sehari-hari bisa berbeda. Atas landasan Gotong Royong yang kukuh ini kulihat Bangunan Indonesia Baru. Kemegahannya terlihat jelas olehku. Kuucapkan selamat kepada saudara-saudaraku yang kelak akan menjadi penghuni bangunan ini!

Candi Sukuh Peninggalan Leluhur dari Majapahit di Lereng Gunung Lawu

Candi Sukuh Peninggalan Leluhur dari Majapahit di Lereng Gunung Lawu

Quantcast

Gambaran Sekilas Candi Sukuh

Candi Sukuh terletak di lereng Gunung Lawu pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut. Candi tersebut terletak di desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Candi ini berjarak kurang lebih 9 kilometer dari kota Karanganyar dan 34 kilometer dari Surakarta. Candi Sukuh dianggap sakral oleh sebagian masyarakat.

Luas areal candi Sukuh ± 5.500 meter persegi dengan tata letak bangunan memusat ke belakang, bertingkat yang terdiri dari tiga halaman teras. Halaman teras pertama lebih rendah dari teras kedua dan ketiga, disebut dengan Jaba. Halaman teras kedua disebut Jaba Tengah, sedang halaman teras ketiga disebut Jeron. Untuk memasuki Jaba harus melewati gapura Cangapit. Untuk menuju Jaba Tengah dan Jeron harus melalui gapura Sela Setangkep. Candi induk berupa piramid terpancung.

Banyak pengunjung Candi Sukuh tertarik dengan segala macam pernak-pernik seks yang membuat Candi Sukuh terkenal ke seluruh dunia. Pahatan batu perangkat seks itu merupakan simbol dari Energi Feminin dan simbol dari Energi Maskulin, simbol dari Energi Yin dan Yang. Patung Lingga dan Yoni tersebut adalah jalur energi Ilahi di tubuh manusia. Candi Sukuh adalah sebuah Buku Terbuka, An Open Book. Candi yang berisikan pelajaran spiritual tingkat tinggi.

Ziarah ke Candi Sukuh

Pada tanggal 2 bulan 11 tahun 2008, rombongan teman-teman AKC Joglosemar bersama Bapak Anand Krishna ziarah ke Candi Sukuh. Rombongan disambut hujan deras ketika masuk gerbang Sukuh. Setelah seluruh teman-teman disirami air hujan dari Gunung Lawu dan hujan mulai reda, rombongan mulai memasuki Candi mulai dari pintu ujung. Dika diminta mencari buku tentang Candi Sukuh dan mendapatkan satu buku yang disusun seorang penulis bernama Haryono. Setelah menyampaikan buku, kemudian Dika ingat orang yang memberikan buku tersebut bernama Haryono. Akhirnya Pak Haryono, Penyusun Buku tersebut menjadi pemandu rombongan dan menjelaskan tentang Candi Sukuh.

Pak Haryono menjelaskan ada 9 buku terhampar di Candi Sukuh dan beliau harus memeras otak untuk berpikir terbalik, menjelaskan dimulai dari buku 9 sampai ke buku 1, suatu hal yang tidak menjadi kebiasaannya. Pada waktu penjelasan di depan relief Sudamala, langit menjadi terang, sinar matahari menyengat. Beliau sempat berkomentar selama 32 tahun peristiwa lengkap yang dimulai dari kabut tebal, hujan lebat dan sinar matahari menyengat yang dialami rombongan belum pernah terjadi. Di antara rombongan ada yang mendapat berkah kata pak Haryono. Bapak Anand Krishna berkomentar semuanya mendapat berkah.

Ramuan informasi dari beberapa situs internet

Pada Gapura Pertama, Buku Pertama menurut Pemandu, terdapat sangkala, penanda dalam bahasa Jawa yang berbunyi gapura buta mangan wong. Jika dibahasa Indonesiakan artinya adalah “Gapura sang raksasa memangsa manusia”. Kata-kata ini memiliki makna Gapura = 9, Raksasa = 5, Mangan = 3, dan Wong = 1. Jika dibalik maka didapatkan tahun 1359 Saka atau tahun 1437 Masehi. Candrasengkala di atas menunjukkan tahun pendirian candi dimasa-masa ahir kekuasaan Majapahit. Gapura pertama itu sempit sekali, dan dipagar. Di atas lantai dalam gapura yang dipagar dan pengunjung tidak boleh menginjak tersebut terdapat simbol lingga dan yoni yang terpahat dengan sangat artisik dan indah luar biasa.

Teras Kedua, bagian Jaba Tengah lebih tinggi daripada teras pertama dengan pelataran yang lebih luas. Gapura Kedua ini sudah rusak, dijaga sepasang arca yang mirip arca jaman pra sejarah. Di latar pojok belakang dapat dijumpai seperti jejeran tiga tembok dengan pahatan-pahatan relief, yang disebut relief Pande Besi. Relief sebelah selatan menggambarkan seorang wanita berdiri di depan tungku pemanas besi, kedua tangannya memegang tangkai “ububan”,peralatan untuk mengisi udara pada pande besi. Pada bagian tengah terdapat relief yang menggambarkan Ganesya dengan tangan yang memegang ekor. Ini merupakan salah satu penanda yang rumit yang dapat dibaca : Gajah Wiku Anahut Buntut, dapat ditemui dari sengkalan ini tahun tahun 1378 Saka atau tahun 1496 M. Relief pada sebelah kanan menggambarkan seorang laki-laki sedang duduk dengan kaki selonjor. Di depannya tergolek senjata-senjata tajam seperti keris, tumbak dan pisau.

Teras Ketiga, bagian Jeron merupakan teras tertinggi dan paling suci. Candi Sukuh memang dibuat bertingkat-tingkat semakin ke belakang semakin tinggi. Berbeda dengan umumnya candi-candi di di Jawa Tengah yang berbentuk bujur sangkar dengan pusat persis di tengah-tengahnya sebagai tempat yang paling suci, Candi Sukuh mengetengahkan halaman candi dengan banyak bangunan, dan semakin ke dalam semakin naik dan semakin suci. Di bagian Jeron terdapat jalan setapak dan disebelah kiri jalan setapak terdapat dua buah dinding batu dengan relief yang menggambarkan kisah SUDAMALA. Yaitu kisah Batari Uma yang dikutuk Batara Guru, Dewa Siwa menjadi Batari Durga yang berparas jelek. Sadewa putera bungsu dari Pandawa diikat pada sebuah pohon dan dikorbankan sebagai tumbal untuk Batari Durga. Dengan Bantuan Batara Guru, Dewa Siwa, Sadewa berhasil meruwat dan membebaskan Batari Durga dari kutukan dan kembali kewajah aslinya sebagai seorang bidadari.

