GotoBus
Showing posts with label CERITA RELIEF CANDI PENATARAN. Show all posts
Showing posts with label CERITA RELIEF CANDI PENATARAN. Show all posts

Renungan Tentang Jatidiri Dalam Kisah Sang Setyawan Pada Relief Candi Penataran

Renungan Tentang Jatidiri Dalam Kisah Sang Setyawan Pada Relief Candi Penataran



Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan Kisah pada Relief Candi Penataran. Salah satu kisah menceritakan tentang Sang Setyawan.

Sang Suami: Ada penduduk Kahyangan bernama Sang Setyawan. Setyawan berarti orang sangat setia. Dia sangat patuh dan setia dengan pekerjaan yang diberikan kepadanya. Bagi dia tidak ada pekerjaan yang dipandang hina….. Tersebutlah suatu kerajaan yang bernama Puspa tan Alum dengan seorang raja yang bernama Jayati yang tinggal di istana Kerta Nirmala. Puspa tan Alum berarti tempat bunga yang tidak pernah layu selamanya. Jayati berarti selalu menang dan Kerta Nirmala berarti Kota tanpa penyakit, tanpa kejahatan. Demikianlah kerajaan tersebut tanpa kejahatan, selalu memberikan kesejahteraan dan kebenaran selau dimenangkan. Pada suatu ketika Sang Setyawan datang di kerajaan yang mulia tersebut dan sang raja sangat berkenan. Setelah beberapa lama, sang raja menjodohkan Sang Srtyawan dengan Suwistri, putrinya. Suwistri berarti istri yang baik, pasangan yang baik tingkah lakunya…… Setelah hidup bersama beberapa lama dalam keadaan bahagia, Sang Setyawan meninggalkan istrinya untuk pergi bertapa. Suwistri bersama pelayan setianya bernama Sucita mencari suaminya ke hutan belantara. Sucita berarti pikiran yang baik tanpa cela. Melihat istrinya datang dari kejauhan, maka Sang Setyawan mengubah wujudnya sebagai ular dan harimau untuk menakut-nakutinya. Tetapi Suwistri bersama Sucita tidak takut dan tetap melanjutkan perjalanannya. Kemudian beberapa pertapa muda yang sedang bekerja menggodanya dan bahkan berkelahi sesamanya, akan tetapi tidak mengubah niat Suwistri bersama Sucita untuk meneruskan perjalanannya. Sang Setyawan kemudian menciptakan sebuah pertapaan yang indah sekali. Sang Styawan mengganti nama dan wujudnya menjadi Cilimurti. Cilimurti berarti Yang Berkuasa. Suwistri kemudian diterima sebagai seorang pertapa dan diberi pengetahuan tentang kebiaraan. Akhirnya Suwustri selesai mengikuti pelajaran tentang kebiaraan. Suwistri akhirnya menjadi satu dengan Cilimurti yang ternyata adalah Sang Hyang Wenang. Dia Yang Memiliki Kewenangan Kehidupan……. Tersebutlah orang tua Suwistri, Raja Jayati bersama istrinya Dewayani pergi mencari jejak putrinya yang sedang berupaya menemukan keberadaan suaminya. Dewayani berarti seorang manusia wanita yang suci tabiatnya. Mereka kemudian mengetahui bahwa putrinya telah bersatu dengan Sang Hyang Wenang. Mereka kemudian mengikuti jejak putrinya menjadi pertapa. Atas perintah Sang Hyang Wenang mereka diperintahkan untuk menuju Gunung Meru, Raja Jayati berada di bagian Timur sedangkan Dewayani di bagian Barat.

Sang Istri: Para leluhur mempunyai ungkapan” jagat gumelar” dan “jagat gumulung” yang penuh makna. Jagat gumelar adalah dunia yang digelar yang berkembang. Jagat gumelar tidak pernah statis tetapi selalu berubah sesuai perkembangan zaman sesuai dengan perubahan waktu dan ruang. Sedangkan jagat gumulung berarti segala sesuatu yang tergelar tersebut digulung dikecilkan sehingga semuanya menjadi berada diri kita. Sesungguhnya jagat gumelar dan jagat gumulung adalah jagat yang sama. Seseorang yang telah memahami jagat gumulung akan memahami jagat gumelar juga. Seseorang yang memahami pola-pola yang berlaku bagi jagat yang gumelar akan memahami pusat aturan yang berada di dalam dirinya. Kisah Sang Setyawan dapat direnungkan sebagai kisah yang berada dalam diri kita. Kerajaan yang dimaksud adalah diri manusia. Dalam diri yang selalu berbuat kebaikan, akan datang sinar keilahian yang membimbing menuju Ilahi. Kembali pulang, Manunggaling Kawula Gusti.

Sang Suami: Benar isteriku, dalam buku “Five Steps” disampaikan kisah seorang pertapa dengan putranya yang bernama Shvetaketu. Tanah liat di seluruh dunia berada di luar jangkauanmu. Namun, segumpal tanah liat berada dalam jangkauanmu. Dengan mengetahui sifat segumpal itu, kau dapat mengetahui sifat tanah liat secara keseluruhan, secara utuh. Dengan mempelajari sifat benda-benda yang berada dalam jangkauanmu, kau dapat mempelajari sifat Yang Tak Terjangkau!” Tanah liat itu digunakan untuk membuat berbagai macam peralatan, bahkan mainan, patung dan lain sebagainya. Bentuk peralatan dan benda-benda itu memang beda, tetapi Intinya satu dan sama, tanah liat. Nama dan sebutan yang kita berikan pada setiap benda beda, namun perbedaan itu pun tidak mempengaruhi inti setiap benda. Walau berbenda bentuk, wujud atau rupa, maupun nama atau sebutannya, bahan dasarnya masih tetap sama, tanah liat”. Untuk memahaminya, pelajarilah dirimu. Shvetaketu, gumpalan tanah liat itu adalah dirimu. Tat Tvam Asi itulah kau. Dengan mempelajari diri yang berbeda dalam jangkauanmu, kau dapat mengetahui sifat dasar Yang Tak Terjangkau Itu!”

Sang Istri: Dalam kisah tersebut dijelaskan pentingnya bertapa. Dalam buku “Bodhidharma” dijelaskan tentang makna tapa….. Tapa berarti “latihan-latihan untuk mengendalikan diri”. Jadi seorang Tapasvi atau “praktisi tapa” adalah seseorang yang telah berhasil mengendalikan dirinya. Yang bisa disebut tapa bukanlah latihan-latihan untuk mengembangkan tenaga dalam. Bukan juga latihan-latihan untuk menambah kewaskitaan kita. Menambah atau mengembangkan berarti kita masih “mengejar” sesuatu. Kita belum tenang, kita masih gelisah. Berarti kita belum ber-tapa. Tapa juga berarti “disiplin”. Kendati latihannya sudah benar, tujuannya pun sudah betul—untuk mengendalikan diri—jika kita tidak melakukannya secara teratur, kita belum ber-tapa. Hari ini latihan untuk mengendalikan diri, besok tidak. Lusa latihan lagi, lalu berhenti lagi. Ini pun belum bisa disebut tapa. Latihan untuk mengendalikan diri secara teratur, itulah tapa. Berlatih untuk mengendalikan diri pada setiap saat, itulah tapa.

Sang Suami: Suwistri, Raja Jayati dan permaisuri Dewayani melakukan perjalanan kembali ke dalam diri. Dalam buku “Bodhidharma” disampaikan bahwa para nabi, mesias dan avatar dibutuhkan oleh manusia yang masih “bayi”. Sekarang sudah tidak ada “manusia bayi” lagi. Sekarang sudah menjadi dewasa. Dan proses kematangan atau kedewasaannya ini disebut proses kebuddhaan. Bisa juga disebut proses “kekristusan”, atau proses apa saja—terserah kita. Karya Sri Shankara yang satu ini ditulis untuk para calon buddha. Ciri-ciri mereka pun dijelaskan. Pertama, dia sudah terbebaskan dari kegelisahan. Kedua, dia sudah menjadi tenang….. Ketiga, tidak menagih sesuatu, tanpa craving. Keempat, berkeinginan tunggal untuk memperoleh kebebasan.

Sang Istri: Moksha bukanlah sesuatu yang terjadi pada saat kematian atau setelah kematian. Moksha harus terjadi sekarang dan saat ini juga. Pada saat kematian, mau tidak mau roh harus meninggalkan badan. Dia kena gusur. Bagi dia tidak ada pilihan lain, kecuali meninggalkan badan. Itu bukan moksha. Kita masih hidup, masih memiliki badan, tetapi tidak terikat dengan badan—itulah moksha. Dan, tidak terikat dengan badan berarti tidak terikat dengan segala macam hubungan yang ada karena badan. Kita mencintai anggota keluarga, bukan karena mereka anak kita atau pasangan kita atau orang tua kita atau saudara kita, tetapi karena mereka juga berasal dari Sumber Ilahi yang sama. Kita semua adalah saudara kandung. Kesadaran seperti ini akan membebaskan kita dari permusuhan dan pertikaian. Inilah moksha. Demikian uraian dalam buku “Atma Bodha”.

Sang Suami: Menjadi diri sendiri itu moksha. Jangan menganggap diri kita rendah, jangan menganggap diri kita tinggi. Just be yourself. Jadilah dirimu. Itu saja. Tidak perlu meniru orang. Dan “menjadi diri sendiri” itulah moksha—kebebasan! Kesadaran diri atau “menjadi diri sendiri” merupakan sisi lain moksha atau kebebasan. Yang menyadari dirinya akan menjadi bebas. Yang bebas akan menyadari dirinya….. Dalam ayat ini, Shri Shankara sedang berupaya untuk meyakinkan bahwa sesungguhnya kita bukan budak. Sesungguhnya tidak ada rantai yang mengikat kaki dan tangan kita. Tidak ada yang membelenggu kita. Bahwasanya kita sedang mengada-ada. Sadarlah!

Sang Istri: Suwistri tidak takut dalam perjalanan menuju Sang Gusti. Cinta berasal dari hati nurani. Dan cinta tidak pernah takut. Demi cinta, seseorang bisa melakukan apa saja. Bisa membunuh dan bisa terbunuh. Seorang penguasa bisa meninggalkan kekuasaannya. Seorang raja bisa melepaskan kerajaannya. Itu baru cinta. Cinta terhadap seseorang. Apalagi Kasih! Kasih yang berasal dari lapisan nurani yang terdalam, terbawah, lebih berani lagi. Jika kita sudah mulai kontak dengan suara hati nurani bila kita mulai mendengarkan suara hati nurani, penemuan jati diri tinggal tunggu hari saja. Bisikannya saja sudah cukup untuk membebaskan kita dari rasa takut. Sebaliknya, tidak adanya kontak dengan hati nurani membuat kita tidak mengenali diri sendiri…….

Sang Suami: Kegiatan tidak dapat membebaskan diri dari ketidaktahuan, karena kegiatan tidak bertentangan dengan ketidaktahuan. Hanya Kesadaran Diri yang dapat melenyapkan ketidaktahuan, sebagaimana cahaya bisa melenyapkan kegelapan. Shankara tidak bicara tentang baik dan buruk. Dia sedang bicara tentang kesadaran. Dia sedang bicara tentang perbudakan dan pembebasan. Dan untuk itu, karma baik apa pun yang kita lakukan tidak akan membantu…. Perbuatan dan ucapan berasal dari pikiran. Dan pikiran berarti dualitas. Proses pemikiran itu sendiri sudah membuktikan bahwa “ada yang sedang terjadi” dan “ada yang sedang dipikirkan”. Taruhlah, yang sedang terjadi dan sedang dipikirkan adalah hal yang sama. Tetap saja, ada “yang memikirkan” dan ada “yang dipikirkan”. Berarti sifat dasar pikiran adalah dualitas. Lalu, jika pikiran yang bersifat dualitas itu diterjemahkan dalam bentuk perbuatan atau ucapan, sifat dasarnya tidak akan menghilang. Demikian disampaikan dalam buku “Atmabodha”.

Sang Istri: Jati diri tidak akan ditemukan selama ada ketidaktahuan, ketidaksadaran. Sedikit saja ketidaktahuan, sedikit saja ketidaksadaran, maka jati diri kita tertutup. Kita harus menyelami jiwa Shankara untuk memahami maknanya. Apa yang dikatakan oleh Shankara sungguh luar biasa. Selama masih ada “sedikit” pun ketidaktahuan, “sedikit” pun ketidaksadaran, kita masih tidak akan menemukan jati diri. Dan, dengan lenyapnya “sedikit” ketidaktahuan, “sedikit” ketidaksadaran, kita akan langsung menemukan jati diri. Istilah “menemukan” pun sebenarnya tidak tepat, karena jati diri kita tidak pernah menghilang, dan hanya tertutup oleh awan gelap ketidaktahuan, ketidaksadaran. Sesungguhnya awan gelap itu pun tidak pernah berhasil “menutupi” matahari secara utuh. Cahayanya masih saja menerangi hidup kita. Demikian penjelasan tentang Jati diri dalam buku “Atmabodha”. Semoga kisah sang Setyawan mengingatkan kita untuk kembali kepada Jati diri. Gusti yang ada dalam semua makhluk dan ada di dalam diri…..

