GotoBus
Showing posts with label Tentang Ramayana. Show all posts
Showing posts with label Tentang Ramayana. Show all posts

Perjalanan Batin Dewi Sinta Bagian Kedua, Melahirkan Putra Kembar Perkasa




Dunia masih belum selesai dengan evolusi fisiknya. Sementara itu, para pecinta sudah mengalami evolusi batin, maka dunia tidak dapat memahami keadaan para pecinta. Dunia akan selalu menolak para pecinta seperti itu, termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya. Kalau mau menapaki jalur itu, kita harus bersiap-siap untuk itu. Jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang tidak sering ditempuh. Berapa banyak orang tua yang memberi nama nabi atau orang suci kepada anak mereka dan berharap anak mereka akan mengikuti jejak nabi dan orang suci itu? Banyak yang berharap; segelintir yang memenuhi harapan. Dan, hanya hitungan jari yang berhasil. *

Hasta Brata

Ego Dewi Sinta telah sirna. Dalam keadaan ‘no-mind’, dia pasrah kepada Gusti. Ketika Rahwana beserta balatentaranya berhasil dihancurkan pasukan Sri Rama. Dan, ketika Sri Rama tidak mau menjajah negara Alengka dengan menyerahkan tampuk pimpinan kerajaan Alengka kepada Wibisana adik Rahwana, Dewi Sinta semakin bersyukur kepada Gusti bahwa dia dikaruniai suami yang bijaksana. Suaminya adalah Gusti yang mewujud untuk membimbing manusia. Dirinya tertegun kala suminya memberikan nasehat dalam pelantikan Wibisana sebagai Raja Alengka. Nasehat yang diberi judul Hasta Brata. Sebagai raja Wibisana harus meneladani delapan sifat alam.

  1. Sifat Matahari. Terang benderang memancarkan sinarnya tiada pernah berhenti. Segalanya diterangi, diberinya sinar cahaya tanpa pandang bulu. Sebagaimana matahari, seorang raja harus bisa memberikan ‘pepadhang’ kepada rakyat, berhati-hati dalam bertindak seperti jalannya matahari yang tidak tergesa-gesa namun pasti dalam memberikan sinar cahayanya kepada semua makhluk tanpa pilih kasih.
  2. Sifat Bulan. Sebagai planet pengiring matahari bulan bersinar dikala gelap malam tiba, dan memberikan suasana tenteram dan teduh. Sebagaimana bulan, seorang raja hendaknya rendah hati, berbudi luhur serta menebarkan suasana tentram kepada rakyat.
  3. Sifat Bintang. Menghiasi langit dimalam hari, menjadi penunjuk arah dan sumber ilmu perbintangan. Seorang raja harus bisa menjadi kiblat kesusilaan, budaya dan tingkah laku serta mempunyai konsep berpikir yang jelas. Bercita-cita tinggi mencapai kemajuan bangsa, teguh, tidak mudah terombang-ambing, bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Bagi yang berlayar di samudera kehidupan, bintang sebagai pedoman dalam menentukan arah.
  4. Sifat ‘Mendung’, Awan. Seakan-akan menakutkan tetapi kalau sudah berubah menjadi hujan merupakan berkah serta sumber penghidupan bagi semua makluk hidup. Seorang raja harus berwibawa dan menakutkan bagi siapa saja yang berbuat salah dan melanggar peraturan. Namun disamping itu selalu berusaha memberikan kesejahteraan kepada rakyat sesuai dengan haknya.
  5. Sifat Bumi. Sentosa, suci, pemurah memberikan segala kebutuhan yang diperlukan makhluk yang hidup diatasnya. Menjadi tumpuan bagi hidup dan pertumbuhan benih dari seluruh makluk hidup. Sebagaimana bumi, seorang raja seharusnya bersifat sentosa, suci hati, pemurah serta selalu berusaha memperjuangkan kehidupan rakyat yang tergambar dalam tutur kata, tindakan serta tingkah laku sehari-hari.
  6. Sifat Samudera. Luas, tidak pernah menolak apapun yang datang memasukinya, menampung, menerima dan menjadi wadah apa saja. Sebagaimana samudera seorang raja hendaknya luas hati dan kesabarannya. Tidak mudah tersinggung bila dikritik, tidak terlena oleh sanjungan dan mampu menampung segala aspirasi rakyat dari golongan maupun suku mana pun serta bersifat pemaaf.
  7. Sifat Api. Bersifat panas membara, kalau disulut akan berkobar dan membakar apa saja tanpa pandang bulu, tetapi juga sangat diperlukan dalam kehidupan. Sebagaimana sifat api, seorang raja harus berani menindak siapapun yang bersalah tanpa pilih kasih dengan berpijak kepada kebenaran dan keadilan.
  8. Sifat Angin. Meskipun tidak tampak tetapi dapat dirasakan berhembus tanpa henti, merata keseluruh penjuru dan tempat.

Para leluhur menggambarkan 8 sifat alam tersebut sebagai 8 dewa dengan namanya masing-masing. Pada hakikatnya dewa adalah unsur alami.

‘Aghni Pariksha’, Pemeriksaan kesucian lewat api

Kebahagiaan bersatu kembali dengan Sri Rama pun dijalani dengan penuh kesadaran. Semua ini hanya terlaksana atas karunia Hyang Widhi. Perasaan bersyukurnya kepada Hyang Widhi diungkapkan dengan rasa kasih kepada Sri Rama.

Sri Rama berpesan pelan dengan penuh keseriusan, “Istriku, Dewi Sinta, kau telah memahami segalanya…… Pertahankan pemahaman itu dengan tindakan keseharian. Pencerahan itu bisa dicapai, tetapi mempertahankannya itu jauh lebih sulit. Cuweklah terhadap kata orang. Kau akan dinistakan orang yang tidak tahu, aku pun akan disalahkan mereka yang merasa tahu. Konflik dan perbedaan pandangan itulah yang ada di dunia. Istriku kau akan meneruskan perjalanan spiritualmu tanpa diganggu masyarakat. Sedangkan aku sebagai raja, aku masih harus memberi contoh selangkah demi selangkah agar mereka dapat memahami. Sebagai raja, aku harus lebih memperhatikan suara masyarakat daripada suara keluarga dan kerabatku. Istriku kau akan mengerti aku dan kamu sejatinya satu…..”

Bahkan ketika Sri Rama mengikuti pendapat penduduk negaranya untuk tes uji kesucian bagi dirinya, dikarenakan lebih dari satu tahun berada di istana Alengka, Dewi Sinta menerima dengan penuh kesadaran. “Banyak hal yang telah kulakukan di dunia yang telah menyebabkan kesengsaraan banyak makhluk. Bila Hyang Widhi akan mengambil nyawaku dengan cara dibakar hidup-hidup diriku pun menerima dengan tegar. Lebih baik hukum sebab-akibat ini kuterima dalam kehidupan kini daripada nanti.”

Dewi Sinta paham akan adanya Hukum Sebab-Akibat yang akan datang kepadanya akibat tindakannya yang tidak selaras dengan alam pada waktu kesadarannya masih rendah.

Dan, seluruh negeri terkesima dengan selamatnya Dewi Sinta dari amukan api. Seluruh negeri menerima kembali Dewi Sinta sebagai permaisuri dari Sri Rama.

Dosa disebabkan oleh ketakselarasan kita dengan alam. Setiap tindakan yang tidak selaras dengan alam adalah dosa. Dosa tidak memiliki eksistensi di luar tindakan kita yang tidak selaras dengan alam. Adanya dosa karena adanya tindakan kita yang tidak selaras dengan alam. Matematika dosa sebenarnya sederhana sekali. Dosa = Aku + Tindakan yang tidak selaras dengan alam. *

Pada dasarnya, ‘Kau’ – ‘Aku’ yang menghuni badan ini tak ternodakan. Dosa adalah kekhilafan, disebabkan oleh kurangnya kesadaran. Begitu kau sadar, kau dapat mengoreksi dirimu. Apabila kita dapat meningkatkan kesadaran kita, kita berada dalam kesadaran-Nya, dalam kesadaran ‘Aku’ yang sejati, dalam kesadaran Ia. Pada kondisi semacam itu kekhilafan tak akan terjadi. Dalam kesadaran ‘Itu’, seseorang tidak dapat menjadi khilaf lagi. Ia tak membunuh, juga tak terbunuh. *

Mengasingkan diri demi keutuhan kerajaan Ayodya

Dewi Sinta mengheningkan cipta beberapa lama dan membuka mata. Dirinya berada di pondok sederhana di kaki pegunungan yang indah, pada lembah yang subur. Bunyi burung bersahutan dilatarbelakangi gemericik suara sungai Tamsa dan matahari baru saja bersinar setelah melewati bayangan bukit yang perkasa. Dia tahu kedua anak kembarnya sedang tekun belajar pada Resi Walmiki. Dan ingatannya menerawang ke masa silam………..

Masih terngiang-ngiang pesan Sri Rama, “Istriku kau akan meneruskan perjalanan spiritualmu tanpa diganggu masyarakat. Sedangkan aku sebagai raja, aku masih harus memberi contoh selangkah demi selangkah agar mereka dapat memahami. Sebagai raja, aku harus lebih memperhatikan suara masyarakat daripada suara keluarga dan kerabatku. Istriku kau akan mengerti aku dan kamu sejatinya satu…..” Suaminya benar. Sabda seorang avatara adalah benar, dirinya menerima apa pun yang terjadi dan bersyukur. Lebih mudah meningkatkan spiritual bersama Resi Walmiki, tanpa masyarakat yang salah memahami dirinya karena tingkat kesadaran mereka yang berbeda. Tugas Sri Rama adalah meningkatkan kesadaran masyarakat dan setelah tugasnya selesai, mereka akan bertemu lagi…….

Perjalanan kehidupan seseorang mempunyai alur-alur baru yang sering berada diluar nalarnya. Setelah mengalami kebahagiaan bersama Sri Rama menjadi permaisuri di kerajaan Ayodya, dia masih saja mendengar banyaknya suara-suara penduduk yang tetap menyangsikan kesuciannya, walau dia sudah selamat dalam Aghni Pariksa, pembuktian di atas api. Sri Rama adalah raja besar yang bijaksana, dan juga seorang suami yang baik. Tetapi sebagai seorang raja, Sri Rama sudah seharusnya lebih mementingkan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi. Dewi Sinta adalah seorang istri yang luar biasa baiknya, tetapi dirinya juga lebih mementingkan negara dari pada kepentingan pribadinya. Tugas Sri Rama adalah meningkatkan kesadaran masyarakat.

Demi negara, demi suami tercinta, pada suatu malam dirinya menyelinap ke luar istana pergi jauh meninggalkan istana. Setelah itu dirinya seakan lenyap ditelan rimba. Hanya berbekal keyakinan kepada Hyang Widhi, dirinya merelakan segala-galanya. Dengan intuisinya dirinya mencari tempat tinggal yang jauh dari kebisingan kota.

Bertemu dengan Resi Walmiki

Dalam perjalanannya, dirinya baru sadar bahwa dirinya telah mengandung benih putera Sri Rama. Dalam perjalanan itu pula dia bertemu dengan Resi Walmiki yang bijaksana. Bertemu seorang Guru sebagai karunia Hyang Widhi perlu disyukuri. Segalanya sekarang semakin jelas, Guru Walmiki membimbing Dewi Sinta yang memang sudah matang spiritualitasnya.

Dirinya melahirkan putera kembar, yang diberi nama Lawa dan Kusa. Lawa dan Kusa tumbuh menjadi anak yang luar biasa cerdas. Bibitnya berasal dari kombinasi Raja tampan Sri Rama yang bijaksana dan Dewi Sinta cantik yang kesadaran spiritualnya telah tinggi. Apalagi mereka berada dalam bimbingan Guru Walmiki yang arif bijaksana.

Ketika Lawa dan Kusa meningkat remaja mereka menanyakan siapakah ayah mereka. Dan, Resi Walmiki membacakan Kitab Ramayana, yang merupakan kisah dari Rama dan Sinta. Dewi Sinta telah menceritakan semua kisah hidupnya kepada Gurunya, Resi Walmiki. Resi Walmiki telah mengabdikan dirinya untuk peningkatan kesadaran manusia yang telah ‘siap’. Kisah Dewi Sinta dengan Sri Rama di catat dan diabadikannya dalam Kitab Ramayana. Kitab yang masih dapat memicu peningkatan kesadaran seseorang puluhan ribu tahun sesudah kejadiannya.

Lawa dan Kusa menanyakan kepada Resi Walmiki apakah ada ‘dosa asal’ mereka, sehingga mereka dibesarkan di pedesaan dan tidak di perkotaan. Resi Walmiki menjelaskan bahwa ‘blueprint’ kehidupan adalah hasil dari tindakan masa lalu kita. Tetapi tindakan yang harus diambil pada saat ini adalah sepenuhnya merupakan pilihan diri sesuai tingkat kesadaran kita.