Sebetulnya prosesi ruwatan sudah dimulai ketika memasuki Gapura Pertama, dan makin lama semakin “dalam” ruwatannya. Ruwatan adalah salah satu adat Jawa yang tujuannya untuk membebaskan orang, komunitas atau wilayah dari ancaman bahaya. Inti acara ruwatan adalah prosesi memohon perlindungan pada Yang Maha Kuasa dari ancaman bahaya-bahaya seperti bencana alam dll. Dapat juga sebagai prosesi mohon pengampunan kesalahan yang telah dilakukan yang bisa menyebabkan bencana. Ruwatan memiliki makna mengembalikan keadaan sebelumnya, suatu keadaan yang baik, atau menuju keseimbangan. Sebaiknya Nusantara dengan sebagian masyarakat yang sudah lupa jatidirinya, sebagian besar masyarakat yang menjadi silent majority dan para elite yang terjebak dalam comfort zone perlu diruwat agar Nusantara keluar dari kegelapan dan kembali ke masa kejayaan.

Di sebelah kanan kedua dinding relief SUDAMALA terdapat relief ”Bimo Bungkus” yang mengkisahkan ruwatan versi Mahabharata. Relief Batara Guru, Dewa Siwa terletak di sebelah kanan dan Bima di sebelah kiri. Bima yang lahir dari rahim Kunthi dengan Pandu membuat gempar, karena putra kedua Pandu itu berujud bungkus yang sulit dibuka. Atas kejadian ini Betara Guru, Dewa Siwa mengutus Gajahsena, Ganesya, putranya untuk memecahkan bungkus Bima. Usaha tersebut berhasil dan diberikannya pakaian khusus pada Bima yang kemudian diberi nama Bratasena. Paparan kisah Bima Bungkus pada relief ini inti ceritanya yaitu terbebasnya Bima dari ancaman kematian, karena lahir terbungkus ari-ari yang tidak dapat pecah. Ganesya menolong meruwat Bima hingga dilahirkan.

. Ada juga patung seperti obelisk di Mesir, yang menyiratkan cerita Garudeya. Cerita Garudeya merupakan cerita “ruwatan” pula. Ceritanya adalah bahwa Garuda mempunyai ibu bernama Dewi Winata yang menjadi budak salah seorang madunya yang bernama dewi Kadru. Dewi Winata menjadi budak Kadru karena kalah bertaruh tentang warna ekor kuda Uchaiswara. Dewi Kadru menang dalam bertaruh sebab dengan curang dia menyuruh anak-anaknya yang berujud ular naga yang berjumlah seribu menyemburkan bisa-bisanya di ekor kuda Uchaiswara sehingga warna ekor kuda berubah hitam Dewi Winata dapat diruwat sang Garuda dengan cara memohon “tirta amerta” air kehidupan kepada Batara Guru, Dewa Siwa.

Di sebelah kiri jalan setapak terdapat Arca Garuda dua buah berdiri dengan sayap membentang. Salah satu arca garuda itu ada prasasti menandai tahun saka 1363. kedua arca tersebut hilang kepalanya. Menurut cerita, pada waktu Raja Brawijaya terakhir mengungsi ke Sukuh di lereng Gunung Lawu, pasukan Kediri mengejar mereka, Raja Brawijaya menyingkir ke puncak Gunung Lawu dan akhirnya diberi gelar Sunan Lawu dan moksa di sana, menjadi penguasa Gunung Lawu. Sedangkan pengikut Brawijaya menyingkir ke sekitar daerah Sukuh. Pasukan Kediri yang marah memenggal kepala kedua Garuda tersebut. Kepala melambangkan Brahma, pencipta, pikiran. Anggota badan bagian tengah melambangkan Wisnu, pemelihara dan perut ke bawah melambangkan Siwa, pendaur ulang. Konon dengan terpenggalnya kepala Garuda terkutuklah anak keturunan Majapahit sehingga mereka hidup dalam kebodohan, tanpa pikiran jernih. Mereka harus diruwat agar mendapatkan pikiran jernih kembali. Lambang Garuda Pancasila penting untuk membangkitkan pikiran jernih, sayang masyarakat kurang paham bahkan ada yang ingin menggantinya dengan lambang langit yang lain.

Pada teras ketiga ini juga terdapat Patung Kura-Kura besar di depan candi yang merupakan symbol dari Awatara Visnu, yaitu KURMA AWATARA. Dewa Wisnu mengambil suatu bentuk dalam dunia material, guna menyelamatkan dunia dari kehancuran dan kejahatan, menegakkan dharma dan menyelamatkan orang-orang yang melaksanakan Dharma/Kebenaran. Sang Kura-Kura sebagai perwujudan dewa Wisnu (pemelihara dunia) menjadi tempat tumpuan membantu para dewa memutar dan mengaduk-aduk samodra dengan gunung Mandara, untuk mendapatkan TIRTA AMERTA (air kehidupan). Barang siapa entah itu manusia, dewa, raksasa, asura meminum air kehidupan itu maka ia akan terbebas dari kematian dan mengalami hidup dalam keabadian. Arca kura-kura yang cukup besar tersebut berjumlah tiga ekor yang konon melambangkan 3 dunia.

Pada sebelah kanan jalan batu terdapat terdapat candi kecil, yang di dalamnya terdapat arca dengan ukuran yang kecil pula. Menurut mitologi setempat, candi kecil itu merupakan kediaman Kyai Sukuh penguasa ghaib kompleks candi tersebut. Menurut Pak Haryono, apabila dapat memotret candi dan dari dalam candi kecil tersebut keluar sinar, maka yang memotret sudah spiritual. Hasil jepretan Ma Upasana nampak ada sinar di dalam dan dibandingkan dengan jepretan awal yang tidak ada sinarnya kelihatan perbedaannya dengan jelas.

Pada pelataran itu juga terdapat meja persembahan dari tumpukan batu dengan tinggi 85 cm. Candi induk dapat dinaiki dengan tangga yang cukup curam, dan di atasnya terdapat tempat datar yang cukup luas.

Dari relief, obelisk dan arca di candi Sukuh, banyak didapati symbol-symbol seksual. Symbol-symbol tersebut mengarahkan kita pada suatu aliran penganut paham Tantrayana.

Penjelasan Tantra dalam buku “Jalan Kesempurnaan Melalui Kamasutra”

Tantra merupakan suatu revolusi dalam bidang spiritual. Tantra berarti latihan, eksperimen atau cara – bereksperimen dengan energi yang berada dalam diri kita sendiri, yang selama ini kita sebut energi seks, untuk meningkatkan kesadaran kita. Itulah tujuan Tantra. Para pemuka agama cenderung memisahkan yang duniawi dan rohani. Walaupun kadang-kadang tidak secara eksplisit, tidak dengan terbuka, tetapi secara implisit, hal-hal yang bersifat duniawi dipisahkan dari hal-hal yang dianggap bersifat rohani. Itulah sebabnya, selama bertahun-tahun pembicaraan tentang seks saja dianggap tabu. Para pendidik agama yang seharusnya juga berfungsi sebagai pendidik dalam bidang seka, tidak pernah bicara tentang seks.