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Jatidiri Dalam Kisah Sang Setyawan Pada Relief Candi Penataran

  1. Kurang lebih seperti ajaran Syeh Siti Jenar…..Gusti manunggaling Kawula…dan dalam Hindu dikenal buwana agung (alam semesta) dan buwana alit (diri kita-manusia), dan apa yang ada di dunia ada dalam diri kita dan sedikit sinar terang dalam suatu kegelapan,layaknya cahaya lilin dalam gulitanya malam sangatlah membantu, Semoga kesadaran dapat menerangi kegelapan dalam diri kita.
  2. Tapa berarti disiplin dan pengendalian diri bukan untuk mencari kesaktian.
  3. RASA HIDUP manusia sejagad itu SAMA.. menyadari hal ini maka terbebaslah kita dari kegelisan, iri dan rasa takut.. Ketika kita bermeditasi atas setitik air, kita menemukan rahasia lautan.
  4. Mengenai mencari jati diri, kadang kita melihat banyak orang sembahyang secara sempurna. Siapapun dapat dengan benar dan tepat melantunkan doa, dan ternyata gak semua sembahyang kita itu diterima oleh Tuhan. Karena yang kita lakukan hanyalah sembahyang badan, belum melakukan sembahyang hati. Sekarang bagaimana caranya agar kita bisa sembahyang hati, apa sembahyang dengan berbicara dalam hati, tentu tidak kan jawabannya? Di mana setiap sembahyang yang kita lakukan selalu ada dua sisi berbeda Rwa Bhineda, yin dan yang. Dan dalam sembahyang memiliki sisi lahir dan sisi batin memaknai, menghayati dan menerapkannya dgn baik. (baik untuk siapa,baik untuk diri sendiri dan orang lain). Di mana itu semua dibutuhkan kesungguhan untuk melakukan dan berbuat.
  5. Kesadaran diri atau “menjadi diri sendiri” merupakan sisi lain moksha atau kebebasan. Yang menyadari dirinya akan menjadi bebas. Yang bebas akan menyadari dirinya.
  6. Kami ingat SMS Wisdom……Kerajaan-Nya berada di dalam dirimu. Bila ingin berhubungan dengan Dia, masukilah keheningan diri.
  7. Raja yang bijak adalah raja yang bisa mengendalikan diri……….Narapati adalah julukan bagi seorang penguasa, bagi seorang raja. Namun yang dikuasainya apa? Bukan sesuatu di luar dirinya. Yang dikuasai adalah dirinya sendiri. Nara berarti manusia. Pati berarti raja, pengendali. Yang dimaksudkan adalah pengendalian diri. *Wedhatama, AK
  8. Puasa semestinya bukan sekadar puasa makanan. Tapi apa saja yang masuk ke dalam badan. Juga apa saja yang dilakukan badan selalu dijaga selalu keseimbangannya. Tontonan dan bacaan masuk lewat mata. Berita tak karuan lewat telinga. Mulut sibuk ngerumpi tak berguna. Kaki dan tangan entah berbuat apa. Pikiran melayang ke mana mana. Gejolak emosi membuatmu merana. Yang demikian belum berpuasa….. Saat berpuasa sesungguhnya kita ber-upavaasa, ber”dekat”an dengan Ia yang kita kasihi, Puasa bagaikan date sama Kekasih. Saat itu makan, minum, tidur kita lupakan semuanya. *Rahasia Alam, AK.
  9. Kami kutip dari buku Bhagavad Gita, AK……Para bijak bukan cendekiawan. Cendekiawan bisa menjadi bijak, apabila ia sadar akan keterbatasan ilmu yang diperolehnya, bersedia belajar dari kehidupan sehari-hari dan berani turun ke jalan, tidak selalu memerintah dari ruangan ber-AC saja. Para bijak belajar dari kehidupan sehari-hari. Seorang Krishna adalah bijak, begitu pula Yesus, begitu pula Muhammad, Buddha dan Zoroaster. Mereka bukan cendekiawan. Mereka belajar dari alam sekitarnya, dari Keberadaan, dari kehidupan sehari-hari.
  10. Dalam segala bidang, hidup ini tidak mengenal titik akhir. Sangat naif, jika kita meyakini adanya titik akhir dan menutup diri. Dapat dilihat, kemajuan sains, teknologi dan cabang-cabang ilmu lainnya. Berkembang terus. Kita perlu membuka diri anda terhadap perkembangan, terhadap kemajuan, terhadap hal-hal baru yang dapat menunjang peningkatan kesadaran dalam diri. Semoga kita berhasil!
  11. Kami kutip penjelasan dalam buku Isa Masih, AK…….. Entah untuk keberapa kalinya, Yesus sedang meyakinkan para muridnya. “Tidak ada yang perlu dicari. Yang kau cari itu ada dalam dirimu. Cahaya yang menerangi alam semesta ini, juga menerangi dirimu. Yang ada di luar, juga ada dalam dirimu. Kalau belum terlihat, ya karena kau belum pernah menoleh ke dalam. Selama ini, kau sibuk melihat ke luar. Sekarang alihkan pandanganmu. Lihatlah ke dalam diri, dan kau akan menemukan Sumber Cahaya itu dalam dirimu sendiri.”
  12. Ungkapan yang indah tentang moksa. Ketidakterikatan kita pada keinginan adalah moksa. Bukan sesudah mati.
  13. Berikut ini kami kutip dari buku “Vedaanta”, AK……. Moksha bagi Aatmaa atau Kebebasan bagi Diri merupakan prasyarat, semacam landasan bagi manusia untuk berbuat baik. Moksha bukanlah urusan akhirat, urusan laduni atau dunia lain. Moksha adalah urusan dunia ini. Jiwa yang tidak bebas hanya dapat berhamba. la sangat miskin dan tidak mampu berbuat sesuatu yang berharga. Sebab itu, terlebih dahulu la harus mengupayakan kebebasan bagi dirinya. Moksha adalah Kebebasan untuk Berpikir, Kebebasan untuk Merasakan, Kebebasan untuk Berkarya. Hanyalah seorang Manusia Bebas yang dapat mengungkpakan Kemanusiaannya. Namun, Kebebasan yang dimaksud bukanlah Kebebasan anarkis. Kebebasan yang dimaksud adalah Kebebasan yang Bertanggung-Jawab, Responsible. Kebebasan yang dimaksud adalah Kebebasan yang Menguntungkan bagi Seluruh Jagad Raya. Ya, Aaatmano Mokshaaya tidak berdiri sendiri. la ditemani oleh Jagat Hitaaya – Kebaikan bagi Seluruh Jagat Raya. Hita atau Kebaikan mencakup Kesejahteraan, Kemakmuran, Kesehatan, Kebahagiaan, Ketenangan, Kedamaian, Keceriaan, Kepuasan, dan diatas segalanya, “Kasih”! Hita adalah Kebajikan sekaligus Kebijakan Abadi. la adalah wujud nyata dari Dharma…….
  14. Jagat Gumelar-Jagat Gumulung. Jagat Gede-Jagat Cilik. Manunggaling Kawula-Gusti. “Murid, gurune pribadi. Guru, muride pribadi. Pamulangane, sengsarane sesami. Ganjarane, ayu lan arume sesami.” Satu ajaran menemukan Jati Diri. Melihat dan Bersama Gusti, yang akhir muaranya adalah memayu lan ngarumke sesami. Satu titik puncak ketika kita telah menemukan Guru Sejati.
  15. Untuk mewujudkan kerajaan Puspa tan Alum, di istana Kerta Nirmala dengan pimpinan Jayati dalam diri (kerajaan yang selalu semerbak mewangi, tak ada kejahatan dan pinpinan yang jaya) para leluhur memberi pitutur…sebagai berikut. Mangasah mingising budi (mempertajam budi, pikiran jernih), Mamasuh malaning bumi (membersihkan penyakit/kejahatan di bumi) dan Mamayu Hayuning Bawono ( memperindah alam semesta).

Terima Kasih.

Salam __/\__

Renungan Tentang Pikiran Dan Kesadaran Dalam Kisah Sri Tanjung Pada Relief Candi Penataran

Renungan Tentang Pikiran Dan Kesadaran Dalam Kisah Sri Tanjung Pada Relief Candi Penataran



Sepasang suami istri setengah baya sedang mendiskusikan Kisah Sri Tanjung yang terdapat pada relief Candi Penataran mereka mencoba memandang dengan kacamata berbeda.

Sang Istri: Adalah seorang keturunan Pandawa yang bernama Pangeran Sidapaksa. Dia mengabdi kepada seorang raja bernama Prabu Sulakarma di Kerajaan Sindureja. Sang Prabu minta Pangeran Sidapaksa mencari obat kepada seorang Bhagawan yang tinggal di Desa Prangalas bernama Bhagawan Tambapetra. Obat tersebut ternyata berupa pengetahuan yang harus didapatkan sendiri oleh setiap manusia. Dalam perkembangannya, Sang Pangeran jatuh cinta kepada Sri Tanjung putri Sang Bhagawan yang cantik jelita. Akhirnya Pangeran Sidapaksa berhasil mempersuntingnya…….. Kecantikan Sri Tanjung didengar oleh Prabu Sulakarma dan Sang Prabu pun ingin memilikinya. Sang Prabu mencari akal untuk memisahkan Sri Tanjung dengan Pangeran Sidapaksa. Sang Prabu kemudian mengutus Pangeran Sidapaksa ke kahyangan menemui para dewa. Pangeran Sidakpaksa ke kahyangan mengantar surat Sang Prabu, yang isinya agar si pembawa surat ini dibunuh karena pernah menghina para dewa. Sang Pangeran yang tidak tahu apa-apa telah difitnah dan dihajar para dewa. Sang Pangeran melawan untuk mempertahankan nyawanya. Pada waktu Sang Pangeran kelelahan dan dia sudah putus harapan, tanpa sengaja dia mengucapkan kata Pandawa. Seolah sang Pangeran telah mengucapkan mantra yang berpengaruh dan para dewa menghentikan penyerangan serta bertanya apa hubungan Sang Pangeran dengan Pandawa. Mendengar dia mempunyai garis keturunan dengan Pandawa, maka para dewa tidak jadi membunuhnya, bahkan mengobati luka-lukanya…….. Saat Pangeran Sidapaksa pergi ke kahyangan, Prabu Sulakarma menggunakan segala cara untuk memiliki Sri Tanjung. Akan tetapi Sang Prabu gagal total dan pulang dalam keadaan bingung. Prabu Sulakarma membuat muslihat lagi dengan memberitahu Pangeran Sidapaksa yang kembali dari kahyangan bahwa istrinya telah berbuat selingkuh. Fitnah Sang Prabu ternyata cukup ampuh. Pangeran Sidapaksa kalap dan dalam puncak kemarahannya Sri Tanjung dibunuh. Sang Pangeran sangat berduka saat di akhir kehidupannya Sri Tanjung bersumpah bahwa dia tidak bersalah. Justru Sang Prabulah yang telah membuat ulah. Termasuk Sang Pangeran berusaha dibunuh para dewa di kahyangan, karena Sang Prabu telah menyebar fitnah…… Ruh Sri Tanjung menghadap Bathari Durga, Sang Penguasa Kejahatan dan oleh Sang Bathari dia dihidupkan lagi dan kembali ke Desa Prangalas……. Pangeran Sidapaksa menderita sakit syaraf dan hampir saja malakukan bunuh diri. Sang Pangeran ingat nasehat para leluhur agar jangan sampai bunuh diri. Sengaja menghilangkan nyawa sendiri tanpa kesadaran akan membuat lahir lagi sebagai orang yang hilang ingatan diri. Dalam kesedihannya Sang Pangeran bertapa dan akhirnya ditemui Bathari Durga. Sang Bathari menyuruhnya ke Desa Prangalas karena Sri Tanjung masih hidup di sana. Sri Tanjung rela kembali menjadi istri Sang Pangeran bila Sang Pangeran dapat memenggal kepala Prabu Sulakarma. Permintaan tersebut dapat dipenuhi bahkan kepala Sang Prabu dijadikan “keset”, pembersih kaki Sri Tanjung, Sang Istri. Akhirnya hidup berbahagialah mereka sebagai sepasang suami istri….. Para leluhur menasehati agar semua yang terjadi dalam kisah dianggap terjadi di dalam diri. Sehingga sebuah kisah, bukan hanya menjadi hiburan, akan tetapi dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran pribadi……

Sang Suami: Prabu Sulakarma mewakili “mind”, Sang Pikiran yang menyukai “kenyamanan” dan sudah “old-crack”, sudah berpengalaman sebagai pemimpin diri manusia. Sang Pangeran mewakili manusia yang merasa gelisah dan mencari Bhagawan di Desa Prangalas, mencari pengetahuan di lubuk hati terdalam yang sulit dicapai manusia. Sang Pangeran mulai meniti ke dalam diri dan menemukan Sri Tanjung, kesadaran yang menjunjung tinggi “kemuliaan”. Sang Pangeran yang telah mempunyai benih kesadaran dapat membahayakan kekuasaan Sang Pikiran. Sang Pikiran yang sudah berpengalaman membuat tipu muslihat agar Sang Pangeran meninggalkan kesadaran dan berperang melawan para dewa atau kebaikan. Walaupun Sang Pangeran babak belur, dengan mantranya dia tetap bertahan dalam kesadaran. Prabu Sulakarma berusaha menguasai Sri Tanjung, Sang Pikiran mencoba menguasai Sang Kesadaran, akan tetapi Sang Kesadaran tak bisa ditaklukkan. Maka jadilah Sang Pikiran sebagai pembisik yang selalu menggoda manusia agar ragu terhadap kesadaran dirinya. Diyakinkan oleh pikiran bahwa hati nurani atau kesadaran telah membuatnya sesat dan dihujat dalam kehidupan dunia. Terlena bisikan pikiran yang menggoda, Sang Pangeran mengikuti bisikan kelicikan dari pikiran dan hati nuraninya pun dibunuhnya. Bagaimana pun Sang Hati Nurani tetap bersuara bahwa dia adalah suara kebenaran. Hidup tanpa nurani membuat Sang Pangeran semakin gelisah dan dalam keadaan depresi berat dia hampir bunuh diri karena putus harapan……. Bathari Durga, Sang Penguasa Kejahatan selalu ditakuti oleh mereka yang telah berbuat kejahatan. Mereka yang telah berbuat kejahatan selalu merasa dihantui raksasa wanita yang mengerikan. Sebetulnya semua penjahat takut pada Sang Bathari yang melambangkan Kuasa Kesucian. Sri Tanjung atau Sang Kesadaran dihidupkan Sang Bathari dan diminta tinggal di Desa Prangalas, di lubuk hati terdalam dan Sang Pangeran diminta menemuinya di sana. Setelah bertemu kembali dengan Sang Kesadaran, diri Sang Pangeran menjadi terbuka. Tidak mungkin manusia menunggangi dua kuda yang mempunyai kemauan berbeda. Tidak mungkin panah kehidupannya terarah bila dia memegang dua gendewa dalam waktu yang sama. Sang Pangeran akhirnya berhasil memenggal kepala, atau ego Sang Pikiran dan dijadilan “keset”, pembersih kaki Sang Kesadaran. Sang Pangeran hidup dengan pimpinan kesadaran dan pikirannya menjadi alat yang bermanfaat bagi kebenaran. Sang Pangeran mengalami hidup baru, kelahiran baru, hidup berkesadaran. Pola-pola pikiran lama setiap saat selalu dibersihkan. Dan setiap sampah pikiran lama yang terbuang akan tergantikan oleh keilahian……