Alam bawah sadar atau subconscious adalah beban yang kita warisi sejak lahir. Dalam tradisi Kristen, mereka menamakannya “Dosa Asal”. Dosa Asal bukanlah sesuatu yang kita warisi dari Baba Adam dan Bibi Hawa. Cerita Adam dan Hawa bersifat metaforis. Cerita Adam dan Hawa membutuhkan penghayatan dan pendalaman. Apabila Anda hanya membacanya begitu saja, Anda tidak akan pernah memahami makna sebenarnya. Ular, si penggoda Hawa yang disebut-sebut sebagai manifestasi Setan, adalah pikiran Anda sendiri, mind Anda sendiri. Mind membuat Anda cerdik, membuat Anda asdar akan baik dan buruk, tetapi pada saat yang sama juga merampas keluguan Anda. Mind pula yang merenggut kesadaran dan kepolosan Anda. *

Tindakan manusia mengungkapkan pola pikir alam bawah sadar atau subconscious. Itulah sebabnya manusia sudah paham mana tindakan yang tepat dan yang tidak tepat, tetapi dirinya tetap bertindak tidak tepat karena pola pikir bawah sadar yang telah membelenggu dirinya. Sudah paham merokok tidak baik, sudah ngerti nebang hutan ikut menyebabkan banjir, tetapi tindakan tersebut tetap dilakukannya juga. Sulit melepaskan diri dari kebiasaan lama. Drug addiction, sexual addiction, violence addiction, property addiction mekanismenya hampir sama.

Para pencetak teroris paham tentang subconscious, sehingga mereka telah membentuk pola pikir bawah sadar para teroris dan para pelaku tindak kekerasan. Semakin muda mereka dibentuk polanya, semakin kuat pola tersebut mencengkeram diri mereka. Para pelaku tidak sadar bahwa panggilan suci mereka adalah panggilan ‘mindset’ yang sengaja dibentuk oleh para pencetak teroris dan pembuat kekerasan. Para pelaku merasa benar, bahwa mereka berjalan menapaki jalan suci, padahal mereka korban pembentukan pola mind, mereka budak dari bawah sadar mereka.

Itulah sebabnya program pertama dari meditasi adalah ‘katarsis’, membuang pola-pola lama……… dan hasilnya lahir kembali menjadi manusia yang baru, manusia yang bebas dari pola lama. ‘Neo-Men and Women’. Manusia-manusia yang sadar akan kebebasan dirinya.

Dewi Sinta tertelan bumi karena kesuciannya

Sudah menjadi kebiasaan di benua Jambudwipa, benua tempat Kerajaan Ayodya. Seseorang Maharaja mengadakan ritual melepaskan kuda putih yang diikuti pasukan tentara yang kuat. Kuda putih tersebut dibiarkan memilih jalan sendiri yang dikehendakinya. Tak ada seorang raja tetangganya yang mengambil kuda putih tersebut. Apabila seseorang raja berani melakukannya, berarti dia telah berani menentang sang maharaja dan terjadilah pertempuran sampai seorang raja kalah dan tunduk, ataupun kerajaannya dapat menundukkan kerajaan sang maharaja. Di benua Jambudwipa seorang maharaja ibarat seorang presiden yang diakui oleh banyak negara bagian sekelilingnya.

Ketika kuda putih melewati desa tempat Dewi Sinta tinggal, kuda tersebut ditangkap oleh Lawa dan Kusa. Pasukan tentara yang mengikutinya tahu bahwa anak-anak remaja tersebut bukan seorang raja, tetapi semua pasukan mereka dapat dikalahkan mereka. Sang kembar tidak mau menyerahkan kuda tangkapannya. Komandan pasukan yang kalah tempur melapor kepada Sri Rama yang kemudian menyuruhnya membawa pasukan yang lebih kuat. Akan tetapi pasukan itu pun takluk pada Lawa dan Kusa. Akhirnya seperti pesan Sri Rama, diundanglah kedua remaja tersebut ke istana.

Ketika sang kembar bertemu Sri Rama pada sidang paripurna di istana, keduanya menembangkan Kisah Ramayana yang digubah Resi Walmiki. Sebuah tembang Ilahi yang menyentuh rasa terdalam. Semua pendengarnya hanyut dalam tembang suci. Suasana menjadi begitu syahdu.

Kidung dalam bahasa latin disebut canticle. Getaran-getaran yang keluar dari lagu ini dapat mengubah dirimu dalam sekejap. Setiap sel dalam tubuh kita sedang bergetar. Getaran di dalam diri kita memahami bahasa lagu. Ia sudah pasti memberi respon, asal lagunya indah. Jangankan manusia yang otaknya sudah cukup berkembang, arak dan anggurpun memberi respon terhadap lagu. Produsen mempercepat proses fermentasi menggunakan gelombang radio. Lagu atau musik tertentu menjadi sarana yang kuat untuk mengantar kita ke alam meditasi. Alam meditasi berarti alam di dalam diri. Dan, di alam sana yang ada hanyalah getaran. Semua organ di dalam tubuh dapat diredusir menjadi gelombang, getaran. Maka, organ-organ tubuh sangat responsif terhadap getaran. Karena itu, lewat musik kita bisa mudah memasuki alam meditasi. *

Di antara nyanyian tembang tersebut terdengar isak tangis tertahan bersahutan. Para petinggi kerajaan menangis haru dan Sri Rama sadar bahwa kedua remaja kembar yang wajahnya sama dengan dirinya ini adalah putra-putra Dewi Sinta yang berhak menjadi putera mahkota kerajaan Ayodya. Semua orang sadar atas kekeliruan pandangan mereka selama ini terhadap Dewi Sinta.

Selanjutnya, Sri Rama mengajak seluruh petinggi kerajaan menemui Dewi Sinta…….. Semua orang terpesona melihat Dewi Sinta yang anggun bersama seorang tua yang berwibawa dan keduanya memiliki wajah yang bercahaya seperti cahaya yang ada di wajah Sri Rama.

Dewi Sinta berujar, “Suamiku inilah Guruku, Resi Walmiki yang mengabadikan kisah kasih kita berdua agar kisah kita abadi. Semoga kisah ini mengetuk hati nurani mereka yang mau mengambil hikmahnya. Urusanku di dunia telah selesai, kedua anak kita telah kukembalikan kepada status mereka yang sebenarnya. Aku mencintaimu, cinta yang suci. Kasihku abadi dan sebagai bukti bahwa cintaku suci aku akan tertelan bumi”………. Demi melihat Dewi Sinta yang tertelan Bumi, Sri Rama berkata kepada resi Walmiki dan seluruh petinggi kerajaan serta kedua puteranya, “Tugasku pun telah selesai dan Sri Rama pun lenyap. Hujan rintik-rintik mengiringi pelangi indah yang terbentuk di langit……….

Konon ada legenda dari Resi Agastya, Rama Semar bagi Nusantara, bahwa Wisnu pernah mengorbankan isteri seorang resi dalam penyelamatan sebuah peperangan. Dan sang resi mengutuk Wisnu bahwa dia akan selalu berada jauh dengan isterinya. Sehingga kala menitis menjadi Sri Rama, dia pun berjauhan jaraknya dengan isteri tercinta. Dan kutukan tersebut telah dilakoni dan mereka telah bersatu, mereka menunggu tugas Hyang Widhi kapan dititiskan kembali.

Dewi Sinta dalam diri manusia

Penutup ini dijiwai oleh Buku Kidung Agung. *

Dunia masih belum selesai dengan evolusi fisiknya. Sementara itu, para pecinta sudah mengalami evolusi batin, maka dunia tidak dapat memahami keadaan para pecinta. Dunia akan selalu menolak para pecinta seperti itu, termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya. Kalau mau menapaki jalur itu, kita harus bersiap-siap untuk itu. Jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang tidak sering ditempuh. Berapa banyak manusia semacam Dewi Sinta dalam menempuh perjalanan hidup mereka? Berapa banyak orang tua yang memberi nama Dewi Sinta, Sinta, Shita, Sita kepada anak mereka dan berharap anak mereka akan mengikuti jejak Dewi Sinta? Banyak yang berharap; segelintir yang memenuhi harapan. Dan, hanya hitungan jari yang berhasil.

Kisah Dewi Sinta Perjalanan Spiritual Seorang Wanita


Peningkatan kesadaran manusia

Sesuai hukum evolusi, maka tingkat kesadaran manusia akan meningkat dari kesadaran hewani, menuju kesadaran manusiawi untuk naik kepada kesadaran Ilahi. Kesadaran hewani adalah kesadaran yang masih merupakan bawaan sifat hewani yang butuh akan makan, minum, seks dan tidur atau kenyamanan. Tentu saja kualitas kebutuhan manusia jauh lebih tinggi dari pada kebutuhan hewan, karena ‘mind’ manusia sudah berkembang, walaupun tetap ada benang merah persamaannya.

Hewan makan daging dan sayuran mentah, sedangkan manusia makan daging yang dimasak dan diberi bumbu serta menu sayuran yang bisa dimasak ataupun yang masih segar. Dalam berhubungan seks, hewan melakukannya ketika muncul gairah dan bisa dengan siapa saja termasuk dengan yang masih punya pertalian keluarga dengannya. Manusia memerlukan akte pernikahan dan mempunyai syarat-sayarat tertentu, tidak boleh saling serobot dan tidak melakukannya di depan umum. Apabila tidur pun hewan bisa di sebarang tempat, di bawah pohon atau di dalam goa, sedangkan manusia membuat rumah, walau kemewahannya bertingkat-tingkat pula.

Dalam tingkat kesadaran hewani, manusia ingin memenuhi segala kebutuhannya dengan segala cara. ‘Ngebet’ dengan suatu kebutuhan. Untuk menjadi manusia yang manusiawi, rasa kasih, rasa kemanusiaan harus dikembangkan. Rasa tenggang rasa, tidak mau menang sendiri, menghargai orang lain dan tidak begitu ‘ngebet’ keduniawian. Kebutuhannya dipenuhi dengan cara manusia yang elegan.

Manusia yang mencapai kesadaran Ilahi, paham bahwa di dunia ini tidak ada yang abadi. Segala sesuatu tadinya tidak ada kemudian ada dan untuk akhirnya menjadi tidak ada lagi. Memahami sifat dunia, mereka telah melampaui dunia, tidak membutuhkan apa-apa lagi. Sisa hidupnya diperuntukkan untuk meningkatkan kesadaran manusia yang telah siap meningkatkan kesadarannya.

Ada beberapa tingkat kesadaran dewi Sinta dalam kisah Ramayana.

Pertama: Dewi Sinta setia mengikuti suami di hutan belantara.

Keteguhan seorang putri raja untuk mengikuti suami yang harus pergi ke hutan belantara perlu mendapatkan pujian. Sebagai seorang istri dia tidak mau kembali ke kerajaan ayahandanya, bahkan mendampingi Sri Rama menyelesaikan pengasingannya di hutan selama 14 tahun. Dewi Sinta juga tidak mempengaruhi Sri Rama untuk membangkang kehendak ayahandanya yang ‘kalah janji’ dengan Dewi Kekayi, ibu tiri suaminya yang meminta putera ibu tirinya yang akan menjadi Raja di Ayodya.

Diperlukan keteguhan hati bagi seorang isteri yang sadar akan menghadapi banyak kesulitan dalam kehidupan rumah tangga kedepan. Pada saat ini sudah jarang wanita yang mau hidup menderita, sedangkan pilihan untuk hidup lebih nyaman terbuka. Kesediaan hidup menderita bersama suami, merupakan modal dasar wanita pilihan yang luar biasa.

Kedua: Dewi Sinta terobsesi oleh kijang kencana.

Wajar saja seorang wanita setia membutuhkan kesenangan sebagai perintang waktu dalam kehidupan di hutan belantara. Ego Dewi Sinta masih ada, dia menggunakan ‘mind’-nya, pelan-pelan dirinya menjauhi diri sejatinya. Dewi Sinta tergelincir pada keinginan untuk mempunyai hewan kesenangan. Dewi Sinta tergelincir untuk memiliki kijang kencana duniawi yang cantik dan imut.

Tidak ada salahnya mempunyai keinginan sebagai manusia, tetapi tidak perlu terobsesi terlalu dalam. Potensi sifat kehewanan dalam diri lah yang menyebabkan seseorang ngotot menginginkan segala sesuatu. Seakan-akan apabila keinginannya kesampaian dia akan bahagia.

Belajar dari kehidupannya, seseorang perlu sadar bahwa apabila sesuatu yang diinginkannya tercapai akan datang pula keinginan yang lainnya. Demikian juga semestinya seseorang sadar bahwa apabila sesuatu yang diinginkannya tidak tercapai, dengan berputarnya roda sang kala, dia pun dapat menerimanya sebagai sesuatu hal yang biasa-biasa saja. Manusia perlu ber-‘mulur-mungkret’, ‘kembang-susut’ dalam keinginannya, tidak perlu ngotot. Hanya kesadaran yang dapat menaklukkan nafsu yang bergelora.

Ketiga: Dewi Sinta cemas akan nasib suaminya

Kecemasan Dewi Sinta akan Sri Rama melalaikan bahaya yang mengancam dirinya sendiri. Laksamana telah diminta Sri Rama, kakaknya untuk menjaga Dewi Sinta, karena Sri Rama berlari mengejar kijang kencana. Suara jeritan dari kejauhan kijang kencana yang merupakan penjelmaan Raksasa Kala Maricha yang terkena panah Sri Rama terdengar Dewi Sinta dan menimbulkan kecemasan. Dalam kecemasannya, berbagai dugaan berseliweran dalam pikirannya, sehingga Dewi Sinta memaksa Laksmana mengejar Sri Rama. Dalam keadaan galau, Dewi Sinta melupakan intuisinya.