Pendirian Tantra lain. Menurut ajaran-ajaran Tantra, Anda tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama. Dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar Anda ke puncak kesadaran rohani. Bagaimana Anda dapat meninggalkan dunia ini? Seorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, Anda tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran Anda.

Dari Napsu Birahi ke Kasih Ilahi, dicuplik dari Buku Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra

Seks mengawali kehidupan manusia. Seks merupakan sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan kita. Hubungan seks antara kedua orang tua kita melahirkan kita. Kesadaran seks berpusat pada bagian tubuh di bawah pusar. Di atas pusar, sekitar jantung, dada kita merupakan pusat kesadaran cinta. Cinta berkembang di situ. Emosi mulai bergejolak di situ. Anda harus meningkatkan kesadaran Anda sedikit – dari bawah pusar ke atas pusar. Selama kesadaran Anda masih di bawah pusar, Anda belum dapat mengenal cinta. Yang Anda kenal selama ini, hanyalah napsu birahi. Paling atas, sekitar kepala kita, merupakan bersemayamnya Kasih. Demikianlah tingkatan kesadaran setiap manusia. Tingkat awal adalah seks, tengah adalah cinta dan atas adalah kasih. Passion, love, and compassion.

Pembagian yang saya lakukan ini berdasarkan pusat-pusat energi yang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Ini disebut cakra – lingkaran-lingkaran energi. Sentra-sentra energi yang berada di sekitar pusar, dada dan kepala merupakan sentra-sentra energi penting sekali, yang dapat meningkatkan kesadaran manusia.

Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan dengan seks. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion , napsu. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa.

Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu seseorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terhadap alam semesta, Anda adalah seorang pengasih. Compassion berarti passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap yang abstrak, Yang Tak dapat dijelaskan. Apabila Anda mengasihi setiap makhluk – segala sesutau yang ada dalam alam ini – apabila Anda mengasihi alam semesta ini, Anda adalah seorang Buddha, seorang Mesias.

Renungan Tentang Kisah Bathari Durga, Konflik Pikiran Dan Kembalinya Kesadaran pada Candi Sukuh

Renungan Tentang Kisah Bathari Durga, Konflik Pikiran Dan Kembalinya Kesadaran pada Candi Sukuh



Sepasang suami istri setengah baya baru saja mengenang perjalanan dengan Guru dan sahabat-sahabatnya ke Candi Sukuh beberapa tahun yang lalu. Candi Sukuh terletak pada ketinggian kurang lebih 1.186 meter di atas permukaan laut di Lereng Gunung lawu. Candi tersebut terletak di desa Sukuh, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah kurang lebih 34 kilometer dari kota Surakarta. Sebuah candi peninggalan Kerajaan Majapahit yang penuh dengan makna.

Sang Istri: Di salah satu relief dinding batu Candi Sukuh digambarkan adanya sebuah kisah. Dewi Uma sedang bingung karena suaminya Bathara Guru, mengalami sakit parah. Dewi Uma diberitahu bahwa hanya air susu lembu hitam yang bisa mengobati penyakit suaminya. Karena cintanya terhadap sang suami, Dewi Uma berupaya mencari dimana-mana, tetapi air susu lembu hitam itu belum ketemu juga. Dalam keputusasaannya Dewi Uma akhirnya bertemu dengan lembu hitam yang dijaga seorang penggembala. Dengan mengemis-ngemis, Dewi Uma mohon sang penggembala untuk memberikan air susu lembu hitam tersebut sebagai obat suaminya. Tetapi sang penggembala ngotot tidak akan mau menyerahkan air susu lembu hitamnya, kecuali Sang Dewi menyerahkan tubuhnya. Dewi Uma berada dalam dilema, tidak mau melayani, sang suami tercinta akan meninggal dunia. Tetapi bila ingin sang suami hidup, dirinya akan ternoda. Perang pikiran yang terjadi dalam batinnya demikian hebatnya. Kegelisahan yang mencekam mencengkeram dirinya. Dia tak dapat berpikir jernih lagi dan akhirnya dengan pengorbanan diri, air susu lembu hitam dapat diperolehnya. Denganair susu lembu hitam, Bathara Guru sembuh dari penyakitnya. Setelah sembuh, Bathara Guru menyampaikan bahwa yang membuat sakit adalah Bathara Guru pribadi. Yang menjadi penggembala pun Bathara Guru sendiri. Dikisahkan bahwa Dewi Uma yang telah memutuskan terjadinya perselingkuhan perlu melakukan introspeksi. Dia menjadi penunggu Hutan Krendhawahana bernama Bathari Durga. Wujudnya menjadi raksasa tinggi besar dan sangat menyeramkan bagi manusia. Bhatari Durga boleh memangsa manusia yang tersesat masuk ke dalam wilayah hutannya. Setelah dua belas tahun Bathari Durga hidup di rimba belantara, dia diruwat oleh Raden Sadewa, saudara bungsu dari Pandawa. Raden Sadewa diajari Bathara Guru bagaimana cara meruwat Bathari Durga. Akhirnya Dewi Uma wajahnya kembali menjadi cantik seperti sedia kala. Raden Sadewa diberi gelar Ki Sudamala, “Penyembuh Luka”. Kisahnya pun disebut Ruwatan Sudamala.

Sang Suami: Sebuah dongeng lembut yang bercerita tentang ketidakmampuan pikiran mengambil keputusan. Setiap pikiran akan mengambil suatu keputusan, dia selalu direcoki oleh adanya alternatif pikiran yang berlawanan. Akhirnya, pikiran selalu berada dalam keraguan. Pikiran menjadi cemas, gelisah dan penuh ketakutan. Pertama-tama mari kita perhatikan tentang “kegelisahan”…… Gelisah itu sangat manusiawi, Arjuna menghadapi hal serupa di tengah pasukan yang akan berlaga dalam perang bharatayudha. Dalam Bhagavad Gita Sri Krishnalah pembimbing Arjuna. Bukan hanya Arjuna, kita semua pernah mengalaminya. Semuanya mempunyai pengalaman tersendiri dengan solusi unik yang dianggap paling bijaksana….. Para leluhur selalu membayangkan perang bharatayudha terjadi di dalam diri. Arjuna dan Sri Krishna pun berada dalam diri. Menghadapi masalah yang sulit dipecahkan pikiran, maka Sang Arjuna bertanya kepada Sri Krishna, pikiran jernih atau kesadaran atau Gusti atau apa pun istilahnya, yang bersemayam di dalam diri. Bila ragu, bila bimbang, bila gelisah tanyalah kepada Sri Krishna yang bersemayam dalam diri. Dialah Sang Mahaguru Sejati. Setelah berpikir dengan jernih mencari solusi, serahkan semuanya kepada Gusti. Apa pun yang akan terjadi, semuanya pasti demi kebaikan diri. Dengan demikian, dalam pengambilan keputusan tak ada kebimbangan lagi.