Sang Istri: Catatan sebab akibat masa lalu, akan muncul dari memori kenangan sebelum di-“delete” komputer diri. Karena pikiran hanya suka yang menyenangkan dirinya, memori duka yang tidak menyenangkan yang pernah ditekan ke bawah sadar akan muncul minta perhatian. Masalah yang bersifat suka maupun duka harus diterima secara terbuka….. Aku mengasihi Gusti. Memori dalam kehidupan lalu telah muncul kembali. Aku menyesal pernah salah menanggapi. Aku mohon maaf atas kesalahan yang pernah kelakukan. Gusti, terima kasih aku ucapkan….. Pembersihan diri harus selalu dilakukan. Kesalahan bertindak masa lalu harus diterima dengan lapang dada. Suka dan duka adalah anak-anak pikiran. Kita hanya menyenangi anak kesukaan. Dan anak kedukaan pun selalu muncul minta perhatian. Memori yang muncul tersebut harus dibersihkan, di-“delete” dan digantikan oleh keilahian. Akhirnya pengambilan keputusan tidak dilakukan pikiran dengan cara membongkar gudang pengalaman. Pengambilan keputusan diambil berdasarkan intuisi keilahian.

Sang Suami: Dalam satu kejadian terdapat jutaan bytes memori dan hanya 15-20 bytes yang tersimpan dalam pikiran. Dalam satu hari ada sekitar 60.000 “thoughts”, satuan pikiran, tetapi yang menjadi “mind” hanya sebagian. Memori pengalaman pikiran itu tidak lengkap, dan saat digunakan sebagai solusi pengambilan keputusan menjadi kurang sempurna. Intuisi atau inspirasi sebagai sumber jawaban alternatif perlu dilatih manusia.

Sang Istri: Dalam buku “Bhaja Govindam” diuraikan bahwa pikiran tidak perlu diupayakan. Kau lahir dengan pikiran. Yang perlu diupayakan ialah kesadaran. Pikiran adalah hasil jerih-payahmu di masa lalu. Itu yang membentuk lapisan-lapisan alam bawah sadar dan sebagainya. Kesadaran adalah hasil upayamu saat ini. Pikiran telah membentukmu. Kesadaran dapat mengubahmu. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam dirimu. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya programmu tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan kamu dari segala macam program. Pikiran memperbudak dirimu. Kesadaran membebaskan dirimu.

Sang Suami: Pikiran adalah sekadar alat yang kita perlukan untuk kegiatan sehari-hari di alam fisik ini dan buku “Sabda Pencerahan” menguraikan…. Segala sesuatu dalam dunia ini, mulainya dari pikiran. Tindakan terjadi setelah beberapa saat kemudian. Apabila kita selalu mengawasi pikiran kita, maka tidak akan terjadi penyelewengan pada tingkat itu. Demikian, tindakan tercela pun dapat dihindari. Jadi bukan tindakan yang harus diawasi, tetapi pikiran. Apabila kita selalu mengawasi tindakan saja, kita tidak dapat menghindari perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji. Kenapa? Karena, pikiran kita sudah terlanjur tercemar. Bisa saja, pada suatu kesempatan, kita dapat mengendalikan tindakan kita. Tetapi; tidak untuk selamanya. Karena itu, pikiran yang harus diolah. Ujung-ujungnya kita kembali ke kata kunci kita: Kesadaran. Ia yang sadar, pikirannya pun tidak akan macam-macam. Pikiran hanya dapat dikendalikan oleh kesadaran.

Sang Istri: “Keramaian dunia” adalah proyeksi dari pikiran kita. Pikiran kita kacau dan kita melihat kekacauan dimana-mana. Bebas dari keramaian dunia, berarti bebas dari keramaian pikiran. Dan, untuk itu kita tidak perlu meninggalkan sesuatu. Bebas dari keramaian dunia, berarti bebas dari keramaian pikiran. Tanpa meninggalkan dunia, kita bisa terbebaskan dari keramaian dunia. Tidak perlu ke hutan. Di tengah keramaian mal pun kita bisa menyadari kehadiran-Nya….. Demikian uraian dalam buku “Fikr”.

Sang Suami: Dalam buku “Soul Quest” dijelaskan bahwa….. Pikiran-pikiran tak akan pernah berhenti. Kau tak mungkin bisa selalu mengontrolnya. Lampaui pikiran-pikiran itu, dan biarkan mereka berlalu. Pisahkan dirimu dari pikiran-pikiranmu. Bukan membuang, tapi melampauinya. Dengan memisahkan dirimu dari pikiran-pikiranmu. Lihatlah mereka datang dan pergi tanpa secara emosional terlibat di dalamnya. Apa yang harus saya lakukan bila emosi saya terlibat? Amati saja.. seperti ombak, mereka akan menyatu kembali dengan laut.

Sang Istri: ……. Itulah “no mind” hidup tanpa “beban pikiran”. Pikiran memang ada, mind memang eksis, tetapi anda bisa “memilih” hidup tanpa mind, tanpa “beban pikiran”. Itulah meditasi. Dan, meditasi tidak mengenal pengotakan. Yang mengenal pengotakan adalah mind, pikiran. Dan pula yang menumbuhkan dan mengembangkan perbedaan. Karena itu, tidak ada meditasi Hindu dan Meditasi Buddhis, Meditasi Islam dan meditasi Kristen. Meditasi adalah meditasi. Gunakan rasa, nurani, “conscience” untuk menentukan hal itu. Jangan menggunakan mind. Dia akan menyesatkan, membohongi, menipu, karena diapun tahu persis bahwa memasuki alam meditasi berarti melakukan hara-hiri, bunuh diri, padahal pikiran masih ingin hidup….. Demikian kutipan dari buku “Fiqr”.

Sang Suami: Bagaimana pun kita telah diingatkan bahwa sebuah pemahaman bukanlah kebenaran mutlak. Begitu suatu kebenaran telah dianggap mutlak, maka kita akan menjadi tertutup, dan tertutup berarti kemandegan. Bagaimana pun dunia selalu mengalami perkembangan. Sepanjang zaman…..

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Pikiran Dan Kesadaran Dalam Kisah Sri Tanjung Pada Relief Candi Penataran

  1. Pikiran yang tidak bisa dikendalikan oleh kesadaran akan mengakibatkan kesengsaraan.
  2. Kebetulan sekali saya pernah menonton dramatari berjudul Sri Tanjung yang dibawakan oleh sebuah grup tari ternama di Denpasar. Kisahnya hampir sama dengan yang dijelaskan di sini, cuma saja mengalami sedikit ‘editing’. Menarik sekali, saya menjadi makin memahami makna dari kisah dramatari yang menurut saya sangat menarik dan apik tersebut.
  3. Memang benar kita mesti menjaga kesadaran senantiasa. Puji Tuhan…..
  4. Memang benar kita perlu mengasah sumber refrensi alternatif yaitu intuisi, suara hati atau apapun namanya. Karena selama ini ketika terjadi sesuatu persoalan, kita selalu bertanya kepada apa yang ada diluar, kepada teman, kepada orang sekitar, dari sekian banyak orang yang kita mintai pendapat memiliki pikirannya sendiri-sendiri, wal hasil pusinglah kita, kita semakin ragu-ragu. Satu-satunya jalan adalah kembali kepada diri kita sendiri, kepada intusi kita, dan untuk itu kita perlu latihan untuk menenangkan pikiran agar tidak terlalu bising, sehingga intuisi itu dapat terdengar.
  5. Mengingatkan diri kita untuk selalu menjadi pengamat pikiran.
  6. Dalam setiap kesadaran pikiran sel neuron atau syaraf pasti bekerja dan tidak pernah berhenti… Semoga semakin banyak orng indonesia yang memiliki kesadaran pikiran dan kesadaran ini dapat diterapkan di masyarakat…
  7. Tulisan kali ini menjadi menarik karena mendudukkan Cinta sebagai tema intinya. Setidaknya kita tahu, Cinta adalah salah satu pelajaran manusia perihal rasa. “Love is blind” demikian sering dikatakan orang. Pikirlah yang buta dari moment Cinta, karena domain Cinta adalah hati. Bahkan, Osho mengatakan orang yang tidak pernah jatuh Cinta akan sangat sulit belajar meditasi. Karena dalam momen Cinta setiap jiwa–melalui keberadaan yang lain (the other)–diajak memasuki kedalaman relung-relung jiwanya. Dalam Cinta ada suatu totalitas diri; yang mengintegrasikan pikiran dalam ‘ketidaktahuannya’ yang ‘tahu’. Tidak tahu mengapa ia bisa jatuh Cinta, selalu ada misteri yang tak sepenuhnya terungkap secara rasional atau logis, tapi ‘tahu’ akan arah proses diri.
  8. Selama pikiran dijadikan penguasa diri, dia mempunyai dua anak suka dan duka dan itulah yang akan kita alami. Seseorang yang sadar bahwa pikiran mempunyai efek suka dan duka akan melampauinya. Misalnya dengan selalu mengasihi atau mensyukuri apa pun yang diterima. Atau melakukan segala sesuatu sebagai persembahan….
  9. Suatu kisah yang sama akan dilihat sedikit berbeda dengan penggunaan kacamata yang berbeda. misalnya Bharatayudha ada yang menonjolkan Sri Krishna, ada yang menonjolkan ketokohan Arjuna bahkan ada yang menonjolkan ketokohan Semar yang di Bhagavad Gita tidak disebutkan.
  10. Pikiran adalah program yang sudah ter-install dalam diri. Ada bagian memori, ada bagian obsesi, ada khayalan, ada keinginan, ada impian. Program ini sudah baku, seluas-luasnya program tetap ada batasnya. Kesadaran membebaskan dari segala macam program. Pikiran memperbudak diri. Kesadaran membebaskan diri.
  11. Ada hukum “law of attraction” seseorang yang punya masalah akan bertanya kepada seseorang yang bermasalah juga, sehingga menjadi gosip dan tidak keluar solusinya. Islam is the last word harus diterjemahkan sebagai Pasrah adalah kata terakhir. Setelah kita “menerima” suatu peristiwa dan pasrah kepada Ilahi maka kita sudah tak perlu kaya-kata dari lainnya. Hanya tinggal mendengarkan intuisi, suara hati….
  12. Usia spiritualitas tidak sama dengan umur kita di dunia dan berapa lama sudah mempelajarinya. Bersyukurlah sudah mulai sadar ketika usia muda, kami mulai belajar setelah masuk paruh baya. Semoga kesadaran menjadi dasar dari semua pikiran, ucapan dan tindakan kita.
  13. Kita bukan pikiran kita tetapi pengamat pikiran kita. Semoga pemahaman tersebut dapat kita lakoni dalam keseharian.
  14. Salah satu kuncinya adalah relaks, santai. Begitu kita memperhatikan napas, antara pikiran satu dan pikiran lainnya mulai ada jaraknya. Gejolak pikiran mereda dan intuisi bisa muncul.
  15. Belajar adalah tugas semua manusia. Dunia berkembang dan orang yang berhenti belajar akan mandeg. Kita perlu berkembang, karena berkembang adalah selaras dengan alam.
  16. Sepasang kekasih yang sedang jatuh cinta menjadi buta, melupakan pikiran, kecuali keyakinan untuk hidup bersama dan menghadapi bersama masalah apa pun yang a…kan menimpa. Cinta melampaui pikiran. Cinta seorang ibu kepada anaknya juga demikian. Para suci yang mencintai “Sang Kekasih” nampak di luar kewarasan pikiran. Hanya cinta tidak dapat dipelajari, tetapi harus dilakoni, dirasakan.
  17. Pemahaman memang tidaklah kebenarannya mutlak,tapi kadang pemahaman menggiring manusia ke dalam kehancuran bagi semua…..!!!!!!!apalagi orang-orang yang terjerumus dengan dogma-dogma pemahaman itu sendiri.
  18. Meditasi bisa dilakukan dalam segala aktivitas kita setiap saat, yang kita kenal berupa menjalani kehidupan secara meditatif; yaitu: melakukan segala sesuatunya dengan sepenuh hati, pikiran, raga, panca indera dan fokus hanya pd aktivitas yang sedang berlangsung, bukan pada hasil!. Sehingga mind yang ada adalah saat ini-disini hadirnya.
  19. Cinta tidak bisa kita pelajari. Cinta yang menentukan arah hidup kita, dan kita tidak bisa menentukan arah Cinta. Dalam derajat yang lebih mendalam, Cinta ini bersumber dari dalam entitas Kesadaran. Berpijak dari sini, sebenarnya Kesadaran juga bukanlah sesuatu yang bisa kita latih. Karena Kesadaran justru yang menyangga segala apapun, termasuk menyangga apa yang kita persepsi sebagai proses sadar kita yang tengah melatih kesadaran
  20. Tentang mantra, mantra adalah kunci kita mencapai pengembangan kesadaran. Mantra adalah sabda suci para guru yang filosofis sekaligus berdaya getar yang dahsyat dalam batin kita, yang diturunkan lewat inisiasi khusus. Mantra dilagukan selaras dengan hati kita, dengan kerelaan atau keikhlasan kita, menerima lapang dada situasi terkini, yang mungkin berada dalam kondisi terberat, dapat menghancurkan halangan dan menetralisir kekacauan dalam hati. Mantra adalah salah satu software tantrayana, selain visualisasi atau pembayangan yang contohnya telah dibabarkan dalam cerita di atas.Tantrayana adalah metode unik dan rahasia, tiap orang tentu tidak sama dalam pelaksanaannya dalam olah kesadaran yang mengendalikan pikiran. Adalah suatu metode kreatif dan realistis, bahwa pikiran kita yang sehari-harinya kacau, liar, bergelombang, beracun, dan membusuk ternyata bisa dirubah menjadi pikiran para guru yang suci, bebas, tenang, dinamis, dan tiada batas. Dengan pengendalian pikiran yang benar, merasakan nyatanya sakit di badan, mengamati, menyimak, dan merasakan tubuh ini, alam di sekitarnya, tanpa ada usaha apapun untuk fokus, dan pelan-pelan menguncarkan mantra suci dengan restu sang guru pelindung adalah langkah awal untuk membina diri, tentu disesuaikan dengan jam kerja kita sehari-hari. Yang penting adalah kualitas batin kita yang tidak mengeras seperti batu, melainkan lumer, bergerak dinamis bagaikan aliran air sungai dan hembusan angin. Kesadaran akan tumbuh pelan-pelan, tanpa paksaan, yang penting detik demi detik kita berpikir tentang ketenangan dan kebahagiaan diri sendiri yang meluas ke keluarga, teman, tetangga, dan ke semua makhluk hidup. Dengan bimbingan sang guru yang telah menanam benih kesadaran lewat inisiasi mantra, yiddam, dan bimbingan rahasia roh suci, kita sebaiknya mengendalikan diri dalam kehidupan. Nikmati apa yang bisa dinikmati, tidak mengganggu atau menyakiti diri sendiri dan makhluk lain, berikan yang positif dan baik kepada siapapun tanpa harapan imbalan, selalu menyimak suara hati dan mengamati arus pikiran tanpa ikut terkendali oleh kacaunya pikiran.
  21. “Keramaian dunia” adalah proyeksi dari pikiran kita. Pikiran menika isi Karep. Mula….., Keramaian dunia ini adalah proyeksi dari isi Karepe-e manungsa sakjagad. Pikiran ingkang isi karep menika mboten saged diilangi.sagede namung dipun sumerapi. Meditasi adalah salah satu metode bagaimana kita “nyumerepi” karep kita masing-masing. Dan dengan demikian kita akan mampu melampauinya.