Dalam keadaan genting, banyak wanita yang sangat mencemaskan keadaan suaminya, karena dia merasa bersalah telah meminta suaminya memenuhi kebutuhan pribadinya yang cukup sulit diraih. Dalam keadaan khawatir keselamatan suaminya, napasnya memburu, selaras dengan pikirannya yang penuh kecemasan. Seharusnya seseorang menenangkan dirinya, mengatur napasnya, sehingga berada dalam keadaan tenang, dan pikirannya akan jernih. Suaminya adalah seorang dewasa dan perkasa yang dapat dihandalkan. Apabila, seseorang berada dalam ketenangan, pikirannya jernih, dan intuisinya akan lebih peka. Jangan mengambil keputusan ketika pikiran sedang galau, ketika napas sedang kacau, keputusan yang diambil bukan hasil pikiran yang jernih. Pikiran pun harus dilampaui setelah seseorang yakin akan intuisinya. Banyak berpikir membangkitkan kecemasan.

Keempat: Dewi Sinta terketuk rasa iba terhadap pengemis tua

Sebelum Laksmana pergi mengejar Sri Rama, dia membuat garis bermantra yang membuat binatang buas dan raksasa tidak dapat menerobos garis tersebut. Pada waktu binatang buas dan raksasa datang menakut-nakutinya, Dewi Sinta tetap teguh dan merasa aman berada dalam pagar pengaman, garis batas yang dibuat Laksmana. Dewi Sinta baru lalai ketika seorang pengemis tua meruntuhkan ibanya. Dewi Sinta, melupakan nasehat Laksamana untuk jangan keluar dari pagar pengaman. Tanpa sadar tangan Dewi Sinta terjulur keluar berniat memberi kepada sang pengemis. Dan, dalam hitungan detik tangan pengemis tersebut sudah menarik Dewi Sinta keluar dari pagar pengaman. Rahwana paham atas kelemahan hati seorang wanita yang penuh rasa iba terhadap seseorang yang menderita.

Pendidikan yang baik menghasilkan perilaku luhur yang memunculkan perasaan iba kepada orang byang sedang membutuhkan pertolongan. Belum tentu juga kasih yang murni, bisa juga hanya karena raja ujub, bangga sebagai seorang yang berbuat mulia. Seandainya seseorang berpikir jernih, dia akan paham bahwa pemberian uang receh kepada pengemis di jalan akan membuat mereka malas berusaha. Mereka mencari uang receh bukan untuk sesuap nasi tetapi untuk ditabung, atau untuk merokok atau perbuatan kurang baik lainnya. Banyak sekali anak kecil yang dijadikan alat peruntuh iba. Anak yang dimanfaatkan tersebut mendapatkan pendidikan kehidupan yang salah sepanjang hayatnya. Apakah kebaikan hatinya akan membentuk manusia yang berharga bagi masyarakat?

Kelima: Dewi Sinta tahan uji terhadap godaan nafsu angkara murka

Selama bertahun-tahun Dewi Sinta larut dalam kesedihan dan selalu siap bunuh diri dengan cundrik-nya apabila Rahwana akan memaksanya. Dan ketika dirinya sudah hampir putus asa datanglah Hanoman membangkitkan jiwanya, dengan membawa berita bahwa Sri Rama akan datang ke Alengka untuk membebaskannya. Dewi Sinta berhari-hari mengurung dalam kamar. Dan, akhirnya menyadari, bahwa keinginannya untuk memperoleh kijang kencana akan mengakibatkan pertempuran antara bangsa manusia dibantu bangsa kera melawan bangsa raksasa. Dewi Sinta juga menyadari tidak setiap raksasa jahat, Kumbakarna dan Wibisana, adik-adik Rahwana tidak setuju penculikan dirinya. Rahwana pun tidak pernah memaksakan kehendaknya, dia hanya mau memperistri dirinya apabila dia berkenan untuk itu, hanya dia menyandera dia sampai dia menyerah dan pasrah.

Tidak semua manusia melakukan tindakan seperti Rahwana ketika seorang perempuan lemah berada dalam genggamannya. Rasa bersalah atas kebodohannya selama ini yang cenderung mengikuti nafsu pikirannya. Kesadaran Dewi Sinta membuka selubung hijab, aku ini siapa? Untuk apa aku di dunia? Apakah ada rencana besar Hyang Widhi untuk melenyapkan keangkaramurkaan, atau untuk melenyapkan etnis raksasa, perpaduan antara manusia dan binatang? Dia telah mendapat peran yang harus dijalankannya dengan baik. Dewi Sinta sadar dirinya terlibat kepada Hukum Sebab-Akibat, dan dia akan menjalaninya dengan penuh kesadaran. Kemudian Dewi Sinta memahami adanya Hukum Evolusi, termasuk evolusi dalam kesadaran. Keputusannya sudah bulat semua akan dilakoninya dengan penuh kesadaran.

Kondisi kritis, keadaan yang hampir membuat putus asa, sering menjadi pemicu peningkatan kesadaran seseorang. Pemahaman tentang kehidupan pun tidak cukup. Semuanya harus dilaksanakan dalam keseharian. Pikiran seseorang harus dibiasakan untuk merenungkan Gusti, harus berusaha menempuh jalan Gusti, hidup dalam Gusti, dengan Gusti. Kesadaran atma yang demikian hanya dapat diperoleh dengan jalan rangkap tiga, yaitu:

  1. membuang vasana ‘keinginan, naluri, dorongan, atau ketagihan’,
  2. melenyapkan manas (kemampuan untuk memahami objek; kumpulan pikiran, emosi, dan vasana).
  3. Menganalisis pengalaman untuk memahami kenyataan.

Tanpa ketiga hal ini, penghayatan atma tidak akan timbul. Vasana mendesak manas manusia menuju dunia yang berhubungan dengan indera dan mengikat manusia pada kegembiraan serta kesengsaraan. Karena itu, vasana harus dipadamkan.

Keenam: Dewi Sinta pasrah kepada Kekuasaan Yang Maha Kuasa

Ego Dewi Sinta telah sirna. Dalam keadaan no-mind, dia pasrah kepada Gusti. Ketika Rahwana beserta balatentaranya berhasil dihancurkan pasukan Sri Rama. Dan, ketika Sri Rama tidak mau menjajah negara Alengka dengan menyerahkan tampuk pimpinan kerajaan Alengka kepada Wibisana adik Rahwana, Dewi sinta semakin bersyukur kepada Gusti bahwa dia dikaruniai suami yang bijaksana. Kebahagiaan bersatu kembali dengan Sri Rama pun dijalani dengan penuh kesadaran. Semua ini hanya terlaksana atas karunia Hyang Widhi. Perasaan bersyukurnya kepada Hyang Widhi diungkapkan dengan rasa kasih kepada Sri Rama. Bahkan ketika Sri Rama mengikuti pendapat penduduk negaranya untuk tes uji kesucian bagi dirinya, Dewi Sinta menerima dengan penuh kesadaran. “Banyak hal yang telah kulakukan di dunia yang telah menyebabkan kesengsaraan banyak makhluk. Bila Hyang Widhi akan mengambil nyawanya dengan cara dibakar hidup-hidup dia pun menerima dengan tegar”. Seluruh negeri terkesima dengan selamatnya Dewi Sinta dari amukan api. Seluruh negeri menerima kembali Dewi Sinta sebagai permaisuri dari Sri Rama.

Seseorang yang menyadari hakikat kehidupan, bahwa hidup di dunia ini terikat dengan hukum-hukum alam maka dia akan dapat menerima kejadian apa pun yang menimpanya. Perjuangan meningkatkan kesadaran tak pernah berhenti. Karena hidup di alam dan bahan bakunya dari alam, maka seseorang memang tidak bisa melepaskan diri dari alam. Tetapi alam akan membantu seseorang yang serius mendarmabaktikan dirinya bagi alam.

Ketujuh: Dewi Sinta mengasingkan diri demi keutuhan kerajaan Ayodya

Perjalanan kehidupan seseorang mempunyai alur-alur baru yang sering diluar nalarnya. Setelah mengalami kebahagiaan bersama Sri Rama menjadi permaisuri di kerajaan Ayodya, dia masih saja mendengar banyaknya suara-suara penduduk yang tetap menyangsikan kesuciannya walau dia sudah selamat dibakar di atas api. Sri Rama adalah raja besar yang bijaksana, dan juga seorang suami yang baik. Tetapi sebagai seorang raja, Sri Rama sudah seharusnya lebih mementingkan kepentingan negara daripada kepentingan pribadi. Dewi Sinta adalah seorang istri yang luar biasa baiknya, tetapi dia lebih mementingkan negara dari pada kepentingan pribadinya. Demi negara, demi suami tercinta, pada malam hari dia menyelinap ke luar istana pergi jauh meninggalkan istana. Setelah itu dia seakan lenyap ditelan rimba. Hanya berbekal keyakinan kepada Hyang Widhi, dia merelakan segala-galanya. Dengan intuisinya dia mencari tempat tinggal yang jauh dari kebisingan kota.

Seseorang yang penuh sifat kasih yang berasal dari dalam dirinya, tidak tergantung terhadap keadaan di luarnya. Di dalam dirinya hanya ada kasih, di luarnya hanya berupa ungkapan kasih dan dia yakin akan dibimbing oleh kasih.

Kedelapan: Dewi Sinta bertemu dengan Resi Walmiki

Dalam perjalanannya Dewi Sinta baru sadar dia telah mengandung benih putera Sri Rama. Dalam perjalanan itu pula dia bertemu dengan Resi Walmiki yang bijaksana. Bertemu seorang Guru sebagai karunia Hyang Widhi perlu disyukuri. Segalanya sekarang semakin jelas, Guru Walmiki membimbing Dewi Sinta yang memang sudah matang spiritualitasnya.

Dewi Sinta melahirkan putera kembar, yang diberi nama Lawa dan Kusa. Lawa dan Kusa tumbuh menjadi anak yang luar biasa cerdas dan sakti mandraguna. Bibitnya berasal dari kombinasi Raja tampan Sri Rama yang bijaksana dan Dewi Sinta cantik yang kesadaran spiritualnya telah tinggi. Apalagi mereka dalam bimbingan Guru Walmiki yang arif.

Ketika Lawa dan Kusa meningkat remaja mereka menanyakan siapakah ayah mereka. Resi Walmiki membacakan Kitab Ramayana, yang merupakan kisah dari Rama dan Sinta. Dewi Sinta telah menceritakan semua kisah hidupnya kepada Gurunya, Resi Walmiki. Resi Walmiki telah mengabdikan dirinya untuk peningkatan kesadaran manusia yang telah ‘siap’. Kisah Dewi Sinta dengan Sri Rama di catat dan diabadikannya dalam Kitab Ramayana. Kitab yang masih dapat memicu peningkatan kesadaran seseorang puluhan ribu tahun sesudah kejadiannya. Pada masa-masa akhir Dwapara Yuga, ketika terjadi perang Bharata Yudha, Panglima Arjuna menggunakan umbul-umbul ‘Hanuman’, pahlawan Sri Rama di kereta perangnya.

Ketika seseorang telah siap alam akan membantu meningkatkan kesadaran seseorang. Apakah karunia itu berupa Murshid, Guru, Kitab ataupun Kekuatan Alam. Di depan seorang Guru, seseorang harus pasrah, membuka semua rahasia hidupnya yang sebetulnya telah diketahui olehnya. Sang Guru paham jalan apa yang baik ditempuhnya.

Kesembilan: Dewi Sinta tertelan bumi karena kesuciannya

Sudah menjadi kebiasaan di benua Jambudwipa, benua tempat Kerajaan Ayodya. Seseorang Maharaja mengadakan ritual melepaskan kuda putih yang diikuti pasukan tentara yang kuat. Kuda putih tersebut dibiarkan memilih jalan sendiri yang dikehendakinya. Tak ada seorang raja tetangganya yang mengambil kuda putih tersebut. Apabila seseorang raja berani melakukannya, berarti dia telah berani menentang sang maharaja dan terjadilah pertempuran sampai seorang raja kalah dan tunduk, ataupun kerajaannya dapat menundukkan kerajaan sang maharaja. Di benua Jambudwipa seorang maharaja ibarat seorang presiden yang diakui oleh banyak negara bagian sekelilingnya.

Ketika kuda putih melewati desa tempat dewi Sinta tinggal, kuda tersebut ditangkap oleh Lawa dan Kusa. Pasukan tentara yang mengikutinya tahu anak-anak remaja tersebut bukan seorang raja, tetapi semua pasukannya dapat dikalahkan mereka. Sang kembar tidak mau menyerahkan kuda tangkapannya. Komandan pasukan yang kalah tempur melapor kepada Sri Rama yang menyuruhnya membawa pasukan yang lebih kuat. Akan tetapi pasukan itu pun takluk dibawah Lawa dan Kusa. Akhirnya seperti pesan Sri Rama, apabila kalah maka diundanglah kedua remaja tersebut ke istana.

Ketika sang kembar bertemu Sri Rama di sidang paripurna di istana, keduanya menembangkan Kisah Ramayana yang digubah Resi Walmiki. Para petinggi kerajaan dan Sri Rama sadar kedua putera kembar yang wajahnya sama dengan Sri Rama ini adalah putra-putra Dewi Sinta yang berhak menjadi putera mahkota kerajaan Ayodya. Semua orang sadar atas kekeliruan pandangan mereka selama ini terhadap Dewi Sinta.