Sang Istri: Dalam keadaan bergejolak akibat konflik dari pikiran, Dewi Uma kehilangan pandangan jernihnya. Dia kemudian bertindak menuruti salah satu pikirannya, lalu dia membenarkan semua tindakannya dan mempersiapkan berbagai alasan yang masuk logika.

Sang Suami: Pikiran mempunyai arsip ingatan yang sangat kaya. Sebelum bertindak, pikiran senantiasa lebih dulu memeriksa arsipnya. Pikiran selalu membanding-bandingkan antara keputusan yang satu dengan lainnya. Pikiran selalu membingungkan dan menciptakan keraguan dalam diri manusia…….. Pikiran bersifat pemilih, ingin mengulangi yang disukai, menghindari yang tidak disukai dan cuek terhadap sesuatu yang tidak ada kaitan dengan dirinya. Pikiran tidak netral dalam menghadapi suka dan duka. Dibawah kendali pikiran, seseorang seseorang hanya memilih yang disukainya. Padahal yang disukainya tidak abadi adanya. Dia akan mengalami suka duka sepanjang masa…….. Pikiran selalu siaga dengan adanya penolakan. Bertahun-tahun akal pikiran menjauhkan diri dari hal-hal yang tidak menyenangkan. Mungkin dia berhasil membuat seseorang cerdas tetapi tidak berhasil untuk membuat tentram damai dan penuh kebahagiaan.

Sang Istri: Dewi Uma diminta hidup di Hutan Krendawahana, dia diminta menjalani hidup di dunia yang berlaku hukum rimba. Di dalam rimba tersebut, siapa yang kuat akan menang dan menjadi penguasa. Dia beralih wujud menjadi Batahari Durga yang boleh makan manusia yang tersesat masuk rimba. Manusia yang tersesat dalam rimba, adalah manusia yang menjadikan pikirannya sebagai penguasa dirinya. Saat seseorang dapat mengendalikan pikirannya dan menaikkan kesadaran sebagai penguasa dirinya, maka dia telah melepaskan diri dari jerat Hutan Pikiran Krendhawahana. Pikirannya digunakan sebagai alat kesadaran untuk berkarya dengan kasih terhadap sesama.

Sang Suami: Sadewa me-“ruwat” artinya mengembalikan diri seseorang menjadi bersih seperti semula. Sadewa dipandu Bathara Guru, Sang Guru yang bersemayam dalam hati manusia. Sadewa setiap saat hanya melakukan persembahan kepada Yang Maha Kuasa. Dikisahkan dia pun rela mempersembahkan nyawanya. Agar Bathari Durga kembali menjadi Dewi Uma dan bersatu dengan Bathara Guru, suaminya. Persembahan adalah salah satu cara, cara pertama melampaui pikiran menuju penyatuan yang dikenal sebagai Bhakti Yoga. Tubuh boleh tua dan akhirnya mati sesuai kodratnya, tetapi pikiran, ucapan dan tindakan penuh kasih dapat dilakukan setiap saat sepanjang masa. Semboyan yang hampir sama, adalah bahwa hidup adalah ibadah sepanjang masa. Dalam fungsi melampaui pikiran, menuju penyatuan maka dikenal beberapa cara. Cara kedua adalah bekerja terus tanpa pamrih apa pun juga, yang dikenal sebagai Karma Yoga. Terus berkarya demi sesama dan demi alam semesta tanpa mengharapkan imbalan apa pun juga. Cara ketiga melalui permenungan yang dalam, yang akhirnya paham pikiran itu bukan jatidirinya. Pikiran sesaat datang sesaat pergi, sedangkan jatidiri selalu ada, caranya disebut Jnana Yoga. Cara keempat dikenal sebagai Raja Yoga. Pikiran selalu berpikir tentang sesuatu di luar dirinya. Meniti ke dalam diri membingungkannya. Kemudian pada saat tidur pulas atau “deep sleep”, segalanya kosong tak ada apa-apa. Pada saat itu pikiran terlampauilah pikirannya. Begitu bangun tidur pikiran datang lagi dan diri menjadi ada. Dengan mengatur napas, pikiran menjadi tenang dan bisa dikendalikannya. Konon para yogi dapat begitu tenangnya, sehingga mereka mengalami “deep sleep” dalam keadaan terjaga.

Sang Istri: Semuanya diawali dengan pikiran. Pikiran itulah yang menimbulkan Keinginan. Kemudian, Keinginan mendorong adanya Perbuatan atau Tindakan. Dan, Perbuatan atau Tindakan itulah yang mementukan Pengalaman. Kumpulan dari pengalaman adalah Kehidupan.

Sang Suami: Pikiran tidak perlu diupayakan. Kita lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payah di masa lalu kita. Yang membentuk lapisan-lapisan alam pikiran bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upaya kita. Pikiran telah membentuk kita. Kesadaran dapat mengubahnya. Pikiran adalah program yang sudah ter-“install” dalam diri kita. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, dan ada impian pula. Program ini sudah baku, sehingga seluas-luasnya program kita tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kita dari segala macam program. Pikiran memperbudak diri kita. Kesadaran membebaskannya.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Dewa!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Kisah Bathari Durga, Konflik Pikiran Dan Kembalinya Kesadaran