Terima Kasih.

Salam __/\__

Renungan Tentang Keterikatan Dan Kebebasan Dalam Kisah Bubuksah-Gagang Aking Pada Relief Candi Penataran

Renungan Tentang Keterikatan Dan Kebebasan Dalam Kisah Bubuksah-Gagang Aking Pada Relief Candi Penataran



Kisah Bubuksah dan Gagang Aking adalah salah satu hasil sastra kuno para leluhur kita yang perlu mendapat perhatian. Kisah tersebut telah dilukiskan pada relief Candi Penataran. Kisah tersebut telah diuraikan dengan berbagai makna. Kali ini kisah tersebut dilihat dari sudut berbeda oleh sepasang suami istri setengah baya. Mereka menggunakan referensi dari buku-buku Bapak Anand Krishna. Di antaranya, “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra”, “Fear Management, Mengelola Ketakutan, Memacu Evolusi Diri” serta “Five Steps To Awareness, 40 Kebiasaan Orang Yang Tercerahkan, Karya Terakhir Mahaguru Shankara”.

Sang Istri: Dua orang santri bernama Gagang Aking dan Bubuksah baru saja menyelesaikan pendidikan dari suatu perguruan spiritual dan berniat bertapa di hutan untuk mencapai kesempurnaan. Gagang Aking melaksanakan pelajaran secara konsekuen dan paham bahwa apa saja yang dimakan akan mempengaruhi diri, sehingga dia hanya makan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan. Setelah beberapa lama dia menjadi kurus-kering, karena hutan tersebut ternyata kurang tanaman sayuran dan buah-buahan. Dia sangat menyesalkan tindakan Bubuksah yang makan segala yang ada di hadapannya, baik sayuran, buah-buahan maupun binatang buruan. Dia ingin Bubuksah mengikuti dirinya yang patuh terhadap pedoman. Setiap dinasehati Gagang Aking, Bubuksah hanya tertawa dan melanjutkan olah batinnya. Karena tidak pernah kekurangan makanan, Bubuksah menjadi semakin gemuk saja……. Sang Kala terus berjalan, dan pada suatu saat nampak kesehatan Gagang Aking semakin mengkhawatirkan saja. Bathara Guru segera mengutus seorang dewa menyamar sebagai harimau putih untuk menguji kesempurnaan tingkat kesadaran mereka. Sang Harimau Putih mendatangi Gagang Aking dan berkata ingin memangsa dirinya untuk mengobati laparnya. Karena bila hari ini tidak makan Sang Harimau Putih akan binasa. Gagang Aking mengajukan alasan bahwa dirinya hanya sedikit dagingnya karena hanya tinggal tulang belulang saja. Gagang Aking menyarankan agar Sang Harimau Putih mendatangi Bubuksah yang gemuk badannya. Sang Harimau setuju asalkan saja Bubuksah rela menyerahkan tubuhnya. Apabila Bubuksah menolak maka Gagang Aking akan tetap dimangsa olehnya. Oleh Gagang Aking dibawalah Sang Harimau ke tempat Bubuksah bertapa…… Demi mendengar penjelasan Gagang Aking dan Sang Harimau Putih, Bubuksah berkata…… Beberapa hari ini aku sedang menenangkan diri. Mengharapkan datangnya intuisi untuk mendapatkan solusi agar tapa Kakanda Gagang Aking dapat segera diakhiri. Bila diteruskan dalam beberapa hari mungkin Kakanda Gagang Aking akan mencapai batas kelaparan yang membahayakan dirinya. Saat ini telah datang Harimau Putih memberikan jalan keluarnya…. Aku juga telah mengamati bahwa di hutan ini ada siklus antara yang dimakan dan yang memakan. Dan siklus tersebut turut menjaga kelestarian lingkungan….. Dedaunan dimangsa ulat, sedangkan ulat dimangsa oleh ayam hutan. Ayam hutan dimangsa musang, dan musang dimangsa harimau kelaparan. Harimau dibunuh oleh pemburu diambil belangnya dan dagingnya dibiarkan membusuk yang kemudian menyuburkan tanaman. Sebuah contoh siklus yang melestarikan lingkungan hutan. Hanya si pemburu membunuh bukan untuk mempertahankan kehidupan…… Sebagai pemakan dedaunan dan hewan kali ini nampaknya telah tiba saatnya tubuhku bakal dimangsa hewan. Tubuhku akan mati untuk melestarikan hutan, tetapi ruhku akan mengalami evolusi melanjutkan perjalanan. Apalagi dengan tubuhku, Harimau dan Kakanda Gagang Aking bisa terselamatkan. Bila itu memang kehendak Gusti, aku tidak akan menyesali kematian…….. Sang Harimau tertegun dan berkata, …… diriku akan sehat kembali karena keikhlasan orang yang rela kumangsa dirinya. Bubuksah, kau telah sadar bahwa ruh mu abadi dan setiap waktu kau selalu bertindak penuh kasih selaras dengan alam semesta. Kau sudah tidak takut akan datangnya kematian, kau sudah mengalahkan Sang Kala. Kau telah mengalahkan waktu, kau bertindak selaras dengan alam semesta sepanjang waktu. Aku adalah Dewa Kalawijaya utusan Bathara Guru. Wahai Bubuksah naiklah ke punggungku, dan kau Gagang Aking peganglah ekorku. Dan nampaklah suatu pemandangan yang indah di angkasa. Bubuksah diatas punggung Harimau Putih yang terbang ke langit sedangkan Gagang Aking bergelantungan memegang ekornya…….

Sang Suami: Gagang Aking paham bahwa sifat kehidupan berasal dari makanan yang masuk ke dalam dirinya…… Sifat kehidupan yang memasuki tubuh anda lewat mulut, mempengaruhi sifat diri anda. Sesuai dengan istilah yang kita gunakan baginya, tumbuh-tumbuhan memiliki satu sifat utama, yaitu growth, bertumbuh. Bila-tumbuh-tumbuhan yang kita konsumsi, maka kemanusiaan di dalam diri kita pun ikut bertumbuh. Sebaliknya, sifat utama hewan adalah kehewaniannya. Dengan mengkonsumsi dagingnya, kita tidak sekadar mengalami pertumbuhan, tetapi pertumbuhan kehewanian di dalam diri. Demikian uraian dalam buku “Sexual Quotient, Melampaui Kamasutra Memasuki Tantra”…….. Gagang Aking sering tidak makan karena tidak mendapatkan makanan sesuai keinginannya yang hanya makan sayuran dan buah-buahan. Secara tidak sadar Gagang Aking memiliki keterikatan dengan pola pikirannya. Sedangkan Bubuksah sudah melepaskan diri dari pola pikiran lamanya. Bubuksah menghormati kesehatannya, apa pun yang disediakan alam di depannya dimakannya. Bagi Bubuksah makan diperlukan untuk mempertahankan kehidupan. Akan tetapi hidup bukan hanya untuk menikmati makanan. Menurut Bubuksah yang perlu dijaga bukan hanya apa yang masuk dimasukkan lewat mulutnya tetapi juga apa yang keluar dari mulutnya. Ada hal yang telah dilupakan oleh Gagang Aking yaitu keceriaan dalam menjalani kehidupan. Karena terikat dengan pola pikirannya tentang makanan yang baik, tanpa terasa dia menyukai keadaan ketika di dekatnya banyak sayuran dan buah-buahan. Dan dia merasa tidak suka kala tidak ada makanan yang diharapkan. Lain dengan Bubuksah yang menerima makanan apa saja yang ada di depannya dengan penuh keceriaan……. dalam buku “Five Steps” dijelaskan…. Terimalah setiap pasangan pengalaman yang tampak bertentangan ; panas-dingin dan lain sebagainya. Demikianlah keadaan kita. Kita mencari salah satu dari setiap pasangan pengalaman; salah satu yang kita sukai. Mahaguru Shankara mengajak kita untuk menerima setiap pengalaman seutuhnya. Suka tanpa duka tidak utuh. Panas tanpa dingin tidak utuh. Hitam tanpa putih tidak utuh. Penerimaan semacam itu membebaskan kita dari rasa kecewa, karena suka tidak bisa eksis tanpa duka. Tumpukan duka yang makin tinggi itulah yang kemudian runtuh dan menciptakan kelegaan, atau suka. Kemudian, bila suka pun menumpuk terus, kita menjadi jenuh dan mengalami duka. Bila kita menyukai setiap pasangan pengalaman, tak ada lagi ketakpuasan dan kekecewaan. Tidak ada pula kegelisahan atau amarah. Kita suka panas, tapi suka dingin juga. Kita suka asin, tapi suka tawar juga. Kita suka manis, tapi suka pedas juga. Dengan demikian, gugurlah suka dan duka… yang tersisa hanyalah Kebahagiaan! Mahaguru Shankara sedang menuntun kita di jalan menuju Kebahagiaan Abadi, Kebahagiaan Sejati, maka terminal kenikmatan dan kelezatan sesaat harus ditinggalkan. Terimalah hidup ini seutuhnya. Terimalah setiap pengalaman hidup sepenuhnya dan tanpa kecuali……..

Sang Istri: Gagang Aking masih terikat dengan pedoman, Gagang Aking terikat untuk tidak memakan hewan, dia tidak senang melihat Bubuksah melanggar pedoman. Gagang Aking masih terikat pada sesuatu hal di luar dirinya. Karena hanya makan sayuran dan buah-buahan Gagang Aking sering lupa berterima kasih atas jasa makanan yang telah memelihara kehidupannya. Di lain pihak Bubuksah sudah tidak terikat dengan luar dirinya. Dia mencintai tubuhnya. Kesehatan tubuhnya harus dijaga. Dia selalu berdoa sebelum makan karena merasa telah menghilangkan nyawa untuk memperpanjang hidupnya…….. Dalam buku “Fear Management” diuraikan makna keterikatan. Apa yang dimaksud dengan ketakterikatan? Dan, apa pula keterikatan itu? Keterikatan adalah ketergantungan dan kepercayaan kita pada pujian, pada imbalan, pada penghargaan dan pengakuan. Selama kita masih mengejar semuanya itu, kita masih terikat. Dan, selama kita masih terikat, kita masih takut. Lapisan Inteligensia kita memperoleh energi dari dua sumber utama, sumber dalam diri: dari rasa percaya diri yang tidak tergantung pada pujian dan makian orang dan sumber di luar diri: dari pujian dan pengakuan. Ketika pujian berubah menjadi hujatan, dan pengakuan menjadi penolakan, lapisan inteligensia kita kehausan energi. Saat itu menjadi ganas. Kita akan melakukan apa saja untuk memperoleh pujian dan pengakuan. Selama masih mengejar, kita masih terikat. Janganlah tergantung pada sumber energi di luar diri. Gunakan energi yang berasal dari dalam dirimu sendiri. Ketidaktergantungan pada sesuatu di luar diri inilah yang disebut ketidakterikatan.