Sri Rama dan seluruh petinggi kerajaan menemui Dewi Sinta. Semua orang ternganga melihat Dewi Sinta yang cantik bersama seorang tua berwibawa yang kedua-duanya memiliki wajah yang bercahaya seperti cahaya yang ada di wajah Sri Rama. Dewi Sinta berujar, “Suamiku inilah Guruku, Resi Walmiki yang mengabadikan kisah kasih kita berdua agar kisah kita abadi dan memberi hikmah kepada mereka yang mau mengambil hikmahnya. Urusanku di dunia telah selesai, kedua anak kita telah kukembalikan kepada status mereka yang sebenarnya. Aku mencintaimu, cinta yang suci, kasihku abadi sebagai bukti bahwa cintaku suci aku akan tertelan bumi”. Demi melihat Dewi Sinta yang tertelan Bumi, Sri Rama berkata kepada resi Walmiki dan seluruh petinggi kerajaan serta kedua puteranya, “Tugasku telah selesai dan Sri Rama pun moksa.

Benarkah Sri Rama dan dewi Sinta ‘lenyap’, mungkin hanya tambahan masyarakat kepada Kisah Ramayana dari Resi Walmiki. Hampir setiap Guru, setiap Avatar, dikisahkan dengan bumbu berbagai mukjijat oleh para pengikutnya. Hal tersebut tidak akan mengurangi substansi keilahiannya.

Dewi Sinta dalam diri kita

Penutup ini dijiwai oleh Buku Kidung Agung, karya Bapak Anand Krishna, Gramedia Pustaka Utama 2006.

Dunia masih belum selesai dengan evolusi fisiknya. Sementara itu, para pecinta sudah mengalami evolusi batin, maka dunia tidak dapat memahami keadaan para pecinta. Dunia akan selalu menolak para pecinta seperti itu, termasuk keluarga dan kerabat terdekatnya. Kalau mau menapaki jalur itu, kita harus bersiap-siap untuk itu. Jalan yang sedang kita tempuh adalah jalan yang tidak sering ditempuh. Berapa banyak manusia semacam Dewi Sinta dalam menempuh perjalanan hidup mereka? Berapa banyak orang tua yang memberi nama Dewi Sinta, Sinta, Shita, Sita kepada anak mereka dan berharap anak mereka akan mengikuti jejak Dewi Sinta? Banyak yang berharap; segelintir yang memenuhi harapan. Dan, hanya hitungan jari yang berhasil.

Kijang Kencana, Rahwana, dan lain-lainnyadalah pemicu-pemicu di luar diri kita, adalah dunia benda. Kedudukan, kekayaan, ketenaran dan juga kecemasan adalah urusan duniawi. Mereka senantiasa berupaya untuk menarik kita. Dewi Sinta itulah diri kita, kesadaran kita. Perjalanan kita untuk keluar dari gravitasi bumi, keluar dari lingkaran kelahiran dan kematian, memang penuh tantangan. Tetapi, jika kita menerima tantangan sebagai tantangan, kita pasti berhasil keluar.

Dewi Sinta Anugerah Bunda Bumi kepada Prabu Janaka

Perhatikan alam sekitarmu. Belajarlah dari alam. Dari bumi yang selalu memberi walau dieksploitasi, diinjak-injak dan perutnya dikoyak-koyak. Ada langit yang selalu mengayomi, menyirami bumi ketika gersang. Ada udara, angin, sehingga kita dapat bernapas. Ada api atau energi yang membantu kita dalam setiap pekerjaan. Ada ruang luas di mana bumi kita berputar tanpa henti. Pernahkah mereka menuntut sesuatu darimu? Mereka memberi tanpa pamrih, tanpa mengharapkan sesuatu dari kita. Itulah pelajaran utama yang dapat dipetik dari alam: memberi tanpa mengharapkan imbalan, memberi tanpa pamrih. *

Prabu Janaka dari Kerajaan Mithila

Prabu Janaka adalah seorang raja di Mithila yang bijak. Pengetahuan Keilahiannya sangat tinggi. Salah satu karya sastra suci Astavakra Gita yang membahas tentang jatidiri manusia adalah kumpulan dialog antara Prabu Janaka dengan Resi Astavakra. Sri Krishna dalam Bhagavad Gita pun menyebut Prabu Janaka sebagai seorang Karma Yogi.

Prabu Janaka sangat peduli terhadap lingkungan, menghormati keberadaan alam semesta. Prabu Janaka sadar, keberadaan manusia di bumi ini didukung oleh kasih Bunda Bumi. Apa pun yang dimakan dan diminum untuk mempertahankan hidupnya diperoleh dari Bunda Bumi. Bunda Bumi pun dapat menghidupi karena mendapat sinar kasih Bapa Matahari, tanpa matahari tidak ada kehidupan di bumi ini. Terhadap matahari, manusia tidak dapat melakukan sesuatu, selain mensyukuri kasihnya. Akan tetapi terhadap Bunda Bumi, manusia bisa memperindah dan melestarikan lingkungannya. Bukan hanya memahami lingkungan, akan tetapi Prabu Janaka memahami hukum alam dan hidup selaras dengan alam.

Hukum alam adalah bahasa dunia. Bila lahir dalam dunia dan hidup di dunia ini, kita harus memahami bahasanya. Apa pula hukum alam yang dimaksud? Hukum aksi-reaksi. Hukum evolusi atau perkembangan, kemajuan. Itulah dua hukum utama. Landasannya adalah keterkaitan interdependency. Bila kita menebang pohon seenaknya, banjirlah akibatnya. Itu salah satu contoh dari hukum aksi-reaksi atau sebab-akibat. Dan, ingat itu baru menebang pohon. Bila kita menjadi membunuh manusia dan makhluk-makhluk hidup lainnya, jangan kira kita akan lolos dari hukuman. Jangan pula mencari pembenaran, bahwa kita membunuh demi … atau untuk … dan atas nama … Mau mencari pembenaran sih boleh-boleh saja, asal tahu bahwa itu tidak akan meringankan hukuman kita. Kemudian, hukum perkembangan, kemajuan, evolusi, ekspansi. Segala sesuatu dalam hidup ini mengalami perkembangan. Semuanya sedang berevolusi. Tidak ada yang mengalami regresi dan kembali pada kehidupan di masa lalu. Bila tidak berkembang bersama hidup, kita akan hidup setengah-setengah. Hidup tidak matipun tidak. Bila kita tidak melangkah bersama waktu, waktu akan melewati kita. *

Dewi Sinta sang putri raja Mithila

Pada suatu hari Prabu Janaka mengadakan persiapan upacara persembahan bagi Bunda Bumi sebagai rasa syukur atas nikmat karunianya memberikan kesuburan dan kesejahteraan kepada kerajaannya. Prabu Janaka mengadakan pencangkulan pertama, dan ketika sedang membersihkan lahan, nampaklah bayi perempuan mungil yang elok rupawan berada di lahan tersebut. Bayi tersebut segera digendong dan diserahkan kepada permaisurinya. Bayi tersebut diangkat sebagai putri raja, karena sang raja dan permaisuri memang belum dikaruniai seorang anak. Bayi perempuan tersebut diberi nama Sita dan oleh leluhur kita dikenal sebagai Dewi Sinta.

Banyak versi dari kisah mengapa Dewi Sinta bisa berada di lahan tempat upacara tersebut, tetapi semuanya bermakna karena kecintaan Prabu Janaka terhadap Bunda Bumi, maka Bunda Bumi berkenan menganugerahkan putrinya kepada sang raja.

Dalam bahasa Sanskerta, kata Sita bermakna “kerut”. Kata “kerut” merupakan istilah puitis pada Zaman Kuno, yang menggambarkan aroma dari kesuburan. Nama Sita yang diberikan Prabu Janaka kepada putri perempuannya, diambilkan dari Rigweda tentang kisah Dewi Sita, dewi bumi yang memberkati lahan dengan hasil panen yang melimpah. Sita disebut para leluhur kita sebagai Siti yang berarti tanah atau bumi. Leluhur kita sangat halus, mereka dapat merasakan suara “i” lebih feminin dibanding suara “a”. Para leluhur menyebut pasangan Dewa adalah Dewi, pasangan Putra adalah Putri.

Kecantikan Dewi Sinta dikisahkan ibarat kecantikan bumi di pegunungan yang hijau dan sejuk, di mana setiap orang yang melihat akan merasa teduh dan bersyukur. Segala keruwetan pikiran musnah kala melihat wajah Dewi Sinta. Sebagai puteri Raja Janaka, ia juga kerap dipanggil Janaki, dan sebagai puteri Mithila, ia sering dipanggil Maithili, yang leluhur kita menyederhanakan ucapan sebagai Mantili.

Perjalanan kehidupan Dewi Sinta adalah seperti bumi, selalu memberikan berkah di manapun dia berada. Akan tetapi segala sesuatu yang berada ada di atas bumi ini tidak ada yang abadi, seperti halnya uang yang ada di dompet kita pun selalu berpindah tangan. Kita sulit melacak uang yang berada di dompet kita saat ini, setelah 10 tahun ke depan akan berada di tangan siapa. Demikian halnya dengan Dewi Sinta, yang selalu bepergian walau hatinya hanya tertambat kepada Sri Rama. Sampai di akhir kisah kembali ke pangkuan Bunda Bumi, hati Dewi Sinta hanya diperuntukkan bagi Sri Rama.

Penemuan bayi Dewi Sinta yang kemudian diadopsi oleh Prabu Janaka, sudah mengisyaratkan sejak awal bahwa sang dewi sejak kecil sudah tidak banyak mempunyai keterikatan. Nantinya, keterikatan sang dewi memang hanya kepada suaminya, sang avatara.

Hubungan kita dengan dunia saat kelahiran sangat minim. Satu-satunya hubungan penting saat itu hanyalah hubungan dengan ibu, atau dengan siapa saja yang berperan sebagai ibu. Perekat kita dengan dunia saat itu hanyalah kasih ibu. Kemudian kita menambah perekat-perekat baru. Akhirnya terperangkap oleh perekat-perekat ciptaan kita sendiri. Adakah kebenaran di balik perekat-perekat ini? Adakah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berarti, bermakna di balik hubungan –hubungan kita yang semu? Orang tua bisa wafat, pasangan hidup bisa menceraikan, anak dan saudara bisa pisah rumah. Kawan bisa berubah menjadi lawan. Is there anything more to life? *

Rama menumpas Raksasa di hutan Dandaka

Resi Wiswamitra menemui Prabu Dasarata di Ayodya untuk minta bantuan Sri Rama menyelesaikan masalahnya, karena beberapa kali upacara persembahan yang diadakan di Hutan Dandaka diganggu oleh Raksasa Maricha dan Subahu. Sang prabu merasa berat untuk meluluskan permintaan Resi Wiswamitra, melepas Sri Rama menemani sang resi melawan para raksasa.

Resi Wiswamitra adalah guru dinasti Surya, sejak Raja Trisanku, nenek moyang Prabu Dasarata dan sudah sewajarnya sebagai raja dinasti Surya dia membantu sang resi ketika mendapatkan permasalahan. Akan tetapi hatinya begitu terikat dengan Rama. Lama sekali sang prabu tidak mempunyai putra, dan setelah mempunyai putra, keterikatan kepada mereka sangat besar.

Resi Vasishta, sebagai Guru Utama Kerajaan Ayodya memperkuat, “Prabu, biarlah Rama mengikuti jejak langkah kehidupannya sendiri. Kau telah mempunyai banyak putra dalam kehidupan-kehidupanmu yang lalu. Saat ini Gusti memberikan putra terbaik bagimu. Dia hanya lahir sebagai putramu dalam kehidupan saat ini, tugasmu sebagai orang tua adalah membesarkan putra sebaik-baiknya. Sebetulnya dia mempunyai tugas khusus Ilahi untuk melenyapkan adharma. Dan kepergiannya bersama Resi Wiswamitra adalah untuk memulai langkah awal dalam menjalanakan dharmanya.”

Keterikatan kepada putra sering membuat lalai kepada Gusti. Bukankah orang suci Abraham, Nabi Ibrahim a.s. pun pernah terikat dengan putranya? Sampai beliau sadar, Yang Ada Hanya Gusti, kenapa memilih yang duniawi dari Yang Ilahi? Akhirnya beliau rela mengorbankan sang putra dan Gusti berkenan menyelamatkan putranya bahkan menjadi nabi yang saleh.

Pada akhirnya Prabu Dasarata melepaskan kepergian Rama ditemani Laksmana mengikuti Resi Wiswamitra. Sri Rama diajak Resi Wiswamitra mengikuti jejak-jejak masa lampau kala sang avatara berwujud sebagai Vamana. Sang resi menunjukkan tempat Ahalya, kemudian tempat Raja Baghirata bertemu Dewi Gangga dan selanjutnya tempat Resi Kasyapa ayahanda Vamana bertapa. Resi Wiswamitra menunjukkan tempat sang resi melakukan persembahan yang berada di dekat tempat Resi Kasyapa orang tua Avatara Vamana kala bertapa dan mohon kelahiran sang avatara.

Konon Hutan Dandaka, lokasi upacara persembahan Resi Wiswamitra, adalah tempat Indra bertapa setelah merasa bersalah membunuh Resi Asura Vrta. Setelah ratusan tahun bertapa, para dewa membersihkan hati Indra dengan air suci dan air suci tersebut membuat tanah di hutan tersebut menjadi daerah yang subur.Sampah dedaunan dan bangkai binatang di hutan tersebut didaur ulang Bunda Bumi menjadi tanah subur yang menghasilkan buah-buahan lezat.