  1. Semoga Kesadaran selalu membimbing kita,menerangi dan menjernihkan pikiran kita, sahingga tidak salah langkah dan jatuh bangun selamanya.
  2. Semoga kesadaran membimbing, menerangi dan menjernihkan pikiran.
  3. Semoga kita selalu berada dalam kesadaran, sehingga tidak salah jalan setiap mengambil keputusan.
  4. Memang pikiran selalu terbatas, dia hanya bisa berpikir sesuai apa yang telah diketahuinya, sementara itu utk memahami semuanya ini, diperlukan kesadaran diri, yang benar-benar bisa melampaui pikiran, sekaligus melepaskan diri dari dualitas.
  5. Semuanya diawali dengan pikiran. Agar pikiran jernih, dia harus dibawah kendali kesadaran.
  6. Pikiran tak pernah reseptif, dia selalu memilih yang mendatangkan rasa suka. Sehingga pikiran kurang kreatif dan selalu masuk ke dalam dualitas. Kesadaran bersifat reseptif, terbuka.
  7. Cerita tentang Dewi Uma menjadi Dewi Durga menjadi salah satu contoh bahwa manusia selalu bimbang dengan segala keputusan yang akan diambil, bimbang menghasilkan kecemasan, sedangkan cemas akan membuat hidup tidak nyaman, tidak bahagia, tidak seimbang.
  8. “Pengetahuan yang diperoleh dari Guru pun menghasilkan ampas pikiran dan perasaan lama yang harus dibuang jauh-jauh. Pikiran dan perasaan itu adalah bagian dari masa lalu yang harus keluar dari sistem kita. Satu virus yang bersarang di dalam komputer kita merusak seluruh data yang ada di dalamnya. Satu pikiran lama cukup untuk merusak seluruh program baru yang diterima dari guru.” (life workbook).
  9. Setiap proses selalu ada “by product”-nya, seperti proses pencernaan kita. Katarsis, pembersihan harus dilakukan setiap saat.
  10. Dampak pikiran memang luar biasa. Kadang berbuah manis, kdang pula berbuah pahit, dan ada pula yang tidak berbuah apa-apa. Hasil pikiran memang tak bisa menjadi patokan utama.
  11. Harus terus belajar untuk menunggangi pikiran dengan kesadaran……menjadi kusir (kesadaran) dengan keadaan yang selalu “terjaga” agar bisa mengendalikan kuda (pikiran) biar tidak terlalu liar…hehehe…..belajar untuk selalu sadar dan terjaga.
  12. Bagaimana cara melepaskan diri dari kekotoran batin dengan menyadari bahwa kita sedang berkutat dalam lumpur kekotoran batin itu, atau seperti Bathari Durga dalam hutan itu. Namun bukan berarti kita menunggu Sang Guru atau para master lainnya datang menyucikan kita, melainkan kita sendiri yang juga jadi Guru atau Lama diri sendiri, setelah menerima bimbingan dari Guru Akar, berusaha dengan gigih keluar dari kubangan lumpur itu, dan membersihkan diri dari sisa-sisa nodanya, dan kembali melanjutkan perjalanan kehidupan.
  13. Bagaimana apabila seseorang tidak bertemu dengen seorang Guru? Kebetulan Naropa mendapatkan master seperti Tilopa. Dia sangat beruntung. Ada hukum alam dan hukum alam ini bekerja rapi sekali. Tidak pernah salah. Tidak pernah gagal. Sesungguhnya, dunia ini penuh dengan para master.
  14. Hanya saja ada master yang berperan sebagai Vyaktinath – individual master. Mereka mengajar kepada individu-individu tertentu. Mereka tidak tidak menjadi populer. Mereka tidak dikenal oleh banyak orang. Kemudian, ada para master yang bisa disebut Lokanath – World Master. Atau lebih tepatnya Popular Master. Sesungguhnya Vyaktinath pun sama cerahnya seperti Lokanath. Hanya saja tugas mereka berbeda. Yang pertama mengajar individu, yang kedua mengajar dunia. Tilopa, misalnya, bukanlah seorang Lokanath. Dia seorang Vyaktinath. Jumlah muridnya terbatas. Hanya satu, yaitu Naropa yang menonjol. Kemudian, Naropa sendiri masih juga Vyaktinath, masih mengurusi beberapa individu saja. Murid dia, Marpa, bisa disebut Lokanath. Dan karena Marpa pula, Tilopa dan Naropa menjadi populer. Kita sungguh beruntung. Perkembangan teknologi informasi berhasil mendekatkan kita dengan para Tilopa dan Naropa. Kelemahan para Guru Lokanath hanya satu: Mereka bicara dengan segala lapisan masyarakat. Itu sebabnya bahasa mereka sangat umum. Mereka tidak bisa memasuki hal-hal yang bersifat teknis. *Tantra Yoga, AK.
  15. Ini adalah catatan pangruwating diyu. Pikiran adalah salah satu wujud diyu (butho). dari pikiran yang memperbudak dan langgeng–kemudian bagaimana pikiran dapat menjatuhkan kesadaran masusia, yang kemudian menjadi seorang sukerto–sampai dengan bagaimana Ki Sudamala meruwat pikiran-pikiran yang menjatuhkan kesadaran. Bethara Guru dan Bethari Durga adalah langgeng adanya.dan Ki Sudamala sebagai pelaku diwilayah kemanusiaan adalah sangat dibutuhkan keberadaannya.Ki Sudamala adalah para Nabi; para Avatar;dan para Guru.
  16. Energi dalam tubuh manusia berpusat disekitar pusar. Pembangkitnya berada di situ. Lalu, biasanya ada dua kemungkinan. Mengalir ke bawah, atau mengalir ke atas. Jika mengalir ke bawah, instink-instink hewani dalam diri manusia akan terstimuli. Instink-instink hewani yang kita warisi berkat evolusi panjang itu akan bangkit kembali dan mencari mangsanya. Kemudian, demi kenyamanan diri, kita bisa mencelakakan apa saja. Sebaliknya, jika mengalir ke atas, energi itu akan membuat anda menjadi lebih kreatif dan konstruktif. Anda akan menjadi unik, orisinil dan karena itu anda akan menjadi berkah bagi lingkungan sekitar anda. *Medis dan Meditasi, AK
  17. Menurut filsafat Yoga, seperti yang dijabarkan oleh Patanjali dan lainnya, ada tujuh lapis kesadaran, digambarkan sebagai chakra atau roda. Tiga chakra pertama adalah kebutuhan dasar, makan/minum, seks, dan tidur. Ini adalah kebutuhan yang dilakukan oleh hewan juga. Cakra keempat adalah cinta yang membedakan kita dari dunia hewan. Tiga lapisan terakhir adalah lapisan pemurnian, perluasan pandangan, dan pencerahan. Lapisan-lapisan ini membawa kita menuju Yang Maha Kuasa, menuju Keilahian. Jadi, menurut yoga, kita semua menuju ke arah yang sama, Tuhan. *the Fool, AK……Perubahan dari sifat raksasa ke manusia adalah perpindahan dari kesadaran seks yang hanya ingin menerima menjadi kasih yang lebih banyak memberi dan melayani.

Terima Kasih

Salam __/\__

Renungan Tentang Lambang Lingga dan Yoni di Candi Sukuh, Pendayagunaan Energi Alam Semesta Bagi Peningkatan Kesadaran Manusia

Renungan Tentang Lambang Lingga dan Yoni di Candi Sukuh, Pendayagunaan Energi Alam Semesta Bagi Peningkatan Kesadaran Manusia



Sepasang suami istri setengah baya sedang memperbincangkan Lambang Lingga dan Yoni. Mereka pernah masuk Candi sukuh dan menemukan beberapa lambang ini. Buku-buku karya Bapak Anand Krishna “Jalan Kesempurnaan melalui Kamasutra” dan “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra”, dijadikan sebagai referensi.