Sang Suami: Evolusi batin antara Bubuksah dan Gagang Aking tidak terjadi secara bersamaan…… Barangkali adalah kekeliruan besar jika kita mengharapkan evolusi batin terjadi bersamaan bagi seluruh umat manusia. Dalam satu kelompok saja, pun dibawah bimbingan seorang guru yang sama, setiap orang mengalami evolusi sesuai dengan daya dan upayanya sendiri. Seorang Guru boleh membanting tulangnya, boleh jungkir-balik, tapi hasilnya tetap sesuai dengan jerih payah masing-masing muridnya. Pengetahuan dari seorang Guru adalah input atau masukan saja. Jerih payah adalah proses yang harus dijalani, sedangkan pencerahan adalah output atau hasilnya. Demikian penjelasan dalam buku “Life Workbook”.

Sang Istri: Gagang Aking masih terus menggunakan pikirannya, sedangkan Bubuksah sudah melampauinya……. Tidak berarti bahwa otak tidak perlu diasah. Tidak berarti bahwa ilmu tak berguna. Otak tetap harus diasah. Kegunaan ilmu juga tidak dapat dipungkiri. Keduanya perlu dan dibutuhkan. Asal kita tidak lupa bahwa bukan hanya itu yang menjadi kebutuhan kita, bila kita ingin menjadi pribadi yang utuh. Pengolahan otak dan penimbaan ilmu harus diimbangi dengan penghalusan rasa. Jangan sampai kita mengabaikan peran intuisi yang timbul dari rasa yang halus. Kemampuan untuk “mengenal fakta” datang dari ilmu. Kepekaan untuk “melihat kebenaran” berasal dari rasa. Keduanya dibutuhkan. Yang satu tidak dapat dikorbankan atau diabaikan demi yang lain. Walaupun demikian, bila saya harus memilih di antara keduanya, saya akan tetap memilih rasa, karena rasa yang berkembang pada akhirnya akan membuka bagi saya semua pintu ilmu. Demikian uraian dalam buku “Neo Psyhic Awareness”……..

Terima Kasih Guru, Jaya Guru Deva!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Keterikatan Dan Kebebasan Dalam Kisah Bubuksah-Gagang Aking Pada Relief Candi Penataran

  1. Selama ini dengan menggunakan pikiran, kita hanya menghormati hal yang menyenangkan dan tidak suka kepada hal yang tidak menyenangkan. Padahal suka dan tidak suka adalah anak-anak dari pikiran. Ketidak sukaan akan muncul minta perhatian juga. Lebih baik keduanya diterima dengan penuh syukur. Apa pun yang diberikan Tuhan pasti adalah kebaikan bagi kita.
  2. Konon lampu merah kuning hijau bermanfaat di perempatan jalan di permukaan bumi. Semakin meningkat lokasinya misalnya pesawat di angkasa, esensinya masih ada tetapi syariatnya disesuaikan. Semakin tinggi yang penting esensinya…….
  3. Candi penataran terletak di Blitar, dari Makam Bung Karno berjarak sekitar 10 km. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari Kerajaan Kediri dan dipergunakan sampai dengan Kerajaan Majapahit, mungkin sebagai tempat penataran punggawa kerajaan.
  4. Kalau belum dapat air bersih air kotorpun tidak masalah, nanti begitu dapat air bersih air kotor akan dilepaskan. Adaptasi.. . . Inayat Khan pernah berkata bahwa ji…kalau sang Rasul hidup dibelahan bumi lain, maka Beliau pasti akan melarang mengkomsumsi daging, namun karena tinggal di Gurun, mau makan apa, dagingpun menjadi pilihan. Para prajurit harus memakan daging dalam posi yang pas, untuk menjaga semangatnya, begitu juga orang yang loyo dan males-malesan harus di beri makan daging dalam jumlah yang pas.
  5. “…adalah kekeliruan besar jika kita mengharapkan evolusi batin terjadi bersamaan bagi seluruh umat manusia…” Setuju dengan pernyataan tersebut. Dan saya menyayangkan orang-orang yang merasa lebih tinggi evolusi batinnya, lalu ‘mengejek…’ atau ‘menghujat’ orang yang masih rendah evolusi batinnya. Bukankah ‘mengejek’ atau ‘menghujat’ itu pertanda evolusi batinnya “masih rendah”?
  6. Dalam buku Shambala ada setidaknya 3 macam tanggapan terhadap mereka yang dianggap lebih rendah kesadarannya daripada Kaum Arya. Pertama Resi Agastya merasa angkuh dan tidak mau bergaul agar kesadarannya tidak turun. Kedua Resi Vasista langsung diam tak banyak bicara. Ketiga Resi Baradwaja berusaha meningkatkan kesadaran mereka. Resi Agastya akhirnya sadar dan memperbaiki sikapnya….. Benar Mas Rony, menghujat dan menghina orang lain pertanda kesadarannya masih rendah.
  7. Hanya mencintai suka nya saja tanpa menerima duka dengan lapang dada, maka rasa suka itu hanya hal biasa tanpa rasa. Ibarat setelah terpanggang matahari dan turunlah hujan maka kesejukan baru akan terasa.
  8. Ada juga karena dia lagi puasa, marah pun ditahan-tahan hingga magrib tiba. Pada saat beduk tiba dia pun lupa. Malam hari dia baru ngeh, eh, si istri lagi tidur pake dibangunin terus dimarahi. Rupanya bukan cuma makanan yang ditahan-tahan, marah pun juga.
  9. Puasa adalah mengendalikan pikiran, perkataan, dan perbuatan agar lebih baik…..
  10. Pelajaran spiritual memang harus dibenturkan dengan keadaan,sehingga permainan sukaduka panas dingin masih akan mewarnai,atau terlampaui dengan keceriaan dimasa kini.
  11. Pernah membaca atau mendengar kisah foklor yang sangat menarik ini, tapi lupa buku apa atau kapan…. Apa yang menarik, bahwa ternyata nenek moyang kita cukup piawai dalam menyajikan kisah-kisah hikmah yang sederhana… tapi mendalam. Foklor seperti ini merupakan salah satu kekayaan dan ‘kecerdasan kultural’ tradisi bangsa kita, yang hampir-hampir hilang atau tidak lagi dikenal dalam masyarakat kita.
  12. Dharma ini adalah makanan yang bergizi bagi hati nurani. Makanan bergizi, karena tidak sekedar memuaskan pengetahuan, namun membuat kesadaran berkembang dengan baik, hati semakin peka, reseptif, dan tiada batas. Gagang Aking sangat kentara dalam pelaksanaan kehidupan manusia yang menjurus pada masa Kaliyuga, masa kemerosotan Dharma. Gagang Aking memegang teguh pedoman ajaran tanpa melihat situasi dan kondisi yang selalu berubah, padahal pasti dirinya sendiri sebenarnya sangat lelah dan menjerit karena yang dilakukannya sama sekali tidak membawa damai sejahtera, selalu dibayangi ketakutan dan kecemasan yang berlebihan. Kebenaran yang dianut Gagang Aking mungkin hanya sepotong, tanpa melihat keseluruhannya. Pemahaman yang tidak matang, namun dengan demikian Aking sudah menganggap dirinya unggul, mungkin suci, ternyata sama saja dengan ilalang, makin tinggi makin kosong dirinya, apa yang diyakininya sungguh sia-sia. Akumulasi tindakan Gagang Aking akan membunuh dirinya sendiri, bagaikan tragedi matinya tikus di tengah lumbung padi. Dan fenomena inilah yang terjadi pada bangsa kita yang sebagian besar pelan-pelan mematikan nuraninya, menutupinya dengan implan konsep-konsep asing, dengan racun reaksi duniawi yang haus nafsu dan sensasi, dengan jerat-jerat moralitas, norma agama, norma hukum rimba yang pasti buyar jika gajah penguasa lewat. Apakah itu yang diinginkan leluhur kita, di tanah surga nusantara, kita memancarkan pikiran penuh gejolak alam neraka, dan selalu berputar-putar dalam kesengsaraan? Tanyalah nurani kita yang terdalam, jika kita masih waras, untuk apa semua ritual, laku, keyakinan, dan lain-lain, jika damai sejahtera hanya ilusi. Semoga kesadaran murni timbul pada semua makhluk dalam perjalanannya menuju kesempurnaan jati diri.
  13. Pada akhirnya Gagang Aking di ekor, Bubuksah di punggung sang Harimau. Berbeda tingkat kesadaran, berbeda tempat seat yang didapatkan, Gagang Aking kelas economy, Bubuksah kelas VIP.
  14. Yang penting adalah “laku”, pengimplementasian teori dalam praktek sehari-hari bukan hanya di khasanah teori.
  15. Banyak pemuda yang menggebu-gebu memperbaiki bangsa, akan tetapi setelah berhasil mendapatkan kekuasaan mereka lupa pada cita-cita perjuangan sebelumnya. Perlu menjaga kesadaran agar kita tidak lupa tujuan semula….. Banyak pelaku spiritual yang demi mencapai kesadaran dirinya melupakan ketidakadilan yang terjadi di sekelilingnya, mereka tertuju pada puncak gunung kesadaran dan acuh terhadap kejadian di seklilingnya. Mereka yang naik gunung adalah resi telah yang mengetahui hukum-hukum alam. Sedangkan Bhagawan adalah seseorang yang telah mencapai puncak kesadaran dan turun gunung, sehingga melihat ketidakbenaran dengan jelas. Para Bhagawan, memperhatikan tetangga, mereka yang yatim piatu, dan kerukunan bangsa. Semoga kita diberkati mendapatkan pemandu yang tepat…..
  16. Terima kasih. Semoga tidak jenuh, seperti air yang sudah jutaan tahun membersihkan kekotoran dan tidak pernah jenuh karena sadar akan swadharmanya. Setiap masalah adalah ujian untuk kenaikan evolusi…. Kalau kita belum lulus dia akan datang lagi suatu kali untuk menguji lagi dalam bentuk berbeda. Mengapa tidak menghadapi ujian saat ini saja? Seseorang mahasiswa yang belum lulus mata kuliah matematika harus tetap diuji sampai lulus mata pelajaran matematika. Demikian pula mata pelajaran kehidupan….
  17. Dalam kehidupan ini kita selalu harus belajar dan belajar, pelajaran kehidupan dan universitas kehidupan merupakan pengalaman yang sangat berharga yang kita bisa rumuskan dan belajar dari pengalaman itu.
  18. Pemahaman atas terjadinya dualitas perlu bila kita ingin berada dlm kesadaran diri yang lebih tepat lagi. Note ini memberikan gambaran yang sangat jernih atas keadaan dualitas yang terjadi. Menerima segala sesuatunya sebagaimana adanya sangat membantu kita menjadi sadar, berbahagia dan mensyukurinya; sehingga sudah tidak diperlukan syariat lagi, namun haruslah tetap eling lan waspodo.
  19. Kekuatan pikiran seseorang juga tidak terlepas dari lingkungan sekitar dan juga tergantung kualitas pribadi sendiri,,,teringat pepatah orang tua,,,bagaimanapun pisau kalau terus di asah pasti akan tajam, dan sebuah pisau akan berguna baik jika yang memakainya juga baik dan akan berakibat merugikan apabiala ditangan yang berwatak jahat….demikian juga dengan hasil dari sebuah pemikiran sangatlah tergantung dari kualitas manusia itu sendiri….

Terima Kasih.

Salam __/\__

Renungan Tentang Penemuan Kembali Jatidiri Lewat Bhakti Dalam Kisah Hanuman Duta Pada Relief Candi Penataran

Renungan Tentang Penemuan Kembali Jatidiri Lewat Bhakti Dalam Kisah Hanuman Duta Pada Relief Candi Penataran



Sepasang suami istri setengah baya sedang membicarakan perihal “Pengabdian”. Mereka teringat pada Kisah Hanuman Duta yang terpahat pada Relief Candi Penataran. Mereka sangat asik membahasnya

Sang Istri: Hanuman adalah seorang komandan wanara yang sangat berbhakti kepada Sri Rama. Dia diutus Sri Rama mencari tahu keberadaan Dewi Sinta yang diculik Rahwana seorang Raja Raksasa. Dengan beberapa koleganya dia mendaki gunung dan kemudian menemukan samudera luas membentang di hadapannya. Kapi Jembawan, koleganya mengingatkan Hanuman tentang potensi kemampuan terbang yang ada pada dirinya yang selama ini terlupakannya. Hanuman ingat akan potensi dalam dirinya dan kemudian terbang menyeberangi samudera ke negeri Alengka. Di negara Alengka Hanuman bersembunyi di pepohonan dalam istana dan akhirnya bisa bertemu Dewi Sinta dan menyerahkan cincin titipan Sri Rama……. Sewaktu keluar dari istana Hanuman terpergok para penjaga istana dan terjadi perkelahian dengan mereka. Para penjaga istana kewalahan, dan datanglah pasukan dipimpin Indrajit putera Rahwana. Dengan panah Bramastra, Hanuman bisa terbelenggu dan dibawa ke Pengadilan Alengka. Hanuman menyampaikan maksud kedatangannya agar Rahwana mengembalikan Dewi Sinta siteri Sri Rama. Namun Hanuman mendapat perlakuan tak mengenakkan, ekornya dibungkus kain yang telah dilumuri minyak dan dibakar dengan sengaja. Hanuman berontak dan bisa melepaskan diri dari belenggu dan membakar sebagaian atap istana……. Pada saat keadaan istana panik Hanuman pamit kepada Dewi Sinta dan kemudian terbang kembali ke tempat Sri Rama dan melaporkan hasil inspeksinya. Selanjutnya Sugriwa, Raja Wanara paman Hanuman diperintah Sri Rama untuk mengerahkan pasukan kera membuat tanggul laut yang menjadi jembatan ke negeri Alengka. Setelah selesai pasukan kera melewati “jembatan” tersebut menyerbu Alengka……..