Ketenangan masyarakat hutan tersebut dikacaukan oleh raksasa perempuan bernama Tataka dan putranya yang bernama Maricha. Alkisah, pada suatu hari Sunda, suami Tataka karena kesalahannya mati di tangan Resi Agastya, dan Tataka sang isteri tidak dapat menerima dan melawan Resi Agastya. Akhirnya Tataka dikutuk menjadi raksasa dan bersama anaknya Maricha mengganggu masyarakat di hutan Dandaka.

Kala Sri Rama sampai di Hutan Dandaka, Tataka muncul mengganggu dan dibunuh oleh Sri Rama. Adalah sebuah kebahagiaan bagi para raksasa untuk mati di tangan seorang avatara, kematiannya mendapatkan berkah.

Pada keesokan harinya, Maricha dan Subahu beserta balatentaranya menuntut balas, dan semuanya dapat dibasmi oleh Sri Rama, kecuali Maricha yang tidak dibunuh tetapi terlempar ke tepi sungai. Maricha inilah yang melaporkan kejadian tersebut kepada Raja Raksasa Rahwana dan kisah Ramayana menjadi cerita yang panjang.

Rasa dendam kala suaminya dibunuh, walau disebabkan kesalahan suaminya sendiri seperti Tataka, kebiasaan suka usil terhadap acara ritual orang lain seperti Maricha dan Subahu, kemudian merasa benar sendiri adalah sifat-sifat raksasa dalam diri yang perlu ditaklukkan oleh Rama, Kesucian yang ada di dalam diri. Kala meniti ke dalam diri, terungkap bahwa sifat-sifat keraksasaan , sifat-sifat kebinatangan masih ada di dalam diri dan selama ini kurang disadari.

Untuk meniti jalan ke dalam diri memang dibutuhkan keberanian. Baru menoleh ke dalam diri, anda akan kaget! Dalam diri anda, masih ada kebuasan serigala. Dalam diri anda, masih ada keliaran monyet. Dalam diri anda, masih ada kemalasan babi. Dalam diri anda, masih ada kicauan burung. Gonggongan anjing dan kwak-kweknya bebek – semuanya masih ada. Napsu birahi masih belum terkendali, yang membuat anda sebuas serigala. Pikiran masih liar, bagaikan monyet. Malas untuk melakoni meditasi, seperti babi. Mengoceh terus, ngomongin orang terus, seperti burung. Sikut kanan, sikut kiri ditambah dengan luapan amarah, persis seperti anjing. Hidup tanpa kesadaran, hanya mengikuti massa – persis seperti bebek. Itulah anda! Keliaran ini, kehewanian ini, kebuasan ini dianggap “kewarasan” oleh dunia, oleh massa. Kenapa? Karena dunia anda masih buas juga, masih liar juga, masih hewani juga. Mereka yang bisa menerima kebinatangan diri anda masih binatang juga. *

Selesai membantu Resi Wiswamitra, Sri Rama dan Laksmana diajak sang resi pergi ke Mithila yang pada saat itu sedang diadakan sayembara mencari pasangan Dewi Sinta, putri Prabu Janaka.

Busur Shiva

Prabu Janaka dan permaisurinya membesarkan Dewi Sinta dengan penuh kasih sayang hingga Dewi Sinta tumbuh menjadi putri cantik yang menggetarkan dunia. Banyak raja dan kshatriya yang berminat mempersuntingnya. Prabu Janaka menganggap Dewi Sinta adalah anugerah Bunda Bumi, dan semestinya pasangan serasi bumi adalah matahari. Bumi melayani makhluknya, tetapi sinar matahari lah yang menghidupi dan memberi penerangan serta kehangatannya. Sinar matahari berada di mana-mana dan tidak membeda-bedakan. Pada zaman itu yang menjadi menjadi maharaja dari Dinasti Surya, Dinasti Matahari, adalah Prabu Dasarata yang memerintah di kerajaan Ayodya.

Ketika saatnya sang putri tiba untuk mendapatkan jodohnya, Prabu Janaka kewalahan menerima pinangan dari banyak putra raja, sehingga Prabu Janaka mengadakan sayembara. Barang siapa yang dapat mengangkat dan merentangkan busur Shiva akan diangkat sebagai menantunya.

Konon Leluhur Prabu Janaka bernama Dewabrata mendapat anugerah busur dari Shiva, sang Mahadewa. Kala terjadi pertentangan antara Shiva dengan mertuanya Daksa yang melecehkannya, Shiva meminjam busur tersebut untuk mengancam para dewa sehingga tidak berani menghadiri acara yang diadakan oleh Daksa tersebut. Selanjutnya Shiva mengembalikan busur tersebut kepada Dewabrata, dan pusaka tersebut dirawat raja penerusnya sampai akhirnya menjadi pusaka Prabu Janaka.

Para kshatriya mendambakan Dewi Sinta, tetapi tak ada satu pun kshatriya yang kuat mengangkat busur tersebut. Busur tersebut memerlukan 500 prajurit untuk mengangkat bersama dan menaikkannnya dalam kereta.

Ketika Rama diminta Resi Wiswamitra mengangkat busur tersebut, dengan mudahnya dia mengangkat dan setelah memperhatikan busur tersebut, Rama berkata, “Ini memang busur pusaka yang sakti.” Dan sambil berkata demikian dia menarik tali busur dan ketika tali busur terebut dilepas kembali timbullah suara yang luar biasa kerasnya seperti geledek yang membahana.

Prabu Janaka sangat berbahagia, yang terpilih menjadi menantunya adalah Sri Rama, putra Raja Dasarata dari dinasti Surya. Ram sendiri berarti Dia Yang Berada Dimana-Mana. Diundanglah keluarga Prabu Dasarata untuk mengadakan acara perkawinan Sri Rama dengan Dewi Sinta di Mithila.

Setelah acara perkawinan selesai, maka Dewi Sinta diboyong Sri Rama ke Ayodya.

Bertemu Avatara Parasurama

Dalam perjalanan ke Ayodya bersama Dewi Sinta, Laksmana dan Dasarata sang ayahanda, di tengah jalan Sri Rama dihentikan oleh Parasurama, seorang resi tinggi besar berambut panjang keriting dan digelung di kepalanya, membawa busur dan kapak. Parasurama yang sakti adalah pembunuh para kshatriya yang tindakannya melenceng dari jalur dharma. Parasurama telah mendengar bahwa Sri Rama telah berhasil mengangkat dan menarik tali busur Shiva, bahkan suara kembalinya tali busur yang sangat membahana terdengar oleh dirinya. Parasurama mengajak Sri Rama bertarung.

Sri Rama kemudian meminjam busur dan anak panah Parasurama yang mirip sekali dengan busur Shiva. Kemudian menarik talinya dan meletakkan anak panah ke busur tersebut. Rama berkata, “Wahai Parasurama anak panah ini harus menuju sasarannya, pilihlah nyawamu yang hilang atau kekuatan tapamu yang hilang.”

Parasurama menunduk dan menghormat Sri Rama dengan takzim, “Sri Ramji, ada dua busur dibuat Dewa Wiswakarma, yang satu dipersembahkan kepada Shiva yang akhirnya menjadi pusaka Prabu Janaka dan satu lagi dipersembahkan kepada Wisnu yang sekarang kubawa. Aku telah mengerti siapa sejatinya dirimu. Penyerahan busur kepadamu tadi merupakan makna simbolis penyerahan kewenangan Avatara Wisnu kepadamu. Aku masih mempunyai perjanjian untuk menemui Resi Kasyapa di pegunungan Mahendra, ijinkan aku mohon diri.”

Parasurama mengakhiri tugasnya sebagai avatara pembunuh para kshatriya. Dia segera pergi menuju pegunungan Mahendra menjadi Chiranjiwin, manusia yang dikaruniai usia yang sangat panjang.

Menghadapi perubahan dunia

Konon, pada saat terjadi ketidakseimbangan antara adharma dan dharma, maka datanglah avatara, Kebenaran yang mewujud dalam diri seorang manusia. Pada waktu adharma berwujud sebagai Bali yang pada dasarnya baik, datanglah Vamana Avatara, seorang brahmana yang bijak. Pada waktu adharma berwujud sebagai para kshatriya dan raja yang lalim, datanglah Parasurama, brahmana yang tegas tak kenal ampun terhadap kelaliman. Pada saat adharma berwujud raksasa yang mau menang sendiri, suka menjarah milik orang lain, datanglah Sri Rama, kshatriya yang bijak. Dunia selalu berubah.

Perkembangan terus-menerus itulah hukum alam. Orang yang ingin bertahan dengan dogma-dogma (lama) untuk menunjukkan konsistensi diri, sesungguhnya berada pada posisi yang salah. Kenapa orang yang seperti itu berada pada posisi yang salah? Karena, perubahan adalah hukum alam. Sementara mereka yang fanatik terhadap dogma-dogma, dan tidak memahami nilai-nilai luhur di baliknya, terperangkap oleh ego mereka sendiri. Ego yang ingin membuktikan dirinya konsisten. Konsistensi dianggap nilai-nilai luhur, padahal tidak demikian. Apa yang konsisten di dalam dunia ini? Apa yang konsisten dalam diri kita? Setiap beberapa tahun, bahkan seluruh sel di dalam tubuh kita berubah total. Dari zaman ke zaman, ajaran-ajaran luhur pun perlu dimaknai kembali, dikonstektualkan. Kebiasaan-kebiasaan lama mesti diuji terus apakah masih relevan, masih sesuai dengan perkembangan zaman. Ah, tapi kita malas. Kita tidak mau berijtihad, tak mau berupaya, lalu menerima saja apa yang disuapkan kepada kita. Padahal kitab-kitab suci pun melarang kita mengikuti seseorang secara membabibuta, walaupun orang itu rahib atau mengaku sebagai agamawan atau rohaniwan.

Belantara Hasrat di Hutan Dandaka

Kita sebenarnya mencari kebahagiaan abadi. Kita mencari kebahagiaan spiritual. Kita tidak pernah bahagia, tidak pernah terpuaskan oleh kenikmatan inderawi yang memang hanya sementara. Sayangnya, banyak dari kita tidak menyadari hal ini. Kita tidak menyadari kesalahan kita sendiri, harapan dan ekspektasi yang salah. Bagaimana bisa merasakan kebahagiaan abadi dari materi atau benda yang tidak abadi? Inilah yang menjadi alasan ketidakbahagiaan kita, kekhawatiran kita, stress dan depresi. Kita senantiasa mencari kebahagiaan, namun hanya segelintir yangmenemukan kebahagiaan itu. Kenapa? karena mereka yang segelintir ini mencari kebahagiaan di tempat dan sumber yang tepat. Kebahagiaan itu lebih bersifat rohani dan, oleh karena itu, harus ditemukan di dalam ruh, dari dalam diri masing-masing. Kebahagiaan tidak bisa dicari di luar diri, dari benda-benda luar.

Menemui para resi yang tinggal di Hutan Dandaka

Di dalam hutan belantara hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut dan melarikan diri. Hukum Rimba “fight or flight” ini membuat manusia kuno, manusia zaman batu dan besi , menjadi keras, alot. Ya, otot-ototnya menjadi kuat, karena ia sering menggunakannya. Ia harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya.

Sri Rama menemui para resi yang tinggal di hutan belantara Dandaka. Semua resi merasa terberkati dan mempersembahkan ilmu yang diperolehnya kepada Sri Rama. Kemudian, ada beberapa resi yang mohon bantuan Sri Rama untuk memusnahkan para raksasa. Menurut mereka sudah banyak resi yang dibunuh para raksasa dan mereka memperlihatkan tumpukan tulang belulang korban pembunuhan para raksasa. Sri Rama berjanji akan memusnahkan para raksasa.

Dewi Sinta adalah seorang wanita yang tabah, bersedia mengikuti Sri Rama meninggalkan kenyamanan istana, bahkan sudah mengalaminya selama 10 tahun. Akan tetapi dia tetap mengkhawatirkan Sri Rama, “Suamiku, Dikau mempunyai kesepakatan untuk hidup di hutan selama 14 tahun, tetapi tak ada kesepakatan untuk berperang melawan raksasa. Bukankah para raksasa tidak langsung mengganggu kita? Ada tiga kecenderungan lelaki yaitu dusta, nafsu berahi dan kekerasan, dua yang pertama jelas jauh dari sifat kanda, dinda takut kakanda terlibat dalam kekerasan.”

“Duhai Dinda, ada skenario Keberadaan yang kadang tidak dipahami manusia. Kala ego pribadi sirna, manusia akan sadar bahwa Keberadaanlah yang bekerja lewat dirinya. Bagaimana pun tugasku adalah menegakkan dharma. Dan para resi terganggu oleh ulah para raksasa, mari kita menemui Resi Agastya di daerah selatan yang pernah membantu para resi melawan raksasa. Para raksasa tidak berani mengganggu dia.”

Konon Resi Agastya bersama istrinya Lopamudra hidup di hutan daerah selatan. Adalah dua raksasa, Watapi dan Ilwala yang suka mengganggu para pertapa. Mereka adalah raksasa yang sakti dan suka mengerjai para resi. Watapi mempunyai kemampuan untuk menjadikan dirinya menjadi potongan-potongan daging, akan tetapi saat dipanggil Ilwala, potongan-potongan tersebut akan kembali bersatu dan hidup kembali.