Sang Suami: Manusia bisa disebut “homo simbolicus”, makhluk pengguna simbol-simbol sebagai alat untuk menggambarkan fenomena-fenomena abstrak maupun nyata. Simbol-simbol tersebut ada yang dapat digunakan sebagai alat peningkat kesadaran manusia. Di antara simbol peningkat kesadaran, Lingga digunakan sebagai simbol dari Energi Maskulin, “Yang”, Pria dan Yoni dipakai sebagai simbol dari Energi Femin, “Yin”, Wanita. Lingga dan Yoni adalah jalur energi Ilahi di tubuh manusia dan di alam semesta….. Penyatuan Lingga dan Yoni melahirkan sesuatu yang baru, yaitu penciptaan. Perpaduan lingga dan yoni tersebut melambangkan penciptaan dunia dan kesuburan. Tanpa penyatuan tak ada generasi lanjutan…… Tugu adalah simbol dari Lingga, sedang Yoni sering diwujudkan sebagai Gapura. Tugu Monas juga melambangkan Lingga dan Yoni yang diletakkan di tengah taman di depan istana negara. Simbol Bintang Daud yang juga merupakan simbol Tantra berwujud bintang segi enam atau dua buah segitiga. Segitiga di bawah yang sisinya membuka ke atas adalah simbol wanita. Sedangkan simbol segitiga di atas yang sisinya membuka ke bawah adalah simbol pria. Simbol tersebut merupakan penyatuan juga.

Sang Istri: Bagi masyarakat Yogyakarta, Laut Selatan dianggap sebagai lambang Yoni dan Gunung Merapi di Utara sebagai lambang Lingga. Panggung Krapyak Selatan sebagai Yoni, Tugu Utara sebagai Lingga. Bahkan ada yang menyebut Monumen Yogya Kembali sebagai tumpeng raksasa. Gunung Merapi – Monumen Yogya Kembali – Tugu – Kraton – Panggung Krapyak – Laut Selatan, yang merupakan “Garis Lurus Imajiner” sampai sekarang masih dihormati masyarakat Yogyakarta. Dan menurut kepercayaan, bersatunya Lingga dan Yoni di Kraton akan menimbulkan kemakmuran bagi Yogyakarta…. Di depan Kraton Kanoman, Cirebon juga terdapat lambang Yoni dan Lingga. “Lumpang” sebagai simbol Yoni dan “Alu Besar” sebagai Lingga….. Di desa-desa alat penumbuk padi zaman dulu berwujud “lesung dan alu” juga merupakan simbol Yoni dan Lingga. Padi yang ditumbuk diharapkan membuat makmur dan sejahtera. Simbol Lingga dan Yoni mudah dipahami oleh semua manusia. Dipahami semua manusia yang telah terprogram oleh kepercayaan yang berbeda. Karena simbol Lingga dan Yoni bersifat mendasar, polos dan sederhana.

Sang Suami: Ada pandangan yang mengungkapkan bahwa arca Ganesha menggambarkan misteri penyatuan alam semesta secara tantra. Makhluk yang perkasa ini melambangkan kedashyatan energi penyatuan alam semesta. Belalainya melambangkan keperkasaan sebuah lingga dan mulutnya yang lebar melambangkan yoni, perpaduan antara purusha dan prakriti, pria dan wanita. Ganesha sebagai lambang spiritual, pengetahuan kesadaran dan penyatuan adalah hasil sinergi dari Tri-murti dan Tri-shakti. Yaitu pasangan kekuatan Brahma-Saraswati, Shiwa-Kali dan Wishnu-Lakshmi. Brahma-Saraswati melambangkan kekuatan alam penciptaan. Shiwa-Kali melambangkan kekuatan alam pendaur ulangan. Wishnu-Lakshmi melambangkan kekuatan alam pelindung dan pemelihara kehidupan. Doa Ganesha selalu dilakukan di awal sebagai doa pembukaan.

Sang Istri: Para Leluhur beranggapan “Bahwa segala sesuatu ada awal-nya”. Pengajaran ini divisualisasikan dalam Relief Pertemuan Lingga dan Yoni di Candi Sukuh yang saling berhadapan pada lantai gerbang utama. Relief Pertemuan Lingga dan Yoni tersebut juga merupakan “candra sangkala” yang berbunyi : “ Wiwara Winirasa Hanahut Jalu “ secara harafiah berarti “lobang kenikmatan menggigit kejantananan” yang bermakna angka tahun 1359 Tahun Saka. Atau tahun 1437 Masehi, tahun penanda diawalinya pembangunan candi di sana.

Sang Suami: Penyatuan atau sanggama menggambarkan proses hubungan timbal balik dan keharmonisan yang terjadi di alam semesta. Sanggama bukan hanya dalam hubungan fisik, tetapi juga interaksi keseharian dengan objek di sekitarnya. Kesempurnaan akan tercapai apabila interaksi tersebut berada dalam irama keharmonisan. Kegiatan “sanggama dengan alam” dapat dilihat dalam keseharian hubungan sosial antar individu, dan persembahan hubungan spiritual antara atma dengan Brahman, antara jiwa dengan Tuhan.

Sang Istri: Penyatuan adalah intisari kehidupan keilahian yang diwariskan dari masa ke masa, dari mahluk ke makhluk, dari fauna ke fauna, dan dari flora ke flora. Adalah anugerah alam yang menakjubkan, yang luar biasa. Penyatuan berasal dari alam semesta. Proses regenerasi menunjang alam semesta. Alam menambahkannya dengan gairah, nafsu dan makna-makna rahasia yang sering disalah gunakan oleh manusia yang tidak dapat memahaminya. Karena pikirannya yang telah terpola oleh program kepercayaan yang berlangsung sejak masa balita.

Sang Suami: Ahli Ilmu Jiwa, Sigmund Freud mempunyai kajian perkembangan psikologi seksual pada manusia. Insting seksual seorang anak telah tampak sejak awal masa kehidupannya, seperti naluri mengisap Air Susu Ibu dan juga mengisap jarinya. Anak-anak cenderung bersifat autoerotik, yaitu memuaskan dirinya dengan menggunakan bagian tubuhnya, seperti dengan mengisap ibu jari atau menyentuh organ genitalnya. Demikian adalah hal yang wajar dalam perkembangan kehidupan manusia.

Sang Istri: Suamiku, mari kita mengkaji dengan buku-buku Bapak Anand Krishna. “Kama” atau Nafsu adalah “an integral part of life”, bagian yang tak terpisahkan dari hidup manusia. Dan, “Sutra” atau pedoman suci yang berkaitan dengannya. Kama semestinya keinginan kuat, keinginan tunggal, untuk menemukan Jati Diri. Sementara ini, keinginan kita masih bercabang, terdorong oleh hawa nafsu, kita menginginkan kenyamanan duniawi, kepentingan pribadi. Pelan-pelan, tanpa memaksa, kita harus mengarahkan keinginan ini kepada diri sendiri. Dari sekian banyak keinginan, kita menjadikannya satu keinginan untuk Menemukan Jati Diri.

Sang Suami: Bila kita memahami Kama sebagai keinginan, maka energi seks adalah sarana untuk mewujudkan keinginan itu. … Energi seks yang sesungguhnya adalah Energi Dasar di dalam diri kita, merupakan sarana untuk mewujudkan hal itu. Bila “kenikmatan” dipahami sebagai tujuan Kama, maka tentunya kenikmatan yang kita inginkan bukanlah kenikmatan sesaat saja. Kita sudah pasti menginginkan kenikmatan yang tidak semu yang dapat bertahan selamanya. Dan, kata lain bagi kenikmatan semacam ini adalah Kebahagiaan. Kebahagiaan yang langgeng, kekal, abadi, bebas dari segala macam persyaratan. Kebahagiaan yang membebaskan.