Sang Suami: Ada perbedaan fokus antara Kisah Hanuman Duta pada Candi Penataran dengan Kisah Ramayana yang berada Candi Prambanan. Pada relief yang berada pada Candi Penataran di Jawa Timur, kisahnya terfokus tidak pada Sri Rama tetapi pada Hanuman. Dari 106 panel yang menggambarkan Ramayana, 4 panel memunculkan Sri Rama sedangkan 35 panel memunculkan Hanuman. Berbeda dengan relief Ramayana yang terdapat pada Candi Prambanan di Jawa Tengah dimana sangat jelas Sri Rama sebagai tokoh utama. Hanuman Duta adalah terfokus pada peristiwa Hanuman sebagai Duta menemui Dewi Sinta yang sedang disandera di Negeri Alengka. Walaupun demikian episode sebelum dan sesudahnya secara sekilas diungkapkan juga……. Kisah Ramayana pada relief Candi Prambanan yang dibangun pada abad ke 9 berfokus pada Sri Rama, dan nampaknya dipengaruhi oleh Kitab Ramayana karya Resi Walmiki. Dalam versi Resi Walmiki, Rama digambarkan sangat manusiawi. Sri Rama menjalani kehidupan layaknya seorang manusia yang berhasil mencapai kesempurnaan Ilahi. Dalam kisah yang ada di Candi Penataran yang dibuat pada abad 12 dan beberapa tambahan secara bertahap sampai abad 14, sudah ada fokus pemahaman ke dalam diri. Sri Rama digambarkan bersifat Ilahi, dan dimaknai sebagai “Kebenaran Sejati”. Hanuman adalah manusia yang telah mampu mengaktualisasi potensi diri sehingga menjadi manusia sempurna melalui jalan pengabdian atau Bhakti. Di abad ke 16 pandangan semacam diungkapkan dengan jelas oleh Tulsidas lewat Kidung Sri Hanuman Chalisa. Kidung Tulsidas ini dibahas dalam buku “The Hanuman Factor, Life Lessons from the Most Successful Spiritual CEO”, karya Bapak Anand Krishna.

Sang Istri: Dewi Sinta mewakili “human soul”, jiwa manusia yang hidup berbahagia berada dekat Sri Rama, Tuhan yang telah menjadi kekasihnya. Dewi Sinta sudah meninggalkan kenyamanan istana duniawi untuk mengikuti-Nya. Akan tetapi walau sekian lama berada dekat Tuhan, dia tergoda kijang kencana duniawi dan berdoa mohon kepada Tuhan agar memberikannya. Kala dia merasa tak ada Tuhan disampingnya, dia dijebak ego, raksasa pikiran yang berwujud sebagai Rahwana. Tuhan ibarat “fasilitator”, mengikuti keinginan manusia. Pilihan duniawi akan mengakibatkan resiko duniawi juga. Dewi Sinta akhirnya disekap Rahwana, ego keraksasaan dalam diri manusia. Hanuman mewakili “Bhakti” yang bisa menundukkan ego dan mempersatukan jiwa untuk bersatu kembali dengan Tuhan.

Sang Suami: Dalam salah satu versi Ramayana, Rahwana ditampilkan sebagai seorang ilmuwan. Bukan hanya ilmu pengetahuan yang ia kuasai, spiritualitas pun ia pahami. Tetapi, perilaku dan tindakannya tidak sesuai dengan pengetahuannya, dengan pemahamannya. la masih sepenuhnya dikendalikan oleh mind, oleh pikiran dan oleh hawa-napsu. Rahwana sering disebut “Dasamuka” berarti, “la yang memiliki sepuluh kepala”. Istilah “sepuluh kepala” ini simbolik sekali. Yang dimaksudkan adalah bahwa pikiran dia bercabang sepuluh. Lima cabang dikuasai oleh lima indera, panca-indera. Lalu, lima lagi dikuasai oleh lima kelemahan dalam dirinya, yaitu: napsu birahi, amarah, keterikatan, keserakahan, dan keangkuhan. Demikian diuraikan dalam buku “I Ching”, karya Bapak Anand Krishna.

Sang Istri: Konon sekitar 90% orang tidak menyenangi pekerjaannya, sehingga hasil yang dicapainya tidak maksimal dan juga tidak membahagiakannya. Seseorang yang mencintai pekerjaannya tidak pernah merasa capai dalam bekerja, dia selalu kreatif, dinamis dan selalu dalam keadaan berbahagia ketika bekerja. Hanuman bukan hanya mencintai pekerjaannya, melainkan dia mencintai semua tindakan yang dilakukan sepanjang hidupnya. Fokusnya hanya satu menyenangkan Sri Rama, yang juga bermakna “Dia Yang Berada Di Mana-Mana”. Hanuman adalah bhakta yang sempurna. Hanuman berasal dari kata “hanan” dan “manas”, peniadaan pikiran. Penguasaan sempurna akan akal sehatnya. Mengabdi tanpa pamrih, tidak ada motif mementingkan diri pribadinya. Hanuman menguasai pengendalian nafas yang diajarkan oleh Dewa Bayu yang dianggap sebagai Bapaknya.

Sang Suami: Hanuman putera angin, paling bijak, cepat dan paling kuat di antara kera. Kelemahan utama manusia adalah tidak bijak. Kita mungkin menguasai bermacam-macam pengetahuan. Kita mempunyai gelar dan penghargaan. Akan tetapi semua itu tidak menjamin kita menjadi bijak. Kebijakan adalah pengetahuan yang sudah tercerna yang telah menjadi bagian dari keberadaan kita…… Walau sering dimaknai putera Dewa Angin, lebih tepat Hanuman dimaknai “angin yang muda”, “youthful wind”. Angin bermakna luas, lembut dan tak terbatas. Dan, elemen angin yang ada dalam diri kita yang perlu ditumbuh-kembangkan juga. Elemen angin juga berhubungan dengan kekuatan, intelegensia atau kebijakan dan pengetahuan atau skill. Kekuatan angin tersebut dapat menghalau awan kebodohan dan delusi. Kuat, bijak dan skill ketiganya sangat penting. Kita tidak dapat mencapai keberhasilan bermodalkan otot saja.

Sang Istri: Hanuman telah berjuang meningkatkan harkat kehewanian, kemanusiaan dan keilahian dalam dirinya. Hanuman telah memaksimalkan semua potensi dalam dirinya. Dan semua tindakannya hanya dipersembahkan kepada Sri Rama. Hanuman pasrah sepenuhnya kepada Sri Rama. Pasrah bukan berarti malas dan tidak bekerja. Seorang Guru menanam benih kesadaran pada diri sang murid. Bila sang murid telah membabat habis tanaman rumput egonya, maka yang tersisa hanyalah tanaman kesadaran Sang Guru. Sang murid bertindak atas tanaman kesadaran Sang Guru bukan bertindak atas upaya egonya.

Sang Suami: Pada waktu Hanuman ditugasi membawa pesan kepada Dewi Sinta di Alengka, Hanuman mohon diberikan bukti bahwa dia benar-benar Utusan Sri Rama. Sri Rama memberikan cincinnya untuk diberikan kepada Dewi Sinta sebagai bukti. Konon Hanuman menjaga pesan tersebut dengan hati-hati dan cincin tersebut disimpan dalam mulutnya. Selama dalam perjalanan dan belum bertemu Dewi Sinta dia membisu, tidak bicara dan hanya menggunakan telinga dan matanya untuk mencari keberadaan Dewi Sinta.

Sang Istri: Hanuman adalah kesadaran terdalam, suara hati nurani, dan dia adalah yang bersemayam dalam suara alam. Dengarkan dia dan memahami dilemanya. Dalam zaman dahulu yang baik dan yang buruk berada dalam dua kelompok yang berbeda. Sekarang ceritanya jauh berbeda, yang baik dan yang jahat berada dalam satu manusia. Bagaimana saya memberi “reward”, penghargaan dan memberi “punishment”, hukuman pada saat yang sama? Kita harus mengembangkan cara yang lebih ramah dengan zaman. Sebagai pengganti “reward and punishment” kepada seseorang, mari mencoba membantu meningkatkan kesadarannya. Seseorang yang sadar tidak membuat kesalahan. Seseorang yang sadar menjadi baik tanpa ketakutan terhadap “punishment”, atau harapan akan “reward”, dia menyadari adalah baik menjadi yang baik. Jiwa yang menyadari hal demikian sesungguhnya adalah kekasih Sri Rama.

Sang Suami: Hanuman diyakini mempunyai 8 buah Siddhi, kekuatan alam.

  1. Anima, Kekuatan mengecilkan diri sampai kecil sekali. Dalam spiritual berarti kemampuan “to let go”, membiarkan semuanya pergi dengan ikhlas.
  2. Mahima, Kekuatan membesarkan diri sebesar-besarnya. Dalam spiritual berarti kemampuan untuk mengembangkan kesadaran.
  3. Garima, Kekuatan untuk menjadikan diri sangat berat. Dalam spiritual berarti kemampuan untuk untuk mempertahankan kemauan yang kokoh.
  4. Laghima, Kekuatan untuk menjadikan diri sangat ringan. Dalam spiritual berarti kemampuan untuk menyesuaikan diri.
  5. Prapti, Kekuatan untuk menuju tempat mana saja. Dalam spiritual berarti kemampuan untuk memahami ilmu yang ada di seluruh dunia.
  6. Prakamya, Kekuatan untuk merealisasikan semua keinginan. Dalam spiritual berarti kemampuan untuk mengetahui kehendak alam.
  7. Isitva, Kekuatan untuk memiliki segala sesuatu, dalam spiritual berarti kemampuan untuk mengetahui apa yang terbaik bagi dirinya.
  8. Vasitva, Kekuatan untuk menguasai semua makhluk. Dalam spiritual berarti kemampuan untuk mengontrol indera.

Sang Istri: Hanuman begitu sempurna, mengapa dia membakar sebagian atap istana dan sebagian rumah milik warga yang tak tersangkut urusan Dewi Sinta ada alasannya. Walau masyarakat secara langsung tidak bersalah, akan tetapi bagaimana pun masyarakat lah yang memilih pemimpin mereka. Masyarakat lah yang memilih peraturan perundang-undangan dan perwakilan mereka dudk di lembaga negara. Sehingga dalam memilih pemimpin diktator pun masyarakat ikut terlibat juga. Hanuman pun hanya membakar atap beberapa rumah dekat istana sekedar memberi peringatan bahwa apabila Dewi Sinta tidak segera dikembalikan, mereka akan menerima akibat yang lebih besar yang akan datang kemudian. Hanuman di pengadilan mengaku sebagai Duta Besar Sri Rama, tetapi dia tetap ditangkap, dibelenggu dan hampir dibunuh di luar kepatutan. Tindakan pemerintah Kerajaan Alengka terhadap seorang Duta Besar perlu dibalas dengan sebuah pelajaran. Pelajaran agar masyarakat segera sadar dan mengubah diri, sebelum bencana yang lebih besar lagi akan tiba kemudian. Semoga negeri kita tidak salah memperlakukan Duta-Duta Ilahi di luar kepatutan, sehingga bencana akan menimpa kemudian……

Terima Kasih Guru. Jaya Guru Dewa!

Situs artikel terkait


Pointer Tambahan hasil dari Komentar dan tanggapan di Facebook

Renungan Tentang Penemuan Kembali Jatidiri Lewat Bhakti Dalam Kisah Hanuman Duta Pada Relief Candi Penataran