Ilwala sering mengundang para resi untuk bersantap bersama di tempat tinggalnya. Ilwala paham bahwa para resi pantang menolak bila diundang makan dan tidak ada keperluan lain yang mendesak. Para resi disuguhi makanan dengan lauk daging yang sebenarnya berasal dari potongan tubuh Watapi. Pada saat acara makan selesai, Ilwala dengan tertawa memanggil Watapi, “Watapi, keluarlah!” dan daging-daging dalam usus para resi tersebut menyatu menjadi Watapi dan usus para resi terburai.

Makna kisah ini amat indah. Seseorang ditawari makanan, dan dia sungkan menolaknya dan memakannya. Dia tak sadar bahwa dalam makanan tersebut terdapat benih keraksasaan yang menghancurkan pengendalian dirinya. Makanan yang dimaksudkan bukan hanya makanan yang bersifat rajas, yang membuat aktif tetapi makanan berupa tontonan, lagu, parfum, paham atau apa pun yang dikonsumsi panca indera dan otak. Apabila tidak waspada pengendalian diri bisa hancur.

Pada suatu saat Resi Agastya diundang makan oleh Ilwala, dan disuguhi makan dengan lauk daging Watapi. Dan, ketika Ilwala memanggil Watapi, “Watapi, keluarlah!”….. Watapi tidak keluar. Resi Agastya tersenyum, “dagingnya sudah kucerna!” Ilwala marah dan menyerang Agastya, tetapi tubuhnya hancur menjadi abu.

Sri Rama berkunjung ke ashram Resi Agastya dan diberi hadiah busur Wisnu dengan anak panah yang tak pernah habis.

Sarpakenaka

Sarpakenaka adalah adik dari Prabu Rahwana, seorang raksasa wanita yang jelek rupa dan selalu ingin memenuhi semua hasratnya. Sarpakenaka sudah punya suami, Karadusana anak buah Rahwana. Kesaktian Sarpakenaka adalah bisa mengubah wujudnya menjadi wanita yang sangat cantik, keahlian tersebut juga dipunyai oleh PIL (Pria Idaman Lain) nya Kala Maricha, juga orang kepercayaan Rahwana yang dapat mengubah wujud menjadi seperti apa pun yang dinginkannya.

Sarpakenaka terpesona melihat dua lelaki tampan, Sri Rama dan Laksmana yang sedang berada di hutan, dia mengubah wujudnya menjadi seorang wanita yang cantik menawan. Sri Rama yang sudah mempunyai pasangan tidak tertarik kepadanya dan Sarpakenaka mencoba mengadakan pendekatan ke Laksmana.

Nafsu mewarnai segala aspek kehidupan kita. Nafsu untuk mengejar harta, nama, atau apa saja – sama dengan hawa nafsu yang sering kita kaitkan dengan birahi, dengan seks. Nafsu adalah nafsu. Ada yang menyalurkannya lewat seks di dalam kamar, di atas ranjang. Ada yang melampiaskannya di dalam Gedung Perwakilan Rakyat dengan melacurkan jiwa dan menggadaikan amanah yang mereka peroleh dari rakyat, demi kursi, demi keuntungan pribadi. Ada juga yang terangsang melihat jumlah umatnya bertambah; peduli amat bila kualitas mereka tak pernah meningkat… Semua itu adalah permainan nafsu! *

Laksmana bermakna, “tujuan yang jelas”, dalam hal ini tujuannya mengabdi kepada Sri Rama. Rama berarti “Dia yang ada di mana-mana”. Laksmana pun tidak tertarik dengan wanita cantik tersebut, bahkan dia dapat mencium bau raksasa pada wanita tersebut. Kala wanita tersebut memaksa memeluknya, Laksmana mengelak dan memuntir hidungnya. Hidung sang wanita patah dan berubah wujud menjadi raksasa wanita Sarpakenaka.

Sarpakenaka dendam dan lapor kepada suaminya yang dengan balatentaranya segera menyerang Sri Rama dan Laksmana. Seluruh raksasa mati terbunuh oleh panah pemberian Resi Agastya. Sarpakenaka segera lapor kepada Prabu Rahwana peristiwa yang terjadi padanya. Rahwana juga tahu bahwa Sri Rama berniat memusnahkan seluruh raksasa anak buahnya yang suka mengganggu para resi.

Rahwana segera menyusun rencana untuk menculik Dewi Sinta, untuk memberi pelajaran kepada Sri Rama. Rahwana ingat kepada musuh utamanya sebelum Sri Rama yaitu Prabu Harjuna Sasrabahu. Untuk mengalahkan sang prabu yang sakti, Rahwana menipu Dewi Citrawati, isteri sang prabu sehingga sang permaisuri bunuh diri. Kematian isteri membuat Prabu Harjuna Sasrabahu semangatnya melemah, meninggalkan kerajaan dan mati dibunuh oleh Parasurama. Rahwana ingin menjatuhkan semangat Sri Rama dengan menculik Dewi Sinta, sehingga Sri Rama mudah dikalahkan.

Dunia ingin memiliki kita. Keluarga, kerabat dan orang-orang yang mengaku seumat dan seiman ingin memiliki kita. Lembaga-lembaga keagamaan dan politik berebutan untuk memiliki kita. Kadang mereka bergabung untuk menyatakan kepemilikan mereka atas diri kita. Berhati-hatilah, kapal kita berada di tengah laut, wilayah kekuasaan para pembajak laut. Barangkali kita tidak melihat mereka, karena mereka selalu bersembunyi di balik ombak. Mereka pintar, licik. Kapan saja mereka dapat berlaga untuk membajak jiwa kita, untuk menumpas kesadaran kita. *

Kijang Kencana

Sepuluh tahun sudah Dewi Sinta, setia mendampingi Sri Rama mengembara di Hutan Dandaka, meninggalkan kenikmatan duniawi di istana. Kala Dewi Sinta sedang sendirian ditinggal Sri Rama dan Laksmana yang sedang berburu, dia didekati kijang kencana yang sangat indah. Hasrat Dewi Sinta untuk memiliki kijang tersebut timbul. Pikiran bawah sadar tentang kenikmatan istana duniawi yang tekubur selama sepuluh tahun naik ke permukaan. Dewi Sinta tidak sadar bahwa kijang kencana tersebut adalah jelmaan dari raksasa Kala Maricha.

Dunia tidak pernah berhenti merayu kita. Dunia tidak rela melepaskan diri kita. Ia selalu berupaya agar kita menjadi bagian darinya. Bila rayuannya tidak berhasil, ia akan mengecam, mengancam, mendesak dan memaksa dengan menggunakan segala daya upaya. Pokoknya, kita tidak boleh keluar dari lingkarannya. Lingkaran setan kelahiran dan kematian yang tidak berkesudahan. *

Ketika Sri Rama dan Laksmana datang, Dewi Sinta yang tergoda kijang kencana mohon Sri Rama berkenan menangkapkan untuknya dalam keadaan hidup-hidup. Si kijang lari dan dikejar Sri Rama yang berpesan kepada Laksmana untuk menjaga Dewi Sinta kala dia mengejar kijang tersebut. Si Kijang lari dengan lincahnya dan dikejar Sri rama sehingga menjauhi tempat Dewi Sinta berada.

Sri Rama adalah seorang avatar, Gusti yang mewujud sebagai manusia untuk menyelesaikan tugas tertentu, tugas menegakkan dharma di kala adharma merajalela. Mereka yang berada dekat Sri Rama adalah manusia-manusia pilihan yang mendampingi Sri Rama dalam menegakkan dharma.

Dunia ibarat suatu yayasan dan kita dinobatkan sebagai pengurus untuk masa tertentu. Ya, kita semua adalah pengurus bagian dunia yang telah ditetapkan bagi kita masing-masing. Barangkali bagian itu kecil, barangkali besar, barangkali berupa negara, atau rumah tangga. Jadilah seorang pengurus yang baik. Apapun tugasnya, laksanakanlah dengan baik. *

Rama berarti ‘Dia yang berada di mana-mana’. Rama bukan hanya seorang Raja seperti Prabu Dasarata ayahandanya. Seorang raja akan dikelilingi orang-orang yang ingin berebut paling dekat dengan sang raja. Terjadi intrik-intrik saling menjatuhkan. Bukankah di antara tiga istri Prabu Dasarata sebetulnya juga ada rasa takut tersaingi?

Tidak demikian dengan seorang avatar, yang diyakini sebagai Gusti yang mewujud untuk menegakkan dharma. Dia mempunyai sifat berada di mana-mana, dia bersemayam di hati nurani para bhaktanya. Mereka yang bersaing mendapatkan perhatian fisik seorang avatar masih berada dalam tataran fisik. Kita bisa melihat avatar yang lain, Sri Krishna, yang konon mempunyai isteri 16.000 orang dan digambarkan Sri Krishna dapat memecah tubuhnya sehingga bisa hidup bersama dengan semua istrinya. Semua ‘gopi’ rindu dengan Sri Krishna dan semuanya merasa paling disayangi Sri Krishna. Demikianlah gambaran Gusti yang menyayangi, mengasihi semua makhluknya. Hubungan setiap pribadi dengan Sang Gusti merupakan hubungan yang khas tidak seragam.

Hanya Laksmana, ‘dia bertujuan jelas’ mengabdi dan nantinya ditambah Hanuman, ‘sang bhakta yang selalu melayani’ yang bisa menjadi pendamping Sri Rama.

Mustahil Sri Rama tidak tahu bahwa kijang tersebut adalah jelmaan dari Kala Maricha. Sri Rama sengaja mengikuti skenario alam, dia mengejar kijang kencana dan akhirnya memanahnya, sehingga si kijang mati dan kembali ke wujud asalnya, Kala Maricha yang telah terpanah di dadanya. Teriakan kesakitan Kala Maricha terdengar dari kejauhan. Sehingga Dewi Sinta khawatir dan meminta Laksmana mengejar Sri Rama mencari tahu permasalahannya.

Dewi Sinta mewakili ‘human soul’, roh manusia yang berbahagia berada dekat Tuhannya, menjadi kekasihnya. Dia sudah meninggalkan kenyamanan istananya duniawinya mengikuti Tuhan (Rama). Akan tetapi walau sekian lama berada dekat Tuhan, dia terjebak kijang duniawi dan berdoa pada Tuhan mohon memberikan keduniawian.

Tuhan ibarat fasilitator, mengikuti kemauan manusia. Pilihan duniawi akan mengakibatkan resiko duniawi dan nantinya bahkan Dewi Sinta sampai disekap Rahwana, disekap ego, keraksasaan dalam diri manusia.

Tipologi karakter manusia

Raksasa Kala Maricha dengan Subahu pernah menyerang Sri Rama yang melindungi padepokan Wiswamitra, bahkan Subahu mati dan Kala Maricha terlempar jauh dengan luka parah dan melaporkan kejadian kepada Rahwana.

Kala Maricha juga mewakili ‘human soul’, roh manusia yang pernah merasakan babak belur akibat melawan Kehendak Alam. Akan tetapi dia takut dengan Rahwana, takut dibunuh Rahwana, takut penderitaan duniawi, sehingga menuruti egonya untuk menggoda ego Dewi Sinta agar tertarik duniawi. Akhirnya Kala Maricha pun tetap mati juga, siapa yang tidak mati di dunia fisik ini? Persoalannya adalah bahwa dia menggunakan hidupnya untuk melawan Keselarasan Alam.

Sebuah dilema muncul pada diri Laksmana. Tujuannya jelas mengikuti Sri Rama dan Sri Rama meminta dia melindungi Dewi Sinta, saat Sri Rama mengejar kijang kencana. Kini dia mendengar jeritan di kejauhan. Dewi Sinta minta dirinya mengejar Sri Rama. Laksmana berada dalam dilema, mengikuti permintaan Tuhan atau mengikuti Tuhan. Akhirnya dia mengambil keputusan, membuat pagar lingkaran keselamatan di sekeliling Dewi Sinta yang dianggapnya mengikuti permintaan Tuhan dan kemudian mengikuti Tuhan (Sri Rama).

Kata-kata itu terbatas dan banyak tafsirnya. Dilema Laksmana adalah mengikuti kata-kata yang mempunyai tafsir berbeda-beda atau mengikuti si pemberi kata-kata. Beruntunglah mereka yang Guru Rohaninya masih hidup, sehingga keraguan tafsir kata-kata dapat ditanyakan kepadanya. Kalau sang guru telah tiada, maka manusia harus mengadakan ijtihad, berusaha memahami yang tersirat. Akan tetapi, kebanyakan manusia malas dan hanya mengikuti dogma tafsiran yang disampaikan dari abad ke abad.