Sang Istri: Energi di dalam diri, yang selama kita “merasa”, kita “memikir” bahwa diri kita terpisah dari alam sekitar kita, adalah energi seks, “Sexual Energy”. Energi di dalam diri jika kita “merasa”, kita “memikir” bahwa diri kita adalah bagian yang tak terpisahkan dari alam sekitar kita, dari Lautan Energi di sekeliling kita, itulah Kundalini, Potential Energy”. Pikiran kita, perasaan kita dapat mengubah energi seks menjadi Kundalini, sehingga kita dapat mengembangkan potensi diri. Sebab itu, Proses atau Tantra, cara mengubah pikiran serta perasaan ini pun sesungguhnya menggunakan pikiran dan perasaan sendiri. Gunakan pikiran, mind dengan penuh kesadaran untuk mengubah cara pandang yang lama, yang keliru. … Tantra adalah sebuah eksperimen dengan mind, dengan pikiran, demikian penjelasan bapak Anand Krishna seperti tersebut dalam buku. Bila ingin merasakan Kehadiran Yang Maha Hadir, Maha Hidup, dan Maha Ada – maka belajarlah untuk menghormati segala sesuatu di sekitarmu. Benda-benda yang selama ini dianggap mati, sesungguhnya tidak mati, semuanya hidup hanya cara pandang lama kita yang keliru.

Sang Suami: Vatsyayana mengajak kita untuk mengurusi dulu nafsu birahi. Karena Ilahi tidak dapat dirasakan kehadiran-Nya, selama kita masih terkendali oleh birahi. Birahi menyeret kesadaran kita ke bawah, sedangkan Ilahi membutuhkan kesadaran kita berada di tempat tinggi. Tetapi juga tidak berhenti di ketinggian itu saja. Dari ketinggian tersebut, kesadaran kita meluas, meliputi segalanya… termasuk birahi yang kemudian menjelma sebagai birahi yang ditujukan kepada Ilahi. Tantra merupakan suatu revolusi dalam bidang spiritual bagi manusia. Tantra berarti latihan, eksperimen atau cara. Bereksperimen dengan energi yang berada dalam diri kita sendiri, yang selama ini kita sebut energi seks, untuk meningkatkan kesadaran kita. Itulah tujuan Tantra. Para pemuka agama cenderung memisahkan yang duniawi dan rohani. Walaupun kadang-kadang tidak secara eksplisit, tidak dengan terbuka, tetapi secara implisit, hal-hal yang bersifat duniawi dipisahkan dari hal-hal yang dianggap bersifat rohani. Itulah sebabnya, selama bertahun-tahun pembicaraan tentang seks dianggap tabu. Para pendidik agama yang seharusnya juga berfungsi sebagai pendidik dalam bidang seks, tidak pernah bicara tentang hal itu.

Sang Istri: Menurut ajaran-ajaran Tantra, kita tidak usah melepaskan yang duniawi untuk mencapai kesadaran rohani. Yang duniawi dan rohani bisa jalan bersama, dunia merupakan anak tangga yang dapat mengantar ke puncak kesadaran rohani. Bagaimana kita dapat meninggalkan dunia ini? Seorang yang dapat mencapai kesadaran spiritual adalah seorang yang sudah puas dengan segala sesuatu yang bersifat duniawi. Kalau belum puas, kalau masih ada obsesi terhadap benda-benda duniawi, kita tidak akan berhasil meningkatkan kesadaran diri.

Sang Suami: Seks mengawali kehidupan manusia. Seks merupakan sesuatu yang paling mendasar dalam kehidupan kita. Hubungan seks antara kedua orang tua melahirkan kita. Kesadaran seks berpusat pada bagian tubuh di bawah pusar manusia. Di atas pusar, sekitar jantung, di dada merupakan pusat kesadaran cinta. Cinta berkembang di dada. Emosi mulai bergejolak di sana. Kita harus meningkatkan kesadaran dari bawah pusar ke atas pusar manusia. Selama kesadaran masih di bawah pusar, kita belum dapat mengenal cinta. Yang kita kenal selama ini, hanyalah napsu birahi saja. Paling atas, sekitar kepala, merupakan bersemayamnya Kasih, demikianlah tingkatan kesadaran setiap manusia. Tingkat awal adalah seks, tengah adalah cinta dan atas adalah kasih. Passion, love, and compassion. Pembagian yang dilakukan Bapak Anand Krishna ini berdasarkan pusat-pusat energi yang mempengaruhi kehidupan kita sehari-hari. Ini disebut cakra, lingkaran-lingkaran energi. Sentra-sentra energi yang berada di sekitar pusar, dada dan kepala merupakan sentra-sentra energi penting sekali, yang dapat meningkatkan kesadaran diri.

Sang Istri: Napsu atau passion hendaknya tidak selalu dikaitkan dengan seksual saja. Obsesi dengan harta atau kekayaan, dengan nama atau ketenaran dan dengan jabatan atau kedudukan semuanya adalah passion, napsu juga. Semuanya ini terjadi apabila kita belum mengalami peningkatan kesadaran. Mereka yang terobsesi oleh seks, oleh harta, oleh nama, oleh jabatan tidak akan mengalami cinta dalam kehidupan. Mereka belum tahu cinta itu apa. Kasih atau compassion adalah birahi terhadap alam semesta. Bila napsu seseorang dapat ditingkatkan menjadi birahi terhadap alam semesta, dia adalah seorang pengasih. Compassion berarti passion terhadap alam semesta, terhadap Tuhan, terhadap yang abstrak, Yang Tak dapat dijelaskan. Apabila seseorang mengasihi setiap makhluk, segala sesutau yang ada dalam alam ini, apabila dia mengasihi alam semesta ini, dia adalah seorang “Yang Terjaga”. Lingga dan Yoni bukan hanya sebuah lambang tetapi pelajaran spiritual yang sangat berharga.

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Dewa.