  1. Pengabdian yg sungguh indah…. mencintai mengabdi itu sendiri.
  2. Potensi terbang Hanuman idem dengan potensi manusia yang terlupakan….. Kedatangan seorang Guru untuk mengingatkan potensi yang ada dalam setiap insan. Sesungguhnyalah manusia bisa mandiri ijak memahami potensi dirinya…..
  3. Mari merenung bersama,selama ini sudahkah kita berBhakti? Atau hanya meminta minta saja?
  4. Seseorang yang sadar tidak membuat kesalahan. Seseorang yang sadar menjadi baik tanpa ketakutan terhdap “punishment” atau harapan akan “reward” dia menyadari adalah baik menjadi yang baik. Jiwa yang menyadari hal demikian sesungguhnya adalah kekasih Sri Rama..
  5. Kisah “Anoman obong” sudah saya dengar sejak kecil, sebagai bagian dari kultur Jawa di mana saya tumbuh. Namun sama sekali saya… tidak memiliki atau pernah menemu tafsiran semendalam ini. Selalu saja kisah ini hanya tereduksi semata sebagai pertarungan antara kebaikan dan kejahatan, kebenaran dan kesalahan. Atau paling-paling malah sosok Anoman obong kita lihat sebagai situasi ketika orang terbakar birahi/Cinta. Sungguh tidak menduga kalau ternyata kisah ini menyimpan kedalaman makna (nilai-nilai) yang begitu mendalam. Luar biasa, kisah Anoman obong benar-benar suatu seni bertutur yang selain sarat makna, lebih jauh juga sangat estetis.
  6. Guru adalah Duta Besar dari Negara Ilahi. Guru mengingatkan para murid bahwa para murid sebenarnya bukan warga dunia, segera kembalilah ke Negara Ilahi. Mungkin ada yang belum bertemu Sang Duta Besar, tetapi pengumumannya telah dipasang di mana-mana. Para murid telah lupa kewarganegaraan asli mereka
  7. Merenungkan kisah Ramayana dan Bharatyudha, nampaknya tingkat kesadaran manusia belum banyak beranjak. Mind semakin cerdas, tetapi belum dibarengi naiknya kesadaran. Menurut ilmu pengetahuan fisik manusia jauh lebih tua, tetapi belum juga dilampauinya. kita bekerja bukan untuk mengembangkan jiwa tetapi untuk mencari makan. Mind kita belum tua sekali tetapi sudah berkembang pesat sekali. Semoga kesadaran kita semua meningkat…..
  8. Bagaimana ciri-ciri seorang Bhakta? Bagaimana mengenalinya? Gampang…… Bhagavad Gita menjelaskan bahwa dalam keadaan suka maupun duka – ia tetap sama. Ketenangannya kebahagiaannya, keceriaannya – tidak terganggu. Ia bebas dari rasa takut. la tidak akan menutup-nutupi Kebenaran. la akan mengungkapkannya demi Kebenaran itu sendiri. la menerima setiap tantangan hidup….. la bersikap “nrimo” – nrimo yang dinamis, tidak pasif, tidak statis. Pun tidak pesimis. Menerima, bukan karena merasa tidak berdaya; iklas, bukan karena memang dia tidak dapat berbuat sesuatu, tetapi karena ia memahami kinerja alam. Ia menerima kehendak Ilahi sebagaimana Isa menerimanya diatas kayu salib. Ia berserah diri pada Kehendak Ilahi, sebagaimana Muhammad memaknai Islam sebagai penyerahan diri pada-Nya. Pasang-surut dalam kehidupan seorang Bhakta tidak meninggalkan bekas. Tsunami boleh terjadi, tetapi jiwanya tidak terporak-porandakan. Banyak yang berprasangka bahwa sikap “nrimo” membuat orang menjadi malas. Sama sekali tidak. Sikap itu justru menyuntiki manusia dengan semangat, dengan energi Terimalah setiap tantangan, dan hadapilah! Seorang Bhakta selalu penuh semangat. Badan boleh dalam keadaan sakit dan tidak berdaya – jiwanya tak pernah berhenti berkarya. la akan tetap membakar semangat setiap orang yang mendekatinya. *Vedaanta, AK.
  9. “Jadilah seorang Bhakta,” demikian ajakan Sri Krishna kepada Arjuna, di tengah medan perang Kurukshetra. Tentunya, ia tidak bermaksud Arjuna meninggalkan medan perang dan melayani fakir-miskin di kolong jembatan. Atau, berjapa, berzikir pada Hyang Maha Kuasa, ber-keertan, menyanyikan lagu-lagu pujian. Tidak. Krishna mengharapkan Arjuna tetap berada di Kurukshetra, dan mewujudkan Bhaktinya dengan mengangkat senjata demi Kebenaran, demi Keadilan. Ingatlah pesan Sri Krishna kepada Arjuna: “Janganlah engkau membiarkan dirimu melemah di tengah medan perang ini. Angkatlah senjatamu untuk menegakkan Kebenaran dan Keadilan. Janganlah memikirkan hasil akhir, janganlah berpikir tentang untung-rugi. Berkaryalah sesuai dengan tugas serta kewajibanmu dalam hidup ini!” Seorang Bhakta adalah seorang Pejuang Tulen. la tidak pernah berhenti berjuang. Kendati demikian, ia pun tidak bertindak secara gegabah. la waspada, tidak was-was. la tidak menuntut sesuatu dari hidup ini, dari dunia ini. la berada di tengah kita untuk memberi. la tidak mengharapkan imbalan dari apa yang dilakukannya. la berkarya tanpa pamrih. Keberhasilan dan kegagalan diterimanya sebagai berkah. Utishtha, Jaagratah …… Bangkitlah, Bangunlah…… Hadapilah segala macam rintangan dengan jiwa seorang Bhakta. Berjuanglah dengan semangat seorang Satria. Tanpa rasa bimbang, tanpa keraguan – seorang Bhakta mengabdikan jiwa dan raganya bagi nusa dan bangsa. la sadar sesadar-sadarnya akan tugas serta kewajibannya terhadap Tanah-Air, terhadap Ibu Pertiwi. Terhadap lingkungan, terhadap sesama manusia dan sesama makhluk hidup…… Terhadap dunia ini, terhadap alam semesta. la memahami perannya dalam hidup ini. *Vedaanta, AK
  10. Sewaktu Dewi Sinta sudah kembali ke Ayodya, Hanuman diberi hadiah kalung mutiara. Oleh Hanuman mutiara tersebut dilepas, digigit, didekatkan telinga bahkan dipukul-pukulkan. Laksmana tersinggung…. Dewi Sinta memahami, pada mutiara tersebut tak ada suara Sri Rama, tak ada Rama dan bagi Hanuman segala sesuatu yang tak membuat ingat ke Tuhan tak ada harganya. Dewi Sinta kemudian menyuruh Hanuman ikut Sri Rama ke mana saja dan itulah yang didambakannya……
  11. Seseorang yang sadar menjadi baik tanpa ketakutan terhadap “punishment”, atau harapan akan “reward”, dia menyadari adalah baik menjadi yang baik. Indah sekali kalimat tsb. Hal seperti ini di bumi pertiwi kita dewasa ini sudah jarang terjadi. Amati saja, segala sesuatunya harus diberikan Reward agar rakyat maupun pejabat bisa berkarya yang mengakibatkan biaya ekonomi tinggi. Hal ini sudah menunjukkan kesadaran diri yang masih pada tingkatan rendah serta belum dewasa. Bahkan ada dogma yang sering menerompetkan adanya ‘punishment and reward’, dan itu diikuti oleh para penganutnya secara tekstual!, kurang diolah dengan akal budinya maupun roso. Konon Hanuman itu merupakan sel-sel darah putih kita sendiri.
  12. Hanuman dan Gatotkaca merupakan tokoh yang paling saya kagumi karena pengabdian dan pengorbanan yang luar biasa…….
  13. Hanuman tahu dengan tugas dan wewenangnya sehingga dia cuma membakar sebagian atap rumah, andaikan dia menuruti egonya, dia mampu memporakporandakan kerajaan Alengka sendirian.
  14. Menurut pemahaman kami sampai dengan saat ini Yoga berati penyatuan, manunggal. Manusia merasa terpisah dengan Tuhan karena pikirannya, padahal dia tidak pernah terpisah, segala sesuatu berada dalam Tuhan. Bagaimana cara men…yatu ini dalam Yoga Klasik ada 4 yaitu karma yoga, raja yoga, Gyana yoga dan bhakti yoga. Karma yoga cara menghilangkan ego lewat bekerja tanpa pamrih. Bekerja sekuat tenaga tanpa memikir hasil akhir…. Raja yoga dengan melatih pernapasan dengan postur-posturnya. Seseorang yang meningkat kesadarannya dipercaya mempunyai syaraf-syaraf yang berubah. Dengan postur-postur tertentu yang membuat syaraf berubah bakal meningkatkan kesadaran. Napas yang semakin tenang membuat gelombang otak semakin tenang. Pada waktu gelombang otak sekitar 14 hertz (Beta) dalam satu saat berpikir banyak hal seperti kita dalam keadaan normal. Sewaktu kita lebih tenang, sekitar 7 hertz (Alpha) kita berpikir satu hal dalam satu saat. Pada waktu kita mimpi kita masih ada tapi lupa fisik sekitar 3.5 hertz. Pada waktu deep sleep, tidur tanpa mimpi sekitar 2 hertz. Pada waktu koma 0.5 hertz dan mati 0 hertz. Seorang yogi bisa dalam keadaan deep sleep selagi jaga dengan memperlambat pernapasannya. Pada waktu kondisi Alpha, kita bisa masuk pikiran bawah sadar dan mengubah pola pikiran yang salah. Hatha Yoga mungkin seperti halnya raja yoga……. Gyana yoga melalui perenungan misalnya aku ini siapa, memperhatikan pikiran dan lain-lain….. Bhakti Yoga dengan jalan pengabdian, hidup ini hanya untuk ibadah, melayani, kasih…… Dalam prakteknya dalam Bhakti Yoga juga menggunakan yoga-yoga lainnya……
  15. Kita butuh motivasi dari luar, itulah sebabnya ada reward and punishment. Padahal yang di luar itu tidak abadi. Lain bila kita bekerja karena kesadaran, dorongan yang datang dari dalam, tidak tergantung luar. Sepi ing pamrih rame ing gawe. Tanpa pamrih luar tetapi tetap bekerja keras.
  16. Penjabaran Dharma dengan simbol Hanuman sungguh tepat, penjelasan tentang hubungan Guru-Muridnya juga mengena sekali. Kebanyakan dari kita hanya membanggakan diri bisa menerima perlindungan dari guru sejati, namun sangat jarang melaksanakan ajarannya. Energi kesadaran yang ditanamkan guru tidak akan berkembang. Maka, murid wajib melaksanakan ajaran dengan semangat cintanya akan perubahan hidup ke arah yang lebih baik. Perlu disadari sikap pasrah kepada guru bukan berarti pasif, justru karena guru bersedia bertanggung jawab atas kemajuan spiritual kita sepanjang kita melaksanakan ajarannya, maka kita berusaha dengan semangat tinggi, dengan jiwa muda (Hanuman) yang tidak mengenal keputusasaan. Dengan cerita Hanuman yang digambarkan penuh kesetiaan mengabdikan dirinya dengan segala kemampuannya yang hebat, tanpa memikirkan imbalan, leluhur kita telah menyampaikan dharma yang sangat up to date: Jadilah Diri Sendiri! Hanuman dengan fisik kuat dan siddhinya menyadari akan dirinya yang sangat tiada tara dalam tubuh fisik setengah keranya, namun yang membuatnya hebat adalah mengabdi pada guru yang benar demi kemajuan hidupnya, melaksanakan segala tugas yang diamanatkan dengan penuh tanggung jawab dan rasa cinta tulus kepada kehidupan. Inilah gambaran sosok manusia yang benar-benar MERDEKA! Hanuman tidak diperbudak oleh siapapun, dia bebas menentukan nasibnya sendiri, dia menyadari dengan kebijaksanaannya untuk menerima tugasnya, dengan senang hati, dan dengan segala visi, pengetahuan, dan keahliannya Hanuman sangat berperan bagi kemenangan gurunya Sri Rama atas Rahwana. Bertindak berdasarkan suara hati nurani, kebijaksanaan mendalam membimbingnya bertindak spontan yang menyadarkan musuh-musuhnya. Nah, jika pihak-pihak yang bertanggung jawab atas kelangsungan negeri yang tercinta ini mau bertindak berdasarkan motivasinya yang murni, maka segala krisis di negara ini akan mudah diselesaikan tanpa menimbulkan masalah baru.
  17. Dalam kisah yang ada di Nusantara, ibu Hanuman, Anjani dan kedua saudaranya adalah manusia yang karena kesalahan berubah menjadi Kera. Ibu Hanuman bertapa agar puteranya walau berwujud kera tetapi mempuny…ai sifat manusia utama yang jauh lebih baik daripada mereka yang berwujud manusia tetapi tindakannya masih seperti kera……. Ketika Sri Rama berada di hutan kehilangan Dewi Sinta dia bertemu sekelompok wanara, wujudnya setengah manusia dan setengah kera yang tinggal di hutan. Sedangkan Rahwana dan para raksasa adalah mereka yang tubuhnya tinggi besar dan sudah maju peradabannya di seberang lautan. Mungkin saja, wanara mewakili manusia yang masih liar yang hidup di hutan dan di antara para wanara sudah ada yang mengalami evolusi kesadaran seperti Hanuman. Raksasa pun mungkin mewakili manusia yang belum halus rasanya dan mau menang sendiri. Sri Rama diperkirakan hidup sekitar 10-11.000 SM. Sedangkan Sri Kresna hidup sekitar 3.000 tahun SM.
  18. cerita ramayana dan mahabharatha adalah sebuah epos besar yang mengandung beragam karakter dalam penokohannya,,,,dan cerita ramayana sendiri sudah”dikutuk” oleh penyadurnya bahwa selama gunung masih berdiri tegak dan sungai tetap mengalir kelautan,maka selama itu cerita ini akan hidup…semoga kita bisa mengambil makna dari sebuah cerita.
  19. Terbersit dari sesuatu yang bodoh ini & dimaknai dengan sebuah perjalanan evolusi serta kehendak. Jika ditilik dari cerita-cerita sebelumnya yang melatar belakangi lahirnya Hanuman seperti perjalanan sang resi & istrinya yang berlakonkan buyut hanuman, kemudian tragedi cupu manik astagina yang masuk kedanau, kemudian bertapanya 3 saudara dst, maka ada sebuah kondisi menarik dimana hanuman tahu apa yang harus dia perbuat tanpa melihat cerita kebelakang.

Terima Kasih.

Salam __/\__


Renungan Pilihan antara Keduniawian dan Keilahian dalam Kisah Kresnayana pada relief Candi Penataran

Renungan Pilihan antara Keduniawian dan Keilahian dalam Kisah Kresnayana pada relief Candi Penataran



Sepasang suami istri setengah baya sedang mendiskusikan buku-buku karya Bapak Anand Krishna. Saat membaca Kisah Kresnayana yang terdapat pada relief Candi Penataran mereka mencoba memandang dengan kacamata berbeda.