Ah, kita masih ragu. Kita masih bimbang. Kita masih takut. Kita masih memikirkan pendapat orang, dan pandangan dunia. Kita masih mengharapkan masyarakat merestui hubungan kita. Sesungguhnya, harapan kita tidak pada tempatnya. Kita tidak membutuhkan fatwa untuk berhubungan dengan Tuhan, kita tidak membutuhkan izin dari siapa pun jua. Bahkan kita tidak dapat dipaksa untuk menyebut Tuhan, Bapa di Surga, Bunda Alam Semesta, Kekasih Agung, Raja di atas segala Raja atau dengan salah satu sebutan yang lain. Kita bebas untuk menentukan sebutan dan sifat dari hubungan kita dengan Tuhan. Jangan kita terlalu percaya pada apa yang dikatakan oleh dunia, karena ia sendiri masih bingung. Apa yang diketahuinya tentang hubungan antarmanusia saja ia masih selalu keliru, apalagi tentang hubungan manusia dengan Tuhan. *

Dewi Sinta lengah ketika seorang pengemis tua meruntuhkan ibanya. Dirinya, melupakan nasehat Laksmana untuk jangan keluar dari pagar pengaman. Tanpa sadar tangan Dewi Sinta terjulur keluar berniat memberi kepada sang pengemis. Dan, dalam hitungan detik tangan pengemis tersebut sudah menarik Dewi Sinta keluar dari pagar pengaman. Rahwana paham atas kelemahan hati seorang wanita yang penuh rasa iba terhadap seorang pengemis tua yang menderita.

Kemudian dirinya dibawa lari Rahwana, dan Jatayu, seekor burung garuda raksasa berusaha merebutnya, terjadilah perang tanding yang hebat. Dia sangat sedih tatkala Jatayu luka parah dan ditinggal pergi Rahwana yang kembali membawa lari dirinya. Dewi Sinta selalau berdoa agar Jatayu dapat bertemu Sri Rama dan menyampaikan keadaan yang terjadi pada dirinya.

Jatayu adalah sabahat baik Prabu Dasarata, dia ingin menyelamatkan Dewi Sinta, akan tetapi kalah berperang melawan Rahwana. Jatayu sengaja mempertahankan nyawanya sampai dapat bertemu Sri Rama dan menjelaskan siapa yang menculik Dewi Sinta, dan keinginannya tercapai. Jatayu mewakili sifat manusia yang membela dharma, kebenaran dan walaupun kalah, bahkan mengalami kematian fisik dalam melawan adharma, tetapi akhirnya dia bertemu Tuhannya.

Hikmah Ramayana

Karakter manusia tak banyak berubah. Konon Sri Rama hidup sekitar 10.000-an tahun yang lalu, akan tetapi karakter manusia tak banyak berubah. Wujud raksasa memang sudah tidak ada lagi, mereka sudah berevolusi sebagai manusia. Akan tetapi sifat keraksasaan masih ada dalam diri manusia. Sesungguhnya semua karakter para pelaku ramayana masih ada dalam diri kita, sehingga kita perlu introspeksi terhadap karakter kita.

Sebuah kisah seperti Ramayana menggunakan rasa dan menggambarkannya dalam wujud fisik. Mereka yang melihat dengan kacamata logika akan mengalami kekecewaan, karena rasa melampaui logika.

Dari sangkar ke kamar, dari kamar ke pekarangan rumah, dan dari pekarangan rumah ke alam bebas – itulah perjalanan jiwa. Sangkar adalah pikiran, pekarangan rumah adalah alam rasa… dan alam bebas adalah alam Kesadaran Murni. Antara pikiran dan kesadaran ada alam rasa. Alam rasa adalah alam dengan kebebasan terbatas; bukan kebebasan yang dibatasi, tetapi kebebasan yang membatasi diri, karena sesungguhnya pekarangan rumah adalah bagian dari alam bebas. Ia sudah menjadi bagian dari alam bebas, walau tetap juga berfungsi sebagai pekarangan rumah. Cinta adalah Alam rasa. Cinta berada antara pikiran yang membelenggu dan kesadaran yang membebaskan. Satu di bawah cinta kita terbelenggu: kita jatuh kepada nafsu. Satu langkah di atas cinta, kita terbebaskan dari segala macam belenggu. Kita memasuki kasih!

Mengamati Sifat Sugriwa dan Subali Dalam Diri

Saat marah-marah, dalam keadaan pikiran kacau dan emosi bergejolak, napas ikut menjadi kacau. Kita cenderung menarik dan membuang napas lebih cepat. Itulah yang saya maksud dengan pemborosan napas. Napas kita menjadi 24 hingga 32 siklus per menit. Keputusan yang kita ambil pada saat-saat seperti itu terbukti hampir selalu salah. Janganlah mengharapkan kreativitas dari seseorang yang sedang bernapas cepat. Kreativitas adalah hasil pikiran yang tenang, jernih, dan emosi yang stabil. Kedua hal itu merupakan prasyarat utama bagi pengembangan kreativitas diri. Seekor kera bernapas 32 hingga 36 siklus per menit, maka ia tidak sekreatif manusia; padahal anatomi otaknya tidak jauh berbeda dari anatomi otak manusia. Dengan napas normal 15 siklus per menit saja kita sudah dapat berpikir, dan bertindak sesuai dengan apa yang kita pikirkan. Keberhasilan kita selama ini berdasarkan sikluls napas normal tersebut. Kurangi siklus napas Anda, maka Anda dapat menambah tingkat keberhasilan Anda. Dengan mengurangi siklus napas, otak kita dapat mencerna lebih baik, dan dapat berpikir lebih jernih. Ide-ide baru pun muncul, sehingga kita menjadi lebih kreatif. Kreativitas itulah yang membuat kita lebih berhasil!

Gelombang otak dan frekuensi napas

Alat pengukur gelombang otak adalah Electro Encephalograph (EEG). Grafik EEG menunjukkan pergerakan gelombang otak. Satuan ukuran dalam EEG adalah hertz.

Keadaan tegang atau rileks mempengaruhi gelombang otak. Pada waktu normal, keadaan dimana dalam satu saat pikiran terpecah, misalnya sambil menyetir mobil, ngobrol dengan teman sebelah, memperhatikan orang mau menyeberang, juga melihat reklame, maka gelombang otak berkisar 14 hertz. Kondisi gelombang otak antara 14 – 30 hertz disebut kondisi beta.

Pada waktu pikiran mulai terfokus, misalnya membaca buku dengan asyik, sehingga tubuh mulai tidak terpikirkan maka kita mulai masuk kondisi alpha, antara 14-7 hertz. Pada waktu itu napas kita menjadi lebih tenang, kondisi tersebut juga terjadi ketika kita melakukan meditasi atau pada waktu akan tidur.

Apabila gelombang otak melambat antara 7-3.5 hertz, diri kita akan lebih tenang lagi, diri kita masih ada tetapi fisik sudah terabaikan sama sekali. Kondisi tersebut dikenal sebagai kondisi theta. Keadaan itu juga terjadi pada waktu kita bermimpi.

Apabila napas semakin melambat maka akan terjadi ‘deep sleep’, tidur tanpa mimpi, dan gelombang otak berkisar 3.5-0.5 hertz. Ketika itu terjadi peremajaan dan penyembuhan sel tubuh. Ketika sedang sakit, seseorang akan tidur lebih banyak karena tubuh berusaha menyembuhkan dirinya sendiri. Pada waktu keadaan koma, gelombang otak berada pada 0.5 hertz. Sebaliknya ketika pikiran begitu kacau, napas begitu tak teratur gelombang otak berada pada kondisi gama, diatas 30 hertz.

Antara manusia dan kera

Konon anatomi otak manusia dan otak kera hampir sama, perbedaannya terletak pada cara bernafasnya. Kera bernafas sekitar 32 siklus per detik sedangkan manusia pada saat normal bernafas dengan 14 siklus per detik. Perbedaan nafas itu membuat kera lebih sembrono dan tergesa-gesa mengambil keputusan.

Dalam diri kera masih terdapat sifat bawaan asli hewani, ‘fight or flight’, berkelahi bila merasa menang atau lari bila merasa kalah menghadapi musuhnya. Manusia purba pun harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya. Reaksi awalnya adalah ‘fight or flight’.

Sun Tzu mewakili manusia primordial, di mana satu-satunya hukum yang berlaku adalah “fight or flight”, melawan untuk keluar sebagai pemenang atau takut dan melarikan diri dari medan perang, menghindari peperangan. Hukum ini membuat manusia kuno, manusia zaman batu dan besi , menjadi keras, alot. Ya, otot-ototnya menjadi kuat, karena ia sering menggunakannya. Ia mesti menggunakannya. Ia harus menaklukkan binatang-binatang di hutan demi keberlangsungan hidupnya. Ia harus membunuh demi keselamatannya. *

Sugriwa dan Subali konon asalnya manusia yang masih memiliki sifat kekeraan. Mereka sudah bertapa selama bertahun-tahun, sudah semestinya mereka melampaui sifat-sifat kekeraan, akan tetapi ternyata sifat kesembronoan dan ketergesaan masih ada dalam diri mereka. Apakah sifat ini juga masih melekat dalam diri kita? Cara pandang kita terhadap peristiwa Sugriwa dan Subali, bisa berbeda, akan tetapi yang penting adalah bagaimana kita dapat memanfaatkan kisah tersebut untuk meningkatkan kesadaran diri kita.

Bertemu Hanuman keponakan Sugriwa

Dalam pencarian Dewi Sinta, Sri Rama dan Laksmana dihadang Raksasa Kabanda. Kabanda dapat dikalahkan dan Laksmana diminta Sri Rama membuntungi kaki dan tangan Kabanda. Kabanda berkata, “ Wahai Sri Rama, Narayana yang mewujud untuk membasmi adharma. Aku telah berbuat salah dan dikutuk menjadi raksasa, hutang kesalahanku akan terlunaskan kala seorang avatara membuntungi tangan dan kakiku yang telah berbuat kesalahan. Kini aku telah terbebaskan, dan aku akan melanjutkan perjalananku. Mengenai Dewi Sinta, jangan khawatir, Dewi Sinta tidak dapat disentuh oleh Rahwana, kesucian Dewi Sinta akan menyebabkan siapa pun yang berniat tidak baik terhadapnya akan terbakar. Carilah Sugriwa, dia menguasai seluruh hutan ini dan dia dapat membantu menemukan Dewi Sinta.”

Dan Raksasa Kabanda pun meninggal dunia. Kabanda yang percaya kepada ‘Sri Rama’, ‘Dia Yang Berada di Mana-Mana’, menyerahkan anggota tubuhnya untuk tidak mengikuti nafsunya ‘mind’-nya lagi.

Selanjutnya, Sri Rama dan Laksmana bertemu dengan Sabari, adik perempuan Resi Matanga. Sabari yang sudah tua renta sebetulnya ingin mati tatkala Resi Matanga mendekati kematian, akan tetapi hal tersebut dilarang oleh sang resi dan diminta menunggu ‘darshan’, bertemu dengan Sri Rama. Setelah bertemu Sri Rama, Sabari meninggal dunia. Begitu sabarnya seseorang menunggu bertemu dengan seorang avatar, apakah kita akan punya kesabaran seperti Sabari yang menunggu bertahun-tahun untuk bertemu dengan orang suci? Kesucian kita mungkin telah tertutup karat dunia, sehingga tidak dapat merasakan kebutuhan bertemu orang suci. Kabanda dan Sabari telah mendapatkan kedamaian hati.

Kedamaian-Mu adalah ketenangan diriku. Kehendak-Mu menuntut langkahku. Kepasrahan seperti ini “terjadi” bila kita sudah tidak mengejar apa-apa lagi. Tidak “mau” ke mana-mana lagi. Kemauan diri telah hanyut dalam Kehendak Ilahi. Kepasrahan tidak berarti anda duduk diam di rumah. Keledai “badan” masih butuh makan. Keledai “pancaidra” masih perlu dikendalikan. Anda masih menunggangi keledai “kehidupan”. Tetaplah bekerja dan berupaya, tetapi berhenti kejar-mengejar.

Di dekat tempat tersebut Sri Rama bertemu Hanuman. Begitu bertemu Sri Rama Hanuman merasa berbahagia, inilah Guru yang selalu ditungguinya selama ini. Beruntunglah Hanuman, bila Kabanda dan Sabari mati begitu bertemu dengan Sri Rama, maka Hanuman justru memulai hidup baru setelah bertemu Sang Guru. Sifat kekeraan hanuman lenyap bila selalu mengabdi kepada Sri Rama, Hanuman menjadi bhakta dari Dia Yang Berada di Mana-mana. Hanuman pasrah kepada kehendak Sri Rama. Setelah memperkenalkan diri, Hanuman menggendong Sri Rama dan Laksmana di pundaknya naik ke bukit Malaya, tempat Sugriwa berada.

Tiga bersaudara Anjani, Subali dan Sugriwa

Anjani, Subali dan Sugriwa adalah putra-putri Resi Gotama dengan Dewi Windradi yang sedang meningkat remaja. Pada suatu hari Dewi Windradi menghadiahkan sebuah ‘cupu’ kepada Anjani. Melihat keajaiban cupu tersebut, ketiga bersaudara berselisih memperebutkan barang tersebut. Sang ayah mengambil ‘cupu’ tersebut dan membuang ke telaga Madirda. Kedua kakaknya langsung terjun ke telaga mencari cupu, sedangkan dirinya menunggu di tepi telaga dan karena kepanasan maka dia membasahi mukanya dengan air telaga. Subali dan Sugriwa berubah menjadi kera, sedangkan Anjani, wajahnya berubah menjadi wajah kera.

Bertiga mereka menangis menghadap sang ayahanda yang kemudian memberi nasehat, “Kalian belajar mengendalikan diri, dimulai dari mengendalikan fisik makan dan minum. Kemudian sadarilah dirimu, fisikmu, energi hidupmu, mental emosionalmu, intelegensiamu. Anjani, bersyukurlah, sebagai wanita kau sudah memiliki kelembutan. Bertapalah seperti Kodok di telaga ini. Kodok adalah binatang yang luar biasa. Dia bisa hidup di air dan bisa hidup di darat. Manusia juga hidup di alam kasar ketika jaga.”