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Lambang Lingga dan Yoni di Candi Sukuh, Pendayagunaan Energi Alam Semesta Bagi Peningkatan Kesadaran Manusia

  1. Luar biasa leluhur nusantara telah memahami proses penciptaan alam semesta. Banggalah jadi putra nusantara….
  2. Seks adalah energi. karena ia adalah energi maka tidak melulu berkaitan dengan seksual saja. seks adalah energi dalam hal ini berarti libido. libido berarti keinginan (KAMA), dan napsu juga berarti keinginan (passion). Tugas kita kemudian menyadari cakra (energi/keinginan/Kama) di tingkat awal adalah seks, menuju tengah adalah cinta dan puncaknya adalah kasih. Passion, love, and compassion. Bukan terjerumus kepada hawa napsu (=keinginan rendah).
  3. Energi Kasih adalah perluasan dari energi sex. Kalau kita menafikan sex,maka Kesadaran Kasih hanya menjadi impian belaka,dan perilaku kita makin kaku,alot,keras dgn mengaku sok suci. Bersyukurlah krn budaya kita mengajarkan utk memberdaya energi sex.
  4. Para yogi mengolah pikiran dengan metode yang tepat secara bertahap menuju kekosongan, KASUNYATAAN. Untuk metode tantra yang sering dijumpai bentuk-bentuk seksualitas secara simbolis, Buddha vajradhara/samantabadhra memangku dakini, sang Buddha adalah simbol realitas hidup atau praktek hidup, sang dakini adalah simbol kebijaksanaan. Bersatunya mereka dalam sanggama atau yabyum menandakan kita sebaiknya jangan dikacaukan dualitas, dibimbing untuk melampaui dualitas itu menuju kekosongan / kesunyataan yang mulia. Secara prakteknya, para yogi hidup berumahtangga dengan wanita pilihan atau dakini sebagai pernikahan spiritual, adanya sanggama hanya merupakan pertukaran energi yang saling mengisi diri mereka masing-masing, dengan demikian olah batin mereka juga berkembang pesat menuju pencerahan.
  5. Konsep the mother of the buddhas yang mewujud dalam prajnaparamita merupakan pendekatan yang tepat dalam memahami realitas hidup ini yang sebenarnya. Alam Semesta penuh kasih keibuan, jadi Yoni merupakan kekuatan utama penggerak kehidupan ini. Tiada kasih ibu yang menyambut dengan sukacita datangnya benih dari ayah, membiarkannya tumbuh dalam badannya, memeliharanya dengan penuh kasih, dan melepaskannya, mengeluarkannya ketika sudah ‘matang’, sudah sempurna, tentu dengan taruhan nyawa, maka kehidupan ini tidak akan berlangsung hingga sekarang.
  6. Kata-kata “bersanggama” merupakan simbol makna yang sangat luas seperti luasnya alam semesta ini jadi bukan hanya hubungan fisik…setiap hari disaat kita berdiam, berdiri, berjalan dan berlari (dalam keadaan apapun) bagaimana kita harus selalu berada dalam keadaan “bersanggama”….seperti contoh dalam “bersanggama” nya dua insan ketika mereka berdua mencapai keadaan klimaks (orgasme) sadar (maupun yang tidak) bahwa — seperti kisah tristan dan isolde : tristan berteriak “akulah isolde’” dan isolde berteriak “akulah tristan” — kita tidak tau apakah diri kita ini seorang pria ato wanita (meski hanya dalam beberapa detik)…….dalam wikipedia : walau terdapat perbedaan anatomi antara alat kelamin pria dan wanita, orgasme pada pria dan wanita secara fisiologis dan psikologis, atau subjektif sangat serupa. Sebenarnya,penelitian telah dilakukan dimana para “ahli” tidak dapat menentukan jenis kelamin dengan pasti saat membaca gambaran orgasme-orgasme yang semua petunjuk anatominya dihilangkan…..sekarang bagaimana cara memandang “bersanggama” tergantung dari masing-masing individu…..”bersanggama” dalam kesadaran dan keberadaan diliputi ilahi sebagai timbal balik dalam kehidupan di alam semesta ini.
  7. Sebaiknya ikut Latihan Seni Memberdaya Diri 1, dengan diimbangi latihan relaksasi, bisa lebih tenang dalam menghadapi hidup ini.
  8. Konon energi Yang itu terbatas, sedangkan Yin itu tidak terbatas. Sehingga pria harus mendapatkan energi Yin, tidak hanya memuaskan diri sendiri saja agar mendapatkan manfaat energi semesta.
  9. Bagi para kawula muda. Sperma atau ovum adalah sari-sari makanan yang untuk membuatnya memerlukan waktu yang lama, sekitar 21 hari katanya. Sperma dan ovum adalah liquid energy. Bila didayagunakan untuk berkarya, maka hasilnya menjadi luarbiasa. Offspring bukan hanya anak, tetapi karya juga merupakan offspring.
  10. Sudah saatnya Sex/Senggama/Penyatuan itu bukanlah hal yang kotor ataupun tabu, tapi adalah hal yang suci.
  11. Penyatuan adalah hal yang suci. Seseorang yang telah puas di rumah, di tempat kerjanya bisa mengendalikan diri, mengendalikan keserakahan tidak mau menang sendiri.
  12. .Alam Nusantara kita sebenarnya menjadi lahan & wahana peningkatan spiritualitas sejak nenek moyang. Sayang beribu sayang bila kita sia-siakan.
  13. Energi sebenarnya satu…tidak ada bedanya apakah ia seksual ataukah illahiah. Perbedaan muncul melalui ‘pintu’ mana energi itu terartikulasi atau memanifestasi. Konon, disebut energi seksual karena ia mengalir ke bawah, ke cakra sex, dn disebut energi illahiah karena ia mengalir ke atas, ke cakra mahkota. Ada pula orang yang membagi cakra dada ke … Lihat Selengkapnyabawah sebagai insting binatang, mulai dada ke atas ialah naluri kemanusiaan, dn terakhir ketuhanan (cakra mahkota). Saya tidak tahu kebenarannya seperti apa atau bagaimana, karena toh kita bisa pula memperincinya lagi atau membuat kategori yang lain. Namun, apa yang cukup penting ialah merumuskan atau mendeskripsikan ‘parameter’nya, yakni modus hubungan seksual yang seperti apakah atau yang bagaimana sehingga hal ini bisa kita kualifikasikan sebagai meditatif? Apa dn bagaimana gejala intrinsiknya yang muncul menyertai, sehingga kita bisa mengatakannya sebagai berkualitas ‘baik’? Kita punya artikulasi bahasa yang baik untuk memaknai sikon ini, kita menyebutnya “hubungan intim” yang lebih bermakna batin, tapi sikon ini gejalanya seperti apa? Apakah hubungan seks ini kemudian juga kita rasakan ‘additive’? Lalu, ‘melampaui’ seksualitas diri itu seperti apa?
  14. Kita tahu seks begitu mempesona, gairahnya begitu ‘memaksa’ kita, karena ia merupakan instrumen alam untuk kelanggengan species. Namun, kita pun tahu bahwa wacana seks juga diproduksi dn direprodusi terus-menerus secara massal dn intensif oleh mesin industri masyarakat kapitalistik demi tujuan akumulasi keuntungan. Liberalisasi wacana seksual selalu bak pedang bermata dua, jika kita tidak hati-hati mengembannya bukan tidak mungkin justru akan berdampak lebih fatal dan destruktif.

Terima Kasih

Salam __/\__



Renungan Tentang Pi