Sang Istri: Raja Negeri Kundina, Bhismaka menerima pinangan Raja Negeri Karawira, Jarasandha yang meminang putri Bhismaka Rukmini untuk dikawinkan dengan Raja Negeri Cedi bernama Suniti keponakan Jarasandha. Tetapi Prithukirti ibu Rukmini mengharapkan putrinya kawin dengan Kresna, seorang keponakannya. Rukmini pun memilih Kresna daripada Suniti, dan oleh karena itu ibunya menyuruh seorang dayang menghadap Kresna menyampaikan masalah yang dihadapi Rukmini. Sang dayang menggambarkan kecantikan wajah dan hati Rukmini dan kecintaan sang putri terhadap Kresna. Bagi sang putri hanya ada satu istana Dwarawati dan hanya ada satu pria Kresna yang menjadi dambaannya. Sang Ibu mengharapkan Kresna secepat mungkin datang untuk melarikan sang putri selagi belum terlambat. Kresna datang dengan balatentaranya dari kerajaan Dwarawati dan balatentara Baladewa, saudaranya dari Mandura ke Negeri Kundina. Kedatangan Kresna dengan pasukan dianggap wajar saja karena Kresna termasuk keponakan Permaisuri Prithukirti. Pada malam hari sebelum kedatangan rombongan Raja Cedi dan Jarasandha, Rukmini keluar istana dengan menyaru sebagai seorang “kili”, pendeta wanita ditemani seorang dayangnya menuju penginapan Kresna dan kemudian dilarikan Kresna ke Dwarawati. Mendengar Rukmini meninggalkan istana, Rukma Kakak Rukmini tersinggung dan bersitegang dengan ayahandanya yang seakan-akan membiarkan Rukmini dilarikan oleh Kresna. Sang Ayah berkata bahwa adalah hak seorang satria seperti Kresna kawin secara gandarwa dengan melarikan gadis pujaannya. Rukma menyampaikan kisah Sri Rama, bahwa dia perlu menyerang Kresna untuk membela harga dirinya. Rukma dengan balatentaranya menyerang Kresna tetapi dikalahkan. Atas permintaan Rukmini, Rukma tidak dibunuh oleh Kresna, akan tetapi Rukma tidak pulang ke Negeri Kundina melainkan mendirikan negeri baru. Kresna dan Rukmini hidup bahagia. Kisah gubahan Mpu Triguna tersebut dipahatkan pada Relief Candi Penataran.

Sang Suami: Rukmini berada dalam dilema pilihan jalan kehidupan. Mengikuti Ayahandanya dia akan kawin dengan Raja Cedi, keponakan Raja Jarasandha yang tersohor di dunia. Dia sudah dipinang dan ayahandanya sudah setuju dan persiapan pernikahannya sudah diselesaikan, undangan bahkan sudah disebarkan. Bila Rukmini pasrah saja maka dia akan mendapat kemuliaan hidup keduniawian. Akan tetapi Rukmini didukung sang ibunda memilih kawin sederhana secara gandarwa dan resiko suaminya bakal diserang Raja Cedi dan Raja Jarasandha. Ini adalah resiko dari pilihanya. Pasti terjadi sengketa, masalah harga diri Raja Jarasanda dan Rukma, kakaknya yang merasa terhina. Rukmini sudah menjadi calon istri, sudah tinggal menunggu “Hari H” pernikahannya. Di lain pihak Kresna berpendapat sebelum menjadi istri orang secara sah, dibenarkan seorang satria kawin secara gandarwa, dengan melarikan calon istrinya……. Kisah sederhana ini mengungkapkan seseorang yang dihadapkan pada pilihan antara duniawi dan ilahi. Sang Pikiran dan Panca Indera memilih keduniawian, sedangkan Sang Perasaan memilih keilahian. Pikiran kita selalu mencari “sandaran”, sedangkan hati nurani kita ingat akan kemuliaan diri. Dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha” disampaikan bahwa …….. mereka yang melupakan Allah—melupakan “kemuliaan diri”—akan menjadi minder. Mereka kehilangan percaya diri. Lalu mereka akan mencari sandaran. Lalu mereka akan berkolusi dan berkorupsi. Ia yang percaya diri—ia yang meyakini Keberadaan Allah—tidak akan melakukan kolusi dan korupsi. Ia yang melakukan kolusi dan korupsi sesungguhnya “menduakan” Allah. Ia mulai meyakini kebijakan manusia. Mereka-mereka inilah pemuja berhala. Isa, Yesus sedang bicara dengan orang-orang seperti ini, seperti saya dan Anda. Dengan kita-kita yang telah menduakan Allah. Kita pikir uang adalah segala-galanya. Nanti, kalau sudah babak belur—kalau jatuh sakit dan salah satu saja organ tubuh kita jebol—baru tahu uang seberapa pun juga tidak bisa membantu kita……..

Sang Istri: Rukmini memang luar biasa, dia tidak goyah oleh pinangan duniawi. Dia percaya diri, percaya dengan hati nurani. Selama kita menggunakan pikiran sebagai penguasa diri maka kita akan selalu menghitung laba-rugi. Dalam buku “Isa Hidup dan Ajaran Sang Masiha” disampaikan bahwa……. selama anda masih menghitung laba-rugi, anda akan membenarkan pencurian, penjarahan, penipuan, pembunuhan. Ia benar. Mind yang masih menghitung adalah mind yang sangat licik. Ia masih sibuk melakukan debet-kredit. Mencuri dua kali, beramal saleh tiga kali. Tiga dikurangi dua, masih sisa satu amal saleh. Menipu 10 kali, membantu orang 13 kali. Lima belas dikurangi sepuluh—masih tersisa lima pahala. Itu sebabnya, mereka yang korup membayar zakatnya pun paling tinggi. Itu sebabnya mereka sibuk melakukan perjalanan ke Tanah Suci, ke sungai Ganga, ke Vatikan, ke Lordes. Demikian, mereka anggap bisa meringankan beban dosa mereka. Sepulang dari tempat-tempat tersebut, mereka akan mengulangi lagi perbuatan-perbuatan keji. Mereka akan melakukan kejahatan-kejahatan yang sama. Lalu perjalanan suci pun mereka ulangi. Bantuan untuk tempat-tempat ibadah pun akan mereka berikan……………

Sang Suami: Mpu Triguna penggubah Kresnayana, lewat Rukma, Kakak Rukmini mengingatkan kejadian sewaktu Rama dan Sinta diculik Rahwana. Dua kisah “avatara” diungkapkan pada sebuah candi yang sama, agar mereka yang melihat sadar bahwa sudah sejak zaman dahulu, seorang wanita dapat menjadi pemicu terjadinya peperangan. “Avatara” adalah Tuhan yang mewujud manakala kebenaran merosot dan kejahatan merajalela, untuk menyelamatkan orang-orang saleh dan membinasakan orang jahat dan menegakkan kembali kebenaran. Avatar ada dari zaman ke zaman. Secara tersirat Mpu Triguna mengingatkan seorang Avatara Wisnu pun dalam kehidupan berikutnya nampaknya tetap mengalami hukum karma dan hukum evolusi. Sebagai Sri Rama, Sang Avatara Wisnu berperang dengan Rahwana yang menculik istrinya. Sebagai Sri Kresna, Sang Avatara Wisnu lah yang menculik calon istri orang lain, walau tentu saja situasinya berbeda. Dalam Srimad Bhagavatam diuraikan akhir hidup Sri Kresna yang kakinya dipanah seorang pemburu dan matilah Sri Kresna dan berakhirlah zaman Dwapara Yuga. Seakan-akan hal tersebut mengingatkan Sri Rama memanah Kera Subali yang tidak mempunyai kesalahan langsung dengan Sri Rama. Dalam kisah Ramayana, Sri Rama dibantu Hanuman Sang Putra Bayu, sedangkan dalam kisah Bharatayuda Sri Kresna membantu Pandawa termasuk Bhima Sang Putra Bayu. Dalam kisah sebagian para leluhur, Laksmana adik Sri Rama menitis dalam diri Baladewa. Sedangkan Dewi Sinta karena pernah diminta uji bakar diri oleh Sri Rama menuruti suara masyarakat, tidak menitis menjadi istri Sri Krisna, tetapi menjadi adik Sri Krishna bernama Subadra yang kawin dengan Arjuna.

Sang Istri: Permusuhan Kresna dengan Jarasandha sudah merupakan skenario alam semesta. Dalam kelanjutannya, Jarasandha ingin menjadi Maharaja dengan menawan 99 raja tetangganya. Dengan bantuan Sri Kresna, Bhima dapat menaklukkan Jarasandha dan ke 99 raja dibebaskan dan membantu Pandawa dalam perang Bharatayudha. Dalam Srimad Bhagavatam disampaikan kisah dua raksasa penjaga gerbang istana Wisnu yang disebut Dwarapala, yang sekarang selalu dipasang sepasang di kanan kiri gapura kraton. Mereka berbuat salah dan dikutuk menjadi musuh utama Sri Wisnu di dunia selama 3 kali kelahiran baru dapat kembali menjadi pengawal istana Wisnu lagi. Pertama kali mereka lahir menjadi Hiranyaksa dan hiranyakasipu yang dibunuh “Waraha Avatara” dan “Narasimha Avatara”. Kelahiran Kedua sebagai Rahwana dan Kumbakarna yang dibunuh “Sri Rama Avatara”. Sedangkan kelahiran terakhir sebagai Shisupala dan Dantavakra sahabat-sahabat Jarasandha yang menyerang ke Negeri Dwarawati dan dibunuh “Sri Krishna Avatara”.

Sang Suami: Avatar berarti “Ia yang turun”. Lalu, oleh mereka yang tidak mengetahui artinya diterjemahkan sebagai “turun dari sono”. Entah dari mana! Sebenarnya, tidak demikian. Avatar berarti “ia yang turun dari tingkat Kesadaran Murni”. Dalam buku “Atmabodha” disampaikan bahwa…. seorang avatar harus menurunkan kesadarannya untuk berdialog dengan kita. Untuk berkomunikasi dengan kita. Dan karena itu, bukan hanya Rama, Krishna, dan Buddha, tetapi Yesus juga seorang Avatar. Muhammad dan Zarathustra juga demikian. Mereka semua harus turun dari tingkat Kesadaran Murni yang telah mereka capai, untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada kita. Memang, bahasa Krishna lain. Bahasa Buddha lain. Bahasa Yesus lain. Bahasa Muhammad lain. Memang harus begitu, karena mereka sedang berkomunikasi dengan orang-orang yang berbeda, dengan mereka yang tingkat kesadarannya berbeda-beda. Kendati seorang avatar, atau seorang nabi, harus menurunkan kesadarannya untuk bisa berkomunikasi dengan kita, sesungguhnya dia tidak pernah lupa akan Jati Dirinya—bahwasanya “Matahari Kesadaran Murni” itulah Kebenaran Diri dia. Ini yang membedakan mereka dari kita……..

Sang Istri: Mpu Triguna menyampaikan peperangan antara Rukma dengan Sri Kresna. Dalam buku “Bagimu Ibu Pertiwi” disampaikan…….. Banyak orang yang menyalah-tafsirkan istilah jihad. Jihad bukanlah perang suci. Tidak ada perang yang suci. Setiap perang membawa korban. Setiap perang menumpahkan darah. Dan pertumpahan darah bukanlah sesuatu yang suci. Jihad berarti perang untuk men-suci-kan. Dan yang harus disucikan adalah diri sendiri. Kata kunci di sini adalah “saadhanaa”, yang dalam bahasa sufi disebut “jihad” – upaya sungguh-sungguh untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Saadhanaa atau jihad adalah upaya sungguh-sungguh untuk membebaskan diri dari ilusi yang disebabkan oleh materi. Untuk melihat “kebenaran rohani” di balik bayang-bayang jasmani. Budaya-budaya asing boleh bertamu ke negara kita. Kita akan menghormati mereka, bahkan akan belajar dari mereka. Tetapi Budaya asal kita tetaplah tuan rumah di negeri ini. Mempertahankan kebangsaan kita, budaya kita, asal-usul kita, sejarah kita. Inilah jihad kita……..

Sang Suami: Dalam buku “Atmabodha” disampaikan bahwa…. proporsi mind dan intelegensia dalam diri setiap manusia bisa berubah-ubah. Bila proporsi mind naik, intelegensia akan turun. Bila intelegensia bertambah, mind berkurang. Bila proporsi mind mengalami kenaikan, manusia menjadi ego-sentris. Dia akan mengutamakan kebahagiaan diri, kesenangan diri, kenyamanan diri, kepentingan diri. Mind hidup dalam dualitas. Bagi mind, Anda adalah Anda, saya adalah saya. Sebaliknya, intelegensia bersifat universal. Seorang ber-“intelegensia” akan memikirkan kebahagiaan umum, kesenangan dan kenyamanan umum, kepentingan umum. Dalam satu kelompok atau satu organisasi, level intelegensia setiap anggota biasanya mirip-mirip. Jelas tidak bisa sama, tetapi ya kurang lebihlah! Bila tidak, akan selalu terjadi kesalahpahaman dan pertikaian. Bangsa kita saat ini sedang mengalami krisis intelegensia, krisis “budhi”, krisis kesadaran. Ada yang berintelegensia tinggi dan bisa menerima perbedaan, tetapi ada juga yang berintelegensia sangat rendah, sehingga tidak bisa menerima perbedaan. Mereka ingin menyeragamkan segala sesuatu. Akibatnya, kita berada di ambang disintegrasi. Jalan keluarnya hanya satu: yang berintelegensia rendah meningkatkan intelegensia diri. Atau yang berintelegensia tinggi turun ke bawah. Bergabung dengan mereka yang berintelegensia rendah. Perbedaan keduanya cukup jelas, mind atau mano selalu melihat dualitas; intelegensia atau budhi selalu melihat kesatuan. Sebetulnya, budhi juga melihat perbedaan, tapi ia melihat kesatuan di balik perbedaan. Sementara mind hanya melihat perbedaan. Budhi melihat isi; mano melihat kulit.