“Subali dan Sugriwa, pada suatu saat kalian akan menjadi raja kera. Subali kau akan membantu dunia melenyapkan raksasa berkepala kerbau dan berkepala sapi. Hari ini kalian berselisih memperebutkan ‘cupu’ mainan, karena kalian masih anak-anak menjelang remaja. Pada suatu saat kau akan berselisih dengan adikmu memperebutkan tahta dan wanita, dan kalau sudah ada manusia tampan dengan muka bersinar, terimalah kematianmu olehnya, berbahagialah melepaskan raga di tangan titisan Bathara Wisnu.”

“Sugriwa, kau harus membantu raja titisan Wisnu dalam melenyapkan kaum raksasa yang merupakan campuran antara manusia dan hewan. Demi evolusi, ‘sub human species’ itu harus punah.”“Anjani, teruslah bertapa sampai mendapatkan suamimu. Anakmu adalah seorang ‘bhakta’ dari raja titisan Wisnu. Tugasmu amat mulia melahirkan putra idola alam semesta, nama cucuku ini akan dikenang sepanjang masa.”

Pada umumnya, manusia tak pernah lepas dari keterikatan. Di waktu anak-anak obyek keterikatan adalah mainan, menjelang dewasa obyek keterikatan adalah lawan jenis. Setelah mandiri, obyek keterikatan adalah harta dan tahta, dan di masa tua obyek keterikatan adalah obat-obatan. Bisakah manusia terlepas dari keterikatan?

Ini tidak berarti melarikan diri dari tanggung jawab. Tidak berarti meninggalkan rumah dan menjadi seorang pertapa. Melepaskan keterikatan berarti melepaskan rasa kepemilikan. Tuhan adalah Pemilik tunggal semuanya ini. Anda ada atau tidak, dunia ini akan tetap ada. Menganggap diri sebagai pelaku hanya menunjukkan ego Anda. Tanpa diri Anda pun semuanya akan berjalan biasa, bahkan mungkin lebih lancar.

Perselisihan Sugriwa dan Subali

Subali dan Sugriwa mendapat tugas dari para dewa untuk membasmi Maesasura, raksasa berkepala kerbau bersama patihnya Jathasura, raksasa berkepala lembu. Sampai di goa tempat para raksasa tersebut, Subali minta Sugriwa menjaga di depan goa dan berpesan, bahwa apabila dalam perkelahian keluar darah berwarna putih, artinya Subali mati dan goa agar ditutup dengan batu besar, supaya kedua raksasa tidak dapat keluar lagi. Subali yakin darahnya berwarna putih sedang darah para raksasa adalah berwarna merah. Subali telah bertindak sembrono dan melupakan bahwa darah dari otak kedua raksasa tersebut juga berwarna putih.

Bertarunglah Subali dengan kedua raksasa di dalam goa, dan pada saat tersebut Sugriwa mendengar teriakan dari Subali dan kedua raksasa yang diikuti keluarnya darah merah dan putih. Sugriwa juga melakukan ketergesaan dan kesembronoan dengan menutup goa. Mungkin Sugriwa kurang jeli melihat bahwa jauh lebih banyak darah merah dari pada darah putihnya.

Sugriwa kemudian menjadi raja kera dan mendapat hadiah Dewi Tara yang cantik sebagai isterinya. Dan mereka hidup berbahagia. Subali yang berhasil membunuh kedua raksasa segera keluar goa, dan merasa sangat kecewa karena goa sudah tertutup. Subali hidup beberapa lama dalam goa dan akhirnya berhasil keluar dari goa.

Subali mendengar bahwa Sugriwa telah menjadi raja, dan memperoleh hadiah Dewi Tara karena Raksasa Maesasura dan Jathasura telah mati. Kemarahan Subali memuncak, dalam pikirannya Sugriwa telah berkhianat. Saat bertemu Subali, Sugriwa memberikan alasan mengapa menutup goa dengan batu, akan tetapi Subali tidak bisa menerima alasan tersebut, kemudian mereka berkelahi.

Sugriwa kalah dan sembunyi di sekitar Padepokan Resi Matanga. Sugriwa masih takut bila Subali berniat membunuhnya, akan tetapi dia tahu Subali tidak berani mendekati padepokan Resi Matanga. Subali pernah berkelahi dengan Raksasa Dundubi dan melemparkan mayatnya jauh ke udara dan jatuh di padepokan Resi Matanga. Resi Matanga mengutuk bahwa Subali akan mati bila menginjakkan kakinya di tanah padepokannya. Selanjutnya Subali menjadi raja kera dan memperistri Dewi Tara dan berputra Anggada.

Amarah adalah benih kehancuran. Jika tidak cepat-cepat diurusi, diangkat, dan dibuang jauh, amarah akan menutupi pikiran kita. Kita tidak dapat berpikir secara jernih. Kita kehilangan akal sehat. Keputusan yang kita ambil sudah pasti salah. Akhirnya, hancurlah kita! *

Bertemu Sugriwa

Sri Rama dan Laksmana bertemu Sugriwa dan menceritakan permasalahannya. Sugriwa berjanji akan membantu Sri Rama menuju Alengka, Kerajaan Rahwana, setelah Sri Rama membantunya menaklukkan Subali. Kemudian Sugriwa meminta anak buahnya mengambil selendang yang dijatuhkan Dewi Sinta kala terbang diculik Rahwana.

Ikatan saudara kandung antara Sugriwa dan Subali tidak dapat dibandingkan dengan ikatan saudara antara Sri Rama dengan Bharata, walau mereka berbeda ibu. Sri Rama menerima keadaan dan menyerahkan tahta kepada Bharata, dan Bharata menolak dan hanya mau sebagai wakil sementara dan menempatkan sandal Sri Rama di singgasana, sampai Sri Rama kembali ke istana. Subali merebut tahta dan isteri Sugriwa dan mengusir Sugriwa ke hutan.

Sugriwa juga tidak seperti Bharata yang menolak tahta yang sebenarnya bukan haknya. Sugriwa paham bahwa yang mengalahkan raksasa adalah Subali, yang berhak mendapat hadiah adalah Subali, akan tetapi Sugriwa tetap mau menerima tahta dan hadiah Dewa, dengan alasan Subali telah mati.

Dalam hal ini benar atau salah adalah relatif, menurut pandangan masing-masing. Akan tetapi Sri Rama dan Bharata telah mengambil langkah yang tepat untuk menyelesaikan permasalahan sedangkan Subali dan Sugriwa mengambil langkah yang kurang tepat. Diri kita sedang diuji Resi Walmiki, kita akan bertindak bagaimana bila mengalami peristiwa yang sama.

Epos Ramayana adalah sejarah dengan tambahan ‘bumbu-bumbu penyedap selera’. Karakter para pelaku dimaksudkan untuk menyingkapkan karakter diri pribadi kita menuju peningkatan kesadaran. Dan berbagai karakter tersebut dekat dengan karakter dari genetik kita. DNA kita sesuai dengan kisah-kisah Ramayana dan Mahabharata, akan tetapi secara sistematik ada pihak-pihak yang ingin memisahkan diri kita dengan budaya asal. Seseorang yang tidak menghargai budaya asalnya yang telah berakar sangat dalam, ibarat memotong akar-akar tanaman yang akan menyebabkan berdirinya pohon tidak mantap, mudah terombang-ambing, terpengaruh badai budaya asing, bahkan bisa roboh bila tidak waspada.

Kematian Subali

Sugriwa menantang Subali dan keduanya bertarung dengan seru, akan tetapi Sugriwa kalah dan melarikan diri. Dengan kecewa, Sugriwa bertanya, mengapa Sri Rama tidak membantunya. Sri Rama berkata bahwa sulit membedakan dua saudara yang sedang bertempur dan menyarankan agar dalam pertempuran selanjutnya Sugriwa memakai kalung bunga sebagai penanda diri.

Sugriwa kembali menantang Subali dan kembali terjadi pertarungan seru. Kali ini Sri Rama membidikkan panahnya dan Subali terpanah. Dalam keadaan luka, Subali teringat nasehat almarhum ayahnya agar dirinya ikhlas menerima kematiannya oleh seorang Avatara Wisnu. Subali bertanya pelan, “Wahai Sri Rama, mengapa seorang avatara membunuh seorang kera dari belakang, tidak berhadapan muka? Padahal saya tidak pernah punya permasalahan dengan paduka. Saya mohon penjelasan!”

Pertanyaan Subali, adalah pertanyaan kita, mengapa kita yang tidak punya kaitan permasalahan dengan seseorang dizalimi orang tersebut? Mungkin kita kurang beriman kepada ketetapan Gusti. Gusti telah menggunakan orang tersebut sebagai alat untuk meningkatkan kesadaran kita.

Sri Rama menjawab, “Para raksasa mengganggu para resi di hutan, dan aku tanpa minta ijin Bharata membasmi para raksasa. Melihat tindakan adharma para raksasa, aku langsung menjalankan dharma dengan tegas. Teladanilah Jatayu, dia paham bahwa dia akan kalah dan mati melawan Rahwana. Tetapi dia tidak membiarkan Rahwana menculik Dewi Sinta begitu saja, dia bertarung memperebutkan Dewi Sinta demi kebenaran. Sugriwa akan kalah bertarung melawan Rahwana, akan tetapi dia mengambil selendang yang dijatuhkan Dewi Sinta dan memberitahu ke mana Rahwana pergi. Kau lebih sakti dari Rahwana, dan kau tahu Dewi Sinta diculik dan terbang lewat istanamu, dan kau tidak peduli. Kau membiarkan ketidakbenaran berlangsung, padahal kau mampu menyelesaikannya. Renungkanlah!”

“Kau merasa aku tidak bertindak sesuai kepatutan, memanah dari belakang mereka yang sedang bertarung. Coba renungkan, apakah tindakanmu merebut tahta dan istri Sugriwa sesuai kepatutan?”

Subali sadar dan bersyukur atas penjelasan Sri Rama, di akhir hayatnya di menyebut Ram…. Ram….. dan meninggal dunia.

Kita pun merasa hidup dalam masyarakat yang ruwet yang meninggalkan norma-norma kepatutan. Akan tetapi apakah kita sadar bahwa kita juga berbuat salah dengan ketidakpedulian kita pada waktu dahulu terhadap ketidakbenaran yang terjadi pada masyarakat kita?

Empat butir Kesadaran Awal atau Four Noble Truths ini diterjemahkan menjadi “laku”, praktik, oleh Bodhidharma, dan kita akan melihatnya berikut: Laku Pertama: Kemampuan untuk menerima ketidakadilan. Mereka yang hendak memasuki alam meditasi harus menghadapi segala rintangan dengan kesadaran ini: “Dalam sekian banyak masa kehidupan sebelumnya, aku telah berpaling dari hal-hal yang penting dan terikat pada hal-hal sepele yang tidak berarti…… aku telah berkelana melewati segala bentuk kehidupan…… mengamuk tanpa alasan, dan bersalah atas kemunduran diri. Sekarang, walau tidak berbuat salah aku masih harus bertanggung jawab atas perbuatanku yang lalu. Baik manusia maupun malaikat tak dapat memastikan kapan aku menerima ganjaran dari perbuatanku sendiri. Aku menerimanya dengan lapang dada, dan tanpa keluh kesah akan ketidakadilan.” menurut kitab-kitab suci, “Bila menghadapi musibah, janganlah engkau berkeluh kesah, karena apa pun yang terjadi bukanlah tanpa alasan.” Dengan pemahaman seperti itu, kau menjadi tenang dan dengan mudah memasuki alam meditasi.

Berhentilah berkeluh kesah, karena apa saja yang terjadi, yang menimpa diri kita, all of it, make sense. Kita memang harus menghadapi semua itu. Sikap nrimo, menerima hidup sebagaimana adanya, dan mengalir bersamanya akan mempermudah entry kita ke alam meditasi. Itu password nya.

Melihat ketidakbenaran yang terjadi di depan mata

Bagaimana pun melihat adanya ketidakbenaran yang terjadi di depan mata, minimal kita harus bersuara.

Janganlah engkau menyerah sebelum mencoba. Cobalah bersuara… kumpulkan seluruh tenagamu dan bersuaralah dengan jelas. Suaramu akan terdengar, pasti. Kau menjadi pemimpin karena keyakinanmu, semangatmu, suaramu. Percayalah pada dirimu. Sukarno seorang diri, Gandhi seorang diri, bahkan para nabi seperti Isa dan Muhammad pun seorang diri. Para bijak seperti Lao Tze dan Siddhartha juga seorang diri. Namun, merekalah yang mengubah dan membuat sejarah. “Barangkali banyak diantara kita takut bersuara.” Ya, itulah, sebab kita tidak bersuara. Kita takut. Bukan takut tidak didengar, tapi takut ribut. Takut mengundang persoalan. Saya pernah membaca di suatu tempat, “Dulu kelompok lain dianiaya, dan aku bungkam. Kupikir aku bukanlah bagian dari kelompok itu. Kemudian kelompokku dianiaya. Namun, sebelum kusadari, penganiayana pun terjadi pada diriku… dan tidak seorang pun maju untuk membantuku, karena semua beranggapan sama seperti diriku, yang dianiaya bukanlah mereka